“Iya, Yah?”
“Ya Tuhan, akhirnya kamu angkat juga.”
Aroha meringis. Harusnya ayahnya juga sudah tahu sih kenapa Aroha tidak mengangkat teleponnya.
“Aku kan kerja, Yah. Ayah juga bukannya harusnya sibuk? Kenapa telepon terus?”
“Ya karena kamu nggak angkat. Ayah minta Prabu yang hubungin kamu dari tadi, tapi nggak ada hasil, dan karena sekarang ayah udah di rumah tapi kamu belum pulang makanya Ayah yang hubungin kamu langsung.”
Yah, tentu saja Aroha tahu, sebab ayahnya jelas tidak akan menggunakan waktu kerjanya untuk urusan pribadi.
“Kapan kamu pulang? Ayah mau bicara.”
“Aku kemungkinan nggak pulang hari ini, aku bagian jaga.”
“Tapi ini udah berapa hari kamu nggak pulang. Ayah nggak lihat kamu setiap Ayah selesai kerja.”
Aro membasahi bibirnya, tidak mungkin dirinya jujur mengatakan kalau dia memang sengaja menghindari ayahnya, kan? Sebenarnya Aroha pulang kok, hanya saja tidak ke istana negara, melainkan ke rumah atau apartemen mereka yang memang menjadi milik pribadi, bukan dengan kepemilikan negara.
“Kalau Ayah lupa, aku memang lagi residensi, kan? Jadi jadwal kosongnya nggak tentu.”
“Pulang, Ayah mau bicara sama kamu.” Seolah tidak menerima asalan putrinya itu, Adam tetap meminta putrinya itu untuk menemui dan bicara padanya secara langsung.
“Iya, iya. Nanti aku usahain ya. Aku bakal lihat jadwalku dulu.”
“Ayah serius, Aro. Ayah mau kamu pulang besok malam, Ayah mau bicara prihal Alvar sama kamu.”
Benarkan dugaan Aroha. Apa lagi yang diinginkan ayahnya selain membahas topik ini. Kalau boleh jujur Aroha sebenarnya sudah bingung harus menolak dengan cara apa lagi. Terakhir bicara dengan pria yang dimaksud ayahnya itu saja Aro pikir dirinya tidak menyelesaikan percakapan dengan baik. Entah apa tanggapan pria itu padanya, tapi dengan Aroha yang seperti ini, apa Alvar bersedia menikahinya? Agaknya… Aroha menyangsikan hal itu.
“Yah, jangan paksa Mas Alvar. Kasihan Mas Alvar kalau terdesak karena permintaan Ayah itu tahu. Dia berhak dapat wanita yang lebih baik. Bukan karena desakan dari seseorang yang nggak bisa dia tolak.”
“Wanita yang lebih baik? Memang kenapa dengan putri Ayah? Kamu pikir kamu nggak cukup baik untuk Alvar?”
Aroha menggaruk tengkuknya. Agaknya dirinya sudah salah bicara.
“Y-ya bukan gitu. Tapi—”
“Aro, dia pria yang baik. Ayah sudah mencari tahu semua tentangnya. Ayah memilihkan seseorang yang menurut Ayah cocok untuk kamu, bisa menjaga dan mengerti kamu, dan Ayah pikir Alvar orang yang tepat. Dia tidak pemilih, malah senior dan junior di sekitarnya juga berharap Alvar cepat menikah dan berusaha untuk mencarikan calon untuknya. Hanya saja memang belum ada yang cocok. Begitu pun dengan Ayah yang mengharapkan hal yang sama pada kamu. Kalian satu nasib, lantas apa yang salah?”
Yang salah karena di sini Ayah akan sangat terkesan mendesak keinginan Ayah pada laki-laki yang seharusnya bisa menerima atau menolak dengan leluasa, tapi karena jabatan yang Ayah miliki dia jadi tidak memiliki kebebasan seluas itu. Batin Aroha.
“Ayah, aku bener-bener lagi sibuk . Aku harus ke OR untuk dampingi konsulenku bedah sekarang, jadi maafin aku karena aku harus tutup teleponnya. Nanti aku hubungin Ayah lagi.”
Dan sambungan telepon benar-benar ditutup, bersamaan dengan Aroha yang berlari sambil memasukan ponsel ke saku jas dokternya begitu dia mendengar ada suara ambulan berhenti di halaman depan pintu emergency.
***
DOR! DOR! DOR!
Rentetan suara tembakan terdengar nyaring sejak pagi buta, sahut menyahut tidak berhenti selama beberapa waktu. Kalaupun berhenti, itu hanya sejenak, yang kemudian tak lama kembali terdengar dengan suara tembakan yang lain.
