"Ibu ucapkan selamat datang di kelas dua belas IPA 1. Untuk satu tahun ke depan, Ibu yang akan menjadi wali kelas kalian. Nama Ibu adalah Gretta Brianda. Kalian bisa memanggil Ibu dengan panggilan Ibu Gretta."
Guru muda yang tengah berdiri di depan kelas gue ini terlihat sangat percaya diri. Gue sangat yakin dia bahkan belum menginjak usia 25 tahun. Gue belum pernah melihatnya sebelum ini. Mungkin dia guru baru menggantikan Pak Edi, guru Matematika yang baru aja pensiun.
Bisik-bisik mulai terdengar begitu Ibu Gretta selesai memperkenalkan dirinya. Beberapa anak cowok di kelas gue mulai berkomentar kalau wali kelas kami sangat cantik. Beberapa ada yang bersiul sambil berusaha menggoda Ibu Gretta, mencoba untuk mendapatkan perhatiannya. Sementara anak-anak cewek lainnya justru hanya mengomeli tingkah para laki-laki itu yang menurut mereka mata keranjang.
Gue perhatikan sejenak penampilan wali kelas gue ini dengan seksama. Blouse putih di balut blazer berwarna hitam dan rok selutut dengan warna yang senada dengan blazer nya. Rambutnya di gulung ke belakang. Sapuan make-up di wajahnya juga gak terlalu tebal. Cukup menarik. Ketika dia bergerak duduk, langkah kakinya mantap dan sangat anggun. Secara keseluruhan gak ada cela yang berarti.
Ibu Gretta mulai membuka absen dan memanggil nama kami satu persatu. Tiba di giliran gue, dia berhenti sejenak seolah membaca sekali lagi nama yang tertera disana.
"Ghada Farisha?" panggilnya terdengar lebih sebagai pertanyaan daripada pernyataan.
Gue segera mengangkat salah satu tangan gue. "Hadir."
Ibu Gretta memperhatikan wajah gue sejenak lalu mengerenyitkan alisnya. "Jadi, kamu yang jadi pembicaraan di ruang guru tadi pagi?"
"Pembicaraan apa Bu?" Gue balik menatap Ibu Gretta dengan pandangan bingung.
"Iya, mengenai.."
Sebuah ketukan di pintu kelas langsung menghentikan ucapan Ibu Gretta. Kontan aja gue dan Ibu Gretta berpaling ke arah pintu dan mendapati Kepala Sekolah, Pak Wardian bersama salah seorang pelajar sudah berjalan memasuki kelas. Setelah berbicara sebentar pada Ibu Gretta, Pak Wardian kemudian memanggil gue untuk maju ke depan.
"Saya Pak?" tanya gue kaget.
"Kamu Ghada Farisha kan? Memangnya siapa lagi yang punya nama seperti itu selain kamu?" Pak Wardian balik bertanya membuat seisi kelas langsung tertawa mencemooh ke arah gue.
Dengan berat hati, gue bangkit dari kursi dan berjalan mendekatinya. "Kenapa Pak?"
"Kamu pernah ngajuin aplikasi untuk beasiswa kedokteran di Universitas Global Persada?" Sambil bertanya, Pak Wardian memperhatikan penampilan gue dari atas hingga ke bawah.
"Iya Pak."
"Hm." Pak Wardian mengangguk. "Ikut saya ke kantor." Pak Wardian lalu berjalan keluar kelas diikuti oleh pelajar cowok yang tadi bersamanya.
Setelah mengucapkan permisi dan meminta izin kepada Ibu Gretta, gue cepat-cepat bergegas menyusul Pak Wardian. Kami berjalan menyusuri koridor dalam diam. Gue sempat melirik ke arah lapangan dimana Jordan dan tim nya masih sibuk memberikan petuah-petuah panjang kepada anak-anak baru kelas sepuluh. Gue gak melihat Firash di deretan anak-anak itu. Sepertinya adik perempuan gue itu terlalu mungil untuk cepat dikenali di antara ratusan anak-anak itu.
