BAB 6

2862 Words
“HENTIKAN PEMBANGUNAN RESORT DI SINI!!” “PERGI KALIAN DARI SINI!!!” Teriakan-teriakan itu tak hentinya terdengar, suasana semakin ricuh karena warga yang hendak menerobos masuk meski ada beberapa security yang menahan mereka. Rex tampak frustasi melihat pemandangan itu, dia hampiri salah seorang security. “Urus mereka. Jika perlu beri mereka uang atau makanan supaya mereka diam dan pergi,” titahnya pada sang security. “Tapi, Pak. Mereka sepertinya susah dikendalikan. Mereka memaksa kita menghentikan kontruksi ini. Kita turuti saja keinginan mereka pak. Di sini juga sudah ada dua pembunuhan misterius kan pak? Sepertinya tempat ini memang berbahaya.” “Jangan gila kamu, rencana pembangunan resort ini tidak bisa dibatalkan apalagi tanpa alasan jelas seperti ini. Perusahaan kami bisa mengalami kerugian besar, para investor yang sudah menanamkan modal juga pasti sangat kecewa. Mau kamu tanggungjawab bayar kerugian kami?!” Sang security meneguk salivanya berat, sadar sepenuhnya dia telah salah bicara. Bahkan ucapannya itu tampaknya telah sukses membuat sang CEO marah besar. “Iya, Pak. Maafkan saya. Saya akan berusaha membujuk mereka untuk pergi.” “Bagus. Lakukan apa pun agar mereka pergi. Aku tidak keberatan sekali pun harus memberi mereka uang.” Setelah selesai memberikan titahnya, disertai wajahnya yang masih memerah karena menahan emosi, Rex melenggang pergi menjauhi keramaian. Jika saja tanpa sengaja ekor matanya tidak menemukan sosok Nana yang sedang berdiri di dekat kerumunan warga. Sedang apa wanita itu di sana? Rex geram bukan main melihatnya. Dia pun berjalan menghampiri Nana, tanpa aba-aba memegang tangannya dan membawanya menjauh dari kerumunan warga yang masih semangat meneriakan penolakan mereka. “Apa yang kamu lakukan di sini?!” Tanya Rex dengan sedikit membentak. Nana mengernyitkan dahinya melihat ekspresi wajah atasannya yang jelas menunjukan tidak dalam kondisi yang baik. Jelas dia sedang marah besar saat ini. Tapi Nana tak gentar menghadapi atasannya, dia harus tahu apa yang sedang terjadi di tempat ini hingga banyak warga yang melakukan demo. “Saya tadi mengikuti Anda,” jawab Nana jujur, dia datang kemari memang mengikuti Rex. “Siapa yang suruh kamu ke sini?” “Gak ada yang nyuruh, Pak. Tapi sebagai sekretaris Anda, saya merasa harus tahu apa yang sedang terjadi di sini.” Rex menggeram kesal, tambah lagi satu orang yang membuat emosinya semakin naik ke permukaan. “Wanita tidak seharusnya ada di sini.” “Tapi saya ...” “Sekalipun kamu sekretaris saya. Biar kami yang mengurus masalah ini. Lebih baik kamu kembali ke penginapan atau ke area kontruksi,” sela Rex teramat ketus, volume suaranya masih terdengar tinggi. “Anda bilang saya yang bertanggungjawab atas pembangunan resort ini, kan?” Tanya Nana, yang sayangnya tak mendapatkan tanggapan apa pun dari Rex. Pria itu masih sinis dan tajam menatap Nana. “Jadi saya harus tahu apa yang terjadi di sini? Sepertinya warga di sekitar sini tidak menyetujui pembangunan resort ini? Tolong beritahu saya, Pak. Apa yang sudah terjadi di tempat ini?” Nana bersi keras dan hal ini membuat Rex gagal sepenuhnya menahan emosinya. Dia menarik tangan Nana, membawanya paksa pergi dari tempat itu. “Saya bilang pergi dari sini. Jangan ikut campur. Kamu cuma karyawan baru di sini. Tugas kamu hanya merancang resort bukan mengurusi masalah ini!!” Bentak Rex teramat kencang. Nana menegang di tempatnya, ini pertama kalinya dia dimarahi oleh atasannya sepanjang dia pernah bekerja di beberapa perusahaan. Rex melenggang pergi setelahnya, mengabaikan Nana yang masih berdiri mematung. Entah kemana dia pergi, bahkan sekedar memberitahukannya pada Nana pun, tidak dilakukan pria itu. Nana menghela napas panjang, dia memilih menuruti perintah atasannya dibandingkan harus bersitegang yang mungkin saja akan berakibat buruk untuk pekerjaannya. Bagaimana pun pria itu tetaplah atasannya. Nana melangkah menuju area kontruksi. Dia pandangi satu persatu pekerja yang mulai menjalankan tugas mereka masing-masing, seolah penemuan mayat tadi tak berpengaruh apa pun untuk mereka. Dia berjalan mendekati hutan yang belum terjamah. Berdiri tepat di depan hutan. Nana menggulirkan matanya menatap ke dalam hutan yang gelap, berharap dia bisa melihat makhluk mistis penghuni hutan itu. Jika dia bisa melihatnya, setidaknya dia tahu bahaya apa yang mengancam tempat ini, serta makhluk apa yang telah membunuh salah satu pekerja yang Nana ketahui bernama Jaka. Namun selama apa pun Nana berdiri di sana, atau seberapa keras usahanya melihat ke dalam hutan, dia tetap tak melihat makhluk apa pun. Akhirnya, Nana memutuskan masuk ke dalam hutan. Hawa dingin yang menusuk tulang seketika menghantam tubuh Nana, begitu dia menginjakan kakinya ke dalam hutan. Dia peluk dirinya sendiri yang mulai menggigil kedinginan. Aura yang tengah dirasakannya ini, Nana tahu aura itu merupakan aura jahat yang entah berasal dari makhluk apa. Sejauh mata memandang tak ada satu pun makhluk mistis yang Nana lihat meski dirinya sudah berada di dalam hutan. Padahal seharusnya tidak seperti ini, hutan yang keangkerannya bisa Nana rasakan bahkan tanpa perlu dirinya masuk ke dalam pun, seharusnya dihuni oleh banyak hantu dan makhluk mistis lainnya. Dan anehnya hutan ini kosong, tak ada satu pun makhluk mistis yang menampakan sosoknya di depan Nana. Seolah mereka takut untuk menempati hutan ini. Menyadari tak ada gunanya dia tetap berada di dalam hutan, Nana melangkah kembali meninggalkan hutan. Berhenti sejenak saat dirinya kembali menatap para pekerja yang begitu gigih menjalankan tugas mereka. Nana tak tahu dimana atasannya berada sekarang, dia juga tak berminat untuk mencarinya. Lantas dia pun pergi menuju kerumunan warga yang sedang berdemo. Berniat menanyakan sesuatu pada salah satu warga, menanyakan alasan mereka menolak pembangunan resort di tempat ini lebih tepatnya. Ketika Nana tiba di tempat para warga tadi berdemo, dia terdiam dikala tak menemukan satu pun warga disana. Sepertinya petugas keamanan disini berhasil membubarkan mereka. Nana mengembuskan napas kecewa, padahal dia ingin sekali bertanya pada warga desa. ***  Pagi ini ... tidak seperti kemarin, Nana hanya menyantap sarapannya sendirian. Atasannya yang tinggal serumah dengannya, sepertinya tidak pulang sejak kejadian kemarin. Nana ingin bertanya dimana atasannya itu berada sekarang, namun dia tak tahu harus menghubungi kemana karena dengan cerobohnya dia tidak memiliki nomor kontak pria itu. Setelah menyelesaikan sarapannya, Nana pergi keluar. Sempat bingung hendak melakukan apa sekarang, akhirnya dia memutuskan untuk mewujudkan keinginannya kemarin yang belum sempat dia lakukan. Dia akan pergi berkeliling ke desa terdekat dan bertanya pada beberapa warga disana perihal alasan mereka melakukan demo kemarin. Ya, itulah yang akan dilakukan Nana sekarang. Seorang diri Nana pergi menuju desa terdekat. Tak perlu menggunakan kendaraan karena jarak desa dengan area kontruksi tidak terlalu jauh, bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 45 menit, Nana pun tiba di desa. Desa itu tampak sepi, tak terlihat warga yang berlalu-lalang. Tampak banyak rumah-rumah warga yang lebih cocok disebut gubuk dibandingkan rumah jika dilihat dari struktur dan bentuk bangunannya. Nana berjalan disertai kedua matanya yang tak hentinya bergulir ke sekelilingnya, dia sedang mencari warga yang bisa dia tanyai. Nana tersenyum saat dirinya menemukan seorang wanita paruh baya tengah menyapu halaman rumahnya. Cepat-cepat Nana menghampiri wanita itu, berdiri tepat di luar pagar rumah. “Permisi, Bu,” sapanya, seramah mungkin. Ibu itu menghentikan aktivitas menyapunya, dia mendongak menatap Nana. Tertegun tanpa kata memandang penuh curiga pada Nana. “Saya dari area konstruksi pembangunan resort, boleh saya bertanya sesuatu pada ibu?” Bukannya memberikan jawaban, wanita itu justru meninggalkan Nana begitu saja. Berjalan terburu-buru menuju rumahnya tanpa menjawab sedikit pun ucapan Nana. “Ibu, tunggu!!” Teriak Nana, namun tak digubris ibu tersebut, dia bergegas masuk ke dalam rumahnya dan menutup pintunya. “Duuh ... kenapa dia malah masuk sih? Emangnya aku nakutin apa?” Gerutu Nana. Dia pandangi dirinya sendiri, menelisik penampilannya. Saat ini dia hanya mengenakan celana bahan berwarna hitam dan kemeja berwarna silver. Tak ada yang aneh dengan penampilannya, Nana sangat yakin. “Ya udah deh, coba nyari warga yang lain,” gumamnya seraya kembali melangkahkan kakinya. Di lihat dari sudut mana pun, desa itu memang tampak sepi seolah tak berpenghuni. Akan tetapi, jika mengingat mereka yang berkerumun melakukan demo kemarin, artinya banyak juga warga penghuni desa ini. Lalu dimana mereka berada sekarang? Mungkinkah mereka diam di rumah masing-masing? Sungguh aneh karena seharusnya di siang hari seperti sekarang, mereka akan melakukan aktivitas, bukan berdiam diri di dalam rumah seolah mereka takut untuk keluar. Nana terus berjalan semakin dalam memasuki desa. Masih tak ada satu pun warga yang dilihatnya. Setiap pintu rumah dalam keadaan tertutup, hanya jendela saja yang dibiarkan terbuka, bukti nyata bahwa rumah-rumah itu memang ada penghuninya. Langkah Nana terhenti saat dirinya melewati sebuah pohon beringin yang tumbuh di pinggir jalan setapak. Pohon beringin yang sangat besar, berdaun lebat dan terlihat berumur tua. Entahlah, dia merasa ada sesuatu yang memperhatikannya dari balik pohon beringin itu. Nana tak ingin repot-repot menatap ke arah pohon beringin, dari auranya dia tahu apa pun yang sedang memperhatikannya ini, jelas bukan manusia melainkan makhluk mistis. Nana pun melanjutkan langkahnya disertai detak jantungnya yang mulai memacu cepat. Baru beberapa langkah, Nana kembali menghentikan langkahnya. Meneguk salivanya gugup saat dirinya kembali menyadari ada yang tidak beres di desa ini. Meski dia tak bisa melihat pemandangan di belakangnya, tapi Nana tahu ada sesuatu yang sedang mengikuti dirinya. Sesuatu yang sedang berdiri tepat di belakang tubuhnya. Nana panik bukan main, aura itu sangat kuat, bukan berasal dari satu makhluk saja. Dia perkirakan ada beberapa makhluk mistis yang sedang berada di belakang tubuhnya sekarang. Keringat mulai bercucuran di sekujur tubuh dan wajah Nana, bahkan kemejanya sudah terasa basah karena terkena keringatnya. Keberadaan makhluk-makhluk itu di dekatnya, entah mengapa memberikan hawa panas luar biasa untuk tubuh Nana. Nana tahu ini bukan pertanda baik. Makhluk-makhluk itu pastilah tewas secara tidak wajar sehingga mereka masih penasaran dan masih berkeliaran di desa ini. Menguarkan aura yang membuat manusia seperti Nana tak nyaman berada di dekat mereka. Sekali lagi Nana meneguk salivanya, rasa penasarannya mengalahkan rasa takut dan paniknya. Dengan gerakan perlahan, dia memutar lehernya untuk menoleh ke belakang. Dan saat itulah firasat Nana terbukti benar. Ada banyak sekali hantu gentayangan yang melayang di belakang Nana. Mereka pun terlihat melayang di sekeliling pohon beringin yang tadi dilewati Nana. Katakan Nana sudah terbiasa melihat penampakan hantu, namun melihat sosok mereka yang menyeramkan dan mengenaskan menjadi sesuatu yang wajar jika Nana ketakutan sekarang. Wujud hantu-hantu itu jauh dari kata normal. Mereka semua memiliki tubuh yang sudah tak utuh lagi. Ada hantu yang melayang di udara dengan hanya bagian pinggang ke atas saja, sedangkan bagian tubuh bawahnya hilang entah kemana. Darah tak hentinya menetes dari pinggang si hantu. Ada pula hantu yang perut dan dadanya terbelah dua sehingga organ dalamnya menggantung keluar. Nana ngilu sekaligus mual melihat organ manusia yang tampak berceceran keluar. Bukan hanya itu, ada pula hantu tanpa kepala, tanpa tangan dan kakinya. Hanya tubuhnya saja yang melayang-layang di udara. Ya, semua hantu itu dalam keadaan mengenaskan, tak ada satu pun hantu yang masih memiliki tubuh yang utuh. Nana berteriak dan seketika mengambil langkah seribu tatkala beberapa hantu mulai melayang menghampirinya. “Tolooong!!” Teriaknya, sekencang yang dia bisa. Tidak salah lagi beberapa hantu menyeramkan itu masih melayang mengejarnya. Memang benar dibandingkan dulu, Nana sudah lebih berani sekarang. Sekedar melihat penampakan mereka, Nana sudah tak takut lagi. Tapi ... jika dirinya harus dikejar-kejar seperti sekarang, jelas keberaniannyabelum sampai pada tahap itu. “Ke sini, Nak. Ke sini!!” Nana menoleh saat telinganya menangkap suara teriakan seorang pria. Dilihatnya seorang pria paruh baya tengah membukakan pintu pagar untuknya. Tanpa berpikir dua kali, Nana berlari menghampiri pria itu. Ikut masuk ke dalam rumahnya tanpa perlu repot memastikan ke belakang apakah para hantu masih mengejarnya. Napas Nana terengah hebat saat dirinya kini sudah berada di dalam rumah pria penolongnya. “Terima kasih, Pak. Sudah mengizinkan saya masuk,” ucap Nana pada si pria baik hati yang telah menolongnya. “Silakan duduk.” Dan Nana pun tak menolak kebaikan pria itu, detik itu juga dia duduk di kursi kayu yang terletak paling dekat dengannya. “Bu, ambilkan minuman. Ini ada tamu!” Teriak pria itu, mungkin pada istrinya. Tak berselang lama, seorang wanita paruh baya muncul dengan membawa nampan berisi segelas air putih. Meletakan gelas itu tepat di depan Nana. “Silakan diminum airnya.” “Terima kasih, Bu,” jawab Nana, tanpa ragu dia teguk air itu hingga hampir tandas. Dia memang kehausan karena terlalu banyak berlari barusan. Sang wanita kembali pergi meninggalkan Nana berdua saja dengan pria baik hati yang menolongnya. “Sebenarnya kamu ini siapa? Kenapa datang ke desa kami? Kenapa kamu lari-lari tadi?” Sang pria melontarkan pertanyaan. Nana terdiam, masih menormalkan