Alasan Palupi

1082 Words
"Adrian!" Papa Palupi mengangguk sopan, berusaha menunjukkan keramahan. Di belakangnya, Mama meletakkan bingkisan yang ia bawa, sengaja menempatkannya di atas meja, agar pandangan semua orang terfokus. Usaha Mama bisa dikatakan jitu. Mata Om Adrian dan Tante Kartika melembut, jelas menangkap nilai yang sebenarnya dari bingkisan permintaan maaf yang keluarga Hadyan persiapkan. "Ini ada sedikit bingkisan buat Jeng Tika dan suami!" Mama tersenyum membujuk, jelas ingin menciptakan suasana yang kondusif di antara mereka malam ini. "Nggak perlu repot-repot. Kita semua sudah saling mengenal lama. Hanya perlu berbicara baik-baik hati ke hati, seharusnya nggak perlu bawa apa-apa!" Nada suara Tante Kartika lebih lunak daripada sebelumnya. Meski mulutnya berkata tak perlu repot-repot, toh nyatanta mata Tante Kartika tampak berbinar menatap bingkisan di atas meja dengan penuh minat. Yah … Tante Kartika masih perlu belajar akting tingkat tinggi jika mau berpura-pura. Setidaknya jika mau berbohong, mata dan mulut jangan terlalu kontradiktif. Palupi mendesah panjang, merasa canggung dengan pergaulan orang-orang ini. "Kami ke sini, sebenarnya untuk meminta maaf. Putri kami bertindak impulsif dan meninggalkan pernikahan dalam keadaan mendadak. Aku tau ini kesalahan fatal, Adrian, mengingat kita semua sudah merencanakan dengan baik pernikahan besar anak-anak kita." Papa mulai bersuara, tapi harus berhenti saat disela oleh asisten rumah tangga yang menyuguhkan minuman dan makanan ringan. Tante Kirana menatap Palupi, pandangannya penuh tanda tanya. Bukan hal yang rahasia mengetahui bagaimana Palupi mengejar-ngejar Devano dan mengaku mencintainya mati-matian. Untuk cinta tersebut, Palupi sebelumnya rela melakukan apa pun, bahkan hal-hal yang di luar toleransinya, termasuk bunuh diri. Namun, kenapa tiba-tiba wanita itu mennggalkan pernikahan tanpa alasan kuat? Saat detik-detik menjelang ijab qobul. Semua ini rasanya tak masuk akal. Bukan hanya untuk keluarga Kagendra, bahkan juga keluarga Hadyan. Tidak mungkin Palupi sengaja menciptakan prank konyol, 'kan? Berbeda dengan pandangan penasaran Tante Karina dan Om Adrian, Devano masih diam, bersikap menjaga jarak, seolah-olah tak peduli dengan segalanya. Papa dan Mama Palupi sudah terbiasa dengan kepribadian calon menantunya—atau mengkin lebih tepat mantab calon menantu—sehingga sikap Devano tak memancing perhatian dari siapa pun. "Mari kita tanya Palupi langsung!" Tante Kartika masih enggan mengalihkan tatapannya dari Palupi. "Palupi, kenapa kamu meninggalkan pernikahan begitu saja? Apa kamu punya masalah yang nggak kami tau? Atau mungkin Devano menggertakmu? Melakukan sesuatu yang tidak termaafkan?" Tante Kirana sangat ingin mengetahui alasan sebenarnya. "Bukan, Tante!" Palupi menggeleng ringan. "Apa Devano berselingkuh? Mengatakan hal-hal buruk? Melakukan kesalahan fatal?" Om Adrian juga tak bisa menahan rasa penasaran. Sejauh ini riwayat Devano bersih sepanjang menyangkut tentang wanita. Sangat bersih. Malah sangking bersihnya, Om Adrian sempat curiga anaknya mengalami ambiguitas dalam percintaan. Mungkin Devano gày? Siapa tahu? Ketika akhirnya Devano bersedia menerima Palupi sebagai seorang istri, meskipun perlakuannya masih cukup dingin, keluarga Kagendra sangat bersyukur. Mereka berhutang terimakasih nyata pada Palupi mengenai hal ini. Hanya saja, ketika semuanya akan berjala dengan baik, Palupi justru menciptakan kesalahan fatal dengan meninggalkan pernikahan begitu saja. Siapa yang tidak frustasi? "Di detik-detik terakhir sebelum pernikahan, Palupi sadar Devano tidak mencintai Palupi dengan layak. Cinta yang seharusnya diberikan seorang lelaki pada calon istri." Palupi mulai mengambil improvisasi dengan baik sesuai keadaan yang ada. "Mungkin sebelumnya Palupi berpikir tidak masalah menikah tanpa cinta. Tapi itu ternyata sangat berbeda. Tante, Om!" Palupi menatap kedua orang di depannya dengan ekspresi sedih dan tak berdaya. "Mama dan Papa meskipun mereka dulu dijodohkan, tetapi ada cinta di antara mereka. Om dan Tante meskipun menikah atas pertimbangan keluarga, juga memiliki benih cinta yang nyata. Tapi Palupi … tidak mendapatkan itu dari Devano." Palupi mencubit kakinya sendiri yang berada di bawah meja, membuat kedua matanya berair, dan menangis dengan anggun. Beruntung ada celàh ini. Palupi bisa menggunakan kedinginan Devano sebagai alasan. Seharusnya, untuk saat ini Palupi merasa aman. Tante Kartika dan Om Adrian saling pandang. Mereka semua tahu Devano memiliki sikap yang dingin walaupun mereka sepakat untuk menikah satu sama lain. Namun, mereka pikir itu tak masalah. Toh Palupi sangat mencintai Devano sehingga rela menanggung banyak hal untuknya. Tidak adanya cinta dari Devano seharusnya tidak menjadi penghalang. Bagaimana semuanya bisa berubah dalam detik-detik terakhir? Tante Kartika syok dan tak bisa merespon dengan baik penjelasan ini. "Kamu tahu sikap Devano memang seperti itu. Pelan-pelan nanti, jika sudah berumah tangga, semua itu akan berubah. Devano adalah orang yang memegang sumpah dengan sangat baik. Sekali kamu menikah dengannya, sekali itu pula Devano akan menjadi milikmu dan kamu bisa membiasannya dalam hal-hal tertentu." Om Adrian mencoba menjelaskan, menunjukkan betapa sikap Adrian cukup dingin dan menjaga jaral. Palupi sendiri tahu kemungkinan-kemungkinan ini dengan baik. Dia bukan wanita bodoh. Cinta selalu memungkinkan untuk dipupuk dan dibentuk. Tadinya Palupi memiliki kepekaan seperti Om Adrian. Selama ini, Palupi yakin jika pernikahan dirinya dengan Devano akan menciptakan peluang baik satu sama lain. Toh ia sangat percaya diri. Palupi cantik, dengan sedikit sentuhan darah Eropa dari ibunya. Tubuhnya berbentuk memiliki lekuk sempurna. Pinggang ramping, d**a montok … mungkin ini 36C? Yah … lumayan, mengingat sebelumnya Palupi hanya menjadi 34A. Bibir s*****l, mata jernih berair yang membuat laki-laki kasihan, suara merdu mengingatkan akan kelembutan, dan dua kaki jenjang tinggi yang menjadi impian banyak kaum hawa. Palupi mengerjapkam matanya dengan pedih. Kenapa tubuh ini terlalu sempurna sebagai wanita? Bahkan lingkar pinggulnya mampu membuat orang jenis tertentu berfantasi khusus. Tubuh yang terlalu merepotkan. Mudah mengambil perhatian juga bukan sesuatu yant baik. Palupi harus selalu ingat menjaga tubuhnya dengan baik mulai saat ini dan seterusnya. "Kenapa kamu tiba-tiba mengambil keputusan ini?" Om Adrian menguopngi pertanyaannya, saat Palupi tampak merenung, sedikt bingung. Om Adrian dan Tante Kartila saling pandang lama, sama-sama berpikir Palupi kali ini memiliki sikap yang sangat berbeda daripada sebelumnya. Wanita anggun yang selalu pintar dan sederhana dalam mengambil keputusan, biasanya tak terlalu peduli pada reaksi Devano dan hal-hal yang menyertainya. Devano terkenal dingin, tak berperasaan, dan berjarak. Palupi telah menerima ini dengan baik. Aneh rasanya tiba-tiba berubah pikiran dalam sekejap mata. "Karena dalam detik-detik terakhir, seseorang memiliki kemungkinan tak terbatas dalam berpikir ulang pada semua keputusan yang telah ia ambil, dan membenahi keputusan-keputusan itu!" Palupi mengangguk serius, berharap mereka semua mempercayai kata-katanya. "Untuk pertama kalinya, saya menyadari jika pernikahan tanpa cinta sama kosongnya dengan kesendirian. Beruntung jika nanti Devano berubah dan mau memberikan cinta sebesar yang Palupi berikan. Tapi bagaimana jika tidak? Nggak ada jaminan bagi perasaan seseorang!" Palupi berbìcara apa adanya, sengaja menatap Devano yang masih duduk diam tanpa rasa beesalah. Palupi mulai bisa membalikkan keadaan. Seharusnya keluarga Kagendea tidak membuat banyak kesulitan untuk merelka. "Jadi kamu sekarang ingin menjalin hubungan yang saling memberi dan menerima cinta dengan baik?" Tante Kartika mulai bisa bersuara kembali. "Tentu, Tante! Hidup lebih berharga daripada menikah tanpa cinta!" ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD