Aurora keluar ke arah balkon kamarnya saat Mentari pagi mulai bersinar. Ia menikmati udara pagi yang hangat ini, membiarkan sinar matahari masuk ke dalam tubuh cantiknya. “Kartu undangan sudah, souvenir sudah, gaun sudah. Tinggal menunggu hari pernikahannya saja,” gumam Aurora sambil menatap gedung-gedung tinggi yang ada di sekitar apartemennya. Aurora akan merindukan tempat ini. Ia tersenyum sambil menyandarkan kedua tangannya di atas besi balkon kamarnya. Aurora meregangkan tubuhnya yang terasa kaku. Hari ini untung saja libur kerja, jadi Aurora bisa mengajak Rena mengunjungi Bibi Cahaya sebelum hari pernikahan tiba. Aurora kembali masuk ke dalam, ia akan membersihkan diri lebih dulu. Aurora mencari pakaian yang pas sebelum memutuskan untuk mandi. Aurora masuk ke dala

