Pov Mandala ( Sambutan )

811 Words
Butuh beberapa saat bagiku untuk mencerna panggilan "Mas" yang terlontar dengan nada lembut disertai senyuman dari bibir Nailis. Gadis yang sejak awal perkenalan kami selalu bersikap ketus padaku. Sikap yang memang sudah selayaknya kuterima, setelah kepahitan hidup yang kuberikan padanya selama ini. "Boleh 'kan, Pak? Cuma sebentar, kok ...," imbuhnya. Wajah itu, suara itu, serta sikapnya, menggambarkan kelembutan juga kesan dingin yang misterius. Perpaduan yang sangat menarik dan unik dimataku. "Y-ya sudah ... tapi jangan lama-lama, langsung pulang, ya ...." Pak Wato terlihat was-was. Sepertinya bukan aku saja, feeling-nya sebagai orang tua cukup kuat untuk mencium gelagat aneh dari putri kesayangannya itu. "Iya, Pak." Setelah mengambil jaket dan berpamitan. Gegas kususul Nailis yang sudah menunggu di teras rumah. Terdengar seruan mereka untuk berhati-hati, karena jalanan licin selepas hujan deras petang tadi. "Bawa mantel, Nai. Takutnya hujan lagi nanti ...." Baru kustarter motor, Ibu Nailis menyusul keluar. "Nggak usahlah, Bu. Nailis cuma sebentar." Entah kenapa, namun yang kutangkap nada bicara Nailis terdengar seperti tidak sabaran. Ia naik ke atas boncengan dengan mengambil jarak yang cukup berjeda dan memintaku untuk segera menjalankan motor. "Jangan ngebut, Mas Mandala!" Terdengar seruan dari Ibu Nailis yang segera kuiyakan. Sepanjang perjalanan tak ada obrolan apapun diantara kami. Nailis hanya sesekali bicara, itupun hanya untuk mengarahkan petunjuk jalan. Kami sudah melewati tukang gorengan, namun dia terus memintaku terus berjalan. Hingga akhirnya ia memintaku berhenti di depan sebuah bangunan bank terkenal di negeri ini. Nailis turun begitu saja, tanpa mengatakan apapun padaku. Cukup lama ia berkutat di depan mesin ATM, sebelum akhirnya ia kembali dan memintaku melanjutkan perjalanan. Entah kemana tujuannya, jalan yang ia tunjukkan bukan ke arah jalan pulang. "Masih jauh, Nai?" Entah sebenarnya kemana tujuannya. Tak lama ia memintaku berbelok ke sebuah jalanan kecil berbatu yang gelap gulita. Bulu kuduk rasa merinding melihat di pinggir jalan kulihat sumur tua juga sebuah pohon beringin besar. Lumayan ngeri sebenarnya tapi berusaha tak kutunjukkan demi gengsi yang harus kujaga. "Kenapa? Takut?" sindirnya tepat sasaran. "Sedikit," jawabku jujur dengan senyum kecut mendengar pertanyaannya yang sarat akan nada ejekan. Bagaimana tidak takut? Di kiri kanan jalan hanya ada pohon-pohon besar, lampu jalan sebagai penerang pun tidak ada, benar-benar gelap gulita. Satu-satunya cahaya adalah dari lampu motor kami. Belum lagi jalanan licin berbatu yang membuat motor tersendat beberapa kali, hingga kami nyaris jatuh dan membuatnya mendengus kesal. "Depan, belok kiri." Nailis kembali mengarahkan. Syukurlah, ia tak memperpanjang masalah sikapku yang penakut juga kemampuanku berkendara motorku yang payah di jalanan tadi. Nailis turun dari boncengan, sementara aku mengikutinya dari belakang. Sebenarnya aku bingung, harus ikut atau menunggu di motor saja. Tapi melihat Nailis yang tak memprotes langkahku, aku merasa tak masalah jika ikut bersamanya. Tapi rumah siapa ini? Aku bertanya-tanya dalam hati sambil mencermati bangunan dua lantai berkeramik hijau lumut itu. Apa mungkin pemilik rumahnya penjual gorengan langganan Nailis? "Assalamuallaikum." Nailis mengetuk pintu sembari mengucap salam. Tak lama wanita yang bertamu ke rumah tadi sore membuka pintu dan nampak terkejut melihat kedatangan kami. "Mau apalagi kamu?" tanyanya tak suka. Sambutan yang mencengangkan. "Aku ada perlu sebentar dengan suamimu," jawab Nailis penuh ketenangan. Namun entah hatinya, tidak mungkin ia nekad malam-malam mendatangi rumah mantan suaminya jika tidak ada kepentingan yang sangat mendesak. Terlebih Nailis juga tidak jujur pada orang tuanya akan tujuannya keluar malam-malam begini. "Nggak ada sopan santunnya, malam-malam bertamu, cari suami orang," gerutunya dengan wajah tak sedap dipandang. Aku sebenarnya tidak suka dengan cara wanita itu menyambut kami, terutama cara bicaranya yang selalu kasar saat berbicara dengan Nailis. Namun aku masih menahan diri, mengingat aku adalah orang asing dan belum begitu paham permasalahan diantara mereka berdua. Meski bisa kutebak, dua wanita berseteru, tentu tak jauh dari masalah hati. Cemburu misalnya. "Aku datang karena memang ada hal penting yang harus diselesaikan segera dengan kalian. "Tenang saja ... aku tidak ada niatan sedikitpun untuk merebut suamimu, apalagi mengemis uang padanya." Kali ini nada bicara Nailis penuh penekanan, seolah sedang berusaha meredam emosi yang membuncah di dadanya. Karena akupun rasanya ingin membungkam mulut wanita ini. Kalau aku jadi Nailis, mungkin aku tidak akan bisa sesabar dirinya. "Cih, nggak usah sombong ... kamu itu cuma kuli rendahan dan anakmu juga penyakitan. Bisanya bentar-bentar minta duit pada suamiku ...," celotehnya sinis. Andai saja suaminya tidak segera datang, rasanya aku sudah tidak tahan untuk menyumpal mulut sampahnya itu. Namun satu yang kusadari, akulah orang yang patut disalahkan atas apa yang menimpa Nailis kini. Akulah pria b******k yang sudah menelantarkan anak dan ibunya hingga mereka berjuang sendirian. Melihatnya dihina seperti ini, membuat penyesalan dalam diri ini kian memuncak. Andai saja waktu bisa diulang kembali. Aku ingin memperbaiki semuanya. "Siapa yang datang?" Pria itu, Dimas, melongok dari balik pintu yang hanya membuka setengahnya. Nampak ia terkejut melihat kedatangan kami. "Nailis?" Sekilas ia memandang padaku dengan tatapan ... entahlah. Aku bisa melihat kebencian di matanya kepadaku. Hal yang kuanggap wajar, mengingat aku sudah merusak kekasihnya. "Siapa sih tamunya? Kenapa nggak disuruh masuk?" Terdengar seruan suara perempuan dari dalam. Hingga akhirnya wanita paruh baya dengan rambut sebahu itu ikut menghampiri ke pintu. Begitu melihat siapa yang datang, raut wajahnya berubah keruh dan seperti tak suka dengan kedatangan kami. "Mau apalagi, sih, dia ke sini?" Kutaksir dia adalah ibu dari mantan suami Nailis. Begini perlakuan mereka pada Nailis ya, Tuhan? "Saya ada perlu penting, hanya sebentar, Bu." Nailis berucap sopan, masih sempatnya ia mengulas senyum tipis pada wanita berwajah oriental yang masih memasang wajah tak ramah itu. "Masuk, Nai." Dimas lekas menyela, sepertinya ia tidak enak hati pada Nailis, melihat bagaimana sambutan ibu dan istrinya. Sekilas ia melirikku yang berjalan mengikuti di belakang Nailis. Ada kilat cemburu yang begitu kentara di matanya yang sipit. Kami duduk berempat saja di ruang tamu, saling berhadapan. Sementara wanita yang kuukur usianya sudah lebih dari setengah abad tadi melenggang masuk setelah sebelumnya berpesan supaya kami lekas menyelesaikan urusan. Sebuah kalimat yang sarat akan pengusiran. Benar-benar sambutan yang luar biasa. Lebih luar biasa lagi ketenangan yang Nailis tunjukkan. seolah ia baik-baik saja dengan perlakuan tak menyenangkan yang diterimanya. "Nad, buatin tamu kita minunan dulu," ucap pria itu lirih pada istrinya yang masih memasang wajah masam. Sikapnya terlihat memprotes perintah suaminya. "Nggak usah, Mas." Nailis lekas menyela, tangannya meremas amplop coklat dalam genggaman. "Langsung saja, aku juga nggak mau lama-lama dan mengganggu waktu kalian," ucapnya sembari menyodorkan amplop itu ke atas meja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD