"Bu, bisa minta tolong ambilkan sarung atau selimut?” tanya sang ustaz sembari membetulkan letak jas di tubuh Dinda. “Baik, Ustaz.” Bu Teti gegas masuk rumah lalu kembali dengan kain selimut. Kemudian dengan kain selimut tersebut, wanita setengah baya ini melapisi tubuh Dinda lalu dibopong oleh sang ustaz masuk rumah. Saat menurunkan tubuh sang wanita, ustaz muda ini sempat berbisik,” Besok kita menikah. Aku tak mau kehilangan dirimu lagi, Jamila.” Dinda yang sudah terbangun menatap lekat kepada sang ustaz, begitu mendengar kata- kata barusan seketika buliran air mata mengucur deras dari kedua pelupuk mata. Sang ustaz seketika membalut ujung jari telunjuk dengan tisu lalu mengusap lembut tetesan air mata dari pipi Dinda. Tindakan Ustaz Hamdan membuat rasa sedih dan malu Dinda semakin

