Keputusan berat

2546 Words
September Ghibran merekatkan mantel panjangnya. Menatap tetes hujan yang perlahan menyapa bumi Mu’tah. Kabut yang menebal menghiasi langit yang tidak seputih biasanya. Secangkir teh hijau terhidang diatas mejanya berikut beberapa biskuit sebagai penambah suasana tenang yang dia rasakan. Senyum tersungging di wajahnya saat merasakan perasaan hangat yang tiba-tiba menjalarinya. Musim gugur telah tiba. Jalanan mulai ramai diisi kendaraan oleh orang-orang yang sibuk memulai harinya. Dia sendiri sebenarnya memiliki jadwal mengajar di kampus. Ini bulan terakhirnya sebagai dosen tamu, setelah itu dia benar-benar fokus pada kuliahnya dan juga misi yang beberapa hari terakhir ini begitu kuat dan kokoh menginpasinya. Memenuhi dadanya. Ghibran menyilangkan kakinya, menikmati gerimis di balkon apartemennya sembari menyeruput teh hijau yang menemani pagi harinya. Mu’tah terlihat berbeda ataukah ini karena perasaannya yang berubah membuat pandangannya ikut berubah? Setelah berkutat beberapa hari dan berdebat dengan dirinya sendiri dia akhirnya bisa membuat keputusan. Ini yang terbaik untuk mereka berdua. Suara getar handphone yang dia letakkan diatas nakas dekat tempat tidurnya membuat fokusnya seketika terpecah. Dengan malas—karena dia sedang tidak ingin diganggu saat ini, Ghibran meraih teleponnya. Kedua alisnya terangkat saat melihat dial si penelepon. “Ada apa Alzam?” tanyanya tanpa basa-basi. Suaranya yang sedikit kesal pastilah terbaca oleh Alzam, karena laki-laki itu tertawa mendengar ucapannya. “Tidak, aku tidak punya kesibukan yang berarti. Apa kau butuh sesuatu?” Ghibran mendengarkan dengan seksama penjelasan Alzam dan setelah sahabatnya itu selesai berbicara justru dia yang bisu sekarang. “Ouh … maaf, aku hanya sedang memikirkan hal lain.” ujar Ghibran buru-buru. “Kau bilang apa tadi? Petra?” dia sudah pernah kesana dan sejujurnya dia tidak tertarik untuk mengunjunginya lagi, tapi saat mendengar kalau Rabiah menjadi salah satu pesertanya tentu saja semangatnya langsung bangkit. “Okee, aku ikut. Kapan kita berangkat?” tanyanya setelah jeda beberapa saat. “Baik Alzam aku akan mengingat semua detilnya. “dengusnya sebelum memutuskan sambungan. Ghibran memandang gumpalan awan yang bertumpuk diangkasa dengan senyum tersungging. Dia suka musim gugur. Ghibran memandang kamarnya yang luas. Sebuah lukisan alam terlihat membentang luas diatas kepala tempat tidurnya. Sawah dengan tanaman padi yang mulai menguning dengan beberapa orang memakai caping sebagai objeknya. Lukisan yang dia beli saat mengunjungi pameran lukisan di Thailand. Dia bukan pengoleksi barang antik ataupun kolektor seni, hanya saja saat melihat lukisan itu dia langsung jatuh cinta. Dia membelinya detik itu juga dan meletakkannya di rumah Aira. Namun saat wanita itu tahu dia akan tinggal disini cukup lama, lukisan ini akhirnya berpindah tempat. Ghibran melipat lengannya, senyumnya merekah saat membayangkan sebuah Negara yang juga terkenal dengan agrarisnya. Indonesia. Dia ingin mengunjungi negara itu suatu hari nanti. Jika dulu dia tidak punya alasan untuk mendatanginya, sekarang bukan hanya alasan, dia punya tujuan penting kenapa ingin menginjakkan kaki di negara itu. mengingat Indonesia membuatnya teringat saat belanja bersama Rabiah. Rasanya baru kemarin mereka melakukannya. Betapa indahnya andai kegiatan itu dilakukan saat mereka telah resmi menjadi suami istri. Ghibran tersentak mendengar bunyi bel apartemennya. Siapa yang datang sepagi ini ke tempatnya? Fikirnya bingung. Ghibran berjalan menuju dengan malas, mengintip tamunya lewat intercom. “Aira?” gumamnya. Tangannya cekatan membuka pintu. “Halo om.” Suara riang si kembar menyambutnya begitu pintu rumahnya terbuka. Ghibran menunduk untuk mengangkat Almeera dalam gendongannya. “Apa yang terjadi?” tanyanya menatap Aira, membuka pintu lebar-lebar agar kembarannya bisa masuk. “Tidak ada. Hanya kunjungan biasa. Si kembar ingin melihat rumah om-nya, karena sekarang om-nya jarang berkunjung ke rumah.” Aira berjalan menyusuri lorong demi lorong dan berhenti di dapur. Kantong belanjaan yang dia bawa dia letakkan diatas meja. “Aku yakin kamu belum sarapan?” “Aku tidak pernah sarapan sepagi ini,” ujarnya memutar mata kesal. Ini masih jam tujuh dan dia selalu sarapan diatas jam Sembilan. “Meski begitu, karena aku sudah susah payah membawa makanan kemari, aku fikir tidak masalah jika kita makan bersama. Si kembar pasti suka.” Aira menatap dua anaknya, meminta dukungannya. Aahil dan Almeera serempak menganggukkan kepala, menatap Ghibran dengan wajah menggemaskan mereka. “Apa hanya ini alasanmu datang kemari?” tanyanya curiga. Ini pertanyaan wajar, mengingat selama dia ada disini dirinyalah yang selalu mengunjungi rumah mereka. Aira tersenyum misterius, membuat lipatan di kening Ghibran melebar. Apa yang disembunyikan Aira? “Apa yang kau bawa?” Ghibran mengintip makanan yang dibawa Aira. Fattet Humnus? Makanan yang sedikit berat untuk dimakan di pagi hari. “Apa kau punya madu?” tanya Aira. Ghibran menunjuk lemari tempat dia menyimpan madu. “Apa Farhan tidak di rumah?” “Dia sudah di rumah sakit sejak dini hari, membatalkan semua rencana yang sudah kami susun.” Nadanya terdengar jengkel, membuat Ghibran mau tidak mau tersenyum mendengarnya. Profesi dokter membuat jam kerja Farhan terkadang memang suka berantakan meski begitu biasanya Farhan selalu bisa mengatasinya. Aira mengambil gelas kristal, membuka kulkas dan mengambil beberapa jeruk nipis untuk di peras airnya. “Apa Farhan mengatakan sesuatu?” “Om, disini tidak ada televisi?” tarikan di tangannya emmbuat pandangan Ghibran menunduk. Almeera dengan gaun pink dan juga bandana berwarna senada menatapnya dengan penasaran. Ghibran menggeleng. “Tapi Om punya sesuatu untuk kalian.” Bisiknya misterius. Almeera dan Aahil menatapnya berbinar. “Apa Om?” seru keduanya serempak. Ghibran berjalan menuju kamar disamping kamar utamanya. Menyalakan saklar, matanya mulai menjelajah. Ghibran meraih kotak besar yang teronggok di sudut kamar tempatnya menyimpan barang-barang yang tidak terpakai. “Aahil, Almeera, ini.” serunya menarik si kembar mendekatinya. Dia memberikan keduanya masing-masing satu kotak. “Boneka? Yeyyy. Terima kasih Om,” pekik Almeera riang mencium wajah Ghibran sebelum melongos pergi. Aahil menatap robot-robotan ditangannya, dan meski dia terlihat senang, dia hanya menatap wajah Ghibran dengan tatapan sok cool yang membuat Ghibran hampir tertawa. “Terima kasih, Om.” Sahutnya dan berjalan santai, meski sesaat kemudian dia ikut berlari dan meloncat-loncat. Ghibran terkekeh melihatnya. “Ayo.” Teriak Aira setelah selesai menyajikan sarapan diatas meja. “Ini makanan yang berat untuk dicerna dipagi hari.” Keluhnya mengambil kursi dan duduk didepan Aira. “Berhenti protes Ghibran.”ancam Aira menatap kembarannya melotot. Ghibran mendengus, mengambil sendok dan mulai menyuapkan sarapannya. “Bagaimana dengan si kembar? Apa mereka sudah sarapan.” “Sudah. Dunia tidak akan aman jika mereka belum sarapan jam segini.” “Itu mengingatkanku pada seseorang.” Kekehnya. Mata Aira menyipit. “Kau dulu juga seperti itu bukan? Menendang apapun yang ada didepanmu jika sarapanmu terlambat?” “Aku tidak ingat.” Sahutnya cuek diantara suapannya. Aira mencibir, memutuskan untuk tidak memperpanjang perbincangan. Sesekali matanya mencuri pandang pada Ghibran. “Jangan menatapku seperti itu. Ada yang ingin kau tanyakan?” Ghibran meraih perasaan lemon yang dicampur dengan madu sebelum kembali menatap Aira. Sebelah alisnya terangkat. “Bagaimana perkembangan dengan Rabiah?” bisiknya. Dia menggeser makanannya yang baru habis setengah. Melipat kedua tangan diatas meja dan menatap Ghibran. “Jadi ini alasanmu jauh-jauh datang kemari?” “Tentu saja tidak.” Sungutnya jengkel, meski wajahnya memerah saat menjawabnya. “Jadi bagaimana? Apa kau akan terus mengalihkan pembicaraan seperti yang kau lakukan pada Farhan?” Ghibran hampir tersedak mendengarnya. “Aku tidak percaya Fahan bercerita seperti itu padamu.” Decaknya kesal. Pasangan suami istri ini selalu berhasil membuatnya takjub. Aira mengibas tangannya tidak peduli. “Sekarang ceritakan. Apa yang terjadi? Terakhir kamu membuntuti Rabiah bukan?” “Kedengaran seperti aku ini penguntit.” Gerutunya. Kedua alis Aira terangkat, menunggu Ghibran membuka suara. “Tidak ada yang terjadi. Semua masih sama, tidak ada yang berubah.” “Apa kau akan baik-baik saja, seandainya ada yang melamar Rabiah?” Pertanyaan menohok ini hampir saja membuat jantungnya berhenti. Bayangan Rabiah menikah dengan orang lain terlalu menyakitkan untuk dibayangkan. Dia tidak pernah dan tidak akan sanggup membayangkannya. Tapi, bukankah itu suatu kepastian jika pada akhirnya perbedaan yang membentang diantara mereka begitu lebar. Pada Akhirnya Rabiah akan menikah dengan laki-laki terbaik yang pasti akan sangat beruntung karena memiliki Rabiah. “Ghibran?” Ghibran tersentak. Mulutnya kering untuk menjawab pertanyaan Aira. “Kau tahu? cepat atau lambat, pada satu titik Rabiah akan bertemu dengan seseorang dan dia akan menghabiskan hari tuanya bersama laki-laki itu bukan?” “Bisa kita tidak membahasnya?” pintanya memohon. Dia tidak sanggup mendengar Rabiah menikah dengan orang lain. tidak. Selama ada peluang dia akan meraihnya. Dia hanya butuh waktu sedikit lebih lama. Tapi apa Rabiah mau menunggunya? Dia tidak pernah mengatakan apapun pada Rabiah sebelumnya. Wanita itu berhak memilih laki-laki yang baik untuk hidup bersamanya bukan? “Apa kau tahu kalau sebentar lagi Rabiah akan pulang ke Indonesia?” Denting sendok yang jatuh menimbulkan suara nyaring yang memekakkan telinga. Ghibran menatap saudara kembarnya dengan pandangan tidak percaya. Rabiah akan pulang? Kenapa dia tidak tahu hal ini, terlebih kenapa Rabiah tidak mau memberitahunya? ****** “Kenapa wajahmu terlihat kusut seperti itu, Biah?” Rabiah menoleh, menatap istri professor yang menatapnya balik penuh selidik. Apa wajahnya begitu mudah dibaca? “Umi selalu melihat wajahmu tersenyum Nak, hari ini kau tersenyum, tapi tidak ada cahaya disana.” Wanita lebih dari separuh baya itu menunjuk mata Rabiah. “Apa ada sesuatu yang mengganggu fikiranmu?” tanyanya lembut pada Rabiah. Rabiah berusaha keras agar suaranya tidak bergetar. Pandangannya yang berkabut bertemu dengan mata teduh yang dengan sabar menunggunya berbicara. “Kenapa rasanya menyakitkan Umi menyukai seseorang?” tanyanya perih, menundukkan pandangan agar buli kristal yang mendesak keluar tidak kelihatan. “Kau jatuh cinta? Siapa laki-laki beruntung itu Nak?” Pertanyaan itu justru semakin mengoyak hatinya. Laki-laki beruntung? Rabiah menggeleng lemah. “Dia berbeda Umi.” Balasnya pelan. “Berbeda? Perbedaan seperti apa yang kau maksud Nak? Bukankah Rasulullah mengatakan kalau keimanan dan ketakwaan adalah landasan utama dalam memilih seseorang. Jika agamanya baik, inshaAllah dia akan tahu bagaimana menjagamu Nak.” Rabiah mendongak. Kedua pipinya basah, membuat wanita itu terkejut saat melihatnya. “Dia seorang ateis Umi.” Bisiknya perih. “Astaghfirullohalazdim. Biah, kamu pasti tahu bagaimana Islam mengatur pernikahan dengan begitu indah bukan? Saat akad terucap, laki-laki itu akan memikul tanggung jawab yang besar atasmu. Ribuan malaikat mengaminkan doa saat seorang laki-laki mengucapkan janji bahwa dia akan menjadi imam dalam rumah tangga yang kalian bina. Jika dia seorang ateis, kau harus mengambil langkah yang tegas. Tidak ada tawar menawar Nak, jika sudah berhubungan dengan keyakinan.” Nasehat wanita berkerudung hitam yang biasanya selalu memakai niqab saat pergi ke luar rumah. Air mata semakin deras membasahi kedua pipinya. “Rabiah tahu Umi, hanya saja… Rabiah tidak tahu kalau dia seorang ateis sampai dia mengatakannya sendiri.” “Bagaimana bisa terjadi seperti itu?” “Kami mengikuti organisasi kemanusiaan bersama. Dia pernah menolong Rabiah beberapa kali.” “Kau tidak tahu jika sebelumnya dia seorang ateis?” Rabiah menggeleng lemah. “Tidak Umi, tapi ini kesalahan Rabiah. Hanya karena kami berada di lingkungan dan kegiatan yang sama tidak berarti bahwa keyakinan yang kami percayai juga sama bukan? Rabiah salah Umi.” Isaknya. Wanita itu meraih Rabiah dalam pelukannya, mengelus punggungnya dengan lembut. Rabiah yang dipeluk menumpahkan semua kegundahannya. Dia tidak pernah tahu, menyukai seseorang bisa menyakitkan seperti ini. Andai laki-laki yang dia sukai memiliki keimanan yang sama, sungguh dia tidak akan malu menawarkan ta'aruf. Menikah itu ibadah, tapi kenyataan yang menghampirinya berbeda. Sekarang dia harus bisa membuat keputusan yang tepat. Ini mungkin jalan terbaik untuknya dan juga hatinya. “Sekarang, apa yang akan kau lakukan Nak?” Umi melepaskan pelukannya menatap Rabiah dengan sayang. “Rabiah akan pulang Umi, mungkin kepergian ini akan membuat suasana hati Rabiah lebih baik. Bukankah jarak selalu bisa mengaburkan perasaan Umi?” tanyanya lemah. “Tidak, Nak. Jarak bisa membuat perasaan semakin kuat tapi bisa juga membuatnya semakin lemah. Ini semua tergantung dengan apa yang ada disini.” Ujarnya lembut menunjuk jantungnya. “Keyakinan itu penting Nak. Bukan jarak yang membuat hubungan dan perasaan berubah, tapi keyakinan. Jika kau bertanya apa jarak bisa mengaburkan perasaan maka jawabannya mungkin. Kita tidak pernah tahu hal itu sampai kita benar-benar mencobanya. Apa kau yakin dengan keputusanmu?” Dia memang ingin pulang, tapi tidak secepat ini. Namun setelah apa yang dia tahu rasanya pulang adalah solusi yang paling tepat. “InshaAllah Umi.” Usapan lembut di ujung kepalanya membuat Rabiah mendongak. “Jangan cemas. Umi yakin, kamu akan bertemu laki-laki baik dan sholeh Nak. Berdo’alah, semoga ujian perasaan ini adalah jalan yang Allah bukankan untuk mempertemukan mu dengan jodoh terbaik pilihanNya.” Rabiah mengaminkan dalam hati doa yang diucapkan untuknya. “Kapan kamu akan berangkat?” “InshaAllah dua minggu lagi Umi. Setelah ujian kelulusan Rabiah akan langsung pulang.” Kalimatnya berhasil membuat wanita itu berkaca-kaca. “Umi akan merindukanmu Nak. Semangatmu dan juga kegigihanmu semoga menjadi contoh bagi anak-anak remaja di negerimu. Bahwa selama kita yakin dan percaya Allah yang akan membuka jalan untuk setiap pinta yang dipanjatkan. Ajarkan mereka tentang kisah para salafush salih Nak. Agar generasi muda tidak lupa, bahwa ada air mata dan juga perjuangan dalam meraih kebahagiaan hakiki. Hidup sejatinya adalah perjuangan. Akan ada banyak air mata dan juga kesedihan yang menemani, tapi selama kita yakin bahwa ada Allah didalamnya tidak ada yang perlu kita cemaskan. Umi harap, ilmu yang kamu dapatkan disini bermanfaat untuk kelangsungan umat. Ajarkan generasi muda agar senantiasa memiliki keinginan untuk belajar. Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim. Umi percaya kamu bisa melakukannya dengan baik.” Wanita itu mendekat, mencium puncak kepala Rabiah. Lama dan penuh perasaan. Air mata kembali meleleh dikedua pelupuk matanya. Dia akan merindukan wanita ini. Orang yang selalu dengan sabar menasehatinya tentang berbagai hal. ****** Rabiah berjalan mengelilingi kampus. Setelah sekian lama perjuangan, akhirnya dia akan segera lulus. Tangannya terangkat untuk menyapu butiran yang membasahi sudut matanya. Universitas Mu’tah memiliki ribuan mahasiswa dengan jurusan yang paling diminati dibidang Syariah, Handasha ( Arsitektur), dan Kuliyah Tib (Kedokteran). Nampak lautan manusia hilir mudik memadati setiap lantai gedung, bahkan ada yang rela duduk di kursi taman kampus. Rabiah tertawa. Dia juga pernah melakukannya saat awal-awal masuk perkuliahan. Dia orang yang pemalu bahkan untuk orang yang satu Negara dengannya. Namun perlahan semua berubah, saat dia sadar untuk bisa bertahan di tempat ini dibutuhkan keyakinan dan keteguhan yang kuat. “Rabiah?” Rabiah menoleh, tersenyum saat melihat orang yang menyapanya. “Kak, Sofiyah.” Balasnya berjalan menghampiri Sofiyah yang sedang menggendong Hasan. Memeluknya erat. “Kaifa haluki?” (bagaimana kabarmu?)” seru Sofiyah senang. “Bhikorin, walhamdulllah. Kakak dan keluarga bagaimana kabarnya?” Rabiah mengacak-acak rambut Hasan dengan gemas. “Alhamdulillah. Kenapa jarang ke rumah sekarang?” “Maaf kak, Rabiah sibuk mengurus ujian.” Sahutnya tidak enak hati. “Kapan pengumumannya keluar?” “InshaAllah seminggu lagi. Mohon do’anya kak” “InshaAllah. Apa kau sibuk? Bagaimana kalau kita ke kantin? Kakak kangen makan bersama Biah.” Rabiah mengangguk. “Apa kakak datang sendiri?” “Tidak. Mas Alzam juga ikut. Nanti dia akan menyusul. Ayo.” Keduanya lantas berjalan menuju kantin yang selalu ramai dan heboh setiap saat. “Biar Rabiah yang pesan. Kakak mau apa?” tanyanya begitu mereka memasuki kantin. “Kakak pesan Qatayef dengan teh. “ Rabiah mengangguk, berjalan menembus keramaian dan memesan makanan yang mereka inginkan. Rabiah berbalik dan berjalan menuju tempat Sofiyah, namun langkahnya terhenti saat melihat sosok yang sekarang ikut duduk di kursi yang sama dengan kak Sofiyah. Mas Ghibran? Batinnya tercekat, tanpa sadar memundurkan langkah. Kenapa mereka harus bertemu sekarang? Disaat dia memantapkan hati untuk tidak lagi terlibat dengan laki-laki ini? *Qatayef : makanan khas Yordania yang rasanya manis, mirip seperti pancake dan biasanya disajikan dengan toping madu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD