Reyhan menghantamkan helmnya ke kepala Dion dan Vigo. Keduanya pun jatuh terduduk dengan kepala yang sudah mengucurkan darah segar. Caca yang menyaksikan perbuatan Reyhan pun hanya mampu menutup mulutnya, takut.
“Lo mau gue bebasin Ado setelah dia bunuh sahabat gue?” tanya Reyhan seraya menendang tulang kering Vigo dan menjambak rambut Dion.
Reyhan berjongkok di hadapan keduanya. Tangan kirinya menjambak rambut Vigo sementara yang lain menjambak rambut Dion. Ia lalu meludahi wajah Dion dan Vigo, setelah itu menghempaskan dengan kasar seolah-olah mereka bukan manusia, melainkan benda mati.
“Berani lo datengin gue lagi ... siap-siap buat habis di tangan gue!” geram Reyhan.
Reyhan memungut helmnya, kemudian kembali menghampiri motor sportnya beserta Caca yang sejak tadi menjadi saksi bisu akan perilaku bengisnya.
“Naik, Ca!” titah Reyhan sembari menyalakan mesin motornya.
Caca mengerjapkan mata, kemudian naik motor. Saat Reyhan sudah siap melajukan motornya, tiba-tiba saja gerombolan geng Triton datang dari depan. Mereka menghadang Reyhan dan Caca, bahkan salah satu dari mereka sudah melemparkan batu yang mengenai bagian depan motor Reyhan.
“s**l!” maki Reyhan.
Cowok itu berniat untuk turun dan menghadapi gerombolan geng Triton yang berjumlah sekitar 25 orang itu, tetapi Caca mencegahnya.
“Lo gila? Mending kita pergi sekarang!” seru Caca.
“Pergi? Kalau gue pergi mereka bakal anggap gue pengecut,” jawab Reyhan yang tak setuju dengan pendapat Caca.
“Kalau lo turun, gue nggak akan pernah mau lihat lo lagi!” ancam Caca.
Akhirnya, Reyhan menuruti kata-kata Caca. Ia memutarbalikkan arah motornya dan melajukan dengan kecepatan tinggi, sementara geng Triton tak membiarkan mereka begitu saja. Kini, mereka sudah mengejar Reyhan, bahkan ada beberapa orang yang berhasil mengimpit motor Reyhan dan berusaha menendang motor cowok itu.
“Ca, pegangan yang erat!” teriak Reyhan. Caca menuruti perintah Reyhan. Cewek itu memeluk Reyhan dengan erat karena takut terjatuh.
Di sela-sela ketegangan yang mereka rasakan, Reyhan justru menyunggingkan senyum tipisnya. Mungkin, sekarang ia harus senang karena berkat anak-anak Triton jadi bisa berada dalam momen seperti ini dengan Caca.
“Rey, mereka masih ngejar kita!” seru Caca.
Mata Reyhan berkedip beberapa kali, lalu menatap kaca spion. Di belakang mereka ada beberapa anak Triton yang masih juga mengejar mereka.
“Rey, di depan belok kanan, deh!” seru Caca.
“Buat apa?” tanya Reyhan dengan suara lantang.
“Udah belok aja!” seru Caca.
Reyhan menuruti saran Caca. Ternyata, beberapa meter kemudian ada kantor polisi.
“Berhenti!” titah Caca.
“Mau ngapain?” tanya Reyhan.
“Udah berhenti aja!” titah Caca.
Sekali lagi, Reyhan menuruti permintaan Caca. Ia menghentikan motornya di depan kantor polisi. Lantas, anak-anak Triton pun berhenti mendadak. Mereka mengumpat keras. Hal itu membuat mereka tak berani mendekat. Karena jika sampai mendekat dan berkelahi, bos mereka yang akan menanggung semuanya. Akhirnya, mereka pun pergi dari sana.
“Nah, kan! Mereka nggak berani nyamperin kita,” ucap Caca.
“Gue kira lo nyuruh gue lapor polisi,” sahut Reyhan.
Caca mendengkus pelan. “Kalau lapor polisi kita juga kena,” jawab Caca.
Cowok itu tersenyum tipis, lalu mengetuk helm yang melindungi kepala Caca. “Lo pinter juga ternyata,” puji Reyhan.
“Faedah gue sekolah apa kalau gini aja nggak bisa?”
Cowok itu mengangguk saja, lalu kembali melajukan motornya.
“Lah? Ini mau ke mana? Kayaknya bukan jalan ke sekolah, deh,” kata Caca setengah berteriak. Reyhan diam saja. Ia tak terlalu mengindahkan ocehan Caca.
***
“Ck! Gara-gara lo, nih! Kita jadi telat, kan.”
Caca tak henti-hentinya menggerutu dan menyalahkan Reyhan. Sