Sepanjang perjalanan dari semi bukit menuju rumah Anri, Nico tidak berhenti tersenyum dan sesekali mencium punggung tangan Anri yang kini sudah resmi menjadi kekasihnya. Sedangkan Anri hanya bisa tersipu malu dengan perlakuan Nico padanya. Nico menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Anri, wanita itu tidak langsung turun dari dalam mobil. "Ku rasa aku harus segera masuk ke dalam." Kata Anri memutus keheningan di antara mereka. Nico menganggukkan kepalanya tetapi tangannya tidak juga melepas genggaman tangannya dari Anri. "Nico-san, ku rasa kau sudah harus melepaskan tangan ku." Ujar Anri kembali sambil menatap pria tampan di hadapannya. "Rasanya aku masih tidak ingin berpisah dengan mu." "Kau selalu bisa melihatku di minimarket." Nico menghadapkan badannya pada Anri begitu wanit

