Siang ini Christine ada jadwal untuk berlatih beladiri bersama dengan Jade, tapi harus ia batalkan karena sang ayah memintanya untuk tetap di rumah. Dan mengatakan ia harus berdandan cantik untuk menemui tamu istimewa. Ia pikir tamu itu adalah rekan bisnis sang ayah jadi tak perlu istimewa hanya perlu rapi dan sopan saja. Setelah berdandan beberapa menit kemudian Christine segera keluar karena pelayan memberitahu jika tamunya sudah datang.
Langkah kakinya begitu santai sama seperti baju yang ia kenakan tapi tak membuat kecantikannya berkurang. Perlahan ia menuruni anak tangga setelah berjalan keluar dari kamarnya. Jangan lupakan dengan senyum manisnya yang ia perlihatkan untuk menyambut tamu sang ayah.
" Chris kemarilah " panggil sang ayah dengan lembut lalu mengulurkan tangannya menyambut sang putri
" Wah Christine benar-benar cantik dan anggun " puji seorang wanita paruh baya
" Terimakasih aunty " ucap Christine dengan tersenyum manis
" Jangan panggil aunty, panggil mommy saja oke " kata si wanita itu dengan lembut
" Baiklah mommy " setuju Christine dengan malu-malu
Setelah mereka semua kembali duduk kini tuan Dewari ayah dari Christine mulai berbicara. Sebelum itu ia membuang nafas menghilangkan rasa gugup. Sedangkan Christine hanya diam melihat sang ayah yang tengah merasa gugup, padahal ia tau betul jika ayahnya tak pernah terlihat gugup.
" Chris jadi begini, kami mengatur pertemuan ini untuk memperkenalkan mu pada Alexander calon suami mu. Mengingat usia mu sudah cukup begitu juga dengan Alexander, kami memutuskan untuk membuat kalian dekat dan akan langsung menggelar pernikahan setelah dua Minggu pertemuan ini " jelas tuan Dewari lembut dan jangan lupakan senyum yang sejak tadi di pancarkan
Ayahnya terlihat begitu bahagia membuat Christine tak tega untuk menolak begitu juga sang ibu yang memperlihatkan senyum bahagia. Orang tuanya terlihat begitu bahagia dan seperti kebahagiaan yang tak pernah mereka dapat selama ini. Tapi Christine juga tak bisa menerima perjodohan ini mengingat dirinya sudah memiliki kekasih, yaitu Vion laki-laki yang selama ini selalu menjaganya. Dan ia juga tak bisa berpisah dengan lelaki itu demi menerima perjodohan dengan laki-laki yang sama sekali tidak di kenalnya.
" Tapi mom, dad kenapa begitu mendadak aku belum siap. Mana mungkin kami bisa saling mengenal dan memahami satu sama lain dalam waktu singkat " elak Christine berusaha memberi pengertian agar ada sedikit perubahan
" Ini bukan terlalu cepat nak, bahkan ini sudah sangat lama. Karena kami sudah menjodohkan mu dengan Alexander jauh sebelum kalian di lahirkan " ujar ibu Alexander lembut yang juga memberikan senyum bahagia padanya
" Untuk pengenalan mom yakin kalian akan saling mengenal, kau kan anak yang ramah dan Alexander laki-laki baik pasti bisa menjagamu " ibunya juga ikut berbicara setelah sekian lama hanya diam dan memberiku senyum hangat juga penuh harap
Lalu Alexander, laki-laki itu hanya diam tak berniat membuka suara apalagi berkomentar. Ia hanya sibuk memperhatikan Christine yang berusaha menghentikan perjodohan. Tapi sepertinya gagal karena para orang tua yang terus meyakinkan dan membujuk dengan lembut.
" Lebih baik sekarang kalian pergilah makan siang bersama, untuk awal dari perkenalan " saran Mr.William
" Wah ide yang bagus " seru ibu Alexander dengan semangat
" Pergilah, dan bicarakan banyak hal agar kalian cepat dekat sebelum menikah " pesan ibu Christine juga bersemangat
Christine pun hanya menurut dan mengikuti Alexander yang sudah berpamitan dan berjalan terlebih dahulu. Dari sikapnya yang seperti ini saja Christine sudah bisa menebak jika rumahtangganya nanti tak akan bahagia. Lihat saja Alexander bahkan tak menoleh samasekali dan langsung masuk kedalam mobilnya tanpa membukakan pintu ataupun mengajaknya. Dengan malas Christine memasuki mobil Alexander tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Begitu juga Alexander yang langsung melakukan mobilnya tanpa bertanya apa Christine sudah selesai memakai sabuk pengaman. Ya meskipun sudah selesai tapi setidaknya berbasa-basi sedikit pada calon istrinya. Memang Alexander terkenal dingin dan cuek dan tidak terlalu memperdulikan sekitar, tapi apa tidak keterlaluan jika bersikap cuek pada calon istrinya.
Sesampainya di salah satu restoran terkenal mereka turun masih dengan mode diam tak ada pembicaraan sama sekali. Keduanya terus berjalan memasuki restoran tanpa peduli satu sama lain, bahkan duduk pun berjauhan.
" Pilih makanan mu sendiri, setelah makan kita bicara " ujar Alexander ketika Christine tak mengambil buku menu
" Kau makanlah, aku tidak lapar " tolak Christine yang memilih untuk meraih ponselnya
Tanpa berkata apapun lagi Alexander memesan makannya sendiri, lalu meraih ponselnya yang ada di atas meja sambil. Sambil menunggu pesanannya datang ia memilih untuk memeriksa beberapa pekerjaannya yang ia tinggal hari ini. Beberapa menit kemudian pesanan Alexander datang, dan ia segera meletakkan ponselnya lalu makan tanpa menawari Christine.
" Aku ingin perjodohan ini tidak terjadi " Christine mulai membuka pembicaraan saat Alexander sudah selesai makan
" Yasudah tolak saja, kau punya mulut untuk mengatakan itu pada orang tua mu " jawab Alexander dengan begitu tenang
" Kau tau sendiri tadi aku sudah berusaha membatalkan perjodohan ini, tapi mereka selalu bisa berkata agar perjodohan kita tetap berlanjut. Kau yang harus mengeluarkan suara penolakan kali ini " paksa Christine dengan menatap serius pada Alexander yang benar-benar menghadapi semua bini dengan begitu tenang seperti tak mempermasalahkan jika perjodohan ini terjadi
" Aku tak akan menolak permintaan kedua orang tua ku " tolak Alexander masih dengan sikap santainya
" Cih alasan, kau terlalu banyak alasan tuan William apa kau tak laku sehingga menerima perjodohan ini ?" Ejek Christine dengan memandang remeh Alexander
Mendengar ejekan dari Christine membuat amarah Alexander mulai meluap dan ingin sekali membentak wanita di depannya. Seorang Alexander yang selalu di kejar-kejar banyak wanita mana mungkin tak laku. Apalagi wajah tampan dan kekayaan berlimpah yang di milikinya, pasti semakin banyak wanita yang mengejar dirinya.
" Aku bukan tipikal anak yang suka memberi kesedihan apalagi penderitaan pada orang tuaku. Jika kau benar-benar ingin membatalkan perjodohan ini lakukan sendiri tidak perlu melibatkan ku " desis Alexander dengan tatapan marah
" Aku juga tak ingin membuat orang tua ku bersedia dan kecewa. Tapi aku sudah memiliki kekasih bagaimana hubungan kami nantinya " cerca Christine yang kini juga menatap tajam Alexander
" Itu urusan mu, tapi yang pasti ku peringatan agar kau segera memutuskan hubungan mu sebelum satu Minggu. Karena aku yakin perjodohan ini akan terus berlanjut dan aku tak mau ada gosip aku berkencan dengan wanita yang sudah memiliki kekasih. Atau aku sendiri yang akan memberimu kekasihmu " dan sekarang Christine merasa terancam karena perkataan Alexander yang terdengar seperti mengancam dirinya
" Terserah kau saja aku ingin pergi dari sini, antar aku ke apartemen teman ku sekarang " Christine menyerah dan beranjak meninggalkan Alexander yu masih duduk
Matanya terus menatap kepergian Christine yang sudah mulai menjauh membuatnya tersadar. Kemudian mengikuti Christine keluar sebelumnya ia membayar pesanannya terlebih dulu.
Sesuai permintaan Christine Alexander melajukan mobilnya menuju alamat yang di berikan sejak tadi. Tak mau ambil pusing Alexander memilih menuruti Christine untuk saat ini, karena ia akan kembali kantor.
***
" Terimakasih " ucapannya lalu segera keluar dari dalam mobil Alexander tanpa menunggu lama lagi
Christine segera menunju lantai sepuluh dimana apartemen Jade berada. Langkah kakinya terbilang cepat meskipun tak berlari, saat sampai di depan pintu apartemen ia langsung masuk beruntung tidak di kunci. Lalu duduk di samping Jade yang tengah melihat televisi.
" Chris tumben kau kemari tak bilang dulu " tanya Jade merasa heran pada sahabatnya
" Aku sedang masalah besar Jade, orang tuaku menjodohkan ku dengan anak rekan bisnisnya. Dan dua Minggu lagi kami akan menikah aku bingung harus bagaimana " kata Christine dengan panik
" Kau harus segera memberikan pada Vion Chris, aku yakin perjodohan mu ini tidak main-main dan pasti terlaksana " ujar Jade serius
" Aku tau ini tidak main-main karena mereka tidak menerima penolakan, dan laki-laki itu juga mengatakan jika perjodohan ini tidak akan gagal. Dia memberiku waktu tidur sampai satu Minggu untuk memberitahu Vion, atau dia sendiri yang akan memberitahukan " jelas Christine dengan wajah yang mulai memerah karena menahan tangis
Jade paham akan hal itu, tapi ia juga tak bisa membantu sahabatnya untuk menghentikan perjodohan yang sudah di rencanakan dengan matang itu. Pasti orang tua Christine sudah merencanakan perjodohan itu dari lama, sehingga pernikahan akan dilakukan dua Minggu lagi.
" Aku ingin istirahat dulu, mungkin besok pagi aku akan menghubungi Vion " ujar Christine pada akhirnya
" Ya lebih cepat lebih baik Chris, aku yakin Vion bisa mengerti " Christine segera beranjak dan pergi ke kamar yang biasanya ia tempati ketika menginap
Sesampainya di dalam kamar Christine segera menutup pintu dan tak lama air matanya berjatuhan. Mengeluarkan isakan yang begitu keras membuat tubuhnya bergetar hebat karena menahan suaranya agar tidak terlalu keras menangis. Pikirannya kacau semuanya terasa begitu cepat, saat dirinya sudah bisa bahagia dan percaya pada laki-laki kini orang tuanya memberiku pernyataan perjodohan. Hingga dua jam kemudian Christine tertidur karena lelah menangis dan matanya mulai di serang rasa ngantuk.