Menyesal -6

1126 Words
Jessa kembali membuka matanya, ia melihat seorang pria yang tengah terlelap tepat di sampingnya. Rasa menyesal dan juga kecewa kini menyelimuti dirinya, bagaimana bisa ia melepaskan mahkota itu di saat dalam pengaruh minuman. Bodoh … Jessa menyebut dirinya sendiri dengan kata itu. Entah sudah pukul berapa saat itu, dan saat ini Jessa baru saja menyadari, ia tidak berada di dalam kamar yang sama seperti beberapa saat lalu, menurutnya. Mata Jessa menyusuri setiap sudut kamar mewah itu, dan akhirnya ia menyadari jika berada di dalam kamar milik Evan. “Kau sudah bangun?” tanya Evan dengan meregangkan tubuhnya. “Bagaimana bisa aku berada di sini?” Jessa menatap Evan. “Aku menggendongmu, dan membawa tubuhmu sampai di sini,” jelas Evan. “Apa ini di sebuah kamar hotel?” “Apa kamar hotel terlihat begitu mewah?” “Tidak, lalu apa ini kamarmu?” tanya Jessa. “Ya, kau berada di dalam rumahku, sayang. Kenapa?” “Entahlah … aku merasa tidak enak saja.” “Sekarang masih sangat pagi untuk beranjak dari ranjang. Apa kau ingin mengulanginya?” Jessa mengerutkan dahinya, lalu ia memukul bahu Evan. “Evan … tidak seharusnya kita seperti ini,” ujar Jessa. “Aku akan menikahi dirimu jika terjadi sesuatu.” “Tidak, bukan itu maksudku.” “Lalu apa?” “Ibuku … aku bisa dibunuh olehnya jika ia tahu kau memiliki hubungan denganku,” jelas Jessa. “Kenapa?” “Karena … karena … ibuku menyukaimu, Evan.” Mendengar pengakuan Jessa, Evan hanya tersenyum lalu mengecup bibir merah Jessa. “Aku lebih mencintaimu, Sayang.” “Tidak … sebenarnya … sudahlah, aku yakin kau akan menyumpahi aku jika tahu.” “Apa? Jelaskan padaku!” “Entahlah … dia memang ibuku. Tetapi sejak aku lulus sekolah, tidak sedikitpun dari uang yang dimilikinya diberikan padaku, aku selalu mencari uang sendiri sejak lulus dari universitas. Ehm … apa kau mau membantu aku? Dengan … menikahi ibuku?” “Kau gila? Aku bahkan belum mengenal ibumu,” ujar Evan. “Aku tahu, dan kalian masih bisa saling mengenal untuk beberapa waktu kedepan.” “Sayang, apa kau sadar dengan perkataanmu itu?” “Aku tahu … aku memang gila, tetapi … aku sangat kesal pada ibuku, Evan.” Evan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lalu ia memikirkan sebuah rangkaian kehidupan, jika bisa memiliki keduanya, pasti akan sangat menguntungkan bagi Evan. “Evan … maafkan aku, aku tidak bermaksud mempermainkan hatimu, aku hanya ….” “Sudahlah, aku akan coba untuk memikirkan hal ini, kau tenang saja.” “Benarkah? Terima kasih.” Evan memeluk tubuh Jessa, dan semakin mempererat posisinya saat itu. Beberapa kali Evan memainkan b*******a Jessa, hingga wanita itu mengerang. “Evan, jangan lakukan itu. kau membuatku geli,” protes Jessa. “Sayang … maafkan aku,” ucap Evan tiba-tiba. “Kenapa kau meminta maaf padaku?” tanya Jessa. “Aku sudah mengambil keperawananmu.” “Kau memang jahat, Evan. Aku membencimu karena hal itu.” “Benarkah?” “Ya, kau membuatku kecewa! Kau juga membuat bagian intim milikku sakit saat ini,” ujar Jessa. Gemas dengan ucapan kekasihnya, Evan justru melumat bibir Jessa dengan lembut.  Tangan Jessa mendorong tubuh Evan hingga melepaskan ciuman itu. Mata mereka saling menatap, dan Jessa mulai membuka suara. “Evan … jangan lakukan lagi, aku mohon.” “Baiklah. Sebaiknya kita bersihkan diri terlebih dahulu di dalam sana, lalu … kita berangkat ke kantor bersama,” ujar Evan. Jessan tersenyum mendengar keputusan kekasihnya itu. ia pun beranjak dari ranjang. Meski rasa nyeri masih dirasakan pada bagian intimnya, Jessa memilih menahan rasa nyeri itu dan tidak memperlihatkan pada Evan. Mereka membersihkan diri bersama di dalam kamar mandi yang luasnya hampir setengah kamar Jeesa. Setelah Evan membantu Jessa membersihkan diri, mereka akhirnya keluar dari dalam kamar mandi dengan mengenakan handuk yang menutupi bagian terlarang pada tubuh masing-masing. “Kita makan dulu,” ujar Evan. “Baiklah.” Setelah mengenakan pakaiannya kembali, Jessa meraih tasnya lalu berjalan di depan Evan menuju ruang makan yang ada di lantai satu. Rumah mewah itu terlihat sangat sepi, hanya ada beberapa asisten rumah dan juga beberapa pengawal pribadi Evan. “Evan, apa kau tinggal di sini seorang diri?” tanya Jessa. “Tentu saja, karena Karin memilih tinggal di apartemen-nya,” jelas Evan. “Rumah ini terlalu besar untuk kau tempati seorang diri, Evan.” “Kalau begitu, kau tinggal saja di sini bersamaku.” “Tidak bisa Evan, Mama bisa mencurigai aku berbuat macam-macam jika tidak terlihat di rumah,” ungkap Jessa. “Kau mengatakan jika ibumu tidak begitu peduli pada dirimu, tetapi kenapa kau masih mempedulikan bagaimana tanggapan dia terhadapmu?” “Entahlah … dia sudah melahirkan aku dan membuat aku bisa hidup sampai saat ini, aku hanya ingin membalas kebaikannya saja. Meski sebenarnya aku kesal dengan sikapnya akhir-akhir ini.” “Aku sudah memikirkan hal itu, kau bisa mengenalkan aku padanya. Akan tetapi, aku ingin kau tinggal di dalam rumah ini. Dan jika aku menikahi ibumu, aku tetap ingin berhubungan denganmu!” “Evan … kau membuat keputusan yang sulit untuk diriku.” “Benarkah? Bagaimana dengan aku? Aku berkorban diri untuk menikahi orang yang tidak aku cintai, bahkan aku melakukannya demi dirimu, orang yang sangat aku cintai.” “Baiklah … aku minta maaf, sebaiknya kita batalkan saja rencana ini.” Jessa beranjak dari tempatnya, ia meraih tasnya lalu melangkah pergi. Akan tetapi … tangannya di tarik oleh Evan, hingga tubuh Jessa jatuh ke pangkuan Evan. “Jangan pernah mempermainkan aku, Sayang. Aku melakukannya hanya untuk dirimu,” ujar Evan. “Ma-maaf … Evan,” jawab Jessa. Evan melepaskan tubuh Jessa, lalu menyuruh supir pribadinya untuk mengantarkan Jessa menuju kantor. Mendengar hal itu, Jessa merasa sangat menyesal. Evan bahkan langsung beranjak dari kursinya dan berjalan masuk ke dalam kamar. “Evan … maaf,” gumam Jessa. Wanita itu akhirnya berjalan keluar dari rumah Evan, dan ia di antarkan oleh seorang supir. Selama perjalanan, Jessa hanya terdiam menahan diri agar tidak mengeluarkan air matanya. Hatinya terasa sangat sakit, seperti ditusuk dengan pisau. Hingga akhirnya, ia sampai di kantor utama milik Evan. Jessa tidak masuk ke dalam sana, melainkan menuju area parkiran dan masuk ke dalam mobil miliknya. Jessa mengemudikan mobilnya menuju rumah sang ibu, dan ia memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan milik Evan, tanpa sepengetahuan pria itu. “Sebaiknya aku mulai mencari pekerjaan baru,” gumam Jessa. Mobil itu akhirnya sampai di rumah sang ibu, dan saat Jessa mulai melangkah masuk ke dalam rumah. Ibunya tengah berdiri di dekat tangga melihat ke arahnya. “Kemana saja kau semalam?” tanya Martha. “Ehm … maaf, aku ketiduran di rumah teman.” “Apa kau membawa kabar baik mengenai boss-mu?” “Entahlah, dia sangat sulit untuk didekati, Ma.” “Sebaiknya kau mulai berusaha dengan keras, Sayang!” “Aku bahkan sudah tidak bekerja lagi di sana. Jadi jangan menyuruh aku untuk menjodohkan Mama dengan Tuan Evan.” Jessa berlari menuju lantai atas, tempat kamarnya berada. Martha yang melihat anaknya mulai membangkang merasa ada yang salah pada diri anak itu. “Jessa!” teriak Martha. Jessa menangis sembari membereskan barang-barangnya. Ia akan mulai tinggal di apartemen-nya kali ini. Ya … Jessa memiliki apartemen kecil yang cukup untuk dirinya. Mendengar suara pintu kamar terbuka, Jessa bisa melihat tatapan tajam dari Martha. “Apa yang kau lakukan? Kau akan pergi kemana?” tanya Martha. “Aku tidak ingin tinggal lagi di sini.” “Oh … kau sudah merasa sukses? Atau … jangan-jangan kau bermain dengan p****************g di luar sana untuk mendapatkan fasilitas hidup?” “Ma! Aku melakukan semua yang mama katakan. Aku bahkan tidak pernah membangkang selama ini! Tapi kenapa? Kenapa Mama selalu menekan diriku? Aku bahkan tidak pernah menggunakan uang Mama.” Jessa mulai kesal dan memilih mengeluarkan seluruh isi hatinya. Bahkan Martha yang saat itu tengah emosi, mendengar ucapan Jessa mulai membuatnya memikirkan semua itu. Jessa menarik tas kopernya, dan melangkah pergi dari dalam rumah ibunya itu. Martha hanya bisa berdiri kaku melihat anaknya pergi dari rumah. “Jessa!” teriak Martha.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD