"Malam ini gue jemput. Cantik-cantik, ya. Jangan bikin malu."
Cia cemberut melihat isi pesan yang baru beberapa menit di kirimkan oleh Revan. Ia meletakkan ponselnya sembarang dan menatap nanar isi lemarinya yang kini sudah berantakan olehnya.
Ya, Cia akan ikut menghadiri acara makan malam yang di buat oleh Mama-nya Revan. Setelah sekian lama berdebat dengan alasan Cia malu, tapi pada akhirnya, gadis itu mengiyakan untuk ikut.
"Baju Cia nggak ada yang bagus. Semua di rumah Ayah. Apa Cia balik ke rumah Ayah aja, ya?" tanyanya pada diri sendiri. Namun sedetik kemudian, ia menggelengkan cepat kepalanya.
"Nggak. Cia nggak mau balik ke rumah ayah!" ucapnya lagi.
Cia kembali menghela napas, "Cia harus gimana?"
Ia menatap pintu kamarnya. Tidak ada suara dari luar sana. Yang artinya, ibunya tidak ada di rumah. Ke mana Cia harus mengadu soal ini?
"Apa Cia beli baju baru aja?" tanyanya lagi.
Lagi-lagi, Cia menggelengkan kepalanya cepat.
"Cia nggak boleh boros. Harus irit kata bunda."
Cia terdiam. Ia menatap jam dinding. Lalu, ia menjambak rambutnya sendiri dan berguling di atas ranjangnya.
"Terus, Cia pakai baju apa? Waktu Cia tinggal dua setengah jam." Cia frustasi dan kembali menjambak rambutnya.
Tak lama dari itu, Cia mendengar pintu terbuka. Berarti, ibunya telah pulang. Dengan cepat, Cia beranjak dari ranjangnya dan berlari kecil ke luar kamar.
"Bunda!"
Sarah menatap bingung ke arah putrinya yang terlihat acak-acakan. Baju sekolah belum ia ganti. Yang artinya, Cia baru pulang.
"Kamu baru pulang? Habis dari mana?" tanya Sarah sedikit nada mengintrogasi. Pasalnya, hari sudah mulai gelap. Sedangkan jam pulang sekolah itu sore.
"Sesi introgasinya nanti aja, ya, bunda. Sekarang, bantuin Cia dulu." Cia berkata.
Sarah mengerutkan keningnya, "Bantu apa?"
"Bantu Cia cari baju."
***
Setelah mengalami perdebatan cukup lama. Tentang Sarah yang menyuruhnya untuk membeli baju saja, namun di jawab tidak oleh Cia. Alasannya, gadis itu ingin menghemat uang. Namun, pada saat Sarah mengatakan bahwa ia yang akan membayarnya, dengan secepat kilat Cia mengiyakan saran dari ibunya.
Walau tidak di bilang pun, pasti ibu kan yang akan membayar keperluan anaknya?
"Ini bagus nggak?" tanya Cia menenteng dress berwarna hitam.
"Kamu mau ngelayat?" tanya Sarah balik karena sedikit heran dengan pilihan Cia. Model oke. Namun, warna?
Cia mengembalikan baju itu ke tempatnya, dan mengambil lagi dengan model yang sama tapi warna berbeda.
"Ini, pasti bagus 'kan, bunda?" tanya Cia riang. Berharap pilihannya kali ini memuaskan.
Sarah menghela napasnya dan mengambil baju yang di pegang oleh Cia. Sarah menuntun Cia untuk duduk membuat Cia menatap bingung ibunya.
"Bunda, kenapa? Apa yang salah sama warna kuning?" tanya Cia polos.
Sarah menatap putrinya, "Kuning nggak salah. Tapi, otak kamu yang bermasalah."
Cia mengerucutkan bibirnya. Teganya ibunya sendiri mengatakan dirinya bodoh secara terang-terangan. Ia menatap ibunya yang tengah melihat-lihat baju itu. Yang pasti, wajahnya pun ikut berkerut karena berpikir.
"Nah ini!"
Cia melihat ibunya yang nampak gembira sambil menenteng satu dress berwarna putih. Cia juga ikut tersenyum senang.
"Kayaknya ini cocok buat kamu. Gimana menurut kamu?" tanya Sarah.
Cia menganggukan kepalanya, "Kalo kata bunda bagus, kata Cia juga bagus."
Sarah terkekeh. Setelah itu, Sarah menyuruh Cia untuk mencoba baju yang ia pilih.
***
"Udah siap? Gue otw."
Cia tersenyum melihat isi pesan yang baru saja di kirimkan oleh kekasihnya. Sekali lagi, Cia melihat penampilannya dari pantulan cermin. Sambil memutar-mutar tubuhnya, ia tersenyum, penampilannya benar-benar sempurna.
"Cia cantik banget," ucapnya sambil terkekeh geli.
Tak lama dari itu, pintu kamar Cia terbuka. Ia menoleh dan tersenyum mendapati ibunya memasuki kamarnya.
"Wah, anak siapa ini?" ucap Sarah bermaksud memuji.
Cia tersenyum lebar menampilkan jejeran gigi rapihnya, "Anaknya bunda."
Sarah mendekat dan merangkul Cia, "Ingat pesan bunda. Kamu boleh pacaran, tapi jaga batasan. Okey?"
Cia mengangguk dan mengacungkan jempolnya, "Cia tau kok, bunda."
"Bagus!" Sarah menarik gemas hidung Cia.
Sekitar lima belas menit kemudian Cia dan Sarah mengobrol di kamar, dering ponsel Cia terdengar. Ia melihat ponselnya dan tersenyum mendapat pesan dari Revan bahwa ia sudah ada di halaman apartemen Cia.
"Kak Revan udah nyampe. Cia berangkat dulu, ya, bunda." Cia mengambil tangan Sarah dan menciumnya. Lalu, Sarah mencium kening putrinya.
"Have fun, anaknya bunda!"
Cia tersenyum riang, "Makasih, bunda."
Setelah itu, Cia pamit keluar untuk menemui Revan.
***
Revan melihat Cia keluar dari gedung apartemen. Ia tersenyum melihat gadisnya tersipu pada saat dirinya menatapnya.
"Hai," sapa Cia lebih dulu pada saat ia sudah di hadapan Revan.
Revan tersenyum, "Hai juga, cantik."
Mendengar itu, Cia gembira dan berkata, "Cia cantik, kak?"
Revan mengangguk, "Cantik. Banget."
Cia menatap Revan dengan tatapan berbinar. Lalu, ia menutup keseluruhan wajahnya dengan kedua tangannya.
Melihat itu, Revan terkekeh, "Kenapa?"
Cia menggelengkan kepalanya yang masih menutupi keseluruhan wajahnya dan berkata, "Cia malu. Muka Cia panas. Kayaknya merah. Cia normalin dulu."
Revan tertawa melihat tingkah gadisnya yang menurutnya menggemaskan. Revan menyukainya.
"Udah normal, belum?" tanya Revan.
"Belum. Bentar lagi." Cia menjawab dengan wajah masih tertutup.
Revan menyenderkan tubuhnya di body mobil sambil memandangi Cia yang masih menutupi wajahnya. Gemas, Revan menarik kedua tangan Cia yang menutupi wajah gadis itu.
"Jangan!" Cia kembali menutupi wajahnya.
Revan menghela napasnya. Menghadapi Cia dengan tingkah kekanakannya memang harus sabar.
"Mau sampai kapan?" tanya Revan.
"Nanti dulu," jawab Cia.
"Nanti telat. Lo mau, pertemuan pertama lo sama Mama gini?"
Cia langsung membuka wajahnya dan menatap Revan. Ia langsung menggeleng cepat, "Nggak mau."
Revan hampir tertawa, namun ia tahan.
"Yaudah, ayo masuk." Revan membukakan pintu untuk Cia. Saat Cia sudah memasuki mobil, Revan memutari mobil dan duduk di jok pengemudi. Setelah itu, mobil Revan melesat menjauh dari pekarangan apartemen Cia.
***
Cia meremas ujung dress-nya menatapi pintu rumah Revan. Sudah sekitar lima menit mereka sudah sampai dan hanya berdiam diri di mobil. Cia beralasan gugup, dan menyuruh Revan untuk menunggu menetralkan detak jantungnya yang sedari tadi entah mengapa berdetak begitu cepat. Membuat sekujur tubub Cia melemas.
"Cia, kita udah lama di sini. Turun, yuk?" ajak Revan sudah selembut mungkin, berharap Cia akan menurutinya.
Namun tidak sesuai ekspetasinya. Cia menggeleng cepat tanpa mengucapkan apapun. Revan menghela napas kasar.
"Cia, denger gue." Revan memutar tubuh Cia untuk tepat menghadapnya. Revan melihat sorot mata takut, gelisah yang di pancarkan Cia.
"Dengar, mama gue baik, nggak jahat, nggak gigit. Terus, apa yang lo takutin?" ucap Revan memulai aksi membujuknya.
Cia masih bungkam dan hanya menatap Revan.
"Selama ada gue, nggak ada yang bisa nyakitin lo. Paham?" Revan menggenggam tangan dingin Cia dengan erat. Lalu, tangan bebas Revan ia gunakan untuk menyeka keringat yang ada di pelipis gadis itu. Kekasihnya ini benar-benar takut.
"Turun?" tanya Revan. Cia mengangguk tanpa mengucapkan apapun.
Saat mereka sudah berada di dalam rumah, Cia benar-benar menggenggam tangan Revan erat. Seakan Revan akan lari meninggalkannya jika ia sedikit saja melepaskan Revan. Ia benar-benar takut dan gelisah. Entah ini memang di alami semua orang atau dirinya saja yang lebay. Tapi untuk saat ini, ia tidak peduli itu dahulu.
"Eh, Cia dateng."
Cia hampir terpelonjak kaget mendengar itu. Nah kan, tiba-tiba, Cia jadi parnoan.
Cia melihat Jessie yang tengah duduk di ruang tamu sambil memainkan ponselnya. Lalu, Jessie berdiri untuk menghampiri dirinya dan Revan.
"Makin cantik aja lo," ucap Jessie. Cia tersenyum kikuk.
"Yaudah, langsung ke ruang makan aja. Tante Zara udah nunggu di ruang makan," ajak Jessie yang di angguki oleh keduanya.
Jessie, Cia dan Revan melangkah menuju ruang makan.
Cia melihat seorang wanita paruh baya sedang menata makanan di meja makan, yang ia yakin adalah ibunya Revan. Jujur, ibunya yang di ketahui bernama Zara masih sangat cantik untuk seumur Zara.
"Ma," panggil Revan.
Zara menoleh. Setelah itu, ia tersenyum lebar hingga kerutan tipis di ujung matanya terlihat. Melihat senyuman itu, hati Cia merasa hangat.
"Eh, cantiknya. Ini pacar kamu, Van?" tanya Zara yang terkesan blak-blakan. Membuat Cia malu.
Revan mengangguk, "Iya, ma."
Zara menghampiri Cia dan menariknya untuk duduk di salah satu kursi. Mendapat perlakuan seperti itu dengan tiba-tiba, tentu membuat Cia terkejut.
"Nama kamu Felicia 'kan, ya?" tanya Zara. Lalu, Zara langsung menoleh ke arah Jessie yang ada di sebrangnya dan berkata, "Cia 'kan panggilannya, Jes?"
Jessie yang sedang minum, mengangguk menanggapi ucapan tantenya.
Cia mengangguk pada saat Zara sudah menatapnya. Lalu berkata, "Iya, tante. Panggil aja Cia."
Zara menganggukan kepalanya dan tersenyum, "Udah lama Revan nggak bawa cewek ke rumah. Akhirnya, dia bawa kamu. Tante seneng."
Cia tersenyum kikuk. Namun akhirnya, ia tersenyum senang, "Makasih, tante."
Zara tersenyum menatap Cia. Lalu, Zara berdiri dari duduknya saat suara dentingan dari oven terdengar. Yang artinya, ayam yang ada di dalam oven sudah siap untuk di hidangkan.
"Papa mana, ma?" tanya Revan sambil menarik kursi yang berada di sebrang Cia.
Cia yang melihat itu langsung melotot kepada Revan, dan mengisyaratkan kepada Revan untuk duduk di sebelahnya.
Revan yang melihat itu terkekeh dan mengangguk tanpa banyak omong. Setelah itu, Revan memutari meja makan dan duduk di sebelah Cia.
"Papa di kantor, katanya ada rapat. Tapi udah otw pulang kok. Paling bentar lagi," jawab Zara.
Memang benar, tak lama dari itu, suara deru mobil terdengar. Mereka yakin, itu Edo.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsallam," jawab semuanya kompak.
"Wah, rame banget nih," seru Edo yang langsung mencium pipi Zara.
"Ini, om. Revan bawa pacarnya," celutuk Jessie membuat Cia membulatkan matanya tanpa bicara. Karena sedari tadi, ia hanya bisa bungkam.
Edo terkejut. Namun terlihat senang dan berkata, "Revan bawa pacar?"
Jessie mengangguk antusias.
Sedangkan Cia, ia hanya merutuki Jessie yang begitu menampilkan Cia di hadapan ayahnya Revan. Padahal, ia tidak banyak bicara agar tidak terlalu di perhatikan. Ketahuilah, Cia benar-benar malu sekarang.
"Okey. Papa mau ganti baju dulu," ucap Edo. "Nanti, kita sambung ngobrol sambil makan, ya, Cia."
Cia menegang. Ayahnya Revan sudah mengetahui namanya sebelumnya? Perkataan Edo seperti ancaman di telinganya. Terdengar horor. Jujur, Cia benar-benat gelisah sekarang.