Pekerjaan Baru - 8

1156 Words
Setelah melakukan sesi interview dengan kepala HRD, Jessa akhirnya memulai karir barunya sebagai Manager hotel itu. Suasana hatinya begitu berbunga saat ini, ia langsung melakukan beberapa pelatihan sebelum benar-benar menjadi seorang manager di sana. Beberapa orang mulai membuat Jessa nyaman saat melakukan pelatihan. Ada seorang wanita, ia terlihat sangat ramah dan juga memiliki pribadi yang hangat. Wanita itu bernama Patricia, berada di bagian HRD, dan menjadi asisten Nyonya Alice. Jessa tengah melihat beberapa laporan hotel beberapa hari ini, lalu ia juga mulai mempelajari beberapa pekerjaannya sebagai manager hotel. Tidak sendiri, Jessa juga dilatih oleh seorang pria, mantan manager di sana. “Tuan Hayden, apa kau bisa menjelaskan padaku mengenai persoalan ini?” tanya Jessa. “Coba aku lihat, sepertinya permasalahan ini selalu ditangani oleh asistenku, kau bisa bertanya padanya, karena ia akan menjadi asistenmu kedepannya,” jelas Hayden. “Baiklah, Tuan.” Jessa kembali berkutat pada beberapa berkas, dan ia juga mulai mengenal struktur dalam menjalankan hotel. Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya Jessa menyelesaikan beberapa laporan yang diberikan Hayden padanya. Hayden adalah pria yang tampan dan bisa memikat seluruh wanita hanya dengan senyumnya. Sama halnya dengan Jessa yang memiliki wajah cantik dan rupawan. “Jessa, apa kau sudah memiliki janji makan siang dengan seseorang?” tanya Hayden. “Ehm … aku rasa belum, Tuan.” “Apa kau mau makan siang bersamaku di restoran yang tidak jauh dari hotel ini?” “Apa tidak aka nada yang marah jika aku menyetujuinya?” “Kenapa juga aku harus mengajak dirimu jika ada yang marah?” “Anda humoris juga ternyata, baiklah … dengan senang hati aku menerima ajakan itu Tuan.” “Lima menit lagi jam istirahat, kita bisa pergi setelah ini.” Jessa mengangguk dan tersenyum pada Hayden. Ia segera merapikan meja kerja sementaranya, lalu memeriksa beberapa berkas lagi untuk memastikan semuanya selesai dengan baik. “Ayo, kita pergi!” ajak Hayden. Jessa pun beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan mengekor pada Hayden. Mereka melewati beberapa karyawan hotel saat itu, dan juga bertemu dengan Patricia saat berada di lobby. “Apa kalian akan makan siang?” tanya Patricia. “Ya, apa kau juga ingin bergabung?” tanya Tuan Hayden. “Tidak, pekerjaanku masih belum selesai, kalian nikmati saja waktu makan siang di luar. Sepertinya aku akan memesan makanan secara online kali ini,” jelas Patricia. “Baiklah jika kau tidak bisa, kami akan segera kembali,” ujar Hayden. Jessa terlihat lega karena ternyata Hayden memang baik hati pada semua orang. Hampir saja ia tertipu dengan pikiran negatifnya. Ia mengira jika Hayden akan sama saja dengan pria lainnya. Jessa masuk ke dalam mobil milik Hayden, dan mereka melaju menuju sebuah restoran kecil yang ada di dekat hotel. “Kau tidak keberatan jika kita makan di sini?” “Tidak, tentu saja aku tidak akan keberatan. Aku bukanlah orang kaya yang hanya mau makan ditempat mewah ,Tuan.” Hayden merasa lega mendengar jawaban Jessa, mereka turun dari mobil lalu masuk ke dalam restoran itu. Keduanya duduk di sudut ruangan yang berada di dekat jendela. Restoran itu mengambil tema vintage, sehingga ada beberapa barang kuno dan terbuat dari kayu dengan desain unik. Jessa menyukai teman dari restoran itu, dengan menu makanan dari banyak Negara, restoran itu termasuk memiliki tariff yang cukup terjangkau. “Kau suka?” tanya Hayden. “Ya, restoran ini sangat … menarik,” ucap Jessa. “Aku dengar kau pernah bekerja sebagai manager di sebuah restoran,” ujar Hayden. “Ya, kau benar.” “Jika aku tidak salah pemilik restoran itu adalah Evan, dia adalah kakak kelasku, dan beberapa kali kita bertemu untuk membicarakan bisnis,” jelas Hayden. Jessa terlihat canggung saat mendengar nama Evan disebut oleh pria di hadapannya. Melihat tingkah Jessa yang sedikit tidak nyaman, Hayden langsung mengubah topic pembicaraan mereka. “Aku sering datang kemari bersama rekan-rekan yang bekerja di hotel. Patricia dan Nyonya Alice sangat menyukai tempat ini. meski terbilang baru, tetapi restoran ini memiliki cita rasa yang sangat bagus, menurut aku. Bagaimana dengan dirimu?” “Ehm … aku baru pertama kali datang kemari, kita akan melihatnya setelah aku mencicipi makanan di sini,” jelas Jessa. “Baiklah, beritahu aku jika kau menyukainya. Jika ada waktu, aku akan mengunjungimu di hotel. Kita bisa saja datang kemari bersama yang lain,” ujar Hayden. “Tentu saja, dengan senang hati, Tuan.” “Hmm, kau bisa memanggil namaku saja, Jessa.” “Tidak-tidak … aku akan merasa tidak nyaman jika hanya memanggilmu dengan sebutan nama,” ujar Jessa. Hayden tersenyum, lalu beberapa saat kemudian makanan pesanan mereka datang. Keduanya menikmati hidangan yang dihidangkan oleh seorang waitress wanita. Wanita itu tersenyum pada Hayden, seperti sedang menggoda pria itu, akan tetapi … Hayden juga terlihat membalas tatapan mata wanita itu. “Apa kau mengenalnya?” tanya Jessa. “Dia? Adikku.” Mendengar Hayden menyebut wanita itu sebagai adik, membuat Jessa malu karena sudah bertanya kepada Hayden. “Kau yakin jika tidak akan ada yang cemburu?” tanya Jessa memastikan lagi. “Hahaha, sepertinya kau memiliki trauma dengan hal ini. aku masih belum menikah atau memiliki seorang kekasih, Jessa.” Jessa menagngguk dengan memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Begitu juga dengan Hayden yang akhirnya memilih untuk segera menghabiskan makanannya. Setelah mereka selesai dengan kegiatan mengunyahnya. Keduanya segera kembali ke hotel untuk melanjutkan pekerjaan. Dan sebuah masalah terjadi saat Jessa dan Hayden datang dan masuk melalui lobby hotel. “Saya sudah memesan beberapa jam lalu, tetapi kenapa kamar itu kau berikan pada orang lain?” tanya seorang Pria dengan suaranya yang lantang. Hingga semua tatapan mata menuju pada pria yang ada di bagian resepsionis. Hayden yang melihat hal itu segera berjalan mendekati pria itu. dan dengan ramah Hayden bertanya pada pengunjung hotel. “Permisi Tuan, apakah ada yang bisa saya bantu?” tanya Hayden. “Kau ini siapa?” tanya pria itu. “Perkenalkan saya adalah Hayden, manager di hotel ini,” ujar Hayden. “Wanita ini memberikan kamar yang aku pesan pada pengunjung lain.” Hayden melihat pada bagian resepsionis, lalu pria itu mulai menanyakan permasalahan dari pria itu. “Anda bisa menunggu sebentar, silakan duduk di sana. Saya akan segera mengurus hal ini,” ujar Hayden. “Cepatlah! Aku ingin segera beristirahat,” ujar pria itu. Hayden hanya tersenyum, lalu ia segera menyelesaikan masalah itu dengan wanita yang ada di meja resepsionis. Wanita itu bernama Betty, cantik dan terlihat seperti masih berusia dua puluh tahun, tetapi usianya sekarang hampir setengah abad. “Betty, bisa kau jelaskan?” tanya Hayden. Jessa yang melihat kinerja Hayden semakin tertarik dengan pekerjaan barunya itu. Jessa selalu mengamati setiap pergerakan yang Hayden lakukan di sana. Ia juga mengamati beberapa sikap resepsionis dan bell boy di sana. “Tuan, pria itu memesan tanpa memberikan uang muka, sementara tamu yang sudah masuk langsung membayar secara penuh,” jelas Betty. “Baiklah, kalau begitu kesalahan ada pada pria itu. apa dia pernah datang kemari sebelumnya?” tanya Hayden. “Pernah, akan tetapi hanya satu malam saja, Tuan.” Ingatan Betty masih sangat bagus setiap harinya, wanita itu bisa mengingat setiap tamu yang datang meski sudah cukup lama. “Apa ada kamar yang sama?” tanya Hayden. “Ada, tersisa satu. tetapi ia hanya ingin kamar dengan nomor yang sama,” jelas Betty. “Baiklah, aku akan mencoba menjelaskannya pada pria itu.” Hayden berjalan menghampiri pria itu, lalu ia menjelaskan mengenai kamar yang sudah dipesan orang. Dan Hayden menawarkan beberapa keuntungan jika pria itu masih mau menempati kamar lain, dengan fasilitas yang sama. Akan tetapi Hayden menawarkan beberapa bonus pada pria itu. “Baiklah. Aku akan mengambil kamar itu.” Lega dengan jawaban sang pria, Hayden membantunya untuk melakukan check in pada resepsionis. Setelah itu, Hayden dan Jessa kembali ke kantor mereka yang ada di lantai sepuluh. “Kau hebat, kenapa kau berhenti, Tuan?” tanya Jessa ingin tahu. “Aku akan menjalankan bisnis baruku, dan kau pasti tidak akan percaya siapa yang akan membantu diriku untuk menjalankan bisnis itu,” jelas Hayden. “Siapa?” tanya Jessa. “Evan.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD