1 : Intinya Nyebelin!

3113 Words
AUTHOR "Gak! Gue gak mau!" jerit gadis ini, kedua gadis di depannya hanya bisa menatapnya dengan iba. "Sabar Mel, kita juga gak nyangka kalau ini bakal terjadi sama lo," sahut Steffi salah satu teman gadis ini, seorang gadis lainnya pun hanya membenarkan ucapan Steffi. "Iya, tapi gue gak mau nikah Stef, Bel! Gue masih muda umur gue juga belum duapuluh empat tahun! Gue masih mau have fun sama kalian, hangout sama-sama, lagian juga kan gimana sama Alvin?" Melody, gadis ini berteriak histeris. "Ya, kita juga ngerti, mungkin kalau gue di posisi lo gue juga bakal gak mau, apalagi dinikahin sama orang yang gak gue suka," timpal Bella. "Ehm... tapi calon lo ganteng gak Mel?" tanya Steffi.  "Yaa, ganteng sih, tapi hati gue udah sayang banget sama Alvin," jawab Melody. Bella dan Steffi mendesah kesal bersamaan menanggapi ucapan Melody tersebut. * Melody, ia baru saja sampai di rumahnya. Ia pun memasuki rumah dan langsung disambut oleh ibunya. "Eh, sayang kamu udah pulang," sapa Sinta. "Sudah, Mah," sahut Melody lemas. "Kamu kok cemberut gitu?" tanya Sinta. "Ehm, gak gak, aku gak cemberut kok mah, aku cuman agak capek aja," jawab Melody terpaksa berbohong sambil menunjukkan fake smilenya, ia tak ingin menyakiti hati ibunya. "Ehm, bentar lagi calon suami kamu kesini lho, sayang," ujar Sinta semringah. "A-pa?" Melody terkejut bukan main. "Iya jadi kamu harus siap-siap, yang cantik ya," tambah Sinta sedikit menggoda putrinya. Melody tersenyum hambar, "I-iya mah, aku kekamar ya," pamit Melody berlalu dari hadapan Sinta. * Melody menghempaskan tubuhnya di kasur. Ia menghela napasnya. "Bentar lagi gue bakal punya suami, tapi gue gak bahagia sama sekali," gumamnya sambil memejamkan mata sejenak. Ia pun bangun dari kasur dan langsung berjalan ke balkon. "Alvin, maafin gue," lirih Melody, air matapun menetes membasahi pipinya. "Gak usah mikir panjang lagi, langsung aja loncat." Suara itu mengejutkan Melody. Melody menghapus air matanya dan berbalik lalu berdecak sebal. "Tsk! Ngapain sih lo?!" ketus Melody. Pria itu memandang Melody dengan tatapan aneh. "Gini lo? Acak-acakan banget! kayak bukan anak gadis, apa ibu lo gak nyuruh siap-siap? Atau lo yang gak nurut? Apa pantes lo jadi istri gue?" cerocos pria itu dengan tatapan enggan. "Denger ya Iqbaal Aldino Hermawan! Buat apa gue cantik-cantik kalau cuman buat lo?! Eh! Lo denger ya cowok angkuh emangnya gue mau jadi istri lo! Belum jadi istri lo aja gue udah ilfeel apalagi jadi istri lo! Sumpah! Gue mungkin gadis tersial!" semprot Melody membalas kata-kata Iqbaal dan ia juga menatap tajam pada pria tersebut. Iqbaal hanya menyeringgai. "Denger ya Melody Anabella Putri, seandainya gue gak mau ngebahagiain Ayah sama Bunda, gue gak bakal mau nikah sama lo! Ingat itu!" Iqbaal pun berbalik meninggalkan Melody. "Aghh! Dasar sendal jelek yang udah mau copot!" maki Melody saking emosinya pada pria itu. * "Aduh, kok Melody gak ngeangkat telpon gue ya? Udah gue SMS, Line, w******p dan BBM juga satupun gak di jawab, dia kenapa ya?" gumam