#CH-Percaya

2128 Words
Raina kembali merasa seperti dimabuk cinta dengan semua perkataan Rafli semalam. Dengan pembicaraan mereka yang sangat panjang itu, ada satu hal yang Raina sangat bersyukur dengan kembalinya Rafli, ke dalam pelukannya. Raina bersyukur dengan menerima Rafli kembali, hal itu, mungkin menjadi salah satu alat yang bisa memperlancar proses naiknya Mentari Senja. Raina tidak merasa bahwa dirinya licik. Menurut Raina, itu sudah menjadi tugas Rafli, sebagai pacarnya, harus membantu dan mewujudkan semua yang Raina inginkan. Raina tidak merasa bahwa dirinya memanfaatkan Rafli, Rafli melakukan semuanya dengan ikhlas dan tanpa paksaan sedikitpun dari Raina. Raina juga merasa sangat terbantu dengan hadirnya Rafli. Dengan kembalinya Rafli dan Raina, cahaya kebahagiaan jelas terpancar kembali di wajah mereka berdua. Tidak ada perbedaan juga diantara Rafli dan Raina. Keduanya masih bertingkah sama seperti dahulu, saat belum ada kata putus di antara mereka. Raina masih suka untuk ngambek karena hal yang sepele, masih suka untuk marah-marah tidak jelas kepada Rafli, dan masih juga untuk bermanja-manja kepada Rafli. Raina dan Rafli juga sudah kembali untuk menelfon setiap malam, sebagai salah satu hal yang rutin mereka lakukan, dulu. Rafli juga masih sering untuk mengantar Raina ke kantor, menjemput Raina, main, menonton film, atau bahkan masak di rumah Raina. Raina menerima saja semua yang Rafli lakukan, itu jadi celah Raina untuk bisa terus berdekatan dengan Rafli. Rafli juga tidak perlu untuk berkata bahwa ia rindu di telepon. Kekasihnya, Raina, sudah kembali menjadi seseorang yang bisa datangi kapanpun. Rafli jadi lebih sering bertemu Raina saat ini -saat mereka sudah balikan- dibanding saat mereka pacaran yang kemarin. Rafli jadi semakin denkat dengan Raina. Raina juga jadi semakin manja dengan Rafli. Meski Raina masih sering bertanya perihal Mentari Senja kepada Rafli, Rafli juga menjawabnya dengan lembut, dan mengatakan kalau itu masih dalam proses pergantian, dan tidak bisa diganti begitu saja. Harus melalui proses lagi, dan tidak lama lagi, pasti itu akan terjadi. Setidaknya Raina tidak perlu khawatir kalau Mentari Senja tidak kunjung naik. Raina punya Rafli, ‘orang dalam’ kepercayaannya, Rafli juga tidak mungkin menghancurkan kepercayaan Raina. Raina tahu itu. Jadi, Raina tidak perlu terlalu menuntut tentang Mentari Senja, kalau Rafli sampai ingkar terhadap omongannya sendiri, Rafli seharusnya tau resikonya. Raina tidak segan lagi untuk meninggalkan Rafli, kalau Rafli tidak menepati omongannya. ------ Rafli sangat senang dengan Raina yang juga menginginkan untuk melanjutkan hubungan ini kembali berjalan. Rafli sampai ingin untuk menemui Raina secara langsung malam itu, sayang saja, semesta tidak mengizinkan Rafli untuk mendatangi Rumah Raina. Kalau saja hari itu, tidak hujan dan tidak banjir di mana-mana, Rafli pasti sudah langsung mengetuk pintu Rumah Raina dan memeluk wanitanya dengan sangat erat. Efek dari balikan dengan Raina, rupanya sangat terlihat, bukan hanya di wajah Rafli, tapi juga di seluruh aspek kehidupan Rafli. Rafli jadi lebih semangat bekerja, lebih ramah dengan orang-orang, menjadi sosok yang lebih bersahabat dibanding sebelumnya. Aku kena Raina’s effect. Kata Rafli, di telepon. Hah, gimana maksudnya? Tanya Raina. Kalo aku abis bahas tentang kamu, atau aku lagi sama kamu, atau kaya sekarang nih, aku cuma lagi teleponan sama kamu. Besok pagi, pasti aku langsung semangat kerja, semangat banget, sayang, kamu harus tau itu. Kata Rafli. Raina yang mendengar ucapan Rafli di seberang telepon itu, sekarang hanya tertunduk malu. Raina tidak menyangka bahwa Rafli masih sama, bahkan lebih baik dan lebih ahli membuat pipi Raina