Pov Mandala
Tak ku sangka, perbuatanku berakibat sefatal ini. Seharusnya aku sadar sejak awal, Nailis masih duduk dibangku kelas tiga SMA. Ku kira dia menikah setelah lulus, ternyata sekolah tak memberinya toleransi sama sekali dan mengeluarkannya. Sungguh perbuatan bejatku, harus membuat gadis remaja itu menanggung malu yang membuatnya nyaris depresi.
Sehabis subuh, ku lihat ia sibuk menyapu rumah dan halaman. Sementara ibuku dan ibunya memasak didapur. Sementara ayah juga Pak Wato duduk mengobrol di depan televisi sembari menyimak kuliah subuh dari ustad kondang.
Semalam Nailis menolak tegas permintaan Bapaknya untuk menikah denganku. Laki-laki yang disebutnya pemerkosa! Sakit ... tapi itulah kenyataannya. Aku pantas menyandang gelar itu.
Hari sabtu, pabrik tempatnya bekerja libur. Itu yang ku dengar dari percakapan mereka saat sarapan. Selesai mencuci piring, Nailis sibuk menyirami jamur tiramnya dengan mengajak serta putra kami. Benar bukan? Aku ayahnya meski kenyataan memang tak bisa dipungkiri. Aku, ayahnya, pecundang yang selama ini menyembunyikan diri, lari dari tanggung jawab.
"Sini aku bantu." Aku berusaha mengakrabkan diri.
"Tidak usah," ketusnya sembari menjauh, mengambil jarak cukup jauh dariku. Aku mencoba mengerti, mungkin ia takut dan tidak nyaman berduaan denganku. Meski ada Leon diantara kami.
Akhirnya aku memilih mengajak Leon bermain di halaman rumah. Melihatnya seperti melihat diriku versi mini. Dia benar-benar mirip sekali denganku. Dia juga begitu mudah dekat dengan orang yang baru dikenal. Tak sulit mengakrabkan diri dengannya. Aku terus mengajaknya bicara dan balitaku yang tampan itu menyahutinya dengan bahasanya yang lucu.
Bersyukurnya aku. Setidaknya Nailis tidak melarang putranya dekat dengan ayahnya yang baj*ngan ini.
"Lho Leon ... kok mirip sama Omnya?" Seorang ibu-ibu lewat menyapa kami. Sepertinya hendak pergi ke sawah melihat dari atribut yang dipakainya. Camping dan cangkul dibahunya.
Beberapa tetangga mengatakan hal yang serupa. Aku hanya tersenyum tipis dan menjawab iya-iya saja. Tak mungkin ku jawab bahwa akulah yang memperkosa ibunya hingga lahirlah aku versi mini ini.
Sepertinya ini akan menjadi topik baru di dunia perghibahan warga kampung. Seperti inikah Nailis menjalani hari-harinya? Tekadku semakin kuat untuk mengambil tanggung jawabnya. Aku harus membayar semua luka dan duka yang sudah ku torehkan dalam hidupnya. Meski aku tahu ini tak akan mudah, aku akan berjuang untuk membahagiakannya.
***
"Nailis ... sekali lagi aku minta maaf." Ku cari-cari kesempatan supaya bisa bicara empat mata dengannya.
Ketika ku lihat ia berjalan ke rumah jamur. Aku segera memgikutinya. Ku lihat ketakutan dimatanya, wajar saja. Mungkin trauma akan perbuatanku waktu dulu. Ya Tuhan ... betapa berdosanya diri ini ...
"Nai, tolong jangan takut. Malam itu aku benar-benar dikuasai alkohol, aku bahkan tak mengingat dengan jelas apa yang telah ku lakukan padamu ...."
Ku lihat ia mulai tenang, namun tetap mengambil jarak denganku. Tangannya mulai terampil memanen jamur tiram yang bermekaran.
Tanpa kata aku membantunya. Sialnya, mata ini tak bisa berhenti mencuri pandang padanya.
Nailis. Wajahnya tenang, matanya sayu, jika diam saja orang akan mengira ia jutek. Tapi ketika tersenyum pada Leon, terpancar kelembutan yang membius jiwa. Bibirnya tipis, hidungnya tidak mancung tidak juga pesek, pas sesuai porsinya. Wajahnya tirus, rambutnya hitam, panjang sepinggang. Biasa dikuncir asal-asalan jika dirumah. Baru kalau keluar rumah ia menguncirnya rapi, kadang juga menggerainya begitu saja. Tubuhnya tinggi dan ramping. Lebih berisi ku lihat jika dibandingkan terakhir kali aku melihatnya dua tahun lalu. Tentu saja, seiring perkembangan usianya ada beberapa bagian tertentu yang berubah. Tolong jangan menilaiku m***m ... aku hanya mengagumi pesonanya. Hal yang tak pernah ku lakukan sebelumnya. Bahkan pada Amaya, kekasihku sendiri.
Dimataku, Nailis memiliki kecantikan alami yang unik. Ketika memoles wajah, aura kecantikannya begitu terasa. Sebaliknya tanpa make up, wajahnya memancarkan sisi polosnya yang tak bisa membuat mata ini berpaling. Entah kenapa aku bisa berlebihan seperti ini menilai dirinya. Pantaskah aku mengaguminya? Pria baj*ngan yang sudah begitu tega menodainya ...
Ku lihat kertas putih diatas keranjang. Sekilas membaca, aku tahu itu adalah pesanan jamur tiram. Kami saling membantu tanpa kata. Memasukkan jamur ke dalam plastik kemudian menimbangnya sesuai pesanan pembeli. Mungkin ada sekitar 20 kantong plastik total semuanya.
"Sekilonya berapa?" tanyaku berusaha memupus keheningan diantara kami.
"Lima belas," jawabnya dingin seperti sebelum-sebelumnya. Bahkan menatap padaku saja tidak. Memang sepantasnya perlakuan ini aku terima setelah semua yang terjadi pada hidupnya akibat perbuatanku.
***
Satu jam lebih Nailis pergi. Pukul 15.00 WIB Nailis baru tiba di rumah, setelah mengantarkan pesanan jamur tiram pada langganannya. Di rumah tidak ada orang selain aku. Semua pergi silaturahmi ke tetangga, kenalan lama ayah, bersama Leon juga diajak serta. Sementara aku lebih memilih di rumah saja.
Tak nyaman berdua saja denganku, Nailis mengambil cangkup dan ember, lalu gegas ke kebun samping rumah. Ku ikuti dia dari belakang. Entah apa yang hendak ia ambil. Ku lihat ia mencangkul tanah yang diatasnya tidak ada tanaman sama sekali.
"Mau cari apa?"
"Kunir." Masih dingin. Tak mengapa ... aku takkan menyerah.
"Kunir?" Aku tak tahu tanaman apa itu. Namun setelah melihat bentuknya, kini aku tahu apa kunir yang dimaksudkannya. Ternyata kunir itu kunyit.
"Biar aku saja yang mencangkul, kamu yang ambilin." Ku raih cangkul dari tangannya. Dia menatapku tak percaya, lebih tepatnya meremehkanku mentang-mentang aku dari kota. Dia pikir aku tidak bisa? Dalam seminggu ku datangi tempat fitness untuk memiliki tubuh yang bagus. Hanya mencangkul apa susahnya?
"Aku ini laki-laki ...sudah tentu kekuatanku lebih besar dari kekuatan seorang perempuan." Ku lihat ia mencibirku, membuat diri ini semakin tertantang. Akan ku buktikan kalau aku bisa!
Tunggu! Apa-apaan ini? Kenapa tanahnya keras sekali? Baru beberapa kali ku ayunkan cangkul peluhku sudah bercucuran tanpa tahu malu. Sementara tadi Nailis terlihat biasa-biasa saja. Tidak sampai seperti diriku ini. Astaga ...
Kembali ku teruskan mengayun cangkul. Nafasku ngos-ngosan. Ah sial! Sebenarnya aku sudah tidak kuat lagi. Tapi dimana akan ku taruh harga diriku sebagai laki-laki kalau seperti ini saja sudah menyerah.
"Tidak usah dipaksakan ... dasar payah," cetusnya sembari memberi sebotol minuman padaku. Rasa malu coba ku kesampingkan. Entah kapan dia mengambil botol minum itu. Ku berikan senyum manis sebagai ucapan terima kasih, Nailis melengos dan mendengus kesal.
"Jangan terlalu jutek ... nanti cantiknya hilang," candaku. Namun sama sekali tak ditanggapi.
Kembali diraihnya cangkul yang tergeletak di tanah. Setelah menghabiskan setengah botol minuman, ku lepas kaos yang ku pakai. Tak ku sangka baru mencangkul sebentar peluhku bisa membanjir seperti ini.
Apa kabarnya mereka yang bekerja disawah? Ku pandang dikejauhan hamparan sawah yang menguning, sebagaian sudah dipanen. Betapa kerasnya hidup sebagai petani.
Ku alihkan pandang kembali pada gadis yang sibuk dengan cangkulnya. Lama ku pandangi dirinya sampai tanpa sadar bibir ini berkata," Nai ... menikahlah denganku?
***