Baverly Hills

1201 Words
Pemakaman eksklusif untuk mayat disemayamkan dari kalangan orang kaya. Pemakaman dengan tanah seluas 2 hektar, dilengkapi dengan berbagai fasilitas yang tak kalah mewah juga. Pusat Olahraga, kolam renang, restoran, serta halte khusus untuk bus khusus juga. Tak tanggung-tanggung, biaya awal jika ingin mencoba semua fasilitas itu, hanya dibandrol 8 juta untuk satu bulan. Dan penggalian awal sejumlah 3 juta rupiah, itupun untuk klaster paling rendah. Tertarik untuk mencobanya? Segeralah menjadi arwah, dan kunjungilah kami. Baverly Hills, namanya. Berlokasi sangat strategis di pusat kota. Bisa dijangkau oleh kendaraan umum apapun. Seketika, ada suara tawa yang sangat menggelegar dari kejauhan. Membuat sosok yang sedang menulis kata di banner dibuat terkejut. Sosok tinggi dengan setelan jas hitam mewah, langsung berdiri dari posisi. "Jangan bercanda sama malaikat maut ya! Emang mau ngerasain mati dua kali?!" Serunya. Ternyata sosok tadi adalah, salah satu dari banyak malaikat maut yang ditugaskan di pemakaman ini. Dengan jabatan yang sudah pasti tinggi, karena ini adalah pemakaman eksklusif. Namun, kenapa sosok itu malah berada di ruangan? Padahal, job desk malaikat maut adalah berkeliaran di dunia luar. Mencari manusia yang berada di ambang ajalnya, atau menjari manusia dengan sebetuan 'arwah yang hilang' karena diberikan bantuan oleh Dewa. Karena... Brrrkkk' "Hallo, namaku Steffi. Kau siapa? Apa petugas di sini?' Malaikat maut tertabrak, hingga membuatnya sempoyongan. "Aaaa, jadi kau yang menertawakanku, wahai arwah baru." Katanya, dengan nada yang sangat meledek. Membuat bibir Steffi terangkat sekilas, "Siapa juga yang meledek kau! Aku saja baru bisa masuk ke dalam sini!" Jelasnya, bertolak pinggang layaknya jagoan. "Lantas siapa yang tadi tertawa, jika itu bukan kau?!" "Gua! Kenapa? Emang, ada aturan buat gak boleh ngetawain malaikat maut?! Satu arwah seketika masuk menembus pintu utama, dengan tatapan tajam serta tangan yang melipat. "Sesuai aturan nomor 17, jika arwah dengan malailat maut harus mempunyai ikatan yang erat. Oleh sebab itu, kami kesini! Untuk mengakrabkan diri." Sosok itu tiba di depan malaikat maut, serta berdiri di samping Steffi. "Dengan cara menertawai? Sangat tidak etis." Cibir malaikat maut. "Lhooo, bukannya dengan tertawa bersama akan membuat ikatan semakij dekat? Soalnya, banyak manusia yang memakai cara itu. Hingga para gadis, mendambakan pria yang humoris." Seketika, malaikat maut tertawa dengan terbahakkan. Sampai-sampai Steffi ikut tertawa bersamanya. "Kau sangat logis! Apa kau sudah sangat siap kembali jadi manusia?" Apa... Jadi manusia lagi? Apa yang ia katakan? Bagaimana mungkin arwah Lira menjadi manusia kembali. Yang, padahal, dirinya telah menjadi arwah tetap di pemakaman ini. "Gua siap banget! Tapi, temenlo tuh nyusahin! Peraturannya bikin gua terus gagal." Seru Lira. Balasan darinya, semakin membuat Steffi bingung. Otaknya mencerna dengan serius percakapan yang dilakukan oleh malaikat maut bersama Lira. Barangkali, bisa membuat dirinya paham apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, mohon maaf sekali. Hari ini Steffi kurang beruntung, seperti hari-hari lain saat dia masih menjadi manusia. Dikarenakan, Lira dengan malaikat maut tadi malah sedang berpelukan. Serta ada air mata yang menetes dari mata keduanya. "Eh udahan eh. Gua kan niatnya kesini buat ngenalin lo sama dua arwan baru. Sekaligus, temen gua sekarang." Lira melepas pelukan, dan menyeka airmatanya. "Dua temen lo? Mana? Cuman ada satu. Dia kan? Yang mukanya kaya ayam?" "Hah? Ayam? Sialan! Muka kamu juga kaya kentang!" Steffi membela harga dirinya, kala telunjuk malaikat maut menusuk harga dirinya. Tapi, lagi-lagi malaikat maut tersebut tertawa, "Sorry, gua bercanda. Tolong, jangan diambil hati ya. Kalo lo sakit hati nanti gua kasih hadiah deh." "Apa?" Tanya Steffi dengan antusias. Dasar gadis. Jika ada hadiah, semangatnya langsung terbakar. Membuat Lira langsung tertawa. "Nanti kalo lo udah dapet id card. Baru bisa ngerasain hadiah dari dia." Katanya, dengan tangan yang merangkul Steffi. "Tapi, btw. Nama dia siapa sih, Ra? Masa, nantinya aku manggil dia malaikat maut doang?" Bisik Steffi, namun bisikan tersebut bisa terde gar jelas oleh sang malaikat maut. Hingga langsung memperkenalkan dirinya secara prosedur dan aturan. Malaikat maut tersebut sedikit membungkukkan diri di depan Steffi, memakai topi hitam kebanggannya serta mengulurkan tangannta. "Antonio. Malaikat maut junior berlencana silver. Divisi marketing pemakaman dan pembantu nasip para arwah." Steffi tercenggang dengan mata terbelalak dengan sempurna. 'Gila juga, dunia lain.' batinnya. Seketika, Steffi merombak fikirannya yang dulu. Yang menyatakan jika dunia lain selain dunianya tidak ada. Yang, mana ia ketahui jika, manusia yang meninggal dunia akan langsung ke akhirat dan mempertanggung jawabkan semua yang telah ia jalani di dunia. "Pasti kau malaikat maut yang keren ya." Steffi mengacungkan kedua ibu jari, di depan wajah Antonio. Dan langsung, disanggah besar-besaran oleh Lira, "Keren apaan! Malah dia yang paling rendah di sini. Karena, gak bisa liat dunia luar. Hidupnya sama kaya arwah sini. Gak bisa nikmatin dunia manusia, kaya malaikat maut lainnya." Bukannya marah atau tersinggung, Antonio malah setuju dengan semua pernyataan dari Lira. "Lhooo kok gitu?" Steffi tidak bisa membendung rasa penasarannya dan langsung mengajukan banyak pertanyaan. Tapi, Antonio tidak mau menjawabnya dengan buru-buru. Biar saja, Steffi tenggelam dengan rasa penasarannya. Toh, juga itu semua akan berguna. Jika, dirinya menginginkan hidup dan kembali ke dunia manusia. Karena sejarah Antonio, merupakan salah satu soal untuk tes pengetahuan umum yang akan diselenggarakan dua bulan mendatang. "Temen kalian yang satu lagi mana? Kok belum dateng-dateng?" Tanya Antonio, seraya mengerjakan kembali pekerjaan yang sedang membuat kata-kata untuk mempermudah atasannya. "Dia ada kok di sini, nih orangnya!" Steffi menunjuk ke depan. Membuat Antonio mengikuti arahannya. "Astaga! Berasa banget arwah penasarannya. Jangan-jangan dia????" Antonio menatap kedua mata Steffi dan Lira, yang sedang menganggukan kepalanya. Pantas saja, dugaannya benar ternyata. Antonio langsung menyirih arwah tersebut keluar dari luar kantor investigasi, untuk mendekat padanya. "Nama lo siapa?" Tanya Antinio, dengan ipad yang sudah di tangan. "Ramanda, tidak mau dipanggil dengan nama Amanda, atau Manda." "Lalu siapa? Jangan bercanda! Arwah penasaran kaya lo gak semestinya begini! Belajar memasang ekspresi yang menautkan, agar bisa menyelesaikan misi nanti." Seru Antonio, hingga membuat arwah di depannya memincingkan mata. "Hey! Malaikat maut rendahan! Jangan dingin begitu! Nanti aku suka sama kamu!" "Hah? Apaansi maksutnya tu arwah?" Antinio bertanya pada Lira dan Steffi. Berhubung Lira tidak tau apa-apa, karena dirinya juga baru kenal dengan Ramanda, yang tidak mau dipanggil Amanda atau Manda. "Steffi kali tuh tau, secara dia yang duduk lama berdua sama dia (Ramanda)." Antonio menoleh pada Steffi, "kenapa dia?" Steffi mendekatkan diri pada Antonio, membuatnya tersentak sebentar sambil kegirangan. Kapan lagi ada arwah gadis cantik yang mau sedekat ini padanya, "crush dia dulu dingin, sok jual, tapi tau-tau ngajak ke kamar. Tapi, crush itu juga yang bikin dia meninggal kaya gini. Tabrakan, crushnya hidup, eh dianya gak ada." Ternyata, Stefii mau berbisik. Agar Ramanda tidak kembali bersedih. Karena baginya, cukup sekali mendengar suara tangis yang sangat cempreng darinya. Yang membuat telinga Steffi pengang selama 2 jam. Mendengar penjelasan tadi, membuat mata Antonio terpejam serta menggaruk kepalanya. Bukan terharu atau kasihan. Tapi, ia menahan tawanya. Karena kisah yang dijelaskan Steffi sangat di luar batas fikirannya. Antonio mencari balasan yang tepat agar Ramanda bisa langsung satu frekuensi dengannya. "Lo adalah salah satu arwah dari seratus arwah yang suka sama gua. Maklum, gua kan pencabut nyawa idola." Antonio bergaya layaknya photo model, hingga membuat Lira serta Steffi terperangah jijik. Sementara Ramanda, malah langsung keluar ruangan. Untuk menuntaskan rasa kesalnya. "Anjir! Bahaya juga kalo arwah penasaran udah teriak!" Mereka bertiga langsung menutup telinganya. Tidak lupa juga, menatap tajam pada Antonio, akibat rasa percaya dirinya yang sangat jauh di puncak, membuat Antinio kepedean.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD