-----------------
Bab 2 – Rapat Pertama, Kekacauan Pertama
Pagi hari, lantai 25 gedung Adinata Group lebih ramai dari biasanya. Para staf berlalu-lalang dengan wajah serius, seolah udara di sekitar dipenuhi ketegangan. Tidak heran—hari ini adalah hari pertama CEO baru mereka akan memimpin rapat bersama dewan direksi.
Aruna datang paling awal, seperti biasa. Jas hitamnya terpasang rapi, rambut diikat kuda, dan wajahnya dipoles tipis dengan make-up natural. Tidak ada senyum, hanya ekspresi dingin seorang sekretaris yang sudah siap menghadapi perang.
Ia menata meja rapat: dokumen keuangan, laporan tahunan, grafik target, semuanya tersusun simetris. Gelas air mineral di depan setiap kursi bahkan ia pastikan jaraknya sama persis. Perfeksionis.
Rapat ini harus berjalan lancar. Kalau bos baru itu bikin ulah lagi, aku tidak akan tinggal diam, pikirnya sambil mengecek ulang agenda.
Jam menunjukkan pukul 08:55 ketika pintu terbuka. Satu per satu direksi masuk, semuanya pria paruh baya dengan jas rapi dan wajah kaku. Mereka mengangguk dingin pada Aruna, lalu duduk sesuai posisi masing-masing.
“Mana CEO baru itu?” bisik salah satu direktur dengan nada meremehkan.
“Entahlah. Katanya… aneh orangnya,” jawab yang lain.
Aruna mendengar jelas, tapi ia hanya mengetatkan rahang. Tolonglah, Pak Raka, jangan mempermalukan diri sendiri. Jangan mempermalukan saya juga.
Jam 09:00 tepat, pintu terbuka lagi. Semua kepala menoleh.
Dan… kekacauan dimulai.
“Selamat pagi, semuanya!” seru Raka dengan senyum selebar jalan tol.
Ia memang memakai jas hitam rapi—setidaknya dari jauh. Tapi dasinya longgar seperti hendak dicekik, rambutnya masih berantakan seperti baru bangun tidur, dan—Aruna hampir pingsan—sepatunya memang kulit, tapi warnanya merah menyala.
Sepatu kulit, iya. Tapi siapa yang pakai sepatu kulit merah ke rapat direksi?
Para direktur langsung saling pandang dengan wajah penuh ketidakpercayaan.
Raka berjalan santai ke kursi pimpinan, lalu menjatuhkan diri dengan gaya seenaknya. “Wah, kursi ini emang paling empuk ya. Pantas Ayah betah duduk di sini.”
Beberapa direktur terbatuk kecil, sebagian lain menahan tawa sinis.
Aruna menunduk menutupi wajah. Ini bencana.
“Baiklah,” kata Raka sambil menepuk tangan. “Mari kita mulai rapat perdana saya sebagai CEO baru. Sebelum masuk ke materi serius, saya mau tanya dulu… kalian semua bahagia nggak kerja di sini?”
Hening.
Tidak ada yang menjawab. Para direktur menatapnya seperti menatap alien.
Raka menoleh ke kanan-kiri. “Kok diam? Kalau bahagia, bilang bahagia. Kalau nggak, nanti saya bikin program ‘Bikin Kantor Bahagia’ deh.”
Aruna buru-buru menyela. “Pak Raka, mungkin kita langsung ke agenda utama saja. Yaitu laporan keuangan Q4 dan target tahun depan.”
“Oh iya, iya. Betul. Oke, siapa yang mau presentasi?” tanya Raka.
Direktur Keuangan, Pak Surya, berdiri dengan wajah kaku. “Baik, izinkan saya memaparkan data—”
Tapi Raka langsung memotong. “Bentar, bentar. Presentasi jangan terlalu lama ya. Saya gampang bosen kalau angka-angka doang. Bisa bikin saya tidur.”
Suasana semakin tegang. Pak Surya melotot, tapi tetap melanjutkan dengan suara dingin.
Aruna menahan napas. Ya ampun, ini baru lima menit, sudah kacau begini.
Namun, yang terjadi selanjutnya membuat semua orang tercengang.
Saat grafik keuangan ditampilkan di layar, Raka yang tadinya terlihat asal-asalan, tiba-tiba duduk tegak. Matanya menatap angka-angka itu dengan serius.
“Stop,” katanya tiba-tiba.
Pak Surya berhenti. “Ya, Pak?”
“Grafik penjualan kuartal ketiga, ada yang janggal,” ujar Raka sambil menunjuk layar. “Kenapa angka revenue di sektor properti naik, tapi profit margin justru turun signifikan? Siapa yang bisa jelasin?”
Ruangan hening. Para direktur saling pandang, kaget karena CEO baru ini ternyata memperhatikan detail.
Pak Surya terbata-bata. “Itu… karena ada peningkatan biaya operasional—”
“Operasional atau pemborosan?” potong Raka. “Saya lihat di laporan, biaya promosi naik 40%, tapi kontribusi sales cuma 10%. Itu nggak efisien. Ada yang salah di sini.”
Aruna mendongak kaget. Dia… bisa membaca laporan keuangan?
Para direktur mulai berbisik-bisik. Raka menyilangkan tangan, tatapannya tajam, jauh berbeda dari wajah konyol yang tadi masuk dengan sepatu merah menyala.
“Saya bukan tipe yang hapal angka detail, tapi saya punya insting bisnis. Dan insting saya bilang, ada kebocoran dana di sini. Jadi, mulai hari ini, saya minta audit menyeluruh soal biaya promosi. Setuju?”
Suasana rapat yang tadi penuh ejekan kini berubah. Para direktur terdiam, beberapa mengangguk pelan.
Aruna mencatat cepat di bukunya. Dalam hati, ia harus mengakui—meski ngeselin, Raka punya ketajaman yang tak bisa dianggap remeh.
***
Rapat berlangsung selama dua jam. Sesekali Raka kembali melontarkan komentar konyol, seperti usul mengganti kopi kantor dengan “kopi s**u kekinian biar anak muda betah,” tapi setiap kali menyentuh topik serius, ia bisa sangat tajam dan langsung mengenai inti masalah.
Di akhir rapat, ia berdiri, menepuk meja. “Baiklah, target tahun depan kita sepakat naik 15%. Bukan angka yang kecil, tapi juga bukan mustahil. Saya percaya kalau semua orang di sini kerja dengan senyum, kita bisa capai. Ingat, jangan cuma kerja keras. Kerja bahagia juga penting.”
Para direktur berdiri satu per satu. Wajah mereka masih penuh tanda tanya, tapi setidaknya tidak ada lagi yang terang-terangan meremehkan.
Begitu rapat bubar, Aruna menghela napas panjang. Setidaknya, tidak seburuk yang saya kira.
Namun, harapannya buyar ketika melihat Raka duduk santai, menaruh kakinya di atas meja, lalu berkata, “Nah, Mbak Galak, gimana penampilan saya barusan? Keren kan?”
Aruna menatapnya datar. “Sepatu merah Anda tetap memalukan.”
Raka tertawa terbahak. “Hahaha! Setidaknya mereka nggak fokus ke sandal jepit lagi.”
Aruna menutup wajah dengan tangan. Tiga bulan ke depan… aku benar-benar harus bersabar.
------------------------------------
Rapat selesai, tapi suasana kantor tidak langsung tenang. Justru semakin ramai. Lorong-lorong dipenuhi bisik-bisik karyawan yang baru saja menyaksikan CEO baru mereka beraksi.
“Eh, kamu lihat nggak tadi? Bos baru itu masuk pakai sepatu merah!”
“Astaga, iya! Tapi… aneh juga. Awalnya kayak main-main, eh tahu-tahu ngomong soal audit keuangan. Serius banget.”
“Aku kira dia badut, ternyata… bisa juga ya.”
Aruna yang mendengar semua itu hanya menunduk, berjalan cepat menuju pantry untuk menenangkan diri. Ia butuh kopi kedua hari itu, sebelum kepalanya pecah memikirkan semua kekacauan.
Di pantry, ia sedang menuang kopi ketika suara ceria menyapanya.
“Hei, Mbak Galak!”
Aruna mendesah panjang. “Pak Raka, tolong jangan panggil saya begitu di depan orang lain.”
Raka masuk dengan langkah santai, mengambil gelas, dan tanpa malu menuang s**u cokelat instan. “Kenapa? Itu panggilan manis kok. Lebih enak daripada ‘Bu Sekretaris yang menyeramkan.’”
Aruna menatapnya dingin. “Bukan panggilan manis. Itu panggilan menjengkelkan.”
Raka duduk di kursi tinggi dekat jendela pantry, menyesap minumannya, lalu menatap keluar. Senyumnya meredup, dan untuk pertama kalinya sejak pagi, ia terlihat serius.
“Gimana menurutmu rapat tadi?” tanyanya pelan.
Aruna sedikit kaget dengan nada suaranya. Ia menimbang jawaban sebelum bicara. “Awalnya bencana. Penampilan Anda… memalukan. Tapi saat Anda bicara soal laporan keuangan, Anda terdengar… berbeda. Tajam.”
Raka tersenyum kecil. “Jadi masih ada harapan?”
Aruna mendesah. “Saya tidak bilang begitu. Tiga bulan ke depan akan berat. Para direktur jelas tidak semua menyukai Anda. Kalau Anda tidak hati-hati, mereka akan menjatuhkan Anda.”
Raka meletakkan gelasnya. “Biar saja. Saya bukan tipe yang main aman. Kalau mereka mau jatuhkan saya, silakan. Saya akan tetap jalani gaya saya sendiri.”
Aruna mengerutkan kening. “Itu namanya ceroboh.”
“Itu namanya percaya diri.” Raka menoleh, senyum kembali terulas di wajahnya. “Dan… itu sebabnya saya butuh kamu di samping saya. Kamu galak, disiplin, dan selalu waspada. Aku gesrek, santai, dan suka improvisasi. Kombinasi kita bakal menarik, kan?”
Aruna terdiam. Ia benci mengakuinya, tapi pria ini… entah kenapa, memang punya daya tarik aneh yang membuatnya tidak bisa sepenuhnya menolak.
Sebelum ia menjawab, pintu pantry terbuka. Seorang pria paruh baya masuk—Direktur Operasional, Pak Darmawan. Wajahnya keras, sorot matanya penuh perhitungan.
“Oh, jadi kalian di sini,” katanya dengan nada datar. “Pak Raka, rapat tadi… menarik. Tapi ingat, tidak semua direktur menyukai gaya Anda. Dunia bisnis tidak bisa dijalani hanya dengan candaan.”
Raka berdiri, menyalami pria itu dengan senyum lebar. “Pak Darmawan! Santai saja. Saya memang suka candaan, tapi bukan berarti saya tidak serius.”
Darmawan tidak membalas senyum itu. “Kita lihat saja nanti. Tiga bulan bukan waktu lama. Kalau Anda gagal, banyak yang siap menggantikan.”
Aruna menahan napas. Nada ancaman itu jelas.
Raka hanya menepuk bahu Darmawan ringan. “Baiklah. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik. Saya orangnya gampang akrab kok.”
Darmawan keluar tanpa menoleh lagi.
Aruna menatap Raka tajam. “Anda sadar kan, dia barusan menantang Anda?”
Raka duduk kembali, kali ini tanpa senyum. “Ya, saya tahu. Dan saya juga tahu, Darmawan termasuk yang paling ingin kursi ini.”
Aruna terdiam. Ternyata Raka tidak sebodoh yang ia kira.
“Tenang saja, Mbak Galak,” lanjut Raka dengan nada ringan, walau matanya tetap serius. “Permainan baru saja dimulai. Dan saya janji… saya tidak akan kalah.”
---
***
Sore itu, Aruna pulang lebih cepat dari biasanya. Tapi sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi campuran rasa kesal, bingung, dan… penasaran.
Raka Adinata. CEO gesrek dengan sandal jepit dan sepatu merah. Lelaki yang terlihat seperti badut, tapi sesekali menunjukkan kecerdasan yang menusuk. Lelaki yang mungkin akan jadi bencana… atau mungkin kejutan terbesar dalam hidupnya.
Aruna menatap keluar jendela taksi. “Ya Tuhan… apa aku kuat menghadapi orang seperti dia tiga bulan ini?”
---
Sementara itu…
Di sebuah restoran mewah, Darmawan duduk bersama dua direktur lain. Mereka berbicara dengan suara pelan.
“Anak itu tidak pantas memimpin,” kata Darmawan. “Kalau dibiarkan, perusahaan ini bisa hancur.”
“Jadi apa rencanamu?” tanya salah satu direktur.
“Kita biarkan dia mempermalukan dirinya sendiri. Lalu, saat waktunya tepat, kita tekan Dewan untuk mencopotnya. Aku sudah siapkan strategi. Tinggal tunggu dia salah langkah.”
Mereka bertiga saling pandang dengan senyum tipis.
Pertarungan di dalam Adinata Group baru saja dimulai.
Dan Aruna, entah suka atau tidak, akan terjebak di tengah-tengahnya.
---