PART 3 - MAHKOTA

1552 Words
"Zufar, file penjualan Umik ketinggalan diruang kerja. Kamu disini dulu ya, biar Umik balik kesana dan mengambilnya." Ucap Fara sembari siap-siap untuk turun dari mobil. Zufar menepati janjinya untuk mampir ke kantor Umiknya dan mengajaknya pulang. "Jangan Mik, biar Zufar saja yang mengambilnya... Memang warna mapnya apa?" Tanya Zufar sembari memegang lengan Umiknya yang hampir membuka pintu mobil. Fara tersenyum. "Map warna merah. Kamu tanya saja sama sekretaris Umik yang namanya Adibah, atau staff admin yang namanya Alena." Ucap Fara jelas. "Baik Umik, siap." Jawab Zufar bersemangat dan beranjak turun dari mobil warna hitamnya yang terlihat mewah. Laki-laki itu melangkahkan kakinya keruangan yang masih banyak penghuninya. Para karyawan masih sibuk bekerja, begitu juga dengan orang yang harus ia temui yaitu Adibah atau Alena. Dia tidak tahu wajah mereka seperti apa, karena memang Fara tidak pernah memperkenalkan siapapun yang ada dikantor pada Zufar. Yang dia tahu didalam sana, hanya letak ruang kerja Umiknya, dan pin untuk masuk keruang kerja itu. Laki-laki itu terus melangkahkan kakinya menuju ruangan itu. Sepertinya tidak perlu mencari dua perempuan itu, bukannya Umiknya sudah memberi tahu kalau yang harus ia ambil adalah map berwarna merah. Dan kini Zufar menekan tombol yang ada disamping pintu, dan layar yang ada diatasnya menampilkan simbol bintang. Terlihat sekali kalau itu privasi, dan orang lain yang tau itu hanya sekretaris juga staff administrasi. Pintu terbuka dan memperlihatkan ruangan klasik yang menenangkan, dengan diatas meja terdapat sebuah Al-Quran dan pigura berisi foto persis yang ada diatas mejanya. Laki-laki itu melangkahkan kakinya ke meja itu, tersenyum ketika melihat foto yang selalu mengingatkannya dengan waktu dimana saat dia masih berumur 7 tahun, sedang bermain bersama Zulfikri dan Fara, kedua orangtuanya. Zufar tersenyum mengingat itu. Tapi wajahnya berubah ketika saat itu juga, setelah acara foto selesai dan juga permainannya disudahi, Abinya merasa kesakitan diperutnya, saat itu Zufar tidak tahu apa yang terjadi dengan laki-laki yang tadinya sangat asyik bermain dengannya, tiba-tiba merasa kesakitan bahkan hampir tidak sadarkan diri. Dan ketika dibawa kerumah sakit, Abinya didiagnosa mengalami Nephrotic Syndrome, hanya itu yang dia tahu, dan itu juga penyebab Abinya meninggal. Sekarang, dia tahu Nephrotic Syndrom yang dimaksud itu apa, penyakit ini lebih dikenal dengan bocor ginjal, ini merupakan penyakit yang menganggu penyaringan protein pada ginjal sehingga menyebabkan terjadinya kebocoran protein di ginjal. Penyakit ini menyebabkan kurangnya protein di darah sehingga protein merembes ke urin. Tidak ada rasa sakit yang ditimbulkan oleh penyakit ini, maka dari itu sering terjadi keterlambatan dalam penanganan medisnya. Zufar mencoba menghilangkan sejenak rasa sedih itu, dia harus fokus pada tujuan awalnya yaitu mengambil file didalam map merah yang ada diatas meja. Dia mengalihkan pandangannya ke berkas-bsrkas disamping foto itu. Dan begitu terkejutnya Zufar, ketika melihat semua map yang ada disana berwarna merah. "Umik bagaimana, semua file mapnya berwarna merah." Gerutunya, sembari berbalik melangkah keluar ruangan, mencari perempuan bernama Adibah atau Alena adalah tujuannya sekarang. Ketika laki-laki itu berada diambang pintu, seorang perempuan dengan rok pendeknya yang dipadu padankan dengan cardy berwarna abu-abu juga kemeja berwarna biru navy terlihat kaget saat melihat orang asing sedang ada diruangan pimpinannya tanpa seijinnya atau sekretaris. "Siapa anda? Bagaimana anda bisa masuk keruangan ini?" Serbu pertanyaan dari perempuan itu. "Saya Zufar, anak dari Ibu Fara." Ucap Zufar memperkenalkan dirinya. Perempuan itu terlihat mengamati Zufar dari atas ke bawah dan kembali lagi ke atas. "Saya sudah pernah mendengar tentang anda, perkenalkan, nama saya Alena." Ucap perempuan itu dengan ramah sembari menyodorkan tangannya untuk bersalaman. Tapi Zufar membalasnya dengan tangan yang disedekapkan didada sembari menunduk. Alena segera menurunkan tangannya dan terlihat salah tingkah. "Bisakah anda tolong saya untuk mencarikan file penjualan dimap warna merah?" Tanya Zufar. "Tentu, mari saya bantu mencarinya." Jawab perempuan itu. Sebelum Alena melangkah, Zufar mendahuluinya masuk kedalam. "Ibu Fara sering sekali bercerita tentang anda Pak, seorang dokter profesional yang ramah pada pasiennya." Ucap Fara yang baru sampai didepan meja setelah Zufar. Zufar membalasnya hanya dengan senyuman. "Ibu Fara memang orang yang baik, makanya tidak heran kalau turun ke anaknya." Ucap perempuan itu lagi. "Terimakasih, tapi sebaiknya anda cepat mencarikan file itu. Ibu Fara sudah menunggu dimobil." Sahut Zufar yang merasa risih diperhatikan Alena, bukan segera mencari file yang butuhkan Zufar, dia malah berdiri sembari berbicara menghadap Zufar. "Iya Pak." Merasa tidak enak, perempuan itu segera mencarikan file yang tertumpuk berkas-berkas lainnya. "Tapi Ibu Fara sudah perlu memiliki pengganti, sedangkan anda sendiri sangat fokus dikarir anda sebagai dokter. Jadi saya sarankan untuk anda mencari jodoh yang yaa, memiliki bakat berbisnis yang tinggi." Ucap perempuan itu lagi. "Alena." Tiba-tiba suara perempuan terdengar dari ambang pintu. Sudah berdiri seorang perempuan dengan rok panjang, juga kemeja abu-abunya yang sepadan dengan jilbabnya yang ujungnya diikat kebelakang. Perempuan itu terlihat panik. "Pak Zufar." Ucap lagi perempuan itu. "Adibah." Ucap Zufar yang mengetahui perempuan itu. Ternyata dia ingat, dia sudah mengenal dan pernah bertemu dengan sekretaris Umiknya itu. Meski tidak terlalu mengenal, tapi dia tahu Adibah adalah perempuan yang baik. "Ada perlu apa Pak Zufar datang kesini?" Tanya Adibah sembari melangkah mendekati kedua orang yang ada didepan meja kerja Fara. Sedangkan Alena berhenti mencari file itu. "Saya mencari file penjualan di map merah, kamu bisa bantu saya?" Ucap Zufar ramah, rasanya lebih nyaman dengan perempuan berjilbab itu daripada Alena. "Loh Pak, saya kan sedang membantu Pak Zufar. Hanya mencari file saja, tidak perlu dua orang untuk mencarinya." Sahut Alena. "File penjualannya tidak ditumpukan berkas itu Alena, tapi ditumpukan sebelah kirinya." Ucap Adibah menunjuk tumpukan berkas lagi yang ada disamping tumpukan berkas sebelumnya. Alena terlihat kesal, dia sudah susah-susah mencari tapi ternyata salah tempat. "Biar saya saja yang mencarinya, kamu bisa balik keruangan. Tadi katanya ada yang mau bertemu kamu untuk interview." Ucap Adibah lagi. Alena terlihat sebal dengan Adiba. Perempuan itu terlihat ogah-ogahan untuk keluar. *** "Terimakasih sudah membantu mencari file ini." Ucap Zufar yang sudah memegang map berwarna merah yang diyakini memang benar berisi file penjualan. "Sama-sama Pak, Ibu Fara pasti sudah menunggu anda." Ucap Adibah yang berjalan tidak jauh dari Zufar. Tiba-tiba perhatian mereka berdua teralih oleh dua orang perempuan yang sedang duduk diantara sekat-sekat. Sekilas percakapan itu terdengar oleh mereka berdua. "Potensi anda amat bagus, dan kerja anda cukup optimal menurut saya. Anda besok sudah boleh bekerja, tapi satu syarat, anda harus melepas jilbab yang anda pakai. Apa anda tidak keberatan untuk hal itu?" Ucap perempuan yang ternyata Alena. Dia sedang menginterview calon karyawan baru. "Maaf, meski dalam bekerja, saya juga seorang muslimah yang berkewajiban menutup aurat." Jawab perempuan itu dengan tegas. "Memang jilbab menutup aurat, tapi dari pandangan laki-laki kan? Sedangkan diruangan ini hanya ada karyawan perempuan saja. Anda bisa berangkat dijalan memakainya, dan sampai disini melepasnya, juga saat pulang anda bisa memakainya lagi." Ucap Alena. "Itu mudah bukan? Kenapa harus dibuat susah." Tambahnya. "Maaf sekali lagi, tapi ini susah untuk saya.  Menurut saya jilbab adalah identitas wanita Islam, mahkota yang harus di junjung tinggi. Jika seorang wanita telah memutuskan untuk berjilbab, maka ia harus siap dengan segala konsekuensinya. Siap menjaga sikap dan perilakunya. Terlepas dari segala argument tentang hak asasi seseorang untuk bebas melakukan apapun sepanjang tidak mengganggu kepentingan orang lain, wanita yang telah memutuskan untuk berjilbab hendaknya menjaga adab perilaku. Jika anda masih menginginkan saya untuk melepas jilbab ini, saya mohon maaf, saya tidak akan mengambil pekerjaan ini. Itu konsekuensi yang harus saya terima, dan saya ikhlas." Jawab perempuan itu dengan sangat jelas. "Anda melepas begitu saja pekerjaan ini? Masih untung anda diterima diposisi yang belum tentu orang bisa mendapatkannya." Ucap Alena. "Maaf sekali lagi Bu, kalau memang posisi itu mengharuskan saya untuk melepas jilbab ini, saya mohon maaf, saya tidak bisa... Saya undur diri, permisi." Ucap perempuan itu yang langsung berdiri. Dan membuat wajah Alena terlihat kesal, sok alim, pikirnya. "Tunggu..." Ucap Zufar sembari menghampiri kedua perempuan itu, Alena berdiri dan perempuan yang diinterview itu berhenti melangkah. "Sejak kapan Bu Fara melarang karyawannya untuk memakai jilbab?" Tanya Zufar. Dan Alena terlihat ketar-ketir saat  laki-laki itu bertanya dengannya. Alena menundukkan wajahnya. "Apa Bu Fara menyuruh karyawan yang berjilbab untuk melepasnya?" Tanya lagi Zufar. "Ti.. Tidak Pak, Bu Fara tidak pernah melarang itu." Jawab Alena. "Lalu kenapa calon karyawan baru sepertinya diharuskan melepas jilbab?" Tanya Zufar sembari menunjuk perempuan yang bersebrangan dengannya. "Agar sepadan dengan karyawan lainnya Pak." Jawab Alena pelan. "Sepadan? Kenapa bukan karyawan lain saja yang memakai jilbab, atau kamu juga, memakai baju yang lebih tertutup tidak mencoreng posisi kalian kan?" Ucap Zufar yang emosinya terpancing, karena sebuah alasan yang tidak logis. "Kalau itu alasan kamu Alena, kenapa kamu tidak menyuruh saya juga untuk melepas jilbab ini? Atau Ibu Fara yang memakai jilbab syar'i?" Sahut Adibah yang ada dibelakang Zufar. Alena kicep, dia harus beralasan apa lagi, sekarang dia benar-benar terpojok. "Baiklah, Maisarah. Kamu bisa bekerja disini tanpa perlu melepas jilbab itu. Saya permisi..." Alena langsung pergi kearah kamar kecil. Entah untuk apa dia kesana. Perempuan bernama Maisarah itu tertegun. "Baiklah Adibah, saya kembali ke mobil. Terimakasih sekali lagi." Ucap Zufar melirik kearah belakang yang ada Adibah disana. "Sama-sama Pak, baiklah saya kembali bekerja dulu Pak. Selamat sore." Adibah pergi, begitupun Zufar yang juga melangkahkan kakinya keluar. Zufar melewati perempuan bernama Maisarah itu, sepertinya perempuan itu masih tidak percaya. "Saya salut dengan istiqomahmu dalam berjilbab." Ucap Zufar pelan ketika berpapasan dengan Sarah. Perempuan itu menoleh kearah Zufar, dan Zufar tersenyum kearahnya, senyum yang terbilang sangat manis, siapapun akan langsung terserang diabetes jika melihatnya. Perempuan itu diam dan kembali menundukkan wajahnya. Membuat senyum Zufar yang tadi mengembang tiba-tiba berubah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD