Varen tersenyum kecut, dia meragukan perkataan Reina. Selama ini Varen merasa neneknya hanya menganggapnya sebagai pengganti putranya. Dia menuntut Varen untuk bisa seperti ayahnya, Samara bahkan mengubah namanya dengan nama ayahnya. ‘Kalau wajahku tidak mirip papa, mungkin nenek tidak akan pernah menganggapku cucuna.’ bisik hati Varen. Sementara itu, disebuah rumah mewah bergaya Eropa tampak Samara sedang berdiri didepan jendela sambil memegang teralis besi yang membingkai jendela. Tangannya mengepal kuat pada teralis hingga membuat jarinya memutih. “Jadi Varen masih bersama wanita itu sekarang?” tanya Samara dengan suara dingin. Pria paruh baya yang sedang berdiri dibelakangnya pun mengangguk, “Iya Nyonya. Kemungkinan besar istri tuan muda memang tidak berpura-pura.” Samara berbalik

