"Huft, tata cara bangsawan sangatlah banyak, ini semua membuatku pusing. Bukankah lebih baik menjadi diri sendiri?" Gerutu Clauva kesal.
Clauva sudah mengikuti semua yang diajarkan Scarlet kepadanya. Dimulai dari berjalan, menyantap makanan, memberi hormat, bahkan tersenyum dan tertawa harus ia lakukan dengan anggun.
Hera dan Scarlet yang mendengar gerutu Clauva tersenyum kecil. Clauva sepertinya benar-benar enggan untuk sekedar melakukannya.
"Kau sudah bisa melakukannya, gerakan-gerakanmu juga sudah anggun." Scarlet menimpali.
"Lebih baik aku memanah dari pada melakukan semua itu." Gumam Clauva. Tak lama kemudian ia menemukan sebuah ide yang menarik di benaknya.
"Hera, apakah aku boleh ke tempat latihan prajurit? Di situ pasti ada panah!" Hera yang mendengarnya cepat-cepat menggelengkan kepalanya.
"Kau tidak boleh ke tempat itu. Itu khusus untuk latihan para prajurit kerajaan."
"Aku hanya ingin melihat saja. Selain itu juga, aku ingin mencoba memanah!" Ujar Clauva dengan girang. Namun penolakanlah yang terus ia dapat.
"Ayolah Hera, sekali ini saja." Rayu Clauva yang pantang menyerah.
Hera melirik Scarlet, meminta pendapat. Scarlet menganggukan kepalanya setuju atas permintaan Clauva.
"Baiklah, hanya sebentar. Jika Yang Mulia tau, kita pasti akan dihukum."
"Baiklah, hanya sebentar. Terima kasih!"
Akhirnya mereka bertiga menuju tempat latihan prajurit kerajaan. Di sana terdapat banyak prajurit yang sedang berpedang, berlatih memanah, tombak dan lain-lainnya.
Clauva yang melihat pemandangan di sekitarnya sangat bersemangat ingin mencoba panah. Di desanya, ia sangat mahir menggunakan panah untuk berburu. Hasil buruannya biasa ia jual di pasar atau disantap untuk dirinya sendiri, namun terkadang ia tak mendapat banyak bagian, karena ibunya akan membaginya dengan yang tersisa.
Walaupun ia seorang perempuan, jangan ragukan kemampuannya saat bertarung. Memanah adalah satu-satunya bakat yang Clauva miliki, tak heran ia sangat suka memanah ataupun berburu di hutan.
"Aku ingin mencoba panah!" Girang Clauva. Beberapa prajurit yang melihat kehadiran Clauva menundukkan badan mereka hormat. Tentu saja perlakuan mereka membuat Clauva bingung sekaligus kesal.
"Panglima Herlan," panggil Scarlet pada seorang lelaki yang sedang melatih prajuritnya.
Lelaki yang dipanggil Panglima Herlan itu menoleh dan tersenyum kepada Scarlet. Ia segera menghampiri mereka bertiga, saat melihat Clauva yang juga sedang menatapnya, dengan segera ia membungkukkan badannya hormat.
"Salam untuk Putri Clauva."
"Kau tidak perlu membungkukkan badanmu." Clauva tersenyum pada Panglima Herlan.
"Apa yang membuat Putri datang kemari?" Tanya Panglima Herlan dengan kepala menundukkan, tanpa menatap mata Clauva.
"Aku ingin melihat para prajurit berlatih dan juga aku ingin mencoba memanah. Bolehkah?"
"Tidak, Putri. Pasti Yang Mulia tidak mengizinkannya." Tolak Panglima Herlan dengan halus.
"Hanya sebentar saja, lagi pula Yang Mulia tidak ada di sini." Mohon Clauva dengan suara memelas.
"B-baiklah, hanya sebentar."
Clauva tersenyum senang, lalu mengambil peralatan panah yang diberikan salah satu prajurit padanya. Kemudian ia memposisikan tubuhnya jauh dari tempat sasaran. Sedangkan yang lainnya tertarik melihat Clauva yang sedang mencoba menggunakan panah.
Clauva tampak fokus pada titik sasaran, lalu ia melepaskan anak panahnya dengan cepat. Anak panah itu melesat dengan cepat dan tepat sasaran, tepat berada di titik tengah. Kemudian ia mengambil anak panah lagi, lalu melepaskannya dengan cepat hingga anak panah itu membelah anak panah lainnya.
Semua yang melihat aksi Clauva langsung takjub dan bertepuk tangan. Terlihat pipi Clauva memerah mendapatkan banyak pujian.
"Kau sangat hebat, Clauva. Bagaimana caramu melakukannya? Aku bahkan tidak bisa." Puji Scarlet.
"Di tempatku dulu aku sering berburu menggunakan panah. Tentu saja aku harus banyak berlatih."
"Saya tidak tau Putri sehebat itu menggunakan panah." Panglima Herlan tersenyum kepada Clauva.
"B-bukan apa-apa. Ehm, sebaiknya aku kembali ke kamarku. Sampai jumpa Panglima Herlan, senang bertemu denganmu." Clauva mengajak Hera kembali ke kamarnya yang dijawab dengan anggukan kepala. Sebaiknya ia pergi sebelum merasa besar kepala akibat pujian yang Panglima Herlan lontarkan.
Belum saja Clauva membalikkan badannya, Panglima Herlan, Scarlet dan Hera beserta para prajurit lainnya membungkukkan badan mereka dengan hormat. Lantas itu semua membuat Clauva bingung, namun setelah mereka mengucapkan kalimat hormat, Clauva langsung terkejut setelahnya, menyadari seseorang yang selama ini ia pikirkan berdiri tepat di belakangnya.
"Hormat kami untuk Yang Mulia Lord, semoga Anda diberi umur panjang."
Clauva yang mendengarnya terdiam kaku. Tubuhnya tak bisa bergerak, bibirnya terasa kelu. Untuk sekedar mengambil napas pun rasanya sulit. Sungguh, Clauva belum memiliki persiapan apapun untuk menghadap raja dari segala raja di dunia ini.
"Apa yang kau lakukan di sini, Putri Clauva?"
Suara berat itu terdengar di telinga Clauva, dengan kaku ia mencoba membalikkan tubuhnya. d**a bidang seseoranglah yang pertama kali Clauva lihat saat ia membalikkan tubuhnya.
"Y-yang Mulia..." gumam Clauva pelan. Jantungnya berdegub kencang saat menatap manik hitam kelam itu.
Mata tajam yang ia lihat kemarin, ternyata milik penguasa dunia ini. Clauva merasa dirinya tenggelam dalam kegelapan mata itu. Mata hitam itu yang tak lain adalah milik Axero, yang sangat ingin Clauva temui.
"Apa yang kau lakukan di sini, hm?" Bisik Axero pelan tepat di samping telinga Clauva. Tubuh Clauva merinding seketika, apa lagi jarak di antara mereka berdua sangat dekat. Wajahnya bahkan sudah memerah seperti tomat.
"A-aku..." tiba-tiba saja Clauva merasa sangat gugup, ia mengalihkan pandangannya dati mata tajam Axero. Ia tak lagi harus mengatakan apa.
Axero terkekeh pelan melihat kegugupan Clauva. Ia mengangkat dagu Clauva menggunakan tangannya agar Clauva mau menatapnya.
"Mengapa wajahmu memerah, hm?"
"E-eh, Yang Mulia, s-sebaiknya kita berbicara di tempat lain.." ucap Clauva dengan gugup. Inilah waktu yang pas untuk ia berbicara dengan Axero, mengenai dirinya yang ingin kembali ke dunia asalnya, dunia manusia.
"Kalau begitu ikutlah denganku."
Clauva langsung mengikuti langkah kaki Axero yang mulai meninggalkan tempat latihan prajurit. Clauva memperhatikan punggung tegap Axero yang membuatnya gugup seketika. Ia tak menyangka bisa bertemu dengan penguasa dunia ini di waktu yang cepat.
Axero membawa Clauva ke ruang kerja pribadinya, di istana Raja. Sesampainya di sana, Axero langsung duduk di meja kerjanya, mengamati sosok Clauva yang berdiri di depan mejanya sambil menundukkan kepalanya gugup.
"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Axero langsung.
Rasanya Clauva ingin pergi saja, melihat mata Axero yang tajam tampak mengintimidasi dirinya.
"B-begini, Yang Mulia. Izinkan Saya untuk kembali ke-"
"Aku tidak mengizinkanmu." Potong Axero, matanya menatap Clauva tajam membuat tubuh Clauva sedikit bergetar.
"T-tapi.."
"Di sini rumahmu, untuk apa kau kembali lagi ke duniamu? Aku yakin kau tau sekarang kau berada di mana." Axero mulai beranjak dari tempat duduknya, mendekati Clauva yang masih menundukkan kepalanya.
Clauva meremas sisi gaunnya guna menghilangkan rasa gugup yang tengah melanda dirinya. Ia menggigit bibir bawahnya tak tau ingin menjawab apa. Jujur saja ia takut jikalau Axero marah padanya, bisa saja nyawanya yang akan melayang.
"Mengapa kau ingin pergi dari sini, huh?" Bisik Axero yang sekarang berada di belakang tubuhnya. Bisikan pelan itu membuat Clauva merinding seketika.
"Yang Mulia, Saya hanya ingin kembali ke dunia Saya. Saya sangat merasa asing di sini." Clauva mencoba memberanikan dirinya.
"Tidak! Kau akan tetap di sini."
Tangan kekar Axero mulai melingkari perut Clauva, memeluknya dari belakang. Ia meletakkan kepalanya di bahu Clauva, sehingga membuat gadis itu semakin gugup merasakan hembusan napas hangat Axero.
"Yang Mulia, t-tolong lepaskan.."
"Memangnya kenapa? Kau Ratuku, aku berhak melakukan ini." Bisik Axero dengan suara yang serak.
Clauva yang mendengar penuturan Axero pun langsung berdegup kencang, hatinya berdesir.
Apa aku tidak salah dengar?
Axero terkekeh pelan melihat wajah Clauva yang memerah seperti kepiting rebus. Wajahnya terlihat sangat lucu saat ini. Ingin rasanya Axero menggigit gemas kedua pipi yang bersemu itu.
"Ehm, Yang Mulia, a-aku.."
"Kenapa kau gugup sekali?"
Clauva menahan napasnya, tentu saja ia sangat merasa gugup! Bertemu dengan seorang raja besar tanpa persiapan apapun, lalu tiba-tiba raja itu memeluk dirinya dengan seenaknya, berbisik tepat di samping telinganya. Semakin membuat Clauva ingin kabur saja.
Pria itu menggigit pelan telinga Clauva, membuat gadis itu tersentak. Matanya yang semula hitam kini berubah menjadi ungu, menandakan bahwa ia sekarang tengah b*******h. Axero adalah seorang iblis yang memiliki napsu tak terkendali, sulit baginya mengendalikan diri jika berhadapan dengan pasangan takdir.
"Tolong lepaskan... Yang Mu-"
"Axero, panggil aku Axero."
"Tapi itu tidak so-"
"Kau mateku, terserah ingin memanggilku apa."
"A-apa maksudmu?" Tanya Clauva tak mengerti.
"Kau mateku. Ekhem, sebaiknya kau kembali ke kamarmu. Aku akan menemuimu nanti." Ucap Axero sambil melepaskan tangannya yang sedang memeluk pinggang gadis itu.
Clauva hanya mengangguk pelan, lalu membungkukkan badannya sebelum keluar dari ruang kerja pribadi Axero. Saat itu juga ia langsung bernapas lega.
Hanya ada satu alasan Axero membiarkan Clauva pergi, ia tak ingin lepas kendali saat itu juga lalu 'menerkam' Clauva. Axero ingin menunggu waktu yang pas sampai Clauva dilantik menjadi Ratunya. Walau sebenarnya boleh-boleh saja jika dirinya ingin mengklaim Clauva saat itu juga.
Axero tersenyum miring mengingat kegugupan Clauva saat berada di dekatnya. Itu membuatnya semakin ingin segera memiliki Clauva seutuhnya. Baru dipeluk saja gadis itu sudah segugup itu, Axero tak bisa bayangkan bagaimana jadinya Clauva jika ia berbuat lebih.