Saking inginnya Embun bercerai dari Arka, Embun kembali mencari kerjaan. Banyak job dia ambil, mulai dari mengerjakan makalah anak kuliahan, hingga mengerjakan skripsi dan tesis para mahasiswa. “Sabar ya, Sayang. Mama pasti bisa kok hidupin kamu,” kata Embun. Dia belai janin dalam kandungannya. Embun bekerja keras siang dan malam, bahkan job-job seharga dua puluh ribuan pun Embun ambil. Berpuluh-Puluh halaman Embun sudah mengerjakan abstrak-abstrak penelitian. Sore itu, pulang kerja, tanpa ada alasan, Arka tiba-tiba menampar Embun. Embun bersabar. Tinggal sedikit lagi uang yang harus dia kumpulkan. “Mas kenapa? Ada masalah?” tanya Embun lembut. Dia abaikan rasa sakit di pipi. Arka di depan Embun naik turun dadanya, terlihat sekali sedang marah besar. “Inilah kenapa seorang pria harus