pria ini bingung. "Mungkin Melody lagi sibuk, Vin," sahut seorang pria lagi yang pandangannya terfokus pada PSP ditangannya. "Gak, Lex. Gue yakin Melody gak sibuk, soalnya dia udah tiga hari gak masuk kuliah, gak mungkin ada tugas, apa mungkin dia sakit?" Alvin bergumam. "Entahlah, pikir aja sendiri," ujar pria ini tak acuh. "Ck! Dasar!" gerutu Alvin. * "Alvin, saat ini gue mau dia ada di sisi gue," gumam Melody menerawang. Melody terdiam sejenak seperti sedang mengingat sesuatu, kemudian ia langsung terperanjat bangun dari posisi duduknya. "Ha? Alvin! Ya ampun..!" seru Melody tiba-tiba. Melody segera mengambil ponselnya yang ia letakkan di dalam laci meja kamarnya. "Tuhkan! Karena saking merana nya gue udah tiga hari gak megang hp, jadi numpuk gini kan pesan dan panggilan masuk," kata Melody. 'hap' Tiba-tiba saja ponsel Melody dirampas oleh seseorang. "Lima puluh tiga panggilan masuk Alvinku, tiga puluh satu Line Alvin N., empat puluh tujuh pesan Alvinku, dua puluh satu w******p Alvin N., dan tiga puluh delapan BBM Alvin N. , cowok lo?" ujar Pria ini dengan detail. "Kepo, udah balikin hp gue!" ujar Melody berusaha merebut ponselnya, namun nihil pria itu justru mengangkat tangannya ke atas sehingga ponsel itu tak dapat di jangkau oleh Melody. "Ada aja ya ternyata cowok yang mau sama lo? Hp lo gue sita! Ya walaupun gue gak suka sama lo, karena bentar lagi lo jadi istri gue, jadi lo harus patuh sama gue," tegas Iqbaal sambil memasukan ponsel itu ke saku celananya. "Eh! Seenak jidat lo nyita hp gue! Sini! Gue mau ngejawab pesan Alvin!" sahut Melody. "Gak! Belajar lah menjadi istri yang patuh, gadis manja," tegas Iqbaal. Melody hanya menghembuskan napas beratnya. "Kenapa lo gak pulang juga sih?!" "Ini juga mau pulang, lo pikir gue betah disini?" Iqbaal pun melangkah keluar dari kamar Melody. "JANGAN DATANG LAGI!!" teriak Melody kesal. "—Eh kalau dia gak kesini lagi gimana Hp gue?" gumam Melody lagi sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. * Ditaman ini, seorang gadis sedang menemani seorang pria yang tertunduk lesu. "Lo serius, Melody sama sekali gak ngejawab pesan dan telepon lo?" tanya gadis ini. Pria ini mengangguk, "Iya sa, gue juga gak tau kenapa." "Hm..., mungkin Melody lagi ada masalah, dan gak pengen ketemu lo dulu," ujar gadis ini. "Ya, mungkin gitu," sahutnya lesu. "Sabar ya, Vin," hibur gadis ini sambil menepuk bahu pria itu. "Iya Sa, thanks, lo udah jadi sahabat gue yang paling baik...," ujar Alvin sambil menggenggam jemari gadis itu. Ya, itu adalah Afrisa dan Alvin. Alvin, gue sedih lo cuman nganggep gue sebagai sahabat, pedih Vin, batin Afrisa. "Oh! Jadi ini yang kamu lakuin dibelakang aku?!" Alvin dan Afrisa pun langsung menoleh ke sumber suara. "Melody..!" seru mereka bersamaan. "Vin, kamu tega! Saat kita gak bersama kamu berani berduaan sama cewek ini! Kamu jahat!" jerit Melody. "Mel, aku bisa jelasin! Aku sama Afrisa gak ada ap—" "Cukup! Aku gak mau denger kata apa pun dari mulut kamu, mulai detik ini kita putus!" Melody pun berlari meninggalkan mereka berdua. "Agh!" Alvin kembali duduk di kursi sambil menjambak rambutnya. Gue seneng kalian putus, tapi gue kasian juga sama lo Vin, batin Afrisa berujar. Apakah Melody tak begitu egois? Ia sendiri ingin menikah dengan Iqbaal, tetapi ia marah Alvin bersama gadis lain, padahal gadis itu hanya sebatas sahabat bagi Alvin. Sedangkan Melody dan Iqbaal? Mereka sebentar lagi menjadi suami-istri. Sungguh kisah cinta yang rumit. * MELODY Hari ini, hari yang sangat menyedihkan untukku, setelah ini aku telah resmi menjadi seorang istri. Aku pun telah memutuskan hubunganku dengan Alvin, berat rasanya menerima semua ini, tapi, aku ingin orang tuaku bahagia karena aku. "Mel..!" Aku pun berbalik dan membulatkan mataku. Seorang wanita berdiri dihadapanku dengan senyuman manis diwajah cantiknya. "Kakak!" seruku sambil memeluk wanita itu. Dia adalah Salsha kakakku satu-satunya. Ya, inilah yang dapat memberikan kebahagiaan untukku. Kak Salsha tiga tahun lalu menikah dan pergi membawa anaknya untuk mengikuti suaminya ke luar negeri. AUTHOR "Gue kangen, kak," rengek Melody. "Gue juga kangen sama lo! Selamat ya bentar lagi lo bakalan nyusul gue," ujar Salsha semringah. "Iya," lirih Melody. "Ehm.. Mel, tapi sebelumnya, bukannya lo bilang pacar lo Alvin, kenapa gue liat nama suami lo Iqbaal?" tanya Salsha. Melody melepaskan pelukannya. "Mamah gak cerita sesuatu sama kakak?" tanya Melody balik. Salsha menggeleng bingung menanggapi pertanyaan Melody. Melody menghebuskan napas beratnya. "Sebenarnya gue gak menginginkan pernikahan ini kak, gue terpaksa, karena Mamah sama Tante Rike—bundanya Iqbaal, ngejodohin gue sama Iqbaal," jelas Melody tertunduk sedih. Salsha memandang adiknya itu dengan iba. "Maaf, Mel, gue sama sekali gak tau kalau lo dijodohin, lo yang sabar ya, gue yakin lo kuat sama semua ini," hibur Salsha sambil menghapus air mata yang telah membasahi pipi Melody. "Oke, sekarang lo harus bangkit dan senyum. Walaupun lo gak mencintai Iqbaal, tapi lo harus membuktikan sama Mamah kalau lo bisa bikin mamah bahagia," ucap Salsha menyemangati Melody. "—Ayo adikku yang cantik," ucap Salsha lagi sambil meremas lembut pundak adiknya. Melody kembali memeluk Salsha. "Makasih kak." * Melody berjalan dengan anggun menuruni tangga ini, dengan balutan kebaya putih ia terlihat sangat mempesona. Salsha, kakak perempuan dari Melody tersenyum manis sambil menganggandeng adik perempuannya menuruni tangga. Semua mata tertuju pada Melody. Lalu, Melody disandingkan di samping Iqbaal—calon suaminya. "Sabar ya, jangan gugup dek," bisik Salsha, gadis itu lalu duduk di belakang Melody. "Baiklah, apa kedua mempelai siap?" tanya Penghulu. Iqbaal mengangguk ragu, penghulu itu pun meminta Iqbaal untuk menjabat tangan Afri—ayah Melody. "Baiklah nak Iqbaal, wali dari mempelai wanita akan mulai, mohon didengarkan baik-baik dan dijawab sesuai yang sudah diajarkan," ujar penghulu itu mengingatkan Iqbaal. Iqbaal hanya bisa menelan ludahnya. "Bismillahirahmanirahiim. Saya nikahkan dan kawinkan saudara dengan putri saya Melody Anabella Putri binti Afriansyah Putra, dengan mas kawin dan seperangkat alat shalat dibayar tunai." Afri mengucapkannya dengan tegas dan jelas. "Saya tidak terima nikahnya Mel—" ucapan Iqbaal terhenti karna bundanya mencubit perut pria itu. Melody menghela napasnya. "Iqbaal, serius sayang," bisik Rike kesal. "Maaf semuanya maaf, pak silahkan ulangi," sela Herry—ayah Iqbaal. Penghulu itupun hanya bisa menggeleng maklum dan meminta kembali pada Afri untuk mengulangi akad itu. "Saya terima nikahnya kambing bandot binti—" Lagi-lagi Iqbaal menghentikan ucapannya karena tatapan tajam dari ayahnya. Melody mencubit lengan kiri Iqbaal. "Dasar gila!" desis Melody. "Iqbaal...," tegur Rike geram menahan gejolak amarah yang sudah di ubun-ubun. "Baiklah, nak Iqbaal ini yang terakhir kalau masih salah pernikahan ini dianggap batal," ujar Penghulu itu memberi peringatan. Iqbaal menghela napasnya. Penghulu itu pun meminta Afri untuk mengulangi ucapannya lagi. Dengan sabar Afri kembali mengulangi ucapannya. "Saya terima nikahnya Melody Anabella Putri binti Afriansyah Putra dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ujar Iqbaal diiringi dengan hembusan napas beratnya. "Bagaimana saksi? Sah?" tanya Penghulu itu pada para hadirin di pernikahan ini. "Sah..!" Semua orang menyahut serentak. "Ayo Melody, salim sama suami kamu," bisik Sinta. Dengan berat hati Melody melakukannya. "Iqbaal, cium kening istri kamu," perintah Rike. Iqbaal mencium kening Melody dengan perasaan kesal, Melody pun seperti itu. 'Ah, kening gua gak suci lagi, batin Melody kesal. * Melody dan Iqbaal menyalami satu persatu tamu sambil terus menunjukkan fakesmile mereka berdua. Melody terdiam saat melihat dua tamu undangan di depannya. Kok dia bisa disini? batin Melody. "Selamat," kata seorang pria dengan dingin. "Alvin," lirih Melody, ia hampir meneteskan air matanya. "Eh, ¹Gajah, jaga sikap lo!" tegur Iqbaal dengan bisikan. "Selamat ya," sela Gadis di samping Alvin, itu adalah Afrisa. "Makasih," sahut Melody dan Iqbaal bersamaan. Alvin dan Afrisa pun berlalu. "Cengeng lu," bisik Iqbaal. Tak mengertikah Iqbaal bahwa hati gadis ini sekarang sedang terluka. Mungkin Iqbaal tak pernah merasakan apa itu cinta dan apa itu sakit, yang ia tahu mungkin hanya mengatakan hal-hal yang membuat orang sebal. * Melody terdiam di balkon sambil terus meneteskan air matanya. Hatinya terasa amat sakit. "Apa Alvin dan cewek itu udah pacaran?" lirih Melody. "Nangis mulu kerjaan lo! Mau nangis sampai kapan sih?" Suara itu... suara yang menjengkelkan bagi telinga Melody. Melody berbalik sambil menatap Iqbaal penuh amarah. "Bisa gak sih, sekali aja lo jangan ganggu gue?! Gue pengen sendiri! Lo gak tau gimana hancurnya hati gue! Mungkin lo gak pernah tau apa itu cinta! Lo selalu ngeganggu gue dengan berbagai cacian lo itu! Karna lo gak tau kalau gue sakit!" jerit Melody terisak dengan deraian air mata. Bagai tersambar ribuan petir Iqbaal langsung terdiam.  Kata-kata Melody serasa ribuan pedang menyayat hatinya. Ia teringat akan sesuatu yang sangat ingin ia lupakan. "M–maaf gue gak tau keadaan lo, oke malam ini gue gak ngeganggu lo." Iqbaal pun masuk kedalam kamar. Melody terdiam kaku, baru kali ini pria itu meminta maaf dan pergi dengan sopan, tak seperti biasanya. * Melody pun masuk ke dalam kamar, setelah tiga jam menangis di balkon. Ia melirik ke sofa, terlihat Iqbaal sedang tertidur disana. "Apa memang dia takdirku?" gumam Melody. Ia pun berbaring ke kasur dan tertidur. * Pagi telah menyapa bumi, sinar matahari masuk melewati celah jendela yang sedikit terbuka, burung-burung berkicau dengan indahnya. Melody mengucek-ngucek matanya dan bangun sambil merentangkan tangannya. "Udah pagi," gumam Melody mengembangkan senyumnya. Ia melirik ke sofa, masih ada Iqbaal disana. Melody pun memasuki kamar mandi sambil membawa bajunya. Sekitar lima belas menit kemudian, Melody keluar dari kamar mandi, dan melirik Iqbaal yang masih tertidur. "Tidur lebih awal dari gue, tapi bangunnya lebih dulu gue, udahlah sedikit tenang deh dunia ini anak belum bangun," ujar Melody sambil keluar dari kamar. Melody berjalan menuruni tangga rumahnya dan langsung ke meja makan. Disana telah terlihat Sinta-Ibu Melody, pembantunya dan kakaknya yaitu Salshabilla Putri. "Pagi Mah, pagi Kak, pagi Bi," sapa Melody menyapa semua yang ada disini. "Pagi...," sahut mereka bertiga. "Cie, pengantin baru udah bangun, terus udah mandi lagi, biasanya juga jam sepuluh baru mandi," goda Salsha sambil terkekeh. "Gak lucu, sok tau ih," balas Melody memanyunkan bibirnya. "Ye, gue bukannya sok tau, Mamah sering cerita tau," ucap Salsha. "Whatever forever never ever," sahut Melody malas. "Jadi, Melody...," Suara Sinta membuat Melody menoleh. "—gimana tadi malam?" sambung Sinta sambil terkekeh, Salsha dan Bi Minahpun ikut terkekeh. Sementara Melody semakin manyun. Ngapain sih mamah nanyain itu geli gue, orang gak ngapa-ngapain juga, batin Melody . "Ya... gitu deh," jawab Melody singkat sekaligus malas dengan topik pembicaraan ini. "Gitu deh tuh gimana? Kepo nih gue," tanya Salsha memandang Melody dengan ekspresi aneh sambil menopang dagu dengan tangan kirinya. "Ah tau!" Melody segera berlari meninggalkan meja makan dan menaiki tangga. "Eh, lo gak mau makan?" ucapan Salsha itu hanya di abaikan oleh Melody. "Dasar, adik kurang ajar," dumel Salsha. "Udahlah Sha, malu itu dia," sela Sinta geli. Salshapun kembali terkekeh geli. * Setelah memasuki kamar Melody duduk dikasurnya sambil melipat kedua tangannya di depan d**a. "Agh! Ngeselin! Kenapa pada nanyain itu sih?! Ilfeel gue," jerit Melody berteriak-teriak kesal. 'Bugh' Tiba-tiba saja sebuah bantal mendarat mulus di wajah Melody. "Berisik, gajah! Gak tau orang ngantuk lo?" omel pria ini. Melody pun tak terima atas perlakuan Iqbaal, ia segera bangkit dan... bugh bugh Ia membalas melempar bantal ke wajah Iqbaal bahkan guling juga ia lempar. "Mau tidur sampe kapan? Suami apaan lo?!" tanya Melody. Iqbaal pun mengucek-ngucek matanya sambil sesekali menguap. "Suka-suka gue lah. Lo tuh istri apaan?! Harusnya pagi-pagi gini lo layanin gue, siapin air panas buat gue mandi, terus sediain sandwich, s**u hangat atau apalah buat sarapan, terus lo pijetin punggung sama kaki gue, badan gue sakit gara-gara ngalah tidur di sofa, terus lo bua—asdfghjkl...," ucapan Iqbaal menjadi tidak jelas karna Melody menyumpal mulut Iqbaal dengan kertas yang entah ia dapat darimana. "Udah puas ngomel?" ujar Melody. Iqbaal mengeluarkan gumpalan kertas itu dari mulutnya. "Bfft.. Bfft.. belum! Kata-kata gue masih ada seratus lembar lagi!" sahut Iqbaal. "Ngomong sama tembok!" ketus Melody sambil berjalan keluar kamar untuk kedua kalinya. Tetapi, "—aaaa!" Melody berteriak kembali masuk kedalam kamar dan segera memeluk Iqbaal. "Ih, geli-geli," jerit Melody. "Apaan sih lo? Kok meluk-meluk?!" tanya Iqbaal kesal. "Itu ada keco–aaaaa..!" Melody semakin memeluk Iqbaal. Iqbaal pun melihat ke lantai, ada sekitar sepuluh ekor kecoa disana. Ia bergidik geli. "Diih, kamar lo kok ada kecoa nya? Lo jorok sih," ucap Iqbaal juga memeluk Melody. "Eh lo! Gue gak jorok! Tadinya kamar gue gak ada kecoanya tau! Ini karna lo bau makanya kecoa dateng! Udahlah lo 'kan cowok, usir dong usir," pinta Melody. "Kalau gue bau kok lo meluk gue? Lagian males gue megang kecoa, nanti tangan gue bau," sahut Iqbaal santai. "Bilang aja lo modus pengen gue peluk! Baal please, masih bau lo juga kali dari pada kecoa," sahut Melody. "Lo mau gue usirin gak nih?" tanya Iqbaal. Melody menatap Iqbaal kemudian mengangguk. Lalu kedua suami istri konyol itupun berusaha mengusir hewan menggelikan itu. Sementara itu Salsha tertawa terbahak-bahak di balik pintu. "Sedikit heboh gak apa-apa lah, sorry ya adik-adik ku," kekeh Salsha sambil berlari menuruni tangga. Ternyata dia biang keroknya. * "Agh!" Pria ini berteriak kesal sambil membanting sebuah vas bunga. "Vin, stop! Stop!" Gadis ini mencoba menenangkan pria ini. "Gak bisa, Sa! Lo tau hati gue nih sakit liat Melody nikah sama orang lain! Gue gak sanggup, Sa!" Ya, dapat di tebak pria ini adalah Alvin. "Ya, lo pikir dengan lo ngamuk-ngamuk di rumah gini Melody bakal kembali sama lo?!" tanya Gadis ini. Alvin hanya terdiam. "Jawab gue Vin! Lo pikir Melody bakal kesini nenangin lo?!" Tampaknya Afrisa sudah sangat emosi. bugh Tanpa Afrisa duga Alvin memeluknya. "Sa, yang lo bilang bener, Melody gak bakal tau kalau gue kayak gini, saat seperti ini cuman lo yang paham gue," ujar Alvin. Afrisa pun membalas pelukan Alvin. "Lo boleh curhat apapun ke gue," gumam Afrisa. Kemudian gue siap untuk terluka, semua demi lo, batin Afrisa. * Sepasang suami istri ini terengah-engah seperti habis marathon dari Jakarta ke Sumatra. Tak lain dan tak bukan itu adalah Melody dan Iqbaal. "Ih! Datang dari mana coba tu kecoa?" ucap Melody masih mengatur napasnya. "Dari ketek lo," sahut Iqbaal sedikit terengah-engah. "Yang ada dari ketek lo tuh! Lo kan belum mandi," kata Melody tak mau kalah. "Ngungkit aja lagi masalah mandi! Gue gak mau mandi sebelum lo siapin air panas!" tegas Iqbaal. "Yee, gak mau!" sahut Melody. "Yaudah, gue gak mau mandi!" "Yaudah! Gak apa-apa! Gak gue pikirin!" "Yaudah! Gue aduin sama Mamah." Seperti ditikam ribuan pisau Melody diam tanpa suara. (*Serasa film Cinta Brontosaurus) "Takut 'kan lo? Nanti gue bilangin kalau lo gak nurut sama suami," ancam Iqbaal."Ah Iya iya! Bawel!" Melody pun masuk ke kamar mandi. "Airnya yang pas ya pembantu," goda Iqbaal. "Berisik tuan Kambing!" teriak Melody dari dalam kamar mandi. "Udah tuh!" kata Melody sambil melangkah keluar dari kamar mandi lima menit kemudian. "Lama amat sih lo!" cibir Iqbaal sambil membawa baju dan memasuki kamar mandi. "Bilang makasih kek!" gerutu Melody. cklek, Pintu kamar mandi kembali terbuka "Thanks, gajah." brak, Kembali tertutup. "Agh! Nyebelin!" jerit Melody. Sekitar setengah jam kemudian, Iqbaal keluar dari kamar mandi dengan memakai pakaian yang ia bawa tadi dan ia langsung mendekati Melody yang sibuk membaca novel. "Gajah, lo udah nyiapin sarapan buat gue?" tanya Iqbaal sambil mengelus perutnya. Melody berdecak kesal. "Gue aja belum sarapan!" sahut Melody. "Lha? Terus lo kebawah tadi ngapain?" tanya Iqbaal. Melody meletakkan novelnya. "Tadinya pengen sarapan,tapi semua pada nanyain soal—" Melody menggantung ucapannya. Iqbaal mengerutkan keningnya. "Soal apaan?" Tampaknya pria ini sangat penasaran. "Soal malam pertama kita," jawab Melody pelan. "Dih, apaan coba. Ah jadi males gue makan kebawah," ucap Iqbaal. "Ya, makanya gue juga jadi males, tapi perut gue udah laper," sahut Melody. "Makan di luar aja, gimana?" usul Iqbaal. Melody memandang Iqbaal dengan bingung. Pria menyebalkan ini mengajaknya pergi, benarkah ini? Apakah Melody tak sedang bermimpi? "Lo ngajak gue? Serius?" Melody memastikan. "Iyalah! Mau ikut atau enggak?" tanya Iqbaal. Melody sedikit tersenyum. "Ehm, boleh deh. Ehm, gue siap-siap dulu," sahut Melody kikuk. Kenapa malah Melody jadi salah tingkah? Entahlah. Iqbaal pun mengangguk dan pergi keluar kamar, ia pun menuruni tangga dan bertemu dengan Salsha. "Wih mau kemana lo?" tanya Salsha sok akrab. "Eh, kak Salsha, itu gue mau keluar sama Melody," sahut Iqbaal. "Tau deh gue pengantin baru," goda Salsha terkekeh. Iqbaal pun pura-pura terkekeh. "Iya kak, yaudah gue mau keluar dulu ya, mau cek mobil," kata Iqbaal pamit. "Awas nyungsep," ejek Salsha. Iqbaal hanya terkekeh lagi. Tak lama kemudian Melody menuruni tangga. "Cie, yang mau pergi sama suaminya," ucap Salsha. Tak bosan kah Salsha terus menggoda adiknya ini? "Berisik ah lo kak!" Tanpa pamit Melody segera meninggalkan Salsha. "Ish ish, tak patut," ujar Salsha geleng-geleng kepala. * Iqbaal terus mengemudikan mobilnya, sementara Melody terus mendumel. "Baal, mau makan dimana sih? Di restoran apa aja kek. Gausah pilih-pilih, yang penting restorannya bersih," gerutu Melody. "Makan di empang! Berisik lu! Gue mau bawa kita makan di restoran favorit gue nih, bentar lagi juga sampai," sahut Iqbaal terus fokus pada jalan raya. "Agh! Dimana sih restorannya?" "Di Kanada!" jawab Iqbaal mulai kesal. Melody hanya memanyunkan bibirnya sambil terus memegang perutnya yang sangat lapar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD