Tubuh Yuri meremang. Dulu, ia menghabiskan total belasan jam sesi konseling dengan psikolog untuk menghilangkan bayangan ini dan belajar mencintai dirinya sendiri. Sebab apa yang ada di tubuhnya, itu adalah miliknya. Termasuk Rayu yang saat itu masih dalam kandungannya. Namun sekarang, dengan kejinya mereka membawa gambaran nyata apa yang Yuri berusaha hapus dari benaknya. Iya, gambaran sebuah keluarga sempurna yang saling cinta. Mulya pun tampak tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saling menemukan keberadaan mereka di tempat ini satu sama lain. Rayu merosot turun dari gendongan Abigail dan membawa langkah-langkah mungilnya mendekati Yuri. Bocah itu mungkin senang bertemu dengan maminya secara tak terduga. "Mi ...," panggil Rayu memeluk kaki Yuri. "Mi ...." Kepala Rayu mendonga