Tapi tidak, ini bukan perang. itu hanya sesi latihan. Yang tentu sudah biasa terdengar di markas tempatnya para prajurit itu dijaga dan ditingkatkan kemampuannya.
“Alvar!” Panggil salah seorang berbaju loreng pada sosok yang masih serius memegang senapannya dan menghabiskan rentetan peluru yang tertanam di sana.
Di kedua telinganya terdapat pelindung yang menjaganya dari suara senapan yang bisa dikatakan memekak telinga, hingga wajar panggilan yang ditujukan pada Alvar sama sekali tidak tertangkap oleh yang bersangkutan.
“Hei.” Kali ini, seseorang yang memanggil nama Alvar tadi menepuk pria itu tepat di pundak, membuat Alvar bereaksi dan kemudian menurunkan senapannya dari posisi siaga.
“Bukannya ini hari libur kamu? Kenapa pagi-pagi udah ada di sini?”
Alvar langsung menaruh senapannya ke tempat yang tepat, agar tetap aman dan tidak membahayakan. Melepaskan beberapa atribut latihan dari tubuhnya seperti penutup telinga dan sarung tangan tanda bahwa pria itu menyudahi sesi latihannya.
Iya, latihan ekstra yang sebenarnya tidak ada dalam jadwalnya hari ini.
“Cuma... lagi pengin aja, Mas. Bosan aja karena nggak tahu mau ngapain.” Alvar tersenyum canggung, membuat perawakannya yang gagah itu rasanya terlihat kontras dengan sikapnya saat ini.
Kakak tingkat yang sekaligus atasannya itu terkekeh mendengar jawaban dan tingkah Alvar yang sama sekali tidak pernah berubah sejak mereka saling kenal saat Alvar pertama kali masuk dalam kehidupan militer dulu. Tetap pendiam, sopan, rendah hati, namun sedikit kaku. Tidak peduli seberapa Tama sudah menganggapnya dekat dan seperti saudara sekalipun, Alvar tetaplah Alvar yang seperti itu.
“Al... Al... Waktu libur itu ya dipake buat lepas penat dari kerjaan, eh kamu malah balik ke tempat kerjaan.” Menepuk punggung Alvar, Tama lantas merangkul pundak tegap adik tingkatnya itu dan mengajaknya pergi dari aera latihan menembak.
“Atau seenggaknya pakailah buat cari jodoh. Mau sampai kapan coba kamu single kayak gini?”
Mendengar kalimat itu dari Tama, Alvar menghentikan langkahnya. Pria itu menatap seniornya, menatap dengan tatapan begitu serius yang membuat Tama sendiri jadi siaga karena tatapan itu.
“Apa? Kenapa?”
“Soal itu... sebenarnya saya mau tanya sesuatu kalau boleh.”
“Huh? Kenapa? Kok kayaknya serius banget?”
Alvar mengusap tengkuknya canggung.
“Hei, ada apa? Jangan bikin aku takut gitu ah, Al.”
Membasahi bibirnya yang terasa kering, Alvar menaikan pandangannya setelah sejak tadi menunduk. Memberanikan diri untuk mengatakan sesuatu yang sudah beberapa waktu terakhir hanya dipikirkannya sendiri.
“Seseorang minta saya untuk menikahi putrinya.”
“Ya Tuhan! Aku kira apa! Kamu ini, bisa nggak jangan bikin takut gitu ekspresinya.” Gerutu Tama, menghembuskan napasnya lega. “Ngomong-ngomong, kamu serius?”
Alvar mengangguk.
“Ya bagus dong, memangnya kenapa dengan itu? Itu berarti ada yang lihat kelebihan kamu Al, terlepas selama ini kamu sudah sering kali dijodohin dengan hasil yang kurang memuaskan.”
Alvar ingin sekali bereaksi santai seperti Tama, sayangnya dia tidak bisa.
“Siapa ngomong-ngomong yang restuin putrinya untuk kamu nikahin? Aku kenal? Masih dalam kalangan militer? Atau...”
“Pak Adam.”
Jeda. Hening.
Tama mengerjapkan matanya, terlihat berusaha mengingat apa nama itu adalah nama seseorang yang dikenalnya. “Huh? Siapa? Adam—Adam siapa… APA?!” Seru Tama kini bersuara tinggi.
Senior Alvar itu tiba-tiba kehilangan kata-kata, mencoba untuk menyusun kembali kewarasannya yang tercerai-berai karena kesimpulan yang kepalanya sendiri buat.
“Ad—maksudmu... Pak Adam?”
Alvar mengangguk, tanpa perlu menunggu Tama menyelesaikan ucapannya. Hanya satu nama Adam yang mereka tahu, hanya satu dan hanya itu.
Presiden Negara. Pemimpin tertinggi mereka saat ini.