Pak Wardian memasuki ruang pribadinya lalu mempersilahkan gue dan pelajar cowok tadi duduk di kursi yang terletak di depan meja kerjanya. Meskipun bingung, gue lebih memilih untuk gak banyak bertanya. Toh pada akhirnya Pak Wardian akan menjelaskan kenapa gue dan cowok ini di panggil.
"Jadi.." Pak Wardian duduk memandangi gue dan anak cowok di sebelah gue bergantian. "Seperti tahun-tahun sebelumnya, Universitas Global Persada hanya menerima satu kandidat untuk mendapatkan beasiswa di fakultas kedokteran."
"Iya Pak." Perasaan gue mulai gak enak. Gue lirik siswa cowok di samping gue yang masih terlihat tenang-tenang aja. Mungkin dia juga mengajukan beasiswa yang sama dengan gue. Tapi setahu gue, jika ada beberapa anak mengajukan aplikasi untuk menerima beasiswa, biasanya pihak sekolah akan memutuskan siapa yang berhak menerimanya berdasarkan nilai rapor tertinggi dan prestasi akademik siswa tersebut.
Universitas Global Persada dan SMA Global Persada berada di bawah naungan sponsor yang sama. Meskipun berstatus milik pemerintah, Universitas dan SMA Global Persada banyak mendapat reaksi positif dari masyarakat karena lulusannya yang kompeten dan mampu bersaing dengan lulusan lainnya. Universitasnya bahkan mampu mengirimkan lulusannya untuk bekerja di perusahaan-perusahaan besar bahkan hingga ke luar negeri. Hal ini lah yang membuat Universitas dan SMA Global Persada menjadi satu-satunya institusi milik pemerintah yang di sponsori oleh pihak swasta.
"Jadi, pihak sekolah sudah memutuskan untuk mengadakan kompetisi bagi kalian berdua. Pemenang dari kompetisi ini nantinya yang akan mendapatkan beasiswa tersebut. Bagaimana?"
Gue langsung melirik cowok yang duduk di sebelah gue. Sama seperti gue, dia pun melakukan hal yang sama. Untuk beberapa detik kami saling bertatapan dan mencermati calon saingan masing-masing.
Pelajar cowok ini bertubuh tegap dan lumayan atletis. Kulitnya kuning langsat. Bentuk rahangnya kokoh, tegas. Matanya dalam dipayungi alis tebal yang teduh. Hidungnya mancung dan bibirnya terukir sempurna. Kalau gue seorang perempuan, gue pasti akan langsung terpikat dengannya.
"Jadi, Jody.. Farish.. Bapak harap kalian.."
"Jody?" ulang gue lalu kembali menatap siswa laki-laki di sebelah gue dengan kaget. Jadi apa ini Jody yang dulu pernah coba mendekati The Queen Bee?
"Ada masalah dengan nama gue?" Jody menaikkan sebelah alisnya menatap gue.
Gue cepat menggeleng lalu berbalik memandang Pak Wardian. "Kompetisi apa yang Bapak maksud?"
"Karena itu saya memanggil kalian berdua kesini. Untuk menjelaskan mengenai kompetisi ini. Tapi kamu sudah memotong ucapan saya." Pak Wardian menatap gue gak sabaran.
Gue langsung tertunduk dan bergumam, "maaf Pak. Silahkan diteruskan."
"Jadi, pihak sekolah sudah memutuskan akan mengadakan kompetisi bagi kalian berdua. Kompetisinya adalah.." Pak Wardian terdiam sejenak. "Kalian akan mengadakan presentasi untuk menunjukkan kemampuan serta bakat kalian di depan salah seorang siswi di sekolah ini. Siswi ini nantilah yang akan menentukan siapa yang berhak mendapatkan beasiswa itu."
"Seorang pelajar di sekolah ini Pak? Apa hubungannya siswi SMA biasa dengan beasiswa yang kami rebutkan ini?" Jody bertanya.
Pak Wardian menggeleng lemah. "Dia bukan siswi sembarangan. Dia adalah anak dari salah satu sponsor sekolah kita. Karena orangtua nya sibuk bekerja, jadi pihak sekolah menyerahkan tanggung jawab memilih ini pada siswi tersebut."
Jody mengangguk mengerti mendengar penjelasan Pak Wardian.
Firasat gue langsung merasa gak enak mengenai cewek ini. Dia pasti akan langsung memilih Jody. Jody punya semua yang disukai oleh setiap perempuan. Peluang gue untuk berhasil menang sepertinya sangat tipis.
"Siapa siswi itu?" Penasaran, gue akhirnya memberanikan diri bertanya.
"Jessica Veranda Tanumihardja."
Seriously, bahkan pihak sekolah pun kini mengagung-agungkan The Queen Bee. Ada apa dengan sekolah ini? Hanya karena dia anak dari salah satu sponsor, bukan berarti dia punya wewenang untuk memilih siapa yang dia inginkan untuk mendapatkan beasiswa. Ini bukan seperti ajang pencarian bakat yang jurinya bisa dari kalangan awam. Ini mengenai masa depan seseorang. Pendidikan seseorang.
Jody menyeringai di samping gue. Gue tahu dengan jelas pikiran macam apa yang sekarang ada di otaknya. Dia pernah dekat dengan Queen. Itu berarti satu hal. Dia semakin berpeluang untuk dipilih oleh Queen. Sementara gue? Menatap gue pun, Queen tidak pernah.
"Karena ini kompetisi, pihak sekolah memang sengaja memberitahu kalian secara mendadak. Kami akan melaksanakan kompetisinya hari ini juga. Kalian hanya punya waktu 15 menit untuk menyiapkan apa yang akan kalian tampilkan di depan Jessica Veranda."
"Apa? Cuma 15 menit Pak?" Jody terlihat kaget. Sepertinya dia mulai terlihat gak yakin apakah mampu menampilkan yang terbaik atau gak.
Gue sendiri gak yakin kemampuan atau bakat apa yang dia punya sehingga pihak sekolah mau memberikan beasiswa itu untuknya dan mensejajarkan posisinya dengan posisi gue. Bukannya gue sombong. Gue cukup kenal beberapa anak yang berprestasi di sekolah ini. Dan Jody bukan salah satu di antaranya.
"Saya akan memanggil Jessica Veranda di kelasnya. Selama saya pergi, saya harap kalian sudah tahu apa yang akan kalian tampilkan nanti." Pak Wardian bangkit berdiri kemudian keluar dari ruangan. Meninggalkan gue dan Jody berdua.
Gue selalu tahu apa yang bisa gue lakukan dengan kemampuan gue. Gue tahu sampai dimana batas yang bisa gue lakukan dan yang gak bisa gue lakukan. Jadi, begitu Pak Wardian menyebutkan menggenai kompetisi, gue langsung punya bayangan apa yang akan gue tampilkan nantinya. Tapi masalahnya adalah, jurinya The Queen Bee, Jessica Veranda. Sehebat apapun kemampuan akademik atau sekeren apapun bakat yang gue miliki, The Queen Bee gak akan pernah mau memilih ultimate nerd seperti gue.
Gue kembali melirik Jody yang kini juga sibuk dengan pikirannya sendiri. Mungkin masih bingung akan menampilkan apa di depan Sang Ratu agar dipilih menjadi pemenang. C'mon! Dia diam aja pun, Jessica Veranda akan tetap memilihnya!
***
"Jadi, apa kamu sudah mengerti dengan apa yang saya jelaskan?" Pak Wardian kembali bertanya padaku entah untuk yang sudah ke berapa kalinya.
Aku sangat terkejut ketika beberapa menit yang lalu Pak Wardian, si Kepala Sekolah, mendadak muncul di depan kelasku dan meminta aku meluangkan sedikit waktuku untuk menjadi juri dari sebuah kompetisi bodoh. Ya, pelajar bodoh mana yang ingin memperebutkan beasiswa fakultas kedokteran Universitas Global Persada?
Everybody knows, fakultas kedokteran di Global Persada sangat ditakuti oleh calon mahasiswa baru. Selain karena sistem belajarnya yang ketat dan sulit, banyak mahasiswa pintar yang harus meluangkan waktu mereka lebih lama untuk lulus dan meraih gelar dokter dari fakultas itu. Jika di universitas lain akan membutuhkan waktu 5 hingga 7 tahun, maka di Global Persada bisa mencapai 7 hingga 9 tahun.
"Saya tinggal pilih siapa yang pantas untuk mendapatkan beasiswa itu kan Pak? Saya udah ngerti kok." Aku berbicara sambil mengiringi langkah Pak Wardian menuju gedung serba guna.
"Bapak harap kamu bisa bijak dalam memilih. Sebagai sesama siswa disini, kamu pasti mengenal kedua calon penerima beasiswa ini. Apalagi kamu punya reputasi yang sangat baik selama di sekolah."
Aku langsung memberikan senyum ku padanya. Berharap ia dapat mempercayaiku dan mengandalkanku dalam hal ini. Ya meskipun aku sendiri tidak tahu apa yang nantinya akan aku nilai dari dua orang bodoh yang berebut beasiswa tidak jelas itu. Jika aku bingung, aku tinggal menunjuk saja salah satu siswa yang menurutku cukup nerdy untuk menjadi calon mahasiswa kedokteran. Toh tipikal pelajar nerd memang cocok menjadi calon mahasiswa kedokteran di Universitas Gloper.
Pak Wardian bernafas lega begitu kami tiba di depan gedung serba guna. Dengan sekali dorong, beliau lalu membuka pintu kaca dimana dua orang pelajar berpakaian putih abu-abu tengah duduk membelakangi kami.
Aku termasuk jarang memasuki aula besar yang biasa kami sebut ruang serba guna ini. Pertama kali aku datang keruangan ini adalah saat aku menjalani masa orientasi siswa. Namun sepertinya untuk hari ini, ruangan besar berukuran seperti hall room hotel bintang lima ini khusus digunakan untuk kompetisi beasiswa yang menyebalkan.
Pak Wardian melangkah lebih dulu mendekati kedua pelajar itu. Aku menyusul di belakangnya dengan malas. Seharusnya waktuku dihabiskan untuk bercerita mengenai liburanku di Bali kepada ketiga teman-temanku dan mendengarkan cerita mereka daripada harus duduk melihat dua orang bodoh yang menampilkan kemampuan mereka untuk membuatku terkesan. I am Jessica Veranda. Tidak ada hal apapun yang bisa membuatku terkesan kecuali sepatu atau pakaian branded yang sedang sale.
"Jadi, apa kalian sudah siap?" Pak Wardian bertanya pada dua orang siswa itu sementara aku memilih untuk duduk di depan meja panjang yang berada di tengah dan berhadapan langsung dengan podium.
"Sudah Pak," jawab sebuah suara yang dulu pernah sangat familiar di telingaku.
Aku secara refleks menoleh ke sumber suara dan melihat Jody berdiri dari duduknya kemudian berjalan menaiki podium setinggi satu meter di depanku. Jody, kakak kelas yang dulu sempat mendekatiku dan di gadang-gadang akan menjadi pacarku itu mengajukan diri untuk beasiswa? Lucu sekali. Aku tahu dengan jelas seperti apa kemampuan otaknya. Satu-satunya yang menonjol dari dirinya hanyalah di bidang olahraga. Terutama baseball.
Aku cepat mengubah ekspresi wajahku yang kaget menjadi biasa saja. Aku tidak ingin Jody mengira aku masih mengharapkannya. Tidak sama sekali. Dengan wajah setenang mungkin, aku pura-pura memperhatikan penjelasannya mengenai background pendidikannya dan kemampuannya dalam baseball serta prestasi lainnya di olahraga tersebut.
Jody menjelaskan secara terperinci dan penuh percaya diri. Seolah apa yang sudah pernah diraihnya adalah suatu hal yang sangat luar biasa. Itu biasa saja. Aku jadi sedikit heran kenapa pihak sekolah menjadi kesulitan untuk memutuskan memberi beasiswa ini. Mungkin orangtua Jody yang kaya raya itu memaksa pihak sekolah untuk memberi kesempatan pada anaknya? Itu baru masuk akal.
"Jadi gue rasa, dengan prestasi gue di bidang olahraga yang pernah menjadi most valuable player se-Jakarta Pusat, gue pikir beasiswa itu pantas gue dapatkan. Universitas Global Persada membutuhkan calon dokter yang juga atlet olahraga berbakat. Terima kasih." Jody menutup presentasinya sambil tersenyum.
Selama ia menjelaskan, aku berusaha sebisa mungkin untuk tidak menatap matanya. Meskipun Jody adalah the most wanted boy di sekolah, bukan berarti aku, Jessica Veranda bisa dengan mudah dipermainkan olehnya. Dia pernah mendekatiku lalu mendadak menjauhiku. Dan sekarang dia berharap aku akan memilihnya? No way!
Setelah Jody selesai memberikan presentasi, seorang pelajar perempuan berkacamata naik ke podium. Aku sempat heran melihat cewek ini memakai seragam laki-laki. Keherananku langsung bertambah ketika dia mulai berbicara.
A girl? Or a boy??
"Perkenalkan, saya Ghada Farisha dari kelas XII IPA 1. Untuk mendapatkan beasiswa ini, saya akan memberitahu sedikit mengenai diri saya sehingga Anda bisa menilai pantas atau tidaknya saya mendapatkannya."
Gaya bicaranya kaku sekali. Bahkan suaranya pun mirip seperti suara laki-laki. Aku perhatikan sekali lagi penampilan cewek itu. Celana abu-abu panjang. Baju seragam yang sedikit kebesaran. d**a yang rata. Wajah bulat, berkacamata, dengan bibir kemerahan. Kulit yang putih seperti anak-anak keturunan tionghoa. Rambut pendek hingga melebihi leher. Tidak mungkin siswa ini adalah seorang laki-laki. Tapi mau selama apapun aku memikirkannya, tidak mungkin juga pihak sekolah membiarkan siswa perempuan mengenakan seragam laki-laki.
Siswa bernama Ghada Farisha itu membenarkan posisi kacamatanya sebentar, lalu kembali bicara. "Selain selalu mendapat peringkat kelas sejak SD hingga sekarang, saya juga pernah mengikuti beberapa lomba dan olimpiade di bidang ilmu pasti. Saya pernah meraih juara untuk olimpiade Matematika, dan Fisika se-Indonesia. Saya juga pernah menjadi wakil Indonesia untuk International Mathematical Olympiad tahun 2013 di Santa Marta, Kolombia. Saat itu saya berhasil meraih medali emas."
Medali emas?
Sangat mengesankan. Aku semakin heran kenapa the most ultimate nerd seperti ini harus bersaing dengan Jody yang tidak ada apa-apanya. Jody memang menarik. Tapi hanya itu. Isi kepalanya hanya penuh dengan baseball.
"Saya bisa berbicara dalam tiga bahasa secara lancar. Indonesia. Inggris, Jepang." Ghada terdiam sejenak lalu menatap lurus padaku dari balik kacamatanya. Sedetik kemudian, mulutnya sudah berbicara bahasa negeri sakura itu dengan fasih tanpa aku tahu apa yang di ucapkannya. Aku bahkan tidak tahu apakah yang diucapkannya itu benar atau salah. What do you expect? Aku hanya fasih dalam bahasa Indonesia dan Inggris.
"As one of the student representatif, it'll be my duty to show Global Persada University how educated we are. We need a straight student like me who'll attended to be medical student and bring Global Persada high school more attention than we had. If you're interested to choose me, please kindly approach Mr. Wardian tomorrow to let me know. Thank you." Ghada mengakhiri pidatonya dengan kalimat berbahasa Inggris yang fasih lalu turun dari podium.
Aku sempat melirik kearahnya begitu ia kembali duduk di samping Jody. Jody sempat menyunggingkan senyum sekilas begitu dikiranya mataku menatap ke arahnya.Pak Wardian yang kini sudah duduk di sampingku lalu memberikan aku beberapa lembar kertas berisi data lengkap kedua pelajar itu.
"Kamu bisa memutuskan besok siapa di antara kedua orang ini yang berhak mendapatkan beasiswa. Kamu bisa pelajari dulu data-data mereka."
"Iya Pak."
Pak Wardian mengangguk puas lalu berjalan lebih dulu meninggalkanku. Aku sempat memandangi kertas-kertas itu dengan jengkel begitu melihat isinya. Bagaimana mungkin lembaran-lembaran ini bisa k****a semuanya dalam satu malam. Aku tidak pernah suka membaca. Sebagian besar buku-buku yang aku baca hanyalah novel kisah-kisah misteri atau detektif. Mungkin aku hanya akan membaca data-data yang penting saja. Setidaknya aku harus mengenal seperti apa sosok yang akan aku pilih besok.
Aku perhatikan lembaran itu sekali lagi. Kertas paling atas berisi data diri Ghada Farisha. Pandanganku langsung menuju jenis kelaminnya. Aku memang cukup penasaran mengenai sosok yang satu itu. Alasan kenapa dia memakai seragam cowok ke sekolah dan kenapa Kepala Sekolah terlihat membiarkan saja seorang siswa teladan seperti dia berlaku seenaknya.. Tunggu sebentar.
Laki-laki?
Aku terbelalak tidak percaya membaca tulisan bertinta hitam itu disana. Bagaimana mungkin sosok kemayu seperti itu berjenis kelamin laki-laki? Belum hilang rasa kagetku, Jody sudah berdiri di samping mejaku sambil mengetuk-ngetukkan jarinya.
"Ve..," panggilnya.
Aku langsung berdiri dari dudukku dan bergegas menjauh darinya sebelum cowok itu berhasil menghadangku.
"Ve, kita perlu ngomong sebentar."
"What?" Kupandangi cowok yang pernah dekat denganku itu dengan wajah dibuat sedingin mungkin.
"Kamu pasti pilih aku kan untuk beasiswa ini?"
"Kita lihat besok."
"Ve.." Jody lantas menggenggam kedua tanganku dengan wajah penuh pengharapan. "Aku harap kamu pilih aku daripada si ultimate nerd itu. Kita udah saling kenal cukup lama. Kamu tau gimana kemampuan aku."
"Sorry. Tapi gue gak bisa janji apa-apa."
"Ve.." Jody semakin mempererat genggamannya. Tubuhnya maju selangkah semakin mendekatiku. Jarak kami hanya tinggal beberapa centimeter lagi. Aku bahkan bisa merasakan deru nafasnya di wajahku.
"Please.. Orang tua aku bisa marah kalau aku gagal kali ini." Jody semakin mempersempit jarak di antara kami. Tubuhku bahkan dihimpit olehnya. Aku tidak bisa berkutik apalagi melepaskan diri darinya. Bagaimana mungkin aku bisa melawan seorang atlet baseball dengan tubuhku?
Panik, aku langsung menoleh berkeliling berharap seseorang menghentikan the most wanted boy yang kelihatannya sedang depresi ini. Mataku langsung tertumbuk pada Ghada yang memperhatikan kami dengan pandangan jijik. Seolah aku dan Jody tengah melakukan sesuatu yang buruk.
I'm not doing anything! Can't he see that?
"Jo, menyingkir dari gue sekarang juga," desisku marah. Jody harus tahu bahwa aku tidak menyukai sikapnya ini. Sama sekali. Ku coba untuk mendorong tubuhnya menjauhiku namun cowok itu tidak bergeming dari tempatnya.
Jody menggeleng. "Aku gak akan pergi sebelum kamu bilang iya Ve."
Shit! Seharusnya aku buru-buru keluar bersama Pak Wardian tadi. Aku tidak mungkin terjebak di aula besar ini dengan Jody yang terus merengek memohon padaku. Orang-orang akan berpikir Jessica Veranda terlalu kejam sehingga tega menyakiti Prince Charming sekolah mereka.
Aku kembali menatap Ghada yang kini bersiap hendak pergi. Tidak bisakah cowok itu melihat bahwa seorang Jessica Veranda sedang memberi isyarat untuk meminta pertolongan padanya? Apakah dia terlalu bodoh untuk menyadarinya? Semua orang bahkan berlomba untuk bisa menjadi ksatria berkuda putihnya Jessica Veranda!
***
The Queen Bee masih menatap gue dengan pandangan memerintah. Seolah gue adalah pengawal pribadinya yang setiap saat bisa menolongnya dari monster jahat. Kenyataannya, gue bukanlah seorang prajurit dan Jody bukanlah seorang monster jahat. Jody-lah pangerannya dan gue lah yang lebih terlihat sebagai monster disini.
Gue sendiri gak mau berurusan dengan Jody. Menurut berita yang gue dengar dari beberapa anak di perpustakaan, sosok bernama Jody Agustav adalah seorang bullier nomor satu di Global Persada. Jangan cari masalah dengannya jika kalian gak ingin merasakan akibatnya. Toh dia gak akan bertindak jauh hingga melukai seorang Queen Bee kebanggaan sekolah.
Gue baru aja hendak melangkahkan kaki keluar aula ketika Queen mendadak berteriak kencang sehingga membuat gue otomatis menoleh kearahnya.
"Jody!" Wajah Queen terlihat penuh emosi menatap Jody yang sepertinya baru saja berusaha untuk menciumnya. Salah satu tangannya diletakkannya di depan mulutnya, mencoba untuk menghindar dari serbuan bibir the most wanted boy itu.
Entah keberanian dari mana yang tiba-tiba masuk ke tubuh gue sehingga tanpa sadar kaki gue sudah berjalan cepat mendekati keduanya. Dengan sekali gerakan, gue tarik tubuh Jody menjauh dari Queen. Gue memang gak suka jika ada cewek yang diperlakukan semena-mena apalagi dilecehkan seperti tadi. Gue punya adik perempuan. Dan gue tahu bagaimana rasanya jika adik perempuan gue yang justru mengalami hal seperti itu.
Kaget diperlakukan demikian, Jody langsung menarik kerah baju gue. "Lo berani ngelawan gue?" Mungkin karena merasa tidak terima, Jody langsung menghardik gue. "Lo mau di anggap sok pahlawan? Iya? Hah!?" Jody mendorong dadanya ke badan gue. Seolah menantang gue untuk memukulnya lebih dulu.
"Gue cuma gak mau lo berlaku kasar sama cewek." Gue mencoba untuk menjelaskan padanya. Gue lepaskan tangannya dengan paksa dari kerah baju gue.
"Kasar?!" ulangnya terlihat semakin kesal. Jody lalu mendorong d**a gue ke belakang hingga hampir jatuh tersungkur.
"Sikap lo tadi udah kelewatan." Gue kembali berbicara sambil mencoba menjaga keseimbangan tubuh gue.
"Kelewatan atau enggak, itu bukan urusan lo. Oh, apa lo gak suka karena gue minta Ve untuk memilih gue daripada elo? Jadi karena itu lo ngedorong gue? Iya?" Jody kembali memukul d**a gue hingga gue terpaksa mundur beberapa langkah ke belakang.
C'mon! Ini sungguh kekanakan sekali. Berapa usianya hingga bersikap seperti itu pada orang lain? Apakah dia tidak tahu sopan santun? Gue hanya menarik tubuhnya untuk menjauh dari Queen, tapi emosinya langsung meledak seketika. Bukankah dia juga baru aja mendorong gue?
Talk about Queen, where is she?
Begitu gue mendorong Jody menjauh darinya, The Queen Bee itu tahu-satu sudah gak ada lagi di ruangan ini. Great! Gue sudah menolongnya dan ini balasan dia untuk gue? Meninggalkan gue berdua dengan laki-laki yang sedang tersulut emosi.
Jody kembali berjalan ke arah gue dengan tangan terkepal. "Ghada Farisha, lo akan tahu lo sedang bersiapan dengan siapa."
This is going to be bad. Really bad.
Curse you, Jessica Veranda.
***