Aku mengalah, menungguinya di depan ruang OSIS.
Sudah lama sekali rapatnya. Membuatku mondar mandir di depan pintu, seperti istri yang menunggu suaminya pulang kerja saja.
Memikirkan itu membuatku tersenyum sendiri. Kenapa bisa aku punya pikiran menjijikan seperti itu??
Pintu ruang OSIS terbuka. Kulihat para anggota OSIS mulai keluar dari ruangan itu satu persatu.
Dimana Renno? Itu dia.
Dia masih duduk sambil membereskan entah berkas apa itu. Dan disampingnya...SYDNEY dengan senyum lebarnya masih setia menanti Renno menyelesaikan kegiatannya.
Oh iya aku lupa kalau Sydney kan wakil ketua OSIS nya. Apa itu alasan Renno memintaku menunggunya. Aaaahhhhh.... aku sudah GR dulu. Aku pikir dia merindukanku.
Renno menangkap keberadaanku di luar pintu. Ia tersenyum kemudian melambaikan tangannya.
Tanpa berpamitan pada Sydney, Renno barlalu menghampiriku.
Aku membalas senyumnya sembari membalas lambaian tangannya. Aktingku benar benar bagus kali ini. Apa sampai sekarang Sydney masih belum menyerah juga? Padahal aku sudah lelah berpura pura seperti ini terus. Ingin cepat kembali ke kehidupanku yang tenang seperti dulu.
"sudah lama?" tanyanya sambil menggandeng tanganku
"lumayan" jawabku
"kita makan siang dulu baru setelah itu aku antar pulang"
"aku ada acara" jawabku beralasan
"sebentar saja. Ada yang ingin aku bicarakan"
Aku tak menjawab, percuma saja menolak, ia pasti akan memaksa.
***
Kami sudah sampai di sebuah kafe.
"Mau pesan apa" tanyanya menawariku
"Aku makan apapun, aku tidak pemilih" jawabku
"Makan hatiku bagaimana?" Aku membulatkan mataku, Renno terkekeh kemudian berjalan menuju tempat pemesanan makanan.
Renno memesan beberapa makanan kemudian kembali ke meja dimana aku berada.
Ia duduk disampingku tapi terus menghadap ke arahku sembari senyum senyum sendiri.
"Kenapa?" tanyaku
"Tidak apa apa" ia menggelengkan kepala. Tapi tetap saja melihat ke arahku.
Tak lama kemudian makanan pesanan kamipun datang.
2 ice capucinno dan 2 sandwich ternyata makan yang ia pesan.
Aku langsung memakannya tanpa basa basi terlebih dulu. Memang aku sudah lapar dari tadi, sementara jam makan siang sudah lewat dari tadi.
Aku tersedak karena makan dengan tergesa gesa, Renno buru buru memberikan sebotol mineral water padaku.
"Pelan pelan makannya" ucap nya sambil tersenyum
"Kalau kurang aku pesankan lagi"
Setelah dirasa perutku mulai kenyang, akupun memelankan makanku.
"Tadi kamu nyuruh aku nunggui kamu karena ada Sydney kan Ren?" Tanyaku
"Itu salah satu alasannya. Tapi alasan utamanya karena aku mau membicarakan sesuatu." jawab Renno
"Jangan bilang kamu mau nembak aku. Percuma, bakal aku tolak langsung." Jawabku datar.
Renno seketika langsung tertawa terbahak bahak sampai orang di sekitar kami melihat ke arah kami, aku langsung melotot memberi kode agar ia berhenti tertawa.
"Kamu ngarep aku tembak? Kan kita udah jadian dari kemarin kemarin" jawabnya sambil memakan kembali makanannya.
Aku membuang muka. Mulai deh si kutu kupret jadi tukang bubur, sukanya halusinasi.
"Aku mau pulang" aku mulai ketus. Renno memegang tanganku.
"Aku belum selesai ngomong"
"Ayo buruan udah sore"
"Tadi di rapat OSIS membahas study tour ke jogja. Besok mulai di data anak anak yang bakalan ikut, kamu ikut y."
"Gak"
"Kenapa?"
"Udah sering ke sana"
"Tapi kan belum pernah sama aku."
Aku memandang Renno dengan tatapan aneh.
"Apalagi ada kamu. Ogah ah..."
Renno tidak menjawab apapun. Wajahnya terlihat kecewa.
Adakah alasan aku harus bersama pria ini?
"Lihat entar deh" aku meralat jawabanku
Renno tersenyum, seketika menarik pinggangku. Sepertinya akan mulai lagi deh...
Buru buru aku menjauhkan mukanya dariku.
"Bisa minta ijin dulu kan jangan main nyosor kaya gitu.' Ucapku kesal
"Iya..." Renno tersenyum puas.
***
Setelah mengantar Bella pulang, Renno mendatangi Gerald di rumahnya.
"Berarti rencananya waktu kita ke jogja, lu bakalan nembak Sydney?" Tanya Renno pada sahabatnya.
Gerald mengangguk mantap.
"Berarti PDKT lu berhasil ya bro, selamat deh..." Renno ikut bahagia atas rencana Gerald
"BTW ya Ren, gua tuh bingung sama lu ya. Sydney yang cantik nya kaya bidadari bisanya lu tolak sih? Malah lu jadian sama cewe biasa kaya Bella.? Bingung gua lihatnya. Gak habis pikir gua ama lu Ren? Apa istimewanya cewe itu sih?"
Renno tersenyum bahagia, matanya menerawang.
"Justru karena dia biasa aja gua jadi suka. Kalau dia cantik kaya yang lain, ntar saingan gua banyak dong"
Gerald menepuk bahu sahabatnya itu.
"Ada ada aja lu bro"
Itukah alasannya ia menyukai Bella? Renno sendiri kurang yakin dengan alasan yang ia berikan untuk sahabatnya itu.
Tapi memang, saat bersama gadis itu, ia merasakan apa yang tidak biasa ia rasakan pada gadis gadis lainnya. Getaran yang spesial, hanya bersama Bella.
***