Eleanor menjawab" Aku sudah menyuruh Leonardo membelinya."
Eleanor menoleh ke Leonardo lalu bertanya,"Apa kamu sudah beli barang yang kuminta?"
"Sudah,Kebetulan uangnya habis saat membeli barang itu, "lalu dia berdiri untuk mengambil sebuah bingkisan.
Namun, Eleanor tidak tertarik melihatnya karena dia sama sekali tidak berharap Leonardo akan mengeluarkan barang yang indah.
Eleanor benar-benar tidak habis pikir kenapa kakeknya memaksa menginginkannya menikah dengan laki-laki yang sangat tidak berguna.
Sebelum Tuan Besar Winarto meninggal, dia meraih tangan Eleanor dan berpesan kalau Eleanor tidak boleh memandang rendah Leonardo.
Tuan Besar Winarto juga mengatakan kalau mereka berdua harus saling menghormati.
Keluarga Winarto Kota Veo pasti akan berkembang di tangan Leonardo.
Waktu itu Eleanor sangat terkejut karena kakeknya tidak mungkin akan berbohong padanya.
Jangan-jangan Leonardo mempunyai identitas rahasia?
Akan tetapi, tiga tahun telah berlalu, Eleanor tidak melihat ada yang baik di Leonardo.
Selain memasak, mencuci dan pekerjaan rumah lainnya, Eleanor tidak tahu apa yang bisa dilakukan Leonardo.
Besok semua saudara jauh dan keturunan langsung Keluarga Winarto akan hadir, begitu juga beberapa tokoh besar Kota Veo.
"Kamu tidak boleh sembarangan bicara, mengerti?"ujar Eleanor dengan cuek.
"Meskipun ada yang mengejekmu, kamu hanya boleh menahannya.Keluarga kita sudah cukup memalukan, aku tidak mau kita semakin malu" tambah Vivi.
Leonardo tampak tak peduli, dia hanya menganggukkan kepalanya.
Eleanor melirik Leonardo, dia langsung tidak ingin berkata-kata lagi.
Ketika melihat kelakuan Leonardo yang acuh tak acuh, Eleanor benar-benar merasa pasrah.
Leonardo bukannya tidak senang dengan sikap Eleanor.
Keluarga Winarto adalah keluarga yang besar dengan bisnis besar, mereka mempunyai banyak saudara jauh dan Eleanor adalah salah satunya.
Saudara jauh memang sering tidak dianggap dan dalam tiga tahun ini karena Leonardo, mereka semakin dipandang rendah.
Leonardo memperhatikan semua ini.
Tidak ada alasan lain, ini hanya karena Leonardo tidak seperti menantu Keluarga Winarto lainnya yang hebat dan berkuasa, jadi Leonardo juga tidak menyalahkan Eleanor.
Keesokan harinya,
Di gedung Grup Winarto, Depan gedung perusahaan sangat ramai.
Ada mobil-mobil mewah yang parkir di depan gedung, kemudian bunga merah terlihat di mana-mana.
Suasana sangat meriah.
Di kedua sisi depan gedung tersusun banyak sekali papan bunga.
Di dinding tergantung spanduk panjang merah yang tak terhitung jumlahnya dikirim oleh perusahaan besar dan kecil Kota Veo.
Semua ini menunjukkan status Keluarga Winarto di Kota Veo.
Eleanor sebagai anggota Keluarga Winarto tentu saja memiliki tempat sendiri di perkumpulan Keluarga Winarto.
Ketika Eleanor membawa Leonardo ke ruangan, banyak saudara Keluarga winarto yang sudah tiba.
Eleanor pun menyapa mereka sambil tersenyum.
Sedangkan Leonardo sudah terbiasa untuk tetap diam, dia hanya mengikuti Eleanor di belakang tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Akan tetapi, meskipun dia begitu, ada orang yang masih tidak ingin melepaskan Leonardo.
Kakak sepupu Eleanor, Robert Winarto, setiap kali dia melihat Leonardo, Robert pasti akan mempersulit Leonardo.
Robert akan mencemooh Leonardo seolah-olah dia adalah badut dan semua orang pun akan menertawakannya.
Karena selama ini Robert merasa Leonardo adalah menantu yang tidak berguna, Leonardo benar-benar mempermalukan Keluarga Winarto. Kalau bukan karena Leonardo, apa Keluarga Winarto akan menjadi buah bibir Kota Veo?
"Leonardo, kamu datang juga? Hmm, apa itu yang di tanganmu?”sindir Robert.
Anggota Keluarga Winarto lainnya juga penasaran.
Begitu melihat bingkisan yang di tangan Leonardo, mereka langsung tahu kalau itu pasti barang murahan.
Eleanor mewakili Leonardo menjawab, "Hadiah ulang tahun perusahaan" Robert tertawa sinis
"Apa itu? Ayo buka untuk kami lihat."Orang-orang lain pun mendekat dengan tampang menantikan.
Akan tetapi, yang mereka nantikan bukanlah barang di dalam bingkisan, melainkan wajah konyol Leonardo.
Eleanor menatap Leonardo dengan gugup, dia juga tidak tahu apa yang telah dibeli Leonardo.
Seharusnya Eleanor melihatnya duluan, sekarang Leonardo akan menjadi bahan ketawa orang lain lagi, Eleanor bahkan juga akan terlibat.Tak peduli apa pun itu, ini niat baik Leonardo.
"Yang seperti ini tidak usah diukur dengan uangkan?" kata Eleanor sambil menaikkan alisnya.
Leonardo menatap Eleanor dengan terkejut. Dia tidak menyangka Eleanor akan membantunya bicara.
"Kamu salah,Keluarga kita telah berkembang selama ratusan tahun di Kota Veo. Walaupun kita bukan termasuk bangsawan, kita juga di atas keluarga menengah.Keluarga besar harus berpenampilan seperti keluarga besar.
Di pesta yang sangat penting ini kalau ternyata kalian telah membawa barang yang memalukan, bukankah reputasi Keluarga Winarto akan hancur?"Robert tetap tidak mau melepaskan Leonardo.
Semakin Leonardo dilindungi Eleanor, Robert semakin mau mempermalukan Leonardo agar dia menjadi bahan ketawa semua orang.
"Buka!"perintah Robert dengan sombong sambil menunjuk bingkisan yang di tangan Leonardo.
Leonardo tidak berkata apa-apa dan hanya meraba hidungnya, tapi Eleanor mengulurkan tangan untuk menghentikan Leonardo.
"Robert, apa maksudmu? Hadiah ini untuk perayaan ulang tahun perusahaan, bukan untuk kamu lihat. Memangnya kamu ada hak untuk membukanya?"Setelah mendengar kata-kata Eleanor, Robert pun menjadi kesal.
"Tentu saja aku punya,Siapa tahu orang tidak berguna ini membawa apa? Aku ingin memeriksanya dulu. Kalau ternyata sampah, ya buang. Aku benar, kan?"
"Kita punya banyak tamu penting di luar, kalian ribut apa di sini?” Pada saat ini, seorang pria paruh baya berjalan masuk.
Pria paruh baya ini mengenakan setelan buatan tangan yang sangat bagus, rambutnya disisir ke belakang, dia berpakaian seperti orang sukses. Bobby Winarto, CEO Grup Winarto saat ini, dia juga adalah ayahnya Robert.
"Paman"
"Ayah"
"Kakak"
Robert beserta anggota Keluarga winarto lainnya langsung menyapa Bobby dengan hormat.
Bobby menganggukkan kepala tanpa ekspresi. Ketika dia melihat Leonardo dan Eleanor, tatapan Bobby terlihat kesal.
"Perayaan perusahaan sudah di mulai, kalian ikut aku keluar!"ucap Bobby.
Setelah itu, Bobby berbalik dan keluar. Orang-orang lain juga segera mengikutinya.
"Minggir!"Robert menyenggol Leonardo,tatapannya terlihat mengejek.
Keluarga Wisata memberikan lukisan kaligrafi dari pelukis ternama. "Semoga Grup Winarto semakin makmur!"
Grup Amazone memberikan patung katak emas. "Semoga Grup Winarto semakin kaya."
Grup BlackStone memberikan patung Dewa Kekayaan. "Semoga bisnis Grup winarto semakin lancar" .
Setiap perusahaan besar dan kecil dari Kota Veo mulai memberikan hadiah ulang tahun.
Satu wajah Bobby memerah, dia merasa ini semua sangat berharga dan tidak bisa berhenti tersenyum.
Suasana sangat meriah, semua orang terlihat sedang tersenyum.
Kemudian, tidak tahu apakah ini sengaja atau tidak, tapi Leonardo dan Eleanor diposisikan di paling belakang.
"Untuk yang terakhir, dipersilakan kepada saudara jauh Keluarga Winarto, Dave Winarto, untuk mempersembahkan hadiahnya"seru orang yang bertugas untuk membuat pengumuman.
Ketika melihat Leonardo melangkah maju dengan bingkisan biasa di tangan, anggota Keluarga Winarto beserta wakil perusahaan besar dan kecil semuanya tersenyum mengejek.
Bagaimanapun juga, Leonardo-si menantu Keluarga Winarto yang tidak berguna sangat terkenal di Kota Veo.
"Memangnya orang seperti dia bisa memberi hadiah bagus apa?"Senyuman sinis mendekorasi wajah Robert,
Membiarkan Leonardo menjadi orang terakhir yang memberi hadiah tentu saja adalah ide Robert.
Dia ingin semua orang melihat Leonardo mempermalukan diri sendiri.
Leonardo meletakkan bingkisan itu di atas meja, kemudian perlahan-lahan membukanya.
Cing!
Terlihat ada kilatan cahaya melintas, semua orang pun terdiam.
Di dalam bingkisan terdapat batu giok singa putih dan mulus.
Ia duduk dengan tenang di dalam, terlihat sangat mendominasi.
Semua orang tercengang.
Benda itu bukan giok biasa!
Lagi pula, mereka semua adalah orang kava, jadi setidaknya mereka tahu kalau giok singa itu sangat berharga.
Apa orang tak berguna dan miskin seperti Leonardo sanggup membeli benda yang begitu berharga?