memerah. Raina juga terus-menerus tersenyum, sangat senang dengan pujian yang diberikan oleh Rafli, bahwa dirinya adalah penyebar Raina’s effect. Rafli juga terus menerus mengeluarkan gombalan yang rasanya sudah lama sekali tidak ia keluarkan untuk Raina. Putus selama hampir 3 minggu, membuat Rafli sangat merindukan sosok Raina. Di sela ia membayangkan Raina hadir di depannya, Rafli juga sudah mempersiapkan gombalan dan rayuan terbaik dan terbaru yang bisa ia ungkapkan ketika Raina kembali ke pelukannya. Untung saja, Raina mau kembali bersamanya, jadi, semua gombalan dan rayuan Rafli jadi terpakai, tidak tergeletak begitu saja di bukunya. Rayuan Rafli yang lain tentu saja masih banyak yang belum ia keluarkan, Rafli menunggu waktu yang tepat untuk membuat Raina salah tingkah meski hanya di seberang telepon. Rafli pernah menggoda Raina, dan Raina hanya diam meresponnya. Rafli tahu, dibalik diamnya Raina, Raina mungkin sedang menenggelamkan wajahnya di bantal atau sedang tersenyum tanpa henti mendengar Rafli yang menggodanya. Rafli mengenal Raina, Raina yang paling tidak bisa untuk diam saja ketika ada orang yang menggodanya. Pasti, Raina akan langsung tersipu malu, apalagi godaan itu berasal dari Rafli. Rafli sudah sangat mengenal Raina. Apalagi dengan putusnya mereka kemarin, dan Rafli yang menyadari bahwa Raina menjadi semakin ‘lengket’ dengannya, Rafli jadi merasa bahwa Raina juga sangat mencintai dirinya, tidak ingin berjauhan lagi dengannya. Rafli juga merasakan hal yang sama, oleh karena itu, Rafli lebih memilih untuk selalu membuat Raina bahagia, salah satunya dengan terus menggoda Raina agar Raina selalu merasa diterbangkan ke langit oleh Rafli. 786 ------ Tidak banyak kegiatan yang bisa dilakukan oleh Mentari. Semua aktivitas Mentari sangat monoton. Mentari bangun pagi untuk membereskan rumah, lalu membersihkan anaknya, memberi makan, masak untuk dirinya sendiri. Setelah itu, Mentari mulai mengecek satu-satu pesan masuk yang ada di email-nya, takut kalau salah satu email itu adalah editornya yang ingin mengabarkan sesuatu. Lalu, dilanjutkan dengan Mentari yang tetap mencari pekerjaan sampingan dair beberapa web yang membuka pekerjaan untuk freelancer, tentu saja, Mentari juga langsung menyiapkan dokumen yang diminta, dan melamar pekerjaan itu. Mentari harus tetap berjuang dengan segala cara agar anaknya tidak kekurangan apapun. Ah, pekerjaan Mentari yang bisa jadi pembedanya adalah Mentari yang pergi ke supermarket untuk berbelanja. Itu saja, Mentari sudah lama tidak menghantarkan dan menjemput anaknya di daycare, tidak juga membiarkan anaknya bermain dengan tetangga. Mentari tidak ingin merepotkan siapapun, terutama tentang hal yang berhubungan dengan anaknya. Anak Mentari masih terlalu kecil dan belum bisa mengatur dirinya sendiri, Mentari takut merepotkan tetangga sekitar. Jadi, Mentari juga lebih memilih bermain bersama dengan anaknya, dibanding harus melihat anaknya bermain dengan anak tetangga, dan Mentari tidak bisa mengontrol anaknya. Tidak terhitung sudah berapa puluh kali Mentari mengirim pesan yang berisi lamaran pekerjaannya. Dari semua pesan yang ia kirim itu, belum juga ada yang menerimanya untuk bergabung dengan perusahaanya. Mentari juga tidak ingin memaksakan apa yang seharusnya terjadi, Mentari tahu bahwa ia hanya harus bersyukur tentang Mentari Senja yang sebentar lagi akan naik ke jajaran best seller, Mentari jadi tidak perlu terlalu merasa takut yang berlebihan, Mentair tahu bahwa dirinya memang sudah harus menerima semua ini. Sudah hampir 2 minggu, kabar dari Raina tentang Mentari Senja yang akan naik. Mentari juga sudah mengecek email-nya, selama puluhan kali dalam sehari, takut bahwa email itu akan terlewat dan