Masih ditempat yang sama, sosok Arzan benar-benar disidang oleh kedua sahabatnya dengan begitu teliti.
Tetapi dirinya sendiri hanya menenggelamkan kepalanya yang terasa berat, rasanya tanpa dia sadari jika langkahnya saat ini akan membutuhkan peran sekaligus pengorbanan di masa depan.
"Aku hampir gila memahami mu! kau keluar rumah tanpa pamit, kau menghilang seolah ditelan bumi, dan sekarang kembali dengan fakta sudah tidak lajang lagi. Bukan masalah ini ingin gue besarkan, akan tetapi kenapa lu tega nggak kasih kabar ke kita coba?" ucap Geo, pria berwatak lucu itu terus mengoceh kepada sahabatnya.
Bram hanya diam dan menatap punggung Arzan dan berkata, "Sudahlah, jangan lu ngoceh mulu. Kita nggak tahu apa yang dirasakan Arzan, biarkan dia menentukan pilihannya dan tugas kita adalah mempercayai sekaligus mendukungnya."
Geo mengangguk paham dan menepuk punggung Arzan penuh kehangatan.
"Okey! ... kita nikmati masa bersama kita hari ini!" teriak Geo mengajak mereka berdua untuk menikmati masa kebebasan Arzan sebagai salam perpisahan.
Dan kini mereka berdua tengah merayakan hari terakhir kebebasan Arzan. Begitu bahagia seolah Arzan benar-benar ingin melupakan permasalahannya untuk sejenak dengan ditemani makanan dan minuman lezat di atas meja yang sudah mereka pesan tadi.
"Bersulam untuk kebebasan!" teriak Geo begitu antusias dengan segelas khusus bir ditangannya.
"Yeah, bersulam!" teriak Arzan dan Bram menyambut sambutan Geo. Mereka bertiga bersamaan meneguk minumannya dengan ekspresi masing-masing.
"Jadi lo bakalan ninggalin kita berdua?" tanya Bram ketika sesi minum-minum mereka telah usai dan kini berganti dengan camilan sembari bermain video game.
"Sepertinya begitu, wanita itu terlalu menyeramkan untuk dilawan. Begitu angkuh dan dingin," jawab Arzan mulai membicarakan istrinya sembari menikmati camilan ditangannya.
Geo yang sebelumnya fokus bermain kini ikut menoleh dan menyahut, "Apa kau menikahinya benar-benar hanya demi uang?"
Degh! Arzan terdiam mendengar pertanyaan Geo, entah kenapa pertanyaan yang dia lontarkan itu seolah paham betul tentang posisi Arzan.
"Tentu, dia terlalu bosan dengan sejumlah uang nya itu," jawab Arzan mencoba menyakinkan dirinya sendiri.
"Aku dengar CEO itu memiliki putra, apakah benar?" Bram ikut menyahut dan mereka saat ini lebih mirip seperti kerumunan perumpi.
"Yap, namanya Dhafin." Arzan.
"Kau bertemu dengan mantan suaminya? bagaimana jika suatu hari nanti suaminya datang tiba-tiba di kehidupan barumu?" sahut Bram bertanya.
"Tidak akan, aku berani menjaminnya ...." jawab Arzan yakin sepenuhnya kerena memang benar adanya jika dia adalah pria pertama untuk wanita yang disebut janda beranak satu itu.
Bram menganggukkan kepalanya paham kemudian kembali menyimak permainan Geo dari atas sofa.
Tidak selang beberapa menit tiba-tiba ponsel Arzan bergetar, tetapi sang pemilik tidak menyadarinya karena asik melamun.
Drtttt ... drtttt
Bram menoleh ke arah ponsel dan wajah Arzan bergantian, tetapi Arzan masih tidak menyadarinya.
Sebungkus camilan yang Bram cekal itu tiba-tiba terjatuh di atas ponsel Arzan ketika dia beranjak bangun, sehingga membuatnya spontan menatap dengan jelas isi notifikasi di ponsel Arzan.
"Tunggu! Dia mengirimi mu pesan!" teriak Bram dengan ponsel Arzan di tangannya.
"Woah!! dia memang ahli memperdaya wanita!" sahut Geo mendekat karena penasaran.
Arzan menyadarinya seketika berlari hendak mengambil ponsel pribadinya itu, saat ini dia sudah berbeda dari yang dulu. Ketika semula dia tidak memiliki privasi khusus kini privasinya bersama sang istri kontraknya harus dia jaga rapat-rapat.
"Kembalikan! Akh, jangan memulai perdebatan denganku!" sahut Arzan berusaha meraih ponselnya yang terus disembunyikan oleh Geo dan Bram.
"Oper kemari!" sahut Geo meminta Bram untuk melemparkan ponsel itu kepadanya.
"Dia memiliki daya tarik sendiri! Dia menjawab pesan mu dengan ucapan 'Aku akan membunuhmu', woah! itu sama artinya dengan aku mencintaimu!" lanjut Geo begitu heboh setelah mengetahui isi pesan dari notifikasi atas nama 'Singa betina haus darah'.
Dia seolah juga mengartikan pesan Dina dengan pemikiran konyolnya sendiri.
Arzan mendengarnya semakin kesal dan terus berusaha meraihnya.
"Tutup mulutmu, lebih baik kau menyimpan energi untuk nanti!" ujar Arzan yang entah kapan sudah pandai menirukan ucapan Dina walau hanya selama beberapa hari mereka bersama.
Matanya menatap layar ponsel yang menampilkan notifikasi dari Dina setelah berhasil merebutnya dari Geo.
Dina: "Kau pergi tanpa mobil? Aku akan membunuhmu!"
Arzan: "Aku hanya mengambil barang-barang di apartemen saja."
Dina: "Berhenti mempermalukan ku Arzan! Berita ini sudah didengar publik, apa kau akan membiarkan mereka berkata jika aku menelantarkan mu?"
Arzan: "Iya-iya, tidak akan aku ulangi lagi."
Percakapan mereka berhenti sampai disana saja, setiap kali mereka berbicara maka Arzan lah yang selalu terkahir berbicara.
***
Di kediaman Soraya, lebih tepatnya di kamar sang putri yang bernama Dea.
Praang! ....
Bingkai foto yang semula terpajang rapi, kini telah hancur berkeping-keping. Tangan Dea dipenuhi bercak darah karena terluka tanpa sengaja saat membantingnya.
Wajahnya kini merah padam penuh amarah mengingat jika bocah kereta yang dia maksud adalah Arzan,yang kini sudah berstatus sebagai suami Dina.
Nafasnya tak beraturan ketika dirinya sekali lagi dikalahkan oleh Dina. Sejak kecil dia selalu kalah dari kakak sepupunya itu, apapun yang dia inginkan pasti terlebih dulu didapatkan oleh Dina.
"Akh! ... aku membencimu! aku akan membunuhmu!" teriak Dea dihujani ribuan tikaman, tampilannya kini sudah menjadi lusuh karena amukannya sendiri.
Gadis ini sejak kecil selalu berusaha menjadi lebih baik dari Dina, tetapi hal itu semakin dia coba semakin menjadi mustahil rasanya.
"Kenapa?katakan padaku, Aku hanya ingin menjadi lebih baik darinya, aku selalu berusaha lebih keras. Aku hanya ingin menjalani hidupku lebih bahagia, tetapi kenapa seolah kau tak mengizinkan ku! Kenapa!" ucapnya sembari berteriak dengan derai air mata, jiwa nya meronta-ronta ketika hidupnya tidak sesuai apa yang dia minta.
Keinginannya selalu berbelok dari apa yang telah menjadi rencana Tuhan. Ketika dia ingin memiliki seutuhnya cinta pertama justru kini menjadi suami kakak sepupunya. Saat dia ingin menjadi murid terbaik tetapi juara selalu berada di tangan kakaknya. Di dalam diri gadis ini seolah keadilan tidak pernah berpihak padanya sebelum sang ibu bertindak dengan cara yang seharusnya tidak dilakukan.
"Apa yang aku perbuat? apa ini hukuman? apa kesalahan ku? apa aku salah mempertahankan cintaku?" ucapnya terus bergeming sendiri seperti orang gila. Emosinya seolah di cabik-cabik detik itu juga.
"Apa ini menyenangkan? baiklah, aku akan melanjutkan permainan yang kau mulai ini!" Tangannya mengepal erat penuh penderitaan. Seulas senyum diwajahnya begitu mengerikan untuk dipandang.
Matanya menatap serpihan kaca yang berserakan itu dengan senyuman, keinginannya yang tak pernah terpenuhi akan dia ubah caranya hingga sampai di garis akhir.
Sorot kebencian kini semakin membara pada diri gadis cantik itu, percaya atau tidak selama ini dia selalu berusaha mengubur rasa bencinya untuk Dina, tetapi fakta kali ini tidak bisa lagi dia pungkiri begitu saja.