Reaksi Tante Renata

1206 Words
Samuel, Palupi, dan Renata, duduk bersama di ruang santai. Situasi mereka saat ini bisa dibilang tegang. Renata menatap Palupi seolah-olah wanita itu adalah reinkarnasi monster yang bisa memakan jiwa dalam sekejap mata. Dia kemudian menatap Samuel, bertanya-tanya apakah putranya mulai kehilangan kestabilan mental atau tidak. Bagaimana bisa ia pulang membawa putri rival bisnisnya? Dan dari semua waktu yang ada, Samuel mengambilnya pada saat hari perkawinan. Kutukan buruk apa yang telah keluarga ini miliki sehingga bertemu takdir seperti ini. Seandainya Renata tahu Samuel akan pulang membawa calon pengantin wanita, dia lebih suka Samuel tidak datang ke resepsi sama sekali. Ini adalah kesalahan paling bodòh dalam sejarah. "Sam! Kamu antar Palupi pulang! Mama nggak ingin ada kejadian buruk setelah ini!" Renata membujuk Samuel untuk yang ke ... lima kalinya? Atau tujuh kali? Renata sudah tak bisa lagi menghitung dengan akurat. "Palupi sendiri yang nggak mau pulang!" Samuel menjawab santai, seolah-olah keberadaan Palupi bukan hal yang tak wajar. Laki-laki itu sibuk menatap Palupi, mengamati reaksi wanita tersebut yang mudah sekali tersenyum ringan, seolah-olah hidupnya tanpa beban. Kening Samuel berkerut-kerut. Sepanjang ingatan Samuel yang terbatas mengenai Palupi, wanita itu terkenal memiliki sikap arogan dan mudah meremehkan pihak lain. Senyumnya adalah senyuman datar yang diatur dengan sempurna, hanya sebagai formalitas kesopanan. Jauh sekali dengan senyumnya saat ini yang tulus dan apa adanya. Seolah-olah senyum ini adalah senyuman yang berasal dari hati, dari seorang wanita sederhana tanpa kerumitan pikiran. Semua ini sangat berbeda dengan apa yang diingat Samuel tentang Palupi. Mungkinkah Samuel tak memiliki ingatan yang baik, atau memang selama ini Palupi memiliki sisi lain yang tidak ia ketahui? "Ijinkan Palupi tinggal sementara di sini, Tante! Nanti Palupi akan pulang beberapa hari lagi!" Palupi tersenyum kecil, masih tanpa rasa bersalah sama sekali. Situasinya rumit. Palupi baru saja melarikan diri dari pernikahan. Jika dia kembali saat ini, konflik masih berada di puncak dan ia hanya akan mendapat kritik tajam dari banyak orang, terutama kedua orang tuanya. Sangat merepotkan. Palupi tak ingin orang tua dari tubuh ini menyulitkannya dan memberinya petuah panjang lebar. Dia perlu ruang pribadi untuk bernapas dan menenangkan diri. Seharusnya rumah Tante Renata bukan tempat yang buruk untuk itu. "Kamu … kamu … kamu …." Tante Renata memijat pelipisnya yang berdenyut-denyut, pusing oleh tekad Palupi yang keras kepala. Jika sampai keluarga Hadyan tahu putri mereka bersembunyi di sini, bukankah ini sama saja dengan memicu konflik lagi? Renata menangis tanpa air mata. Kenapa putri keluarga Hadyan tak memiliki otak dalam bertindak? Dan putranya, Samuel, lebih tak memiliki otak. Orang lain membawa oleh-oleh souvenir pernikahan setelah pulang dari kondangan. Tapi Samuel, justru pulang membawa pengantin wanita. Mau ditaruh di mana muka Renata nanti? Terlebih lagi, Samuel sudah memiliki hubungan. Semuanya semakin rumit sekarang. "Kalau kamu tak mau membawa pulang Palupi, biar Mama suruh Pak Tarjo nganterin dia!" Pak Tarjo adalah sopir keluarga Renata. Dia selalu melakukan apa yang Renata katakan. Melihat betapa ngototnya Renata dalam mengusir Palupi, membuat Palupi merasa tak nyaman. Jika dia tak kunjung pulang, Palupi curiga Tante Renata akan menyuruh orang untuk membiusnya dan mengirimkan tubuhnya ke rumah dalam keadaan pingsan tanpa harga diri. Bayangan ini sedikit memalukan. "Sam! Biarin gue pergi! Pinjemi gue duit, ya, buat reservasi hotel!" Palupi beralih menatap Samuel, mengulurkan tangan kanannya meminta uang tanpa ragu-ragu. Di sekolah, salah satu keahlian Palupi—tidak bisa dikatakan baik—adalah memalak. Korban dari aksinya biasanya anak-anak orang kaya yang sok. Bukannya Palupi kekurangan uang. Dia hanya butuh pencapaian nyata akan prestasi tertentu, jadi dia memutuskan untuk menjadi pemalak. Predikat ini cukup lumayan, mengingat banyak anak-anak mulai takut dan segan padanya. Tante Renata yang melihat tindakan Palupi, mencengkeram dadanya dengan kuat. Apa-apaan ini. Kenapa Palupi meminta uang pada putranya dengan sangat mudah? Memangnya mereka suami istri? Suami istri? Pupil Tante Renata membesar dalam hitungan detik. Ya Tuhan. Mereka tidak memiliki hubungan yang ambigu, bukan? Samuel berada dalam situasi yang tidak baik menjalin hubungan dengan wanita lagi, terutama wanita itu adalah Palupi. Bahu Tante Renata terkulai lemah, dia merasa jika Palupi berada di sini lebih lama lagi, psikis Tante Renata pasti akan bergeser tak normal. "Apakah kalian memiliki hubungan di balik layar?" Tante Renata menatap Samuel dan Palupi secara bergantian. Seandainya saja tatapan sanggup memotong sesuatu, pasti saat ini Palupi dan Samuel sudah hancur terpotong delapan belas ribu bagian. "Hubungan di balik layar?" Palupi tiba-tiba berubah bodòh dalam sekejap. Istilah apa itu hubungan di balik layar? Samuel yang mendengar tuduhan Mama, hanya bisa mengerjapkan matanya, bingung. Sejak kapan ibunya memiliki imajinasi hebat seperti ini? "Sekarang Tante ingin tanya serius. Palupi, sejak kapan kamu memiliki hubungan gelap dengan Sam?" "Hubungan gelap? Tunggu. Tunggu. Selera saya bukan om-om!" Sebagai jiwa muda yang hidup di dalam tubuh dua puluh delapan tahun, tetap saja di mata Palupi, Samuel adalah sosok tua yang umurnya selisih banyak darinya. Mengaguminya mungkin masih baik-baik saja karena Samuel memiliki pencapaian yang mengagumkan dalam usianya sepanjang mengenai pengembangan bisnis. Tapi menjalin hubungan gelap dengannya? Palupi bisa bersumpah sepanjang otaknya tidak mengalami kematian jaringan saraf, dia tidak akan pernah melakulan hal-hal gila seperti berhubungan gelap dengan Samuel. "Om-om?" Samuel terkekeh geli. Ini adalah kedua kalinya Palupi menyebut Samuel om-om. "Maaf, Sam. Loe bukan tipe gue!" Palupi tidak ingin sombong. Tapi selama ia duduk di kelas menengah atas, banyak cowok yang menaruh minat padanya, tapi ia bahkan tak perlu menoleh. Palupi tak mudah jatuh dalam emosi melankolis seperti cinta. Dia bahkan beranggapan cinta dan kasih sayang adalah hal-hal yang alay. "Bagus kalau Sam bukan tipe kamu! Dengan begitu, Tante tidak perlu cemas kamu akan menjadi penghancur rumah tangganya!" Tante Renata merasa lega. Tunggu. Rumah tangganya? Palupi menatap Samuel dengan tatapan bodòh. Dia linglung untuk sejenak. "Rumah tangga? Apa itu artinya loe udah nikah?" Palupi melemparkan pertanyaan dengan tak yakin. Samuel mengangguk kecil, merasa tak bersalah sama sekali. Di sisinya, Palupi memukul dahinya sendiri dengan keras. Kacau. Semuanya kacau. Bukan hanya melarikan diri pada musuh bebuyutan keluarga di hari pernikahan, Palupi bahkan berlari pada lelaki yang sudah menikah. Kenapa nasibnya sangat sangat sangat sial? Hanya saja, kenapa Palupi tak memiliki ingatan sama sekali dari tubuh sebelumnya tentang status Samuel? Jika dia sudah menikah, demi apa pun juga, Palupi tak akan berlari padanya dan mengemis pertolongan. Melakukan itu sama saja dengan menjatuhkan harga dirinya yang sangat tinggi. Ini berarti ... tidak semua ingatan tubuh sebelumnya diwariskan seratus persen. Ada bagian-bagian di mana Palupi hanya bisa mengira-ngira sendiri berdasarkan petunjuk nyata. "Loe bilang loe nggak punya simpenan!" Palupi tampak menunjukkan sorot menuduh pada Samuel. "Emang nggak punya!" "Tapi … istri?" Apa ini lebih parah. Ini seperti orang yang menolak dituduh mencuri ayam, padahal dia ternyata mencuri berlian. "Kan loe tanya masalah simpenan, bukan istri!" Dengan santai, Samuel mengabaikan reaksi Palupi yang kesal. "Atau loe sungguh-sungguh berharap gue masih single?" Alis Samuel terangkat sebelah, jelas mulai tertarik pada Palupi. Samuel hanya bermaksud bermain-main membawa Palupi ke rumah ini. Tapi tampaknya, wanita itu ternyata menyimpan daya tarik tersembunyi. Bagaimana bisa Palupi tampak … murni dan polos? Sesuatu yang Samuel pikir bukan lagi menjadi karakter wanita angkuh sepertinya. "Mas Sam!" Suara wanita yang sangat lembut menginterupsi mereka semua. Grazilda mengangkat matanya, berhenti pada wanita mungil yang sangat manis yang kini hadir di ruang tengah secara tiba-tiba. "Mama bilang kamu pulang bawa wanita. Apakah itu dia?" wanita mungil itu menatap Palupi, sorot matanya penuh rasa penasaran. …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD