Beli TV

1478 Words
NERAKA UNTUK MADUKU Part 3 Oleh : LinDaVin88 ••• Aku dan Bunda meninggalkan meja makan yang menjadi satu dengan dapur. Masih bisa aku lihat wajah kacau Indah saat Ibu memintanya untuk membereskan semuanya. "Indah, kamu itu sudah, cantik, pinter, nurut, rajin lagi. Ibu tambah sayang sama kamu." Kembali terdengar suara Ibu dari dapur. "Sayang, kalau sudah nanti istirahat di kamar Ibu ya, sambil pijitin Ibu. Nanti ibu kasih tau apa saja yang Aris suka, dan apa yang anak itu tidak suka. Eh jangan lupa disapu sama dilap juga, biar kinclong kayak kamu," ucap Ibu lagi. Terlihat Ibu, meninggalkan Indah yang masih didapur, tak berapa lama terdengar suara kran dinyalakan. Suara panci bersentuhan dengan benda lainnya menandakan Indah sedang berkutat dengan aneka benda dapur yang lepas digunakan. "Indah, jangan lupa sampahnya sekalian dibuang ke depan ya, sayang," teriak Ibu dari kamar. "Iya, Bu," jawab Indah. Aku duduk di ruang tengah depan televisi, sambil memindahkan kacang shanghai dari toples ke dalam mulut. Apa ini solusi atau jalan keluar dari masalah ini. Tetap saja sakit hati ini sulit terobati. Ketika kesetiaan dikhianati oleh pria yang dicintai, rasa sakitnya menelusup dalam di dasar hati. Sakit yang tak berdarah, namun perihnya lebih dari luka badan yang masih basah, ngilu, panas, nyeri semua menjadi satu. Sekarang puaskah aku hanya mengerjai bocah bina* itu? Pasti jawabannya tidak. Bukan hanya pihak perempuan yang salah, mas Aris Pun sama harus diberi pelajaran. Memaafkan mungkin mudah, namun untuk kembali percaya, dan mencintai sepenuhnya, aku belum bisa. Aku hanya manusia biasa yang memiliki kesabaran yang berbatas. Hanya mempertimbangkan kasih sayang Ibu padaku, dan hubungan Ibu dengan Bundalah, kemungkinan alasan yang bisa membuatku kembali menerima Mas Aris setelah dia menyadari kesalahannya. Terlihat Ibu keluar kamar dan berjalan ke arah Indah yang masih di dapur. "Sayang, ini masih kotor semua, masih ada sabun juga. Cuci yang bersih dong anak cantik. Di bilas lagi, ini … ini juga, itu juga." Tak berapa lama kembali terdengar suara Ibu dari arah dapur.  Bunda mencolek tanganku, aku yang masih asyik dengan kacang shanghai, hanya sedikit mengangkat alis. "Sana, pura-pura bantu," ucap Bunda. Aku beranjak, meletakkan toples di atas meja dan berjalan ke dapur. Melihatku datang, Ibu mengangkat sudut bibirnya, menampakkan wajah sinis di hadapan Indah. Indah ikut menoleh ke arahku, namun tanpa ekspresi. Sepertinya dia terlalu lelah. Di rumahnya pasti bocah bina* ini diperlakukan bagai ratu, mimpi apa dia semalam di sini dia menjadi babu. Salah dia berurusan denganku. "Biar, Rena saja yang cuci, Bu," ucapku halus. "Nggak usah," jawab Ibu ketus. "Rena nyapu sama ngepel aja kalau gitu," ucapku kemudian. "Ngapain sih? jangan pikir, dengan kamu sok baik ibu jadi berpaling ke kamu. Mimpi … mata Ibu baru terbuka, untung ada kamu Ndah, jadi Ibu tau, kalau Rena nggak bisa ngurus Aris dengan baik." Ibu mengusap lembut punggung Indah. Aku tertunduk, mengusap air mataku yang ikut ambil bagian dalam sandiwara ini. "Sudah sana, Indah yang nyapu sama ngepel, aku mau buktikan ke Aris tanpa kami, rumah ini bisa bersih dan rapi." Ibu berucap dengan nada sinis dan tatapan ala mertua di sinetron. ••• Semua pekerjaan rumah hari ini di lahap habis oleh Indah dengan terpaksa. Bajunya tampak berlipat lusuh seperti penampakan wajahnya. Namun pujian dari Ibu, yang mengangkatnya tinggi, sedikit menjadi booster baginya. Merasa mendapat dukungan dari Ibu mertua pastilah, Indah bahagia dibuatnya. Tanpa disadari dia sedang mencari nerakanya sendiri. Kami berempat sedang duduk menghadap televisi, di rumah itu hanya ada satu televisi 21 inch. Ibu terlihat menaik turunkan kacamata yang dikenakannya. "Ibu, matanya sakit. Rena carikan obat mata ya," ucapku kemudian. "Nggak usah sok perhatian," jawab Ibu ketus. "Ini tivi kenapa kecil sekali sih," keluh Ibu masih memainkan kacamatanya. "Kabur lagi gambarnya," lanjut Ibu lagi. Ibu yang duduk di bawah sambil meluruskan kaki, terlihat merapat pada Indah yang duduk di sampingnya. Indah yang semula sibuk dengan ponsel di tangan, mulai menoleh ke arah Ibu.  "Kamu minta ke Aris, televisi baru. Bisa sakit mata kalau lama-lama liat tivi sekecil ini." Ibu mulai memprovokasi Indah. "Biar Rena yang bilang, Bu." ucapku "lagian ini kan rumah Rena juga." "Diam, siapa yang ngajakin kamu bicara," bentak Ibu. "E ... e … e, berani kamu bentak anakku," balas Bunda. "Siapa suruh dia nyaut aja pembicaraan orang," tungkas Ibu. Senyum tipis nan mengejek menghias bibir Indah, gadis bina* itu sedang merasa di atas angin. Aku hanya melihat sekilas kemudian mengalihkan pandanganku saat dia melihat ke arahku. "Ibu, mau televisi yang besar? Malam aja ya Bu, nanti sama Indah lihat-lihat di toko elektronik," ucap Indah kemudian. "Hahaha, cuma lihat-lihat aja, beli dong. Ngakunya orang kaya eh, cuma lihat-lihat," sahut Bunda. "He … denger, mantuku ini kaya raya, jangankan cuma televisi, harga dirimu saja bisa di belinya," teriak Ibu. Pertengkaran kembali terjadi, satu kata, luar biasa. Aku hanya terdiam menikmati keseruan ini. ••• Selepas magrib, Ibu sudah terlihat bersiap menunggu di ruang tengah. Indah masih bersiap, belum keluar dari kamar Ibu. Mas Aris juga belum terlihat pulang. Aku dan Bunda duduk di depan televisi seperti biasa, hanya bedanya kami duduk di bawah, Ibu duduk di sofa. Tak berapa lama Indah keluar dari kamar. "Kamu ikut, ganti baju," perintah Ibu padaku.  "Ngapain di ajak Bu?" tanya Indah pada Ibu, terlihat tak suka. "Buat kasih bukti, kalau kita nggak cuman lihat-lihat aja. Biar mingkem itu mulut emaknya," bisik ibu, namun dengan suara jelas. "Malas, pergi aja sendiri," balas Bunda. "Tuh, kan. Ada yang ngaku kalah sebelum berperang," cibir Ibu. Mendengar cibiran Ibu, Bunda merasa tak terima, langsung menarikku ke kamar dan berganti pakaian.  "Bunda luar biasa," ucapku sambil merapikan rambutku setelah memoles sedikit wajahku dengan bedak dan lipstik. "Ningrum, Ibumu juga." Bunda menahan tawanya. Bagaimana tidak kompak, mereka bersama sejak kecil, nenekku dan nenek mas aris juga bersahabat. Jadilah kami seperti keluarga sendiri.  Pernikahanku dan mas Aris bukan hasil perjodohan. Kami sama-sama menyimpan rasa sejak lama. Dan akhirnya ketika kami utarakan untuk menikah semua menyambut dengan begitu bahagia. Siapa menyangka, dengan mudahnya mas Aris menduakan cinta. Bukan hanya pacaran tapi sebuah pernikahan siri. Heran juga kenapa orang tua Indah mendukung begitu saja, sedangkan mereka tau kalau mas Aris sudah berkeluarga. "Woi, jangan lama-lama," teriak Ibu dari luar kamar. Aku dan Bunda saling berpandangan dan kembali memasang wajah tak suka. "Mulut apa petasan sih, dar dor dar dor," oceh Bunda saat keluar kamar. "Kayak mo kondangan aja, pake dandan lama," balas Ibu sambil bangun dari duduknya. "Halah …." "Bunda sudah," ucapku ke Bunda, menggoyang tangannya untuk memintanya diam. "Maaf, Bu," lanjutku meminta maaf kepada Ibu. Ibu hanya mengangkat sudut bibir atasnya. ••• Dalam perjalanan tak henti-hentinya Bunda dan Ibu membuat keributan. Yang tak tau pasti mengira mereka benar-benar sedang bertengkar. Indah membawa kami ke sebuah toko elektronik terbesar di kota ini.  Mata Ibu dan Bund dibuat melotot melihat isi toko, kalau yang itu benar tak dibuat-buat.  "Indah, sayang ini apa?" tunjuk Ibu pada sebuah juicer keluaran terbaru.  "Buat bikin jus itu, Bu," jelas Indah. "Oh, Blender," sebut Ibu. "Hampir sama, tapi beda. Ini ampasnya keluar terpisah," jelas Indah lagi. "Oh gitu, bagus ya," ucap Ibu sambil mengamati benda itu. "Mana bisa, menantuku yang itu belikan kayak gini." "Ibu mau?" tanya Indah terpancing. Ibu mengangguk pelan dan memasang senyum. Indah segera memanggil salah satu pelayan dengan melambaikan tangannya. "Mbak, mau yang ini ya," ucapnya pada pelayan toko tersebut. "Baik, Kak," jawab mbak pelayan toko. "Siapa dulu dong, mantu kesayangan, terimakasih ya cantik," ucap Ibu setelah si pelayan pergi. Bunda memajukan bibir bawahnya. Ibu tertawa puas. Kami menuju ruang khusus televisi, berbagai merk dan ukuran berbaris rapi di dalam ruangan, seorang pelayan menyambut kami dan mulai menjelaskan kelebihan tiap barang yang terpajang. Bunda memberi kode untuk kami keluar ruangan, suara Ibu menahan langkah kami. "Mau, kemana?" tanya Ibu, dengan senyum kemenangan. Apakah kedua wanita ini dulunya pemain film, pandai sekali mereka bersandiwara. "Hmm, kenapa? Nggak kuat lihatnya. Apa aku bilang, jangankan cuma tivi seluruh isi toko mantuku sanggup beli," ucap Ibu mendekat ke arah kami. Indah mengekor Ibu. Senyum puas tersungging di bibir bergincu pink menyala itu. "Sayang, tak salah Aris memilihmu. Benar-benar mantu Idaman." Ibu memuji Indah di depanku. Bunda hanya melengos, aku menunduk memandangi lantai. "Baru tivi aja, dah sok paling kaya sedunia," celetuk Bunda. "Eh … eh, apa kamu bilang. Indah tutup mulut perempuan ini, belikan tivi yang paling bagus dan mahal. Hai sini!" Ibu memanggil pelayan yang tadi memberi penjelasan kepada kami. Pelayan pria itu datang dan menyapa kembali dengan ramah. "Saya mau tivi yang paling bagus, keluaran paling baru," ucap Ibu kepada si pelayan. "Ada Ibu, mari." Pelayan itu mengajak kami berjalan ke sudut lain dalam ruangan. Sebuah televisi led berlayar lebar ditunjuk oleh mas pelayan toko. Aku melongo melihat harga yang terpasang di depanya. Tiga puluh dua juta empat ratus sembilan puluh sembilan ribu sembilan ratus rupiah. Aku mengerjapkan mataku. Benat hampir tiga puluh tiga juta. "Wah, boleh. Ibu mau yang ini," ucap Ibu sambil mengelus tv berlayar sangat lebar itu. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD