03

1466 Words
❝I know I am dying Before I'm even trying❞ — neonomora, Palace in my dreams.  ▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀▀ Pagi itu Titan sudah rapi dengan semua keperluan sekolahnya. Sama dengan halnya penampilannya. Ia melihat sekali lagi pantulan dirinya di depan cermin. Ia berharap hari ini lebih baik dari hari sebelumnya. Titan lalu meraih tas ranselnya yang berada di atas tempat tidur. Menarik langkah menjauh dari kamarnya. Ia akan sarapan terlebih dahulu. Jam juga masih menunjukkan pukul 06:25 AM. Kemudian, tepat di anak tangga ke empat, kakinya berhenti melangkah. Ini suatu keajaiban untuk dirinya. Saat ini, terlihat orangtuanya sedang berada di meja makan. Sarapan. Berdua. Tentu saja, Titan terlihat bingung karena biasanya mereka tidak pernah terlihat seakur ini selama di Bandung maupun di Jakarta. Titan melangkah mendekat ke meja makan. Ia harus memastikan bahwa ini semuanya bukan hanya khayalannya saja. Khayalan yang selalu ia harapkan untuk menjadi kenyataan. Dan jika harapannya bisa terwujud sekarang, ia pasti adalah gadis yang paling bahagia saat ini. Bagaimana tidak, orangtuanya terlihat akur. Dan semoga saja ini awal yang baik untuk keluarganya. Titan mendudukkan bokongnya di tempat biasa dan menyendokkan nasi goreng dengan telur mata sapi yang menjadi menu sarapannya pagi ini. Masih hening. Tidak ada yang membuka suaranya, kecuali bunyi dentingan sendok-garpu yang beradu dengan piring. Dan tak lama, barulah suara berat berwibawa milik Revan terdengar. "Ayah mau bicara sama kamu, Tan." Titan meletakkan sendoknya, ia tidak ingin melihat lawan bicaranya saat ini. Jantungnya sudah berdegup cepat. Ini pasti sesuatu yang tidak baik, Titan bisa merasakan itu. Ia cemas tentu saja, tetapi Titan berhasil menutupinya dengan bersikap sesantai mungkin. Plis, jangan lagi! batin Titan. Helaan napas berat terdengar, Revan melihat ke arah putri semata wayangnya itu. "Ayah sama mama kamu akan berpisah, dan kamu harus pilih, kamu mau ikut ayah atau—" "Kalo ayah nanya aku harus ikut siapa? Aku ikut kalian berdua!" potong Titan dengan cepat. Ternyata memang benar, ini bukan sesuatu yang bagus. Jantungnya kini berdenyut sakit. Titan tertunduk dalam. Mengapa juga semuanya menjadi semakin rumit. Jelas saja bukan itu yang ingin Revan dengar dari putrinya. Di dalam lubuk hatinya paling dalam, ia juga tidak menginginkan perceraian terjadi di keluarganya yang telah ia bangun ini. Tetapi ia juga sudah tidak tahan dengan permasalahan yang berbeda-beda setiap harinya. "Tapi kamu harus pilih, Tan." Revan mendesaknya lagi. Titan lantas langsung berdiri. "Jawaban aku tetep sama, Yah. Aku ikut kalian berdua. Aku berangkat," jawabnya dan langsung menarik langkah menjauh. Suara Ibunya kini yang terdengar saat ia sudah di ambang pintu. "Titan." Diana memanggilnya dengan pelan. "Mah, aku mau berangkat sekolah. Kalian urusin aja urusan kalian dulu." Gue pikir kalian berdua bakalan akur lagi. Lalu, Titan mengerjap. Kejadian pagi tadi masih saja terus berputar di otaknya. Memaksanya merasakan kembali sesak yang tertahan di dadanya. Perlahan Titan menoleh ke arah Gendra yang sedang menghadap ke depan dan memanggilnya pelan, "Gen." Lalu, Gendra melihat ke arahnya dengan alis terangkat. "Ya? Kenapa?" tanya Gendra. "Hape lo tuh, ada panggilan masuk dari Dina," jawab Titan dan menunjuk dengan dagu ke arah ponsel Gendra yang memang berada di sampingnya. Mendengar itu, bukannya menerima panggilan dari Dina, Gendra malah mematikan ponselnya. Titan mengernyit. "Kenapa gak diangkat?" tanya Titan. "Gak kenapa-kenapa," jawab Gendra sekenanya. "Lo masih cemburu ya? Kemaren ngeliat Dina sama pacarnya?" tebak Titan. Kepalanya ia arahkan ke sebelah sana. Jendela di sampingnya juga ia turunkan. Embusan angin malam langsung ia rasakan di kulitnya. "Gue kan udah pernah bilang, gue sama Dina itu... cuma sahabatan," jawab Gendra akhirnya. Titan melihat ke arahnya lagi. "Friendzone, huh?" Gendra terkekeh pelan mendengar pertanyaan itu. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu, tidak ada lagi yang mengeluarkan suara. Mereka terlihat sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Hingga terdengar helaan napas pelan dari Gendra. "Oh ya, jadi apa alasan lo gak mau pulang ke rumah?" Titan mengembuskan napas berat, ia menghadap ke arah depan lagi. Gendra masih terus memperhatikan wajah yang terutupi oleh rambut panjang itu. "Biasalah, masalah keluarga. Mereka yang gak pernah mikir sebelum bertindak dan bersikap gak peduli sama semua dampaknya ke gue." Entah mengapa Titan ingin sekali menceritakan semuanya di depan lelaki itu, seperti tidak ingin menyembunyikan apa pun. Dan mungkin juga setelah menceritakan permasalahannya, ia akan merasa sedikit lega. Gendra mengangguk, mencoba mengerti. "Dan itu alasan kenapa lo sering ngelampiasin semuanya lewat rokok? Masalah?" Titan malah mengangkat salah satu sudut bibirnya. "Ya, salah satunya karena itu." Gendra mengikuti arah pandang Titan. "Apa gak ada hal lain yang lebih berguna dibanding ngerokok?" "Enggak." Terdengar Gendra terkekeh pelan mendengar jawaban yang keluar dari mulut gadis itu. "Kenapa lo malah ketawa?" tanya Titan masih dengan mengangkat sebelah alisnya. "Lo salah. Gue juga punya masalah sama keluarga gue. Gak tau kenapa gue gak nyaman banget tinggal di rumah. Selalu denger mereka ribut dan buat gue jadi gak betah lama-lama di sana. Dan karena itu gue nyari kesibukkan sendiri.. ya, jadi OSIS. Lebih berguna 'kan? Dibanding harus ngerokok?" "Gue gak bisa." "Lo bukan gak bisa, tapi gak mau." Titan tiba-tiba mengernyit dan menoleh ke arah Gendra dengan pandangan yang susah diartikan. "Mm, cowok kayak lo gak suka ngerokok?" tanya Titan dengan nada curiga. "Dulu, sekarang gue udah berenti." Titan mengerjap kembali. Masih melihat wajah Gendra dari samping dan terkesiap saat laki-laki itu tiba-tiba menoleh ke arahnya, cepat-cepat Titan mengalihkan pandangan. Ponsel putih itu sama sekali tidak menimbulkan reaksi apa pun. Titan mendengus. Pasti seseorang di sana sedang sibuk sehingga lupa mengabari dirinya. Mereka sama-sama terdiam lagi, hingga Titan merasakan embusan napas Gendra di telinganya. "Lo liat bintang itu, Tan?" Tunjuk Gendra ke arah bintang di sana. Titan mengikuti arah yang ditunjukkan Gendra kepadanya. "Yang mana?" tanya Titan, karena banyak sekali bintang malam ini. "Yang di sana. Yang paling terang," jelas Gendra. Titan sekarang tahu bintang yang dimaksud lelaki itu. So gorgeous, batin Titan. Mereka berdua terdiam beberapa saat dan memperhatikan bintang terang itu. Lalu, Gendra perlahan mendekat. Titan bisa merasakannya. Dan Titan mendengar Gendra berbisik, "I'd be that star in your life, if you let me to." ... 087886xxxx : lagi dimana? Read 08.22 PM.                                                                                                                   Titani Dev : siapa?                                                                                                                    Sent 08.23 PM. 087886xxxx : Bara. Lo lagi dimana? Read 08.23 PM.                                                                                                                   Titani Dev : rumah. Kenapa ganti nomor?                                                                                                                   Sent 08.24 PM. 087886xxxx : gak kenapa2. Bisa keluar sebentar? :) Read 08.24 PM. Titan melempar benda mungil itu ke atas tempat tidurnya. Dengan sweater kebesarannya, gadis itu buru-buru melangkahkan kakinya ke luar rumah. Di sana, di depan gerbang rumahnya ternyata memang benar ada Bara yang sedang duduk di atas jok motornya itu. "Kenapa?" tanya Titan saat dirinya sudah berada di depan Bara. Laki-laki itu lalu turun dari motornya. Dari penglihatan Bara, wajah Titan terlihat begitu murung. Maka, diraihnya tangan mungil Titan ke dalam genggamannya. "Mau jalan beberapa blok sama gue?" tanya Bara dengan senyum tipisnya itu. Titan mengangguk. Mereka berjalan beriringan. Titan berusaha untuk menutupi seluruh bagian dari tangannya dengan sweater kebesarannya itu. Bara tentu saja melihat gerak-gerik Titan. Diraihnya kembali tangan kiri Titan dan digenggamnya erat-erat. "Sori, gue gak bawa jaket. Tadi gue buru-buru," kata Bara dan mulai membentuk pola dengan jarinya di tangan Titan yang sangat gadis itu sukai. "Kenapa buru-buru? Itu ngerugiin diri lo sendiri juga, kan? Lo gak kedinginan?" "Tan, gue baik-baik aja. Gak perlu lo khawatirin gue. Gue buru-buru karena gue gak bisa berenti mikirin lo, asal lo tau. Gue juga mau mastiin lo baik-baik aja," jawab Bara dengan senyum yang menenangkan itu. Entah kenapa dengan melihat senyum Bara—yang Titan simpulkan bahwa laki-laki itu juga baik-baik saja, membuat sebagian beban di pundaknya sekarang berkurang. Melihat bahwa seseorang yang kita sayang, masih berada di samping kita dengan keadaan baik-baik saja mampu membuat kita merasa senang. Semoga aja Bara merasakan apa yang Titan rasakan. "Jadi, lo kenapa?" Bara mengeluarkan lagi suaranya. Sedikit menunduk untuk melihat wajah Titan yang tertutupi rambut panjang itu. Titan merasakan genggaman tangan Bara mengerat. Seperti mengalirkan energinya untuk Titan yang memang saat ini sangat-sangat gadis itu butuhkan. Butuh waktu lama untuk Titan menjawab pertanyaan itu. Gadis itu meloloskan napas yang terkesan berat. Tatapannya ke arah jalan depan sana. Dan beralih melihat ke arah Bara yang lebih dulu melihat ke arahnya. "Mereka mau pisah, Bar." Mendengar itu, Bara tanpa berpikir lagi langsung merengkuh Titan. Memberikan satu tindakan langsung untuk membuat diri gadis itu merasa sedikit tenang. Tubuh Bara menegang beberapa saat mendengar kalimat itu. Jadi ini penyebab murungnya wajah Titan. Jika bisa ingin sekali Bara berada di saat-saat keadaan tersedih gadis itu. Ingin menjadi seseorang yang bisa dipercaya oleh Titan dengan segala apa pun yang gadis itu rasakan atau pikiran. Tetapi, mungkin itu adalah pemikiran yang sangat-sangat egois dari Bara. Karena, laki-laki itu pun tahu bahwa dirinya belum bisa memberikan yang memang seharusnya ia berikan kepada Titan. Lingkaran yang Bara buat sendiri, mungkin akan menelan dirinya nanti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD