Alenia Park tidak bisa berhenti tersenyum setiap kali tatapannya jatuh pada cincin berbatu biru safir di jari manis kanannya. Cincin itu selalu membuatnya ingat betapa manisnya Park Jaehwa dan betapa indahnya hari kemarin.
Ia tidak mengira Jaehwa akan melamarnya setelah membangkitkan amarahnya kemarin. Betapa manisnya lelaki itu, secara tiba-tiba berdiri di kamarnya setelah menyuruh orang menyiapkan ratusan balon yang isinya adalah foto-foto mereka selama 2 tahun.
Jaehwa menyerahkan sebuah kayu tipis dengan ujung besi runcing padanya.
"Untuk apa ini?"
"Kau harus memeletuskan semua balon itu, Sweetheart."
Alenia menatap sayang ratusan balon-balon itu. "Kau menyiapkan sesuatu di dalamnya?"
"Tentu saja."
Dengan ragu ia memilih satu balon palin besar dan menusukannya dengan benda runcing di tangannya. Balon itu meletus dengan suara memekakkan telinga dan sesuatu jatuh di dekat kakinya.
Saat Alenia menunduk untuk mengambil benda itu, ia menyadari bahwa itu adalah sebuah foto. Fotonya dengan Jaehwa saat sedang di pantai musim semi lalu. Ia membalik foto itu dan menemukan catatan kecil di baliknya.
'Aku ingat hari itu. Saat rambutmu berhembus oleh angin dan wajahmu tertimpa cahaya senja. Cantik. Terima kasih telah hadir di hidupku.'
Alenia belum pernah merasa lebih emosional dari saat itu. Ia menatap Jaehwa yang berdiri tak jauh darinya, balas menatapnya lembut.
"Tusukkan lagi di balon yang kau mau, Sweetheart."
Alenia memilih balon besar tak jauh darinya. Dan satu foto jatuh lagi.
Itu adalah foto saat mereka baru saja merayakan ulang tahun Jaehwa yang 27. Ada tulisan lagi di baliknya.
'Setiap melihatmu, aku selalu bertanya hal baik apa yang pernah kulakukan hingga kau hadir di hidupku.'
Kali ini Alenia tidak bisa tidak menangis. Ia menaruh kayu di tangannya dan menghambur ke arah Jaehwa, memeluk lelaki itu dengan erat dan menangis sesenggukan tanpa bisa berkata-kata.
Setelah beberapa saat, Jaehwa melepas pelukan mereka meski Alenia enggan dan menangkup wajah Alenia dengan tangannya yang lebar, membuat ia leluasa menatap wajah sembab gadis itu dengan lekat.
"Alenia Elizabeth Park, dengarkan aku." Jaehwa menatapnya lekat, membuat Alenia enggan memalingkan wajah. "Hari ini aku tidak akan memberimu penawaran. Aku memberimu pernyataan. Bahwa kau adalah calon istriku. Bahwa kau akan menikah denganku. Dan kau tidak bisa menolaknya."
Alenia tertawa pelan, masih dengan sesenggukan. Ia mengangguk dan kembali memeluk Jaehwa lalu lelaki itu membalasnya dengan tak kalah erat.
"Aku bahkan sudah merindukanmu," gumam Alenia sambil menatap fotonya dengan Jaehwa di meja belajar.
Kemarin mereka tidak jadi melanjutkan perjalanan keliling Seoul dan menghabiskan hari di kamar sewa gadis itu dengan menonton film Bohemian Rhapsody. Memang terlambat untuk menontonnya, tapi itu karena mereka belum menontonnya di bioskop. Lalu lanjut menonton Finding Neverland yang dimainkan Johnny Depp dan Kate Winslet serta Freddie Highmore. Gadis itu bahkan masih menangis selama beberapa saat setelah film itu selesai.
Ia menatap koper biru roda empatnya yang berisi keperluannya selama 3 bulan di rumah Nyonya Oh.
Hari ini terhitung sudah menjadi hari pertamanya bekerja. Jadi ia tidak mau terlambat di hari pertamanya bekerja di salah satu rumah kawasan elit Gangnam.
Menggunakan taksi yang sudah dipesan karena meski Jaehwa ingin sekali mengantarnya di hari pertama, sayangnya lelaki itu harus segera ke studionya karena ada pertemuan dan tanda tangan kontrak dengan produser baru untuk pembuatan film dokumenter yang masih dirahasiakan. Lalu setelah 30 menit ia akhirnya sampai di depan sebuah rumah 2 lantai yang tidak terlalu besar.
Sangat di luar ekspektasinya karena pertama, sangat tidak mungkin ada rumah sesederhana ini di kawasan elit Gangnam. Kedua, dilihat dari penampilan dan tumpangannya serta pengawal, tidak mungkin Nyonya Oh tinggal di rumah seperti ini.
Tapi mau bagaimana lagi, ini adalah alamat yang dikirimkan kepadanya lewat email.
Alenia menekan bel di depan pagar rumah yang bahkan hanya setinggi perutnya dan menunggu siapapun keluar.
Lalu beberapa detik kemudian, ia bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Nyonya Oh yang keluar dari pintu utama rumah dan menyambutnya dengan senyum elegan.
"Selamat pagi, Nyonya Oh." Alenia membungkuk sopan.
"Selamat pagi, Miss Park. Kuharap kau tidak menunggu terlalu lama di luar."
"Tentu saja tidak, Nyonya."
"Mari masuk. Aku akan memperkenalkan cucuku dan beberapa area rumah ini agar kau tak kesulitan."
Alenia mengangguk patuh dan mengikuti Nyonya Oh melintasi halaman yang tidak terlalu luas namun terawat dengan rumput jepang yang dipangkas rapi.
Mereka tiba di ruang tamu yang tidak terlalu luas, namun tatanan perabot minimalis membuat ilusi ruangan menjadi lebih luas. Bahkan satu sisi dinding kaca yang mengarah ke halaman depan membuat pandangan menjadi segar.
Mereka masuk ke ruangan selanjutnya, ruang keluarga. Sedikit lebih luas dari ruang tamu. Kali ini ada tv berlayar besar yang dipasang di dinding untuk meminimalis porsi tempat, sofa minimalis berlengan 3 dudukan dengan meja stainless berkaki ramping. Dan sebuah lemari kaca tempat menyimpan kaset serta buku. Itu adalah poin menarik bagi Alenia sejauh ini. Dan salah satu dinding yang juga kaca menghadap ke kolam renang dengan air terjun mini buatan di halaman belakang.
Lalu di salah satu sisi ruang keluarga, dibatasi meja setinggi pinggang, adalah dapur yang menyatu dengan ruang makan. Salah satu sisi ruang makan memiliki dinding kaca yang menghadap ke halaman belakang di area yang ditempati oleh sederet tanaman berbunga.
Secara keseluruhan, konsep rumah ini adalah minimalis sebagaimana fungsi sebuah hunian secara primer. Tidak melibatkan fungsi sekunder apalagi tersier. Dengan konsep pencahayaan, aliran udara yang ideal di setiap ruangan, rumah ini adalah tipikal rumah sehat.
Ada tangga kayu di satu sisi ruangan dan Nyonya Oh menyampaikan bahwa di lantai atas adalah gudang, ruang binatu, area menjemur, dan 3 kamar dengan kamar mandi dalam.
Nyonya Oh melirik jam tangannya dan tersenyum. "Kamarmu ada di lantai 2, tepat di sebelah kamar cucuku. Dan mungkin ia sudah bangun sekarang."
Mereka menaiki tangga kayu menuju lantai 2. Di kamar pertama sepertinya kosong. Kamar kedua adalah kamar yang akan ia tempati, dan kamar terakhir di ujung adalah kamar bayi yang akan ia asuh. Ada kayu berukir di depan kamar itu.
'Sean Marcello Andromeda'
"Seperti yang kau lihat, namanya Sean," jelas Nyonya Oh sambil membuka pintu.
"Nama yang bagus, Nyonya," pujinya tulus. Nama Sean selalu mengingatkannya akan laut yang luas dan lepas.
Dan benar saja. Seorang bocah laki-laki berusia sekitar 2 tahun baru saja bangun dari tidurnya dengan sebuah senyum terukir. Seketika Alenia jatuh hati pada bocah tampan dengan senyum membentuk sabit di matanya itu. Bocah yang menggemaskan.
Nyonya Oh menggendong Sean dan memperkenalkan bocah itu pada Alenia dengan suaranya yang jauh lebih lembut. "Ini Alenia Noona. Sean bisa memanggilnya Noona. Alenia Noona yang akan menemani Sean. Oke?"
Sean mengangguk saja dan menyandarkan dagunya di bahu Nyonya Oh sambil menguap lebar. Bocah itu masih mengantuk.
"Apa tak masalah jika saya menggendong Sean, Nyonya?"
"Tentu saja tak masalah." Nyonya Oh menyerahkan Sean pada Alenia. Bocah lelaki itu awalnya bergerak gelisah, menatap Alenia dengan pandangan lurus tapi mengantuk dan setelah beberapa saat, Sean akhirnya menyandarkan kepalanya di bahu Alenia sambil menguap lagi. Nyonya Oh tersenyum ke arah gadis muda yang sedang menggendong Sean. "Aku tidak salah memilih orang."
"Maaf, Nyonya?"
"Sean seperti ayahnya, tidak mau bersama dengan sembarang orang. Dalam kasus Sean, dulu aku pernah mencarikan seorang pengasuh untuknya dan ia sering menolak digendong. Bahkan tidak mau makan. Jadi aku langsung memberhentikan pengasuh itu dan terpaksa membawa Sean dalam perjalananku di Australia", jelas Nyonya Oh sambil menuruni undakan tangga menuju lantai bawah. Suara ketukan sepatu bertumit tinggi milik wanita elegan itu terdengar berirama dan indah. Sementara di belakangnya, Alenia meneguk saliva dengan berat.
Semudah itu ia memberhentikan pengasuh yang lama?
"Tapi saat aku melihat fotomu, ada sesuatu yang membuatku yakin, dear." Mereka sudah sampai di bawah dan Nyonya Oh berbalik untuk menatapnya, tepat di manik mata. "Ada sesuatu yang kuat yang aku temukan pada tatapanmu."
Alenia masih mencerna maksud Nyonya Oh sampai wanita itu kembali melanjutkan,
"Sesuatu yang mampu menenangkan Sean, juga orang tuanya."
Alenia kembali meneguk salivanya dengan berat dan mencoba bertanya dengan nada sehati-hati mungkin. "Orangtua Sean…?"
"Orangtua Sean akan mengurus cabang bisnisnya di Jepang dan China yang masih dalam tahap pembangunan. Sangat tidak mungkin jika Sean ikut dan ayahnya tidak suka jika Sean tinggal di rumah yang terlalu besar tanpanya, jadi kalian akan tinggal disini."
Alenia mengangguk paham sambil sedikit mengayunkan tubuhnya agar Sean menjadi nyaman di gendongannya.
"Akan ada pengurus rumah yang datang kesini setiap hari. Namanya Bibi Yang. Dan juga supir yang siap siaga untuk mengantar kalian dalam 24 jam. Kalau kau ingin tau, ia tinggal tidak jauh dari sini." Mereka berjalan ke dapur dan Nyonya Oh menunjukkan telepon rumah yang ada di dinding dekat lemari pendingin. "Ada beberapa nomor penting yang bisa kau hubungi saat darurat."
Alenia kembali mengangguk. Sekarang Sean sudah tidak mengantuk seperti sebelumnya. Bocah lelaki itu mulai bergumam dan tangannya terulur ke arah toples biskuit.
"Mamam... mamam…"
Sesaat gadis itu tampak kikuk tentang apa yang harus ia lakukan dengan kemauan Sean sampai Nyonya Oh memberinya sebotol s**u dan sebuah pisang.
"Jika bangun tidur, pastikan Sean minum s**u dan memakan buah lebih dulu sebelum memberinya sajian lain," instruksinya yang diangguki Alenia dengan canggung.
Alenia duduk di kursi makan dan mulai menyuapi Sean s**u dan buah pisang sementara Nyonya Oh mengambil sesuatu di lemari kaca ruang keluarga, menyerahkan buku beludru biru itu pada Alenia sambil tersenyum penuh arti. "Ini adalah yang harus kau pelajari tentang Sean."
"Baik, Nyonya."
Nyonya Oh berdiri, mengecup dahi Sean dengan lembut sebelum berkata, "Kalau begitu aku pergi dulu, ada yang harus kuselesaikan. Kalau ingin bertanya, bisa hubungi nomor di telepon itu. Sampai jumpa, dear."
--
[]