“Ini di taruh dimana Kak?” Rabiah datang dengan palstik besar di tangannya. Ada label ‘El**tta’ tertulis sebagai logonya.
Sofia yang sedang menyuapi Hasan Menoleh.
"Letakkan di meja depan Biah. Kenapa sendiri? Aliyah gak ikut kesini?”
“Nanti malam nyusul mungkin Kak.” Sambung Rabiah sebelum melanjutkan perjalanan. Maniknya menjelajah, mencari meja yang di maksud, dan senyumnya merekah saat menemukan meja yang dimaksud.
“Alhamdulillah,” batinnya lega. Gamis navy-nya yang menyentuh lantai membuatnya kepayahan. Beberapa kali dia hampir terjatuh karena berusaha menahan berat di lengan, sekaligus menjaga agar dia tidak menginjak bajunya sendiri. Rabiah meletakkan kantong plastik yang berisi pakaian untuk mereka kenakan di hari akad Alesaha dengan pasangannya.
“Kak Sofia.”
Rabiah menoleh, mendengar panggilan dari belakangnya.
“Eh…maaf, aku fikir tadi….”
Rabiah buru-buru memalingkan pandangan. “Tidak apa. Permisi.” Ujarnya buru-buru menghilang dibalik pintu. Tubuh memang kecil seperti Kak Sofiya, ini membuat beberapa orang berfikir kalau mereka saudara.
“Siapa Biah?”
Rabiah mendongak. “Mas Zayyan. Sepertinya, dia butuh sesuatu kak.”
“Bisa kamu pegang Hasan sebentar Biah? Kakak…,”
Rabiah segera mengangguk, bahkan sebelum Sofiya menyelesaikan kalimatnya.
“Baiklah, sepertinya Hasan juga merindukanmu. Kau lihat? Sejak tadi dia menoleh padamu.” Sofiya mengangsurkan Hasan yang merentangkan lengannya kearah Rabiah. Tawa renyah mengisi ruang dapur tempat mereka bercengkrama, ketika Sofiya meninggalkan keduanya. Sofia yang melihatnya hanya bisa tersenyum, sedetik wajahnya terlihat muram, namun dia segera menepisnya.
“Ayo Sayang. Hasan harus makan banyak jika mau cepat besar.” Rabiah dengan telaten menyuapkan MPASI pada Hasan yang mulutnya sekarang sudah belepotan dengan makanan. Rabiah yang tidak tahan mencium pipi tembemnya, membuat balita itu merengut tidak suka.
“Biah…?”
Rabiah menoleh. Raut wajahnya mengerut, tidak mengenali sosok yang memanggilnya. Wanita yang mengenakan abaya hitam itu tersenyum lembut melihat kebingungan Rabiah.
“Maaf, kamu mungkin tidak mengenalku, tapi Sofiya sudah beberapa kali bercerita tentangmu.”
Kak Sofia?
“Kamu persis seperti yang dia ceitakan. Cantik.”
******
“Kamu butuh sesuatu Zayyan?”
Zayyan yang sibuk membaca buku tebal di tangannya mendongak. “Kak Sofi,” ucapnya tersenyum. Dia meletakkan bukunya, menatap kakak sepupunya penuh selidik. “Apa dia yang bernama Rabiah?”
“Ya. Kenapa?” tanya Sofia bingung. Apa adik sepupunya ini memanggilnya hanya untuk itu?
Zayyan mengangkat bahu. “Bukan apa-apa, hanya ingin memastikan. Dia sepertinya sangat pemalu.”
Sofia tertawa. “Ya. Dia wanita yang tahu bagaimana bersikap dengan yang bukan mahramnya, Zayyan. Apa kamu memanggilku hanya untuk menanyakan itu?”
“Bukan. Aku ingin bertanya, berapa lama Mbak mengenal Aleesha? Aku ingin mengetahui apa saja yang dia sukai, mengingat yang mengenalkan kami adalah Mbak.”
“Kenapa tidak bertanya langsung padanya?”
Zayyan mengulum senyum. “Aku ingin memberikan kejutan padanya, Mbak. Mbak tentu tahu hadist yang mengatakan ‘Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan sebaik-baik kamu (para suami) adalah yang paling baik terhadap istrinya.’ Sedikit kejutan semoga bisa membuatnya senang, nanti detailnya aku pasti bertanya langsung padanya.”
“Dia pasti senang.”
“InshaAllah. Zayyan hanya berusaha melakukan yang terbaik, Mbak, karena Zayyan mengambilnya sebagai istri dengan perjanjian Allah, maka salah satu tugas suami adalah berusaha menyenangkannya.”
“Apa Kak Alzam sering melakukannya?” lanjutnya iseng, membuat Sofiya tertawa.
“Kamu harus bertanya sendiri padanya. Oh iya, bagaimana dengan perkembangan tesismu? Penelitiannya sudah selesai?”
“Belum Mbak, nanti kami masih harus mendiskusikannya, mengingat penelitianku di Amman dan kuliahnya disini. Kami harus mencari jalan tengah.”
“Apa kalian berencana tinggal disini atau di Indonesia?”
“Di Indonesia dong Mbak. Zayyan sudah berazzam, sejak masih awal kuliah untuk mengabdi di Indonesia, kesini hanya untuk penelitian dan Alhamdulillah Allah menunjuki Zayyan untuk menemukan jodoh disini. Begitu kuliah Aleesha selesai kami akan langsung berangkat ke Indonesia. Dia bisa mengajar di pondok jika dia mau, tapi itu semua tergantung keputusannya.”
Sofiya mengangguk. “Apa kamu keberatan jika dia ingin bekerja?”
“Tidak juga. Selama dia tahu kewajibannya sebagai istri dan dia tidak lalai dalam mengerjakannya, Zayyan tidak masalah, meski Zayyan lebih suka dia di rumah Mbak. Apa mas Alzam melarang Mbak bekerja?”
Sofia menggeleng. “Ini keputusan Mbak, Zayyan. Mengurus Hasan sudah cukup membuat fokus Mbak teralihkan. Mbak gak mau karena kesibukan bekerja, tumbuh kembang Hasan terabaikan.”
Zayyan mengangguk setuju. “Karena seringkali kesibukan justru membuat kita lalai pada tanggung jawab yang seharusnya kita jalankan dengan semaksimal mungkin. Di zaman dimana semua dituntut serba praktis dan cepat ini, pola fikir kita juga ikut berubah. Proses tidak lagi penting, selama hasil sesuai dengan yang diharapkan. Contoh misalnya, berapa banyak anak-anak yang menghabiskan waktu di depan gadget dibandingkan bercengkrama dengan orang tuanya sekarang? Semua sibuk. Selama anak tidak rewel tidak masalah memberikan mereka fasilitas yang justru membuat anak semakin terjerumus. Pada akhirnya, mereka belajar dari apa yang mereka dengar dan lihat. Amat jarang menemukan orang tua yang mendongeng ataupun menemani keseharian anak mereka sekarang. Mereka berdalih, kebutuhan menuntut waktu mereka teralihkan dengan pekerjaan. Mereka lupa, prestasi terbaik justru saat mereka berhasil mendidik anak mereka menjadi generasi yang mencintai Allah dan Rasulullah.”
Sofia tersenyum mendengar penjelasan berapi-api Zayyan. Dikenal sebagai sosok yang jarang bicara, dan lebih banyak menghabiskan waktu di kantor perusahaan keluarga mereka, banyak yang mengira kalau Zayyan orang yang tertutup dan tidak suka bergaul. Mereka salah, Zayyan tidak suka menghabiskan waktu jika bukan untuk hal yang bermanfaat.
“Mbak gak heran, kalau banyak teman mbak yang bilang kamu misterius.” Ujar Sofia tiba-tiba.
Zayyan mengernyit. “Misterius?” ini pertama kalinya dia mendengar kata ‘misterius’ disematkan untuk menggambarkan sosoknya. Lebih sering dia mendengar ‘dingin yang tak terjamah’. Misterius itu untuk orang yang tidak ingin identitasnya diketahui bukan? Lah, hampir semua orang yang kenal dengannya tahu dia siapa. Kalau dia lebih sering menghabiskan waktu di rumah dan pekerjaan itu karena dia berusaha menjaga diri. Dia tidak mungkin pergi ke sembarang tempat hanya untuk menghabiskan waktu. Lebih baik dia di kamar membaca buku atau bercengkrama dengan bunda tercintanya. Itu lebih bermanfaat.
“”Dulu, saat Mbak masih di Indo, dan kita satu sekolah, banyak yang megatakan kamu orang yang misterius. Tidak suka jika disapa, dan lebih sering memajang wajah datar tanpa ekspresi.”
Zayyan tertawa. “Oh itu. Zayan kan gak mungkin tebar pesona, Mbak. Lagian sikap dingin Zayyan jusrtu bagus untuk kaum hawa bukan?” ujarnya mengerling jail, meski dengan senyuman.
“Zayyan bersikap seperti itu agar Zayyan bisa menjaga hati. Menundukkan pandangan tujuannya untuk menghindar dari zina mata.” jelasnya meski dia tahu Mbak-nya tahu hal ini.
“Boleh Mbak tanya sesuatu?”
Zayyan mengangguk.
“Apa pendapatmu tentang Aleesha?”
“Kenapa Mbak bertanya?”
“Karena Mbak perlu memastikan, kamu memilihnya bukan karena rekomendasi, Mbak. Mbak ingin diyakinkan kalau itu murni keputusanmu.”
“Insha Allah, Mbak gak usah cemas, semoga ini pilihan terbaik yang Allah berikan untuk Zayyan. Zayyan memang belum lama mengenalnya, tapi Zayyan ingin lebih mengenlanya setelah kami menikah nanti. Aleesha inshaAllah bisa menajdi istri yang sholehah dan ibu yang baik untuk anak-anak kami kelak.” Rapalnya penuh harap, dan mengaminkan doanya dalam hati.