degup jantungnya yang berdetak cepat. Dia juga ragu untuk menceritakan dirinya baru saja dikejar sekumpulan hantu gentayangan. Besar kemungkinan pria itu tidak akan mempercayai ceritanya, jelas hanya Nana seorang yang bisa melihat penampakan mereka. “Oh iya, saya Rahman, kepala desa di sini,” tambah si pria, mengenalkan diri. “Nama saya Nana, Pak. Saya salah satu karyawan di perusahaan Ernesto Group. Perusahaan yang sedang merencanakan pembangunan resort tak jauh dari sini.” Raut wajah sang kepala desa berubah, tak seramah tadi lagi. Nana sadar betul dengan perubahan ekspresi pria di hadapannya. “Mau apa kamu ke desa ini?” Tanya Pak Rahman ketus. Nana merasa inilah saat yang tepat untuk mencari tahu apa yang terjadi di tempat ini. “Kalau kamu datang kemari karena ingin membujuk kami untuk memberikan izin pembangunan resort, silakan angkat kaki dari sini. Kami tetap tidak akan memberikan izin,” tambahnya, semakin terlihat emosi. “Bukan itu tujuan saya datang kemari, Pak.” Akhirnya Nana menjawab. Menyadari sepenuhnya Pak Rahman telah salah paham dengan kedatangannya. “Sebenarnya saya ini masih karyawan baru. Saya belum tahu apa-apa tentang pembangunan resort ini. Saya bahkan baru dua hari menetap di sini,” terang Nana, kepala desa terdiam, raut wajahnya mulai tenang kembali. “Saya datang ke sini karena saya ingin menanyakan beberapa hal pada Anda. Saya ingin mencari tahu apa yang terjadi di sini. Kenapa warga desa melarang pembangunan resort?” Tanya Nana, langsung ke intinya. Kepala desa menundukan kepalanya, tampak ragu untuk menjawab. Namun Nana tak gentar, dia tetap menunggu dengan sabar di tempat duduknya. “Tolong ceritakan pada saya, Pak. Jika alasannya bisa diterima dan masuk akal, saya akan membantu Bapak dan seluruh warga desa untuk menyampaikan keberatan kalian pada pimpinan saya.” Mendengar ucapan Nana ini, seketika kepala desa mendongak. Menatap Nana dengan raut wajah cerah seolah baru saja mendapatkan jalan keluar untuk masalahnya. “Sebenarnya, hutan yang ingin kalian jadikan resort itu tidak boleh diganggu.” “Kenapa, Pak? Ada apa di hutan itu?” Tanya Nana, tak sabar. “Masalahnya bukan pada hutannya, tapi pada gunung yang ada di belakang hutan.” Nana tertegun, seperti dugaannya, memang gunung itulah yang sejak awal tampak aneh menurut Nana. “Ada apa di gunung itu?” Nana kembali bertanya. “Gunung itu ada penunggunya. Dia tidak suka daerah kekuasaannya diganggu manusia. Dia juga tidak suka ketenangannya terganggu.” “Makhluk apa penunggu gunung itu? Apa hewan buas?” Kepala desa menggelengkan kepalanya. “Tidak ada yang tahu dia makhluk apa. Selama ini tidak ada manusia yang hidup setelah melihat sosoknya.” Nana membekap mulutnya, terkejut luar biasa mendengar cerita kepala desa. “Makhluk itu sering turun gunung. Biasanya dia berjalan-jalan di hutan. Suara geramannya sering terdengar bahkan sampai ke desa ini.” “S-Suara geraman? Mungkinkah dia itu sejenis hewan buas, Pak? Seperti harimau atau serigala mungkin?” Terka Nana, yang direspon kepala desa dengan gelengan kepala. “Saya rasa dia bukan hewan buas biasa. Entah makhluk apa itu, yang pasti dia sudah menempati gunung itu sejak ratusan tahun lalu. Leluhur kami di desa ini selalu menasehati kami agar tidak masuk ke hutan apalagi mendekati gunung itu.” “Dia sudah hidup ratusan tahun lalu?” Kepala desa mengangguk. “Artinya mustahil dia hewan buas biasa.” “Iya, dia mungkin monster dari dunia lain,” sahut kepala desa, yang sukses membuat Nana terbelalak tak percaya. “Kenapa dia bisa menetap di gunung itu?” “Tidak ada yang tahu kenapa dia bisa menetap di gunung itu, hanya saja kami yakin makhluk itu memang ada karena suara geramannya yang sering kami dengar, dan juga banyak warga desa kami yang menjadi korban keganasannya.” Nana tak tahu harus bereaksi seperti apa sekarang, selain diam menantikan Pak Rahman melanjutkan ceritanya. “Ada banyak warga desa kami ditemukan tewas di dekat hutan. Kondisi mereka sudah tidak utuh, seperti mereka mati karena diserang hewan buas dan beberapa bagian tubuh mereka dimakan hewan itu. Tapi kami yakin sekali, bukan hewan buas yang membunuh mereka, tapi makhluk itu.” “Biasanya dalam setahun ada dua sampai tiga warga kami yang tewas karena dijadikan mangsa makhluk itu,” lanjut Pak Rahman. “Jadi, makhluk itu tidak sering membunuh?” Tanya Nana lagi. “Tidak, dia hanya membunuh kalau lapar saja. Karena itu tidak ada warga kami yang berani mendekati hutan apalagi gunung itu. Kami selalu diam di rumah, khawatir makhluk itu turun gunung dan datang ke desa kami.” “Kenapa kalian tidak pergi saja dari desa ini?” Kepala desa terdiam, menghela napas panjang setelah mendengar pertanyaan Nana itu. “Memangnya kami harus pindah kemana? Kami tidak punya tempat lagi selain di desa ini.” Dan untuk kesekian kalinya Nana terdiam, tak tahu harus bereaksi seperti apa. “Itulah sebabnya kami melarang pembangunan resort di tempat itu. Coba kamu bayangkan, bagaimana jika tempat itu sudah dijadikan resort, lalu banyak turis yang datang? Mereka dalam bahaya. Makhluk itu bisa memangsa mereka kapan saja.” Mendengar cerita Pak Rahman ini, Nana teringat pada mayat Jaka yang mereka temukan kemarin. Tubuh mayat itu sudah tak utuh lagi, hanya menyisakan potongan tangan dan kakinya saja. Nana yakin cerita Pak Rahman memang benar adanya. Makhluk penunggu gunung itu memang benar ada. “Sudah berulang kali kami melakukan demo agar pembangunan resort di hentikan. Tapi permintaan kami tidak pernah didengar oleh mereka. Mereka malah mengusir kami, kemarin mereka menghina kami dengan memberikan kami sejumlah uang. Padahal kami sama sekali tidak butuh uang mereka. Kami hanya kasihan pada mereka, kami juga takut karena perbuatan mereka ini, akan berimbas buruk untuk desa kami juga.” Nana memahami kondisinya sekarang. Dan dia setuju sepenuhnya dengan pendapat kepala desa begitu pun seluruh warga desa ini. “Saya mengerti, Pak. Saya juga percaya pada cerita Bapak. Saya akan mencoba menyampaikan cerita ini pada atasan saya. Saya akan berusaha meyakinkan pimpinan saya agar pembangunan resort ini dihentikan.” Kepala desa tersenyum lebar mendengar penuturan Nana. Tak hentinya mengucapkan terima kasih pada Nana. Nana pun keluar dari rumah kepala desa. Mengumpulkan keberaniannya untuk melewati tempat angker tadi, dimana dirinya harus melihat banyak hantu gentayangan disana. Sekarang Nana tahu siapa hantu-hantu yang mengejarnya tadi, pasti mereka warga desa yang telah menjadi korban keganasan makhluk penunggu gunung. Dalam hatinya Nana bertekad, dia akan menghentikan proyek pembangunan resort ini dengan cara apa pun, sekali pun dia harus berhadapan dengan sang CEO, Rex Ernesto yang Nana sendiri meyakini dirinya belum pernah bertemu dengan pimpinan tertinggi perusahaan Ernesto Group tersebut. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD