PART. 2

769 Words
"Adis Arinda Kamila, sembilan belas tahun ...." Adam menatap gadis yang berdiri di hadapannya. Tinggi si gadis hanya sampai sedadanya. Lebih pendek sedikit dari ibunya, dan Dara, saudara kembarnya. "Yakin usiamu sudah sembilan belas tahun?" "Menurut Lo, usia gue berapa?" Adis menantang tatapan Adam. "Dua belas, mungkin," jawab Adam bergumam. "Kurang ajar, Lo ya!" Adis memukul lengan Adam sampai Adam meringis, dan harus mengusap lengannya. "Gue ucapin terima kasih sama lo ya. Kalau lo mau nagih hutang, telpon aja gue. Eeh ... Lo belum gue kasih nomer gue ya." Adis membuka tasnya, diambil ponsel dari dalam tas. Adam juga mengambil ponsel dari dalam mobilnya. Adis menyebutkan nomernya, Adam menyimpan di dalam ponselnya. "Oke Om ... Om siapa, nama Om siapa?" "Adam." "Adam?" "Iya, Adam." "Nama Lo ganteng, seganteng tampang Lo. Tapi, masih ganteng opa gue sih. Terima kasih ya, Om. Gue pergi dulu, bye!" Adis meninggalkan Adam tanpa menunggu Adam merespon ucapannya. Adam menatap Adis yang berlari kecil kembali memasuki tempat parkir rumah makan. Adam menatap KTP di tangannya. "Adis Arinda Kamila, imut namanya, seimut orangnya," gumam Adam seakan tanpa ia sadari. "Untung cuma jadi calon istri pura-pura, kalau sungguhan, bisa pingsan Ami punya menantu seperti dia," Adam tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Adam memeriksa bagian depan mobilnya, yang tadi sudah menyeruduk bagian belakang mobil Yola. Ditarik nafas, lalu ia hembuskan perlahan. Ringseknya cukup parah, dan ia pikir, pasti mobil Yola juga ringseknya tidak kalah dari mobilnya. Adam masuk ke dalam mobil, ia menelpon supir di rumahnya. Ia meminta si supir mengantarkan mobil lain ke kantornya, dan membawa mobil yang ringsek ke bengkel langganan perusahaan mereka. Baru saja Adam ingin memutar kontak kunci mobil. Ketika ponselnya berbunyi. "Ivana ...." Ivana adalah salah satu wanita yang sempat dekat dengan Adam. Tapi, Adam merasa tidak ada getaran sedikitpun di hatinya, meski mereka sudah menjalani pertemanan tiga bulan lamanya. Karena itulah, Adam memutuskan untuk tidak melanjutkan kedekatan mereka. "Hallo," sapa Adam. "Hallo, Mas Adam di mana?" "Di jalan, ada apa?" "Sudah makan siang?" "Baru selesai." "Malam Minggu ada acara tidak?" "Ada acara makan malam dengan keluarga besar." "Ooh ...." "Kenapa?" "Aku ingin minta temani ke acara resepsi perkawinan temanku." "Maaf ya, aku tidak bisa." "Ya sudah, tidak apa, Mas. Bye, Mas Adam." "Bye." Adam meletakan ponselnya. Hal seperti ini sering terjadi padanya. Diminta menjadi partner untuk menghadiri resepsi pernikahan, atau acara lain, oleh para wanita yang ia kenal. Teman wanitanya memang banyak, tapi sampai saat ini belum ada yang bisa membuat hatinya bergetar, seperti setiap kali ia teringat nama Asifa. 'Aku sudah berusaha mengusirmu dari dalam hatiku, Asifa. Tapi, aku belum bisa. Pesonamu belum tergantikan oleh wanita manapun dalam pandangan mataku, juga bagi hatiku. Maafkan aku, masih menyimpan rasa yang harusnya tak boleh ada di dalam hatiku.' Adam memejamkan mata, teringat bagaimana Asifa yang wajahnya bersimbah air mata. Teringat bagaimana wajah Aska yang biru lebam karena ia pukul, tanpa perlawanan. Andai Aska melawan, Adam yakin ia akan kalah, karena keturunan Ramadhan, semuanya jago bela diri. Tapi, Aska hanya diam menerima pukulannya. Adam membuka mata. Diusap matanya yang terasa basah. Memukul Aska adalah merupakan tindakan terbodoh sepanjang hidupnya. Mencinta Asifa adalah hal terindah, meski berujung luka, yang tak kunjung sembuh di dalam hatinya. 'Semoga kalian bahagia, Aska, Asifa. Rara pasti bangga memiliki orang tua seperti kalian.' Sekali lagi Adam mengusap mata, sebelum memutar kunci kontak mobilnya. Baru saja mesin mobilnya menyala, saat ponselnya kembali berbunyi, terpaksa mesin mobil ia matikan lagi. "Ami ...." Adam mengernyitkan keningnya. Ami-nya jarang menelpon, kecuali penting sekali. "Assalamualaikum, Ami. Ada apa?" "Walaikum salam. Kamu tabrakan?" "Cuma tabrakan kecil Ami." "Kamu nabrak mobil temannya Tante Fey?" "Kok Ami tahu?" "Tante Fey yang telpon Ami." "Oooh ...." "Kamu tidak apa-apa'kan? Ada luka tidak?" "Aku baik-baik saja, Ami. Yang luka cuma mobilku, dan mobil Tante Yola, teman Tante Fey." "Kata Tante Fey kamu di mobil dengan calon istrimu. Bisa kamu jelaskan ini, Adam?" Deg.... Jantung Adam serasa berhenti berdetak. Tadi, tidak terpikir sedikitpun olehnya, kalau Tante Fey akan bercerita pada Ami-nya, soal calon istri di dalam sandiwaranya. "Adam! Kamu mendengar apa yang Ami katakan? Siapa dia? Siapa gadis itu? Kenapa tidak kamu kenalkan pada orangtuamu? Kenapa orang lain harus tahu lebih dulu tentang calon istrimu? Adam!" "Pssst ... sabar Cintaku ...." Terdengar suara Adrian yang mencoba menenangkan Devita yang terdengar emosi. "Adam," Adrian memanggil putranya. "Ya, Abi." "Kamu pulang sekarang ya, kita harus bicara." "Aku ada meeting penting jam dua tiga puluh, Abi. Bisa aku pulang setelah meeting." "Baiklah, kami tunggu. Assalamualaikum." "Walaikum salam." Adam menghempaskan punggungnya ke sandaran jok mobil. Diusap wajah dengan kedua telapak tangannya. "Ini gara-gara kamu, Adis Arinda Kamila! Apa yang harus aku katakan pada kedua orang tuaku? Arghhh!" BERSAMBUNG
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD