35. Ayah yang Durhaka

2541 Words

Menjadi janda di usia dua puluh sembilan tahun, Embun sedih. Dia merasa gagal. Wanita itu melamun sembari mengelus-elus perutnya. Baju Embun yang longgar, tubuhnya yang kurus, sekilas lihat, tak akan ada yang tahu jika Embun sedang hamil. Embun tak pernah keluar rumah. Semua urusan di luar, ada si mbok yang membantu Embun. Perhatian Embun teralihkan, oleh suara pagar yang dibuka. “Kak, tadi pesen ini kan?” Si mbok yang baru datang dari pasar memperlihatkan sekresek buah kesemek di tangan kanannya. “Iya, Buk,” jawab Embun. Wanita itu berdiri dari bawah pohon mangga di pekarangan samping rumahnya. “Biar Si Mbok saja yang ke sana,” kata wanita paruh baya tersebut. Embun pun kembali duduk. “Beli jajan apa lagi, Buk?” tanya Embun. “Banyak, Kak. Nggak papa Kakak nggak makan nasi, jajan y

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD