Dipusaran makam ibunda tercinta Mita masih meneteskan air matanya, dia masih memeluk dan mengusap-usap nisan kayu bertuliskan #Sulimah Binti Junaedi#
"Harus berapa lama lagi saya berdiri menunggu kamu di sini?" Kata pria bernama Kevin yang akan menjadi calon majikan Mita mulai hari ini.
" Ayo bangun!!!,kamu tidak sadar sudah 30 menit kamu disini, buang-buang waktu saja."
Mita hanya menoleh kepada Kevin yang sedang mengocehinya sedari tadi.Namun ia enggan beranjak dihadapan pusaran makam ibundanya, dia tidak mempedulikannya, saat itu dia hanya ingin bersama orang tuanya.
Kevin akhirnya melemparkan kartu namanya."Jika kamu sudah puas disini, segera lakukan tugas kamu." Kevinpun berlalu pergi meninggalkan Mita sendirian dipemakaman.
"Ibuuuuu.....!, kenapa ibu pergi juga ninggalin Mita," derai air mata semakin deras membasahi pipinya."Sekarang Mita sendirian di sini bu, Mita mau ikut ibu sama ayah".
***
Keesokan harinya.
"Hufh......!!!, malas sekali rasanya harus bertemu dengan orang tak berhati seperti itu," gerutu Mita sambil memasukan tiap lembar bajunya dalam koper.
Matanya masih sembab akibat menangis tak henti sejak kemarin, langkahnya berat meninggalkan rumah kecil yang sudah lama di kontrak bersama ibunya.
Dia tidak menyangka ibunya akan meninggalkannya secepat ini, dengan beban hutang yang entah berapa banyak,belum lagi kuliah yang sedang ia jalani belum selesai,dalam fikirannya apa dia bisa hidup tanpa mereka, fikirannya kalut dan air matanyapun jatuh.
Selesai berkemas Mitapun jalan menuju rumah majikannya. Satu setengah jam perjalanan berlalu ke alamat tujuan kemudian Mitapun sampai di rumah yang cukup megah, diapun lalu turun dan membayar ojek yang dia tumpangi.
Perlahan dia masuk sambil menoleh ke kanan dan kiri mengamati sekitar, sampai tiba didepan pintu rumah berwarna putih yang cukup sederhana namun terlihat mewah.
Mita baru saja mau mengetuk daun pintu rumah tersebut tiba-tiba terbukalah pintunya.Muncul Kevin dengan setelan yang sudah sangat rapih bersiap untuk bekerja.
"Kenapa baru datang jam segini kamu?"
"Maaf tuan, sa saya tadi harus membereskan barang-barang saya dulu," jawab Mita dengan gugup.
"Mulai hari ini kamu tidak boleh bermalas malasan, kamu tau kan apa saja yang harus kamu kerjakan?"
"Iya tuan".
Kevinpun melewati Mita, namun beberapa langkah ia berbalik.
"Ingat!!!, contoh almarhumah ibumu yang sangat giat bekerja," setelah itu kevinpun berlalu.
Ibuu, apa aku bisa melewati ini semua? tutur mita dalam hati sambil mulai masuk dan menutup pintu rumah yang akan dia tempati mulai saat ini.
***
"Kenapa dia tinggal dirumah sebesar ini, padahal dia hanya sendirian.Ini sangat menyiksaku," sambil mengepel Mita menggerutu.
"Kenapa kamu pagi-pagi sudah menggerutu?" tanya kevin sambil menuruni anak tangga.
"Tuan dengar?" Mita malu dan menutup mulutnya.
"Tentu saja,kamu fikir saya sudah tuli?"
Kevinpun menggeser kursih lalu melihat apa yang ada diatas meja makan pagi itu.
"Aku ingin coklat panas," Kata Kevin meminta yang belum tersedia.
Mitapun segera menyingkirkan gagang pel yang sedari tadi dia genggam.Tidak lama Mitapun menyuguhkan secangkir coklat panas yang Kevin minta.
" Tuan, saya mau tanya.Kira-kira berapa lama saya harus bekerja di sini untuk melunasi hutang saya?" Kevin hanya menatap tajam ke arah Mita.Namun Mita memberanikan diri mengulang pertanyaannya.
"Berapa lama tuan?"
"Seumur hidup mungkin."
"Apa!!!!!!," Mita reflek menggebrak meja makan dihadapan Kevin.
"Apa yang kamu lakukan? Kamu membuat saya kaget dan kamu membuat perut ini jadi tidak enak," Kevin bangun dari duduknya dan memegangi perut sambil membungkuk.
"Harusnya saya yang bertanya, apa yang tuan lakukan terhadap hidup saya? saya tidak mau seumur hidup di sini."
Kevin beranjak pergi sambil memegang perutnya yang melilit menuju ke toilet meninggalkan Mita.
"Heeey........!!! tunggu, saya masih mau bicara," kata Mita sambil mengikuti bosnya ke depan pintu toilet yg sudah tetutup.
"Dengar!!!!, saya akan melunasi hutang2 ibu secepatnya setelah saya lulus kuliah nanti, ketika saya menjadi chef di restoran mewah, saya akan segera melunasi semuanyaaaa!!!!," sambil teriak-teriak didepan pintu toilet.
Duuuuuut......!!!!hanya terdengar suara itu di balik pintu toilet.
"Sungguh tidak sopan," Mita menutup hidungnya. Tidak lama kemudian Mita menendang pintu toilet lalu pergi.
Glek.... Glek....!!! Tegukan demi tegukan air es sedikit meredam emosinya yang memanas.
Tiba-tiba terdengar bell berbunyi. Teeeeeet..... Teeeeeet..... Teeeeet...!!!
Mitapun melangkah, menghampiri dan membuka pintu. Dibalik pintu terlihat sosok ibu-ibu separuh baya dengan dandanan glamour ala sosialita masakini.
Ibu-ibu itu menatap Mita dari bawah ke atas seolah memperhatikan tiap detailnya.
"Maaf tante ada perlu apa?mungkin tante salah rumah? sepertinya yang sedang mengadakan arisan tetangga sebelah," Kata Mita sambil menunjuk rumah sebelah.
"Atau dirumah sebelahnya lagi mungkin tante, disini hanya ada.....,"
"Ngapain mamah ke sini?" Ucapan Mita dipotong oleh kedatangan Kevin.Mitapun kaget dan menganga mendengar jika yang ada dihadapannya itu adalah ibu dari majikannya.
Pelan-pelan Mitapun mundur.
"Permisi nyonya," sambil membungkukan badannya dan menyunggingkan senyum malu.
"Siapa wanita itu?" tanya ibu sambung Kevin yang bernama ibu Penti sambil menuju sofa.
"Mamah belum jawab pertanyaan aku, jadi aku sulit untuk menjawab pertanyaan mamah," Kevin memang semakin jauh dari keluarga sejak adik sambungnya ternyata selingkuhan pacarnya sendiri, lalu mereka dinikahkan karna hamil duluan.
"Iya, mamah kesini untuk melihat keadaan kamu sayang. Mamah khawatir, mamah dengar asisten rumah tangga kamu meninggal.Apa perlu mamah carikan kembali penggantinya?"
"Tidak perlu repot," jawab Kevin dingin.
"Lalu siapa wanita tadi? tidak mungkin itu pacar kamu kan?.Apa dia....." sejenak mamahnya berfikir kalo itu pengganti asisten rumah tangga anaknya.
"Permisi," Mita datang lalu meletakan secangkir kopi di meja tamu.
"Siapa kau?" tanya ibu Penti sambil mendekat kepada Mita, Mita menoleh pada Kevin mengisyaratkan jawaban.
Akhirnya Kevinpun yang menjawab."Iya, dia penggantinya.Mamah sudah liat aku baik-baik saja dan tidak perlu menghawatirkan aku,sebaiknya mamah pulang sekarang karna aku mau siap-siap berangkat kerja," Kevinpun berlalu dan menaiki tangga menuju kamarnya.
"Kamu jangan aneh melihat perlakuan putraku kepadaku seperti itu.Dia memang begitu dingin, namun dalam hatinya aku tahu dia begitu menyayangiku meski aku hanya ibu sambungnya," ungkap ibu Penti.
"Siapa namamu?,"
"Mita,"
"Dulu ibu Imah yang mengurus keperluan putraku dengan baik, aku sangat percaya kepadanya.Aku harap kamu bisa sepertinya, bekerja melayani putraku dengan baik disini.Jika ada apa-apa kamu beri tahu aku.Ini kartu namaku.Simpanlah," sambil menyodorkan selembar kartu nama miliknya.
Dari atas tangga ternyata Kevin melihat apa yang dilakukan ibunya kepada Mita di bawah sana.
" Mita, aku adalah ibu yang kurang baik untuknya. Itu sebabnya dia seperti ini kepadaku.Sejak aku dinikahi almarhum ayahnya Kevin, aku berusaha menyayanginya seperti anakku sendiri namun sepertinya aku belum berhasil."
Ibu Pentipun menyeruput secangkir teh yang dibawa Mita, tak lama ibu Pentipun pamit meninggalkan rumah putranya.