tidak terbaca olehnya. Mentari harus terus bersiap sambil menunggu untuk kabar dari editornyaMentari juga sudah menanyakan kembali pada Raina. Raina juga masih belum tahu kapan waktu yang tepat untuk Mentari Senja bisa naik. Mentari masih menunggu dengan sabar. Mungkin, karena naiknya karya ini memang sudah direncanakan, dan sudah dinantikan sejak awal oleh Mentari dan Raina, maka, rasanya menjadi sangat lama. Mentari harus membangun harapan setiap ia bangun tidur, berharap bahwa hari ini, adalah hari Mentari Senja akan naik. Jauh berbeda dengan persepsi Mentari saat awal ia menerbitkan karyanya. Berpikir karyanya untuk jadi best seller saja, itu tidak mungkin. Mentair hanya penulis amatir yang ketika itu, kebetulan saja karyanya di media online dibaca oleh salah satu penerbit, dan langsung mendapat tawaran. Mentari bahkan tidak terlalu menanyakan bagaimana proses sebuah karya bisa dianggap sebagai karya dengan penjualan terbaik. Mentari lebih penasaran tentang proses karyanya hingga menjadi sebuah buku, dengan perjalanan yang tidak singkat. Fokus Mentari, juga bukan membuat karya itu menjadi paling terbaik di antara yang lain, tapi, Mentari hanya berusaha untuk memberikan yang terbaik yang ia bisa. Bahkan, saat Mentari mendapat laporan tentang penjualan bukunya pada bulan pertama, Mentari sangat bahagia, sangat, Mentari dan Raina langsung merayakannya dengan makan bersama dan merasa menjadi orang yang paling bahagia dan paling beruntung di dunia. Mentaru dan Raina langsung membayangkan kalau mereka mengeluarkan karya kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya, mungkin karya mereka akan selalu laku di pasaran dan selalu diincar oleh siapapun. Ya, khayalan Mentari setidaknya hanya menjadi nyata di buku kedua, dan ketiga. Sedangkan karyanya kali ini, Mentari lebih mengikuti egonya, ego untuk mencari penghasilan tambahan demi menambah angka di rekeningnya, untuk kehidupan ia dan anaknya. Mentari sekarang hanya bertanya-tanya, tentang kelanjutan dari info Mentari Senja ini. Hari demi hari sudah berlalu, Mentari Senja belum juga naik di posisi yang sudah diharapkan oleh Mentari dan Raina. Mentari jadi semakin takut ketika melihat bahwa pesan yang masuk ke email-nya rata-rata didominasi oleh masyarakat muda yang sangat addict dengan cerita romantis, maka, cerita itu tentu saja mendapat atensi lebih dari mereka. Tidak heran kalau mereka begitu kritis dan kadang mengharapkan jalan ceritanya seperti apa yang ada dalam bayangan mereka. Komentar kali ini, yang datang kepada Mentari, jauh lebih panas dan jauh lebih luas pembahasannya, mereka mulai bertanya siapa sosok asli penulis Mentari Senja. Siapa orang yang berdiri di dalam rumah yang sekarang Mentari tempati. Mentari sudah sampai di tahap di mana ia tidak ingin membalas dan membaca pesan itu, satu pun. Mentari langsung meminta kepada Raina untuk setidaknya mengabari Mentari dengan bergegas karena orang-orang menjadi lebih senang untuk mengomentari Mentari, hari demi hari. sudah banyak sekali orang yang mengirimkan kepada Mentari dalam berbagai format dan isi pesan, kebanyakan dari mereka memang selalu mencari satu saja, satu poin yang seakan bisa diambil dan bisa diterima oleh semua orang. Sudah hampir satu bulan, sejak Rafli memberi kabar kepada Raina bahwa Mentari Senja akan naik ke posisi best seller, tapi hingga saat ini, Mentari Senja belum juga ada di deretan itu. Rafli, di kantornya, sudah sangat pusing, memikirkan tentang Raina yang akan marah kepadanya, pusing memikirkan cara terbaik untuk bernegosiasi lagi dengan yang terkait. Semua itu, membuat Rafli sakit kepala. Hingga jam makan siangnya, Rafli terhitung sudah 2 kali meminum obat sakit kepala. Terlalu banyak pikiran, membuatnya harus mengkonsumsi obat yang membuatnya bisa menghilangkan rasa sakit itu. Kebingungan sudah jelas terpancar di wajah Rafli. Rafli jauh lebih bingung menghadapi Raina dibanding harus menghadapi bagian terkait. Rasa cinta Rafli kepada Raina sudah mengalahkan loyalitasnya sebagai pekerja. Rafli sudah follow up Mentari Senja, dan menanyakan kepastian agar novel itu naik secepatnya, tapi, bagian terkait ternyata melakukan kesalahan input data. Mentari Senja harus mundur dari jadwal yang seharusnya, beginilah repotnya kalau tidak mengikuti aturan yang seharusnya. Rafli hanya bisa menggaruk garuk kepalanya, dan memohon kepada temannya itu agar dapat membantu menyelesaikannya, segera. Rafli tidak ingin Raina marah karena kesalahan ini. Berbicara tentang Raina, Semenjak mereka berdua kembali merajut kasih. Raina yang pada awalnya selalu bersikap manis dan bahkan selalu bermanja-manja pada Rafli. Kini, kembali berulah, Raina kembali cuek dengan Rafli. Rafli sudah bertanya ada apa dengan Raina yang tiba-tiba saja berubah menjadi cuek, Raina hanya menjawab bahwa dirinya lelah dan penat karena pekerjaan di kantornya yang sangat tidak manusiawi. Setiap Rafli mengajak Raina untuk berjalan-jalan, Raina pasti menolaknya. Raina beralasan bahwa ia punya kerjaan yagn harus diselesaikan sebelum masuk kerja. Rafli mencoba untuk mengajak Raina, menonton film baru di bioskop, Raina bilang bahwa ia tidak ingin menghabiskan waktu yang tidak bermanfaat untuk duduk selama 2 jam menonton film di bioskop. Padahal, besok harinya, Raina update story bahwa ia sedang menonton bioskop dengan teman-temannya. Ketika Rafli menanyakan kenapa Raina lebih memilih untuk nonton bersama temannya dibanding bersama Rafli, kekasihnya, Raina hanya menjawab, Aku nggak enak nolaknya, hari itu aku juga lagi nggak bawa mobil, aku udah janjian bareng sama Karina, temen satu divisi aku, ternyata dia malah janjian nonton sama yang lain. Aku nggak enak nolaknya, Raf. Kata Rain, di telepon. Rafli yang mendengar Raina, terdiam beberapa saat, bingung. Raina memang tipe orang yang selalu menerima ajakan orang, tapi, di hari itu juga, Rafli sudah menawarkan kepada raina untuk dijemput, dan Raina menolaknya. Raina bilang, ia tidak ingin Rafli kelelahan karena harus menjemput dan mengantarkannya pulang, padahal kerjaan Rafli sedang banyak. Rafli bahkan tidak berpikir dengan kerjaannya, Rafli hanya memikirkan untuk bisa bertemu dengan Raina, dan bisa menghabiskan waktu dengan Raina, itu saja. Rafli malah mendapat penolakan dari Raina. Raina juga selalu menolak untuk diantar Rafli. Entah apa alasannya, yang jelas, Raina seperti menghindari Rafli, dan selalu berusaha untuk tidak bertemu Rafli. Rafli kembali teringat dengan momen Raina yang memutuskan beberapa waktu yang lalu. Pola yang Raina gunakan terlihat sama. Raina yang selalu menghindarinya, selalu berusaha untuk bertengkar dengan Rafli, atau bahkan Raina yang tetap menunjukkan aktifitas senang-senangnya, dan mengabaikan Rafli. Semua kelakuan itu, sama. Rafli yang tersadar bahwa Raina bertingkah laku yang sama, kaget. Apa sebenarnya tujuan Raina melakukan ini? Apa Raina hanya mempermainkannya ? Apa Raina punya selingkuhan? Buru-buru Rafli menghilangkan pikiran buruknya tentang Raina. Raina, kekasihnya, wanita yang paling ia sayangi. Rafli merasa bersalah karena sudah berpikiran buruk tentang Raina. Rafli percaya bahwa Raina tidak mungkin melakukan itu kepada dirinya. Rafli tahu bahwa Raina mencintainya dengan setulus hatinya dan tidak mungkin mengkhianatinya. Rafli percaya. Setidaknya, percaya kepada Raina saat Raina sedang bertingkah seperti ini, adalah satu-satunya alasan yang dapat menguatkan Rafli.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD