BAB 15 - Si Bocah Pemberani

1850 Words
Setelah pembicaraan yang membuka matanya terkait keadaan sebenarnya di terminal bayangan samping pasar tersebut, Wulan menjadi lebih waspada untuk mengamati segala gerak-gerik tak biasa yang terjadi disekitarnya. Beberapa kali ia mendengar selentingan yang semakin santer mengenai kecelakaan tak wajar yang menimpa sang paman. Namun gadis yang menyamar sebagai remaja laki-laki  itu, dengan tenang tetap bertindak biasa saja dan berpura-pura tak tahu menahu  seperti yang sudah dipesankan oleh Opik kepadanya. Pada akhirnya, Wulan jadi mengetahui maksud sang paman saat pertama kali dulu menyuruhnya menyamar sebagai anak laki-laki yang tak memiliki hubungan apapun dengan Sujiwo. Karena di saat seperti sekarang ini, ia jadi mengerti betapa pentingnya keadaan dirinya yang bukan merupakan siapa-siapa di tempat tersebut. Rahasia Wulan aman di tangan Opik, sehingga ia dianggap sebagai seorang remaja biasa saja yang masih tak mengetahui apapun disekitar dirinya. Jadi meskipun bertubuh jangkung melebihi para senior disana, tetap saja Wawang merupakan anak kecil yang belum paham tentang situasi menegangkan yang bakal menjadi lebih berbahaya lagi. Terlebih, Opik juga sudah mengatakan pada Wawang agar ia berhati-hati bicara dengan siapapun. Karena menurut lelaki tersebut, diantara anak buah Sujiwo terdapat paling tidak satu orang yang sudah menjadi pengkhianat bagi kelompoknya. Namun kerena mereka belum bisa membuktikan tuduhan tersebut, tentu saja yang dapat dilakukan untuk sementara ini hanyalah dengan diam menunggu sambil waspada mengamati. Opik dan rekan-rekan yang setia pada Sujiwo akan tetap bersabar. Karena pada saat si pengkhianat itu diketahui dengan pasti, saat itulah misteri kecelakaan paman Wulan akan segera tersingkap. ~***~   Usianya masih belum delapan belas tahun, namun ia telah menjadi seorang pekerja di sebuah dunia yang benar-benar keras dalam arti sebenarnya. Kata-kata, sikap dan bahkan perilaku kasar disekitarnya, adalah makanan sehari-hari bagi gadis yang berpura-pura sebagai lelaki muda itu. Karena perawakannya memang ramping, dalam penyamaran itu ia malah menjadi sangat pantas jika diibaratkan sebagai bocah terlantar yang memiliki gaya hidup jalanan tak jelas. Namun begitu, hal tersebut malah dengan bagusnya telah bisa menutupi kebenaran tentang siapa dirinya. Hampir dua bulan sepeninggal Sujiwo, Wawang bersama Opik masih tetap bisa menjaga sikap untuk tidak memulai gesekan dengan beberapa orang yang semakin terang-terangan mengganggu tempat mereka mencari nafkah. Meskipun pendapatan mereka menyusut drastis akibat harus membayar uang pajak pada Edi Best yang seringkali mondar-mandir memamerkan kegarangan untuk sekedar memberikan sebuah teror. Entah apa yang akan direncanakan, namun tentu saja mereka sudah bisa menebak jika niat sebenar orang tersebut pastilah tidak baik. Beberapa hal yang membuat risih adalah kedatangan para pencopet serta preman yang sering memalak calon penumpang. Tentu saja, keadaan tersebut telah menyebabkan pangkalan angkutan umum menjadi sepi karena kondisi yang kurang nyaman bagi orang pada umumnya. Dan pada akhirnya, puncak ketegangan itu meledak dengan terjadinya satu hal yang tak diinginkan oleh Opik beserta rekan-rekannya. Sebuah tindakan sepele dari Wawang yang berusaha berbuat baik pada seorang gadis sekolah, ternyata berujung pada pengeroyokan para pencopet dan preman suruhan Edi Best. ---   “Kau baik-baik saja?” tanya Opik dengan tergopoh-gopoh menyambut Wawang yang dengan santainya melenggang keluar dari balik deretan kios. “Aku baik-baik saja, Om …” “Mereka bilang, kamu dikeroyok lima orang. Makanya aku cepat menyusulmu kemari. Tapi, kenapa orang-orang itu berhamburan lari keluar? Kau apakan mereka?” tanya lelaki itu kembali sambil dengan heran memegangi lengan si anak remaja. Sementara, matanya sibuk meneliti sekujur tubuh si anak kerempeng dengan pandangan khawatir. “He he … nggak tahu, Om. Dua copet itu marah saat aku mengingatkan calon korbannya untuk menutup ritslueting tas punggungnya. Mereka menyeret aku ke kios tutup ini, lalu mulai mengeroyok. Tapi nggak tahu kenapa, tiba-tiba saja mereka berteriak kesakitan dan lari pergi dari sini.” “Hmm … Wulan … jangan main-main. Mereka itu orang-orang yang cukup berbahaya.” Saking gemasnya terhadap keponakan Sujiwo, Opik langsung saja menegur dengan nama asli si gadis. “Aku nggak bohong, Om … dipukuli seperti itu, tentu aja aku harus menangkis untuk membela diri. Tapi herannya, mereka malah kesakitan saat tangan serta kaki beradu dengan bagian tubuhku.” Dengan pandangan tak percaya, lelaki gempal itu menatap tajam pada Wawang yang nampak sangat kalem tanpa merasa bersalah sedikitpun. Karena masih saja heran, Opik kembali mencecar dengan pertanyaan, “Kau tak balas memukul mereka?” “Oh, itu … tentu saja aku membalas. He he … tapi mungkin reflek saja tanpa aku pikir bagaimana cara memukuli mereka.” “Wang … jangan main-main, mereka anak buah Edi Best. Pasti akan berbuntut panjang saat pimpinan dan rekan-rekannya tahu jika mereka dipukuli oleh anggota pangkalan sini.” “Aku tidak takut, Om … mereka yang salah. Tanpa ba-bi-bu, langsung saja main keroyokan.” “Itulah yang mereka harapkan disini. Keributan tadi, pasti akan menjadi alasan mereka untuk menggusur kita dari pangkalan. Tujuannya, tentu saja agar bisa menguasai lahan pekerjaan kita.” Mendengar kata-kata Opik, barulah Wawang tersadar akan konsekuensi yang harus mereka hadapi. Karena keteledorannya, perkelahian itu pasti berimbas pada semua anggota yang akan menjadi kehilangan pekerjaannya. Meskipun ia tak bersalah, pihak pengacau pasti akan mencari kebenarannya sendiri sebagai alasan untuk menindas dan merebut kekuasaan di tempat itu. “Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan?” “Kau pergilah dan bersembunyi untuk sementara waktu. Aku yakin, tak lama lagi pasti akan datang anggota gerombolan lain yang akan mencarimu. Biar nanti Om yang akan menjelaskan duduk perkaranya.” “Atau … biar aku saja yang menjelaskannya, Om? Ah, maafkan … karena terburu nafsu, aku jadi mengacaukan semuanya.” “Sebaiknya jangan kamu yang menghadapi mereka. Mungkin dan semoga saja aku bisa sedikit urun bicara untuk mendinginkan keadaan.” “Tapi semua itu perbuatanku. Aku malah tidak ingin yang lain jadi terbawa-bawa karena kesalahanku. Kalau aku yang menghadapi mereka dan meminta maaf secara pribadi, tentunya tak akan menyeret yang lain dalam masalah ini.” “Rasanya tak akan bisa. Karena justru inilah yang sedang ditunggu. Mereka pasti akan membuat keributan agar bisa bertikai dengan semua orang. Jika itu terjadi dan mereka menang, semua orang akan diusir dan tidak boleh lagi mencari uang disini.” Mendengar kata-kata itu, Wawang kembali terdiam. Setelah beberapa saat berpikir, iapun mengemukakan apa yang ada didalam hati terkait kesimpulannya. “Mereka akan mencari keributan agar bisa mengusir semua pekerja disini. Nah … karena aku adalah orang baru yang belum lama terlibat disini, maka akan lebih baik jika aku menghadapi mereka secara pribadi tanpa melibatkan yang lain. Perintahkan rekan-rekan menyingkir untuk sementara waktu, biar aku yang menghadapi mereka. Kalaupun kalah, aku bisa pergi dan menghilang.” “Tapi jangan lupa, ada pengkhianat disini. Orang itu pasti akan membocorkan informasi terkait keberadaanmu yang sudah cukup lama berada disini.” “Tak masalah, Om … orang itu tak tahu siapa aku sebenarnya. Dengan demikian, aku bisa menghilang tanpa jejak setelah menjelaskan duduk perkara pada Bos mereka.” ---   Mendengar penjelasan Wawang yang sangat masuk akal, Opik mengangguk-angguk mengerti. Namun, tentu saja ia tak sampai hati jika harus meninggalkan bocah tersebut untuk menghadapi segerombolan orang kasar dengan sendirian saja. “Wang … aku mau bertanya dengan serius. Tolong jawab dengan jujur tanpa menyembunyikan sesuatu.” “Baik, Om …” jawab si remaja dengan sungguih-sungguh “Apakah benar, jika tadi kau telah menghadapi kerubutan lima orang itu secara sendirian?” “Benar, Om …” “Tanpa bantuan orang lain?” “Aku sendirian saja, meskipun hanya melakukan pembelaan diri.” “Hmm … kau pandai ilmu beladiri?” “Tidak mahir.” “Pernah belajar beladiri?” “Hanya beberapa bulan saja.” “Tapi, bagaimana bisa kau mengalahkan lima orang bertubuh lebih besar dengan begitu mudah?” “Aku tak tahu. Kata orang yang menjadi guruku  hanya dalam beberapa bulan, aku memiliki bakat alam dari latihan fisik semenjak kecil secara tak sengaja.” “Latihan apa?” “Menebang pohon, mencangkul, berlari, menyelam … itu katanya. Dan jujur saja, sampai saat ini aku juga tidak terlalu paham akan hal itu.” “Hmmm … ilmu bela diri? Belajar memukul dan menendang … kau pernah melakukan itu?” “Rasanya, aku hanya diajari tehnik untuk memukul, menendang, menangkis dan membanting … emmm … belum pernah sedikitpun aku belajar jurus-jurus beladiri secara khusus.” Opik kembali tertegun setelah mendapatkan jawaban tersebut. Jujur saja, lelaki itu masih terlalu bingung dengan perkembangan keadaan yang akan mengarah pada sesuatu yang tidak baik bagi periuk nasi pekerja di tempat mereka mencari nafkah. Sahabat paman Wulan itu kembali berpikir keras untuk mencari solusi dalam melepaskan diri dari masalah tersebut. Tentu saja ia masih bimbang, karena tempat kerja mereka pasti akan dikacaukan para perusuh bila ia bertindak dengan membela Wawang. Namun untuk membiarkan bocah itu menghadapi musuh sendirian, ia juga merasa tidak tega. Dan baginya, hal tersebut sangatlah memalukan bila dilihat orang lain. “Orang yang kau hadapi tadi, hanyalah para preman jalanan dan tukang copet biasa dan bukan seorang ahli bertarung. Mereka  mengandalkan modal keberanian serta otot saja, tanpa sedikitpun memiliki ilmu. Tapi jika urusannya sudah masuk pada orang yang bernama Edi Best, itu pasti akan berbeda.” “Biarkan aku mencoba, Om … paling tidak, aku bisa menjelaskan duduk perkaranya. Terlebih lagi, apakah mereka akan tega untuk melakukan kekerasan pada anak kecil bertubuh kurus ini?” dengan kata-kata yang sangat tenang, Wawang mencoba bernegosiasi dengan Opik yang berpendapat lain dalam mencari solusi permasalahan tersebut. “Kau tidak tahu mereka. Bahkan terhadap orang tua, preman kasar itu tega melakukan pemukulan.” “Kita lihat saja nanti. Ku harap, Om Opik jangan dulu terlibat dengan membelaku. Jangan katakan aku sebagai anggota kelompok Om Opik.  Anggap saja aku ini pendatang dari jauh alias orang luar yang menumpang hidup disini. Jadinya, mereka tidak akan bisa menuduh pekerja disini yang terlibat perkelahian.” Mendengar penjelasan yang kian masuk akal, Opik kembali mempertimbangkan saran tersebut. Tampaknya, ia memang benar-benar sedang memikirkan nasib anggota lain yang kini jadi terancam bahaya karena peristiwa tadi. Kedua orang tersebut masih saja berbincang untuk mematangkan rencana yang disusun oleh si anak remaja. Terlihat, Opik masih sangat khawatir dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Karena tanpa dapat ia sembunyikan, wajahnya nampak seringkali dipalingkan untuk mengamati keadaan sekitar dari balik kios tutup yang menjadi tempat mereka berbicara. Melihat hal seperti itu, Wawang segera mendesak pada lelaki tersebut untuk segera melakukan sebuah tindakan pencegahan. Mendapatkan sebuah ide baru, iapun segera menyampaikannya kepada Opik, “Telepon rekan-rekan yang ada disana. Kalau ada gerombolan orang yang mau bikin ulah, suruh semuanya pergi bersembunyi.” “Kenapa harus begitu?” “Demi kebaikan bersama, jangan libatkan mereka. Perintahkan untuk menghindari bentrokan. Biarkan aku dulu yang bertemu dan meminta maaf pada orang yang tadi mengeroyokku.” “Kamu akan minta maaf?” “Demi keselamatan yang lain, aku bersedia meminta maaf.” “Kalau mereka tak mau memaafkan?” “Aku pribadi akan bersedia pergi untuk tidak lagi menginjakkan kaki disini.” “Kalau itu tak cukup bagi mereka?” “Aku akan mengikuti apapun kemauan mereka. Bahkan bila harus menghadapi orang yang bernama Ali Badri pun, aku tak akan mundur selangkahpun.” Dengan tegas, gadis penyamar itu menunjukkan pribadi aslinya yang tak pernah memiliki rasa takut dan juga prasangka berlebihan. “Untuk apa kamu harus  menghadapi Ali Badri?” “Tentu saja, untuk meminta maaf dan memohon agar tempat ini tidak diganggu oleh anak buahnya.” “Kamu berani?” “Siapa takut?” ***           
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD