Prolog

440 Words

Pesisir pantai Kota Ochayama, daerah pantai telah dilanda oleh badai besar yang memporak-porandakan pesisir. Seorang gadis kecil dan ayahnya tampak berada tepi pantai. Seorang pria mendekati badai itu dengan membawa gadis kecil. Pria itu terlutut di tanah menangis terisak-isak. Sementara gadis kecil disampingnya tidak tahu apa yang telah terjadi, ia tidak menemukan ibunya disini.

Badai itu menyusul ke daerah lainnya yang menenggelamkan seorang ayah dan dua putranya yang sedang bermain dilautan dengan kapal yang mereka miliki. Ombak menenggelamkan kapal itu beserta penumpangnya.

Badai besar yang terjadi di pesisir pantai menimbulkan korban jiwa. Ombak begitu tinggi hingga menghancurkan apa saja dipesisir pantai dan membuat orang-orang harus mengungsi ke daratan yang lebih tinggi, menjauhi pantai.

Badai yang terjadi dipesisir pantai itu bukan hanya disebabkan oleh keadaan alam sekitar. Badai itu disebabkan oleh mitos yang membelakangi terjadinya perang mermaid dan siren, penangkapan secara besar-besaran siren dan mermaid di wilayah berbeda.

Badai yang besar itu membuat seorang ibu harus kehilangan dua putra dan suaminya. Ia tidak ingin kehilangan keluarganya pun tanpa sadar membuat perjanjian dengan raja mermaid. Namun sayangnya perjanjian itu hanya bisa menyelamatkan dua putranya dan harus kehilangan sang suami. Dalam perjanjian itu ia harus siap atas kehilangan anaknya sendiri kelak dikemudian hari.

Beberapa tahun kemudian setelah kejadian itu. Semuanya kembali pulih di daerah pantai, banyak penduduk telah kembali dan menjalankan hidup di daerah pantai. Namun sesuatu yang terjadi dimasa lalu itu masih dan terus berlanjut, mereka yang belum selesai dengan masa lalunya.

Pemandangan indah Kota Malvado di pagi hari.

Burung- burung berkicau merdu, bunga- bunga yang bermekaran di taman, dan aktivitas warga kota di pagi hari yang begitu bersemangat menyambut datangnya pagi.

Sebuah mobil melaju di jalanan menuju tempat tujuan. Dalam mobil itu seorang pria paruh baya memakai pakaian rapi lengkap dengan jasnya sedang mengemudikan mobil. Di samping dirinya ada seorang gadis yang berusia 19 tahun. Gadis itu berambut panjang, dia memiliki wajah yang manis dan cantik.

Sepanjang perjalanan gadis itu hanya diam membisu, ia menatap ke depan menatap kekosongan. Ia tidak bicara satu kata pun pada pria yang ada di sampingnya. Melihat gadis itu terus diam, pria itu ingin sekali bicara padanya tetapi melihat keadaannya yang tidak memungkinkan baginya. Ia sendiri menduga gadis itu sedang kesal padanya.

 

Tidak lama kemudian mobil itu berhenti di sebuah rumah besar dan mewah. Kedatangan mereka di sambut oleh beberapa pelayan dan pemilik rumah. Seorang perempuan cantik dengan dua pria remaja di sampingnya. Gadis muda dan pria paruh baya itu memberi hormat pada pemilik rumah. Tetapi gadis itu tidak memperlihatkan senyumannya sedikit pun saat berkenalan.

 Pemilik rumah, nyonya besar mendekati gadis itu. Gadis itu tetap memasang wajah merengut.

“Hay nona cantik, siapa namamu?” sapanya.

Free reading for new users
Scan code to download app
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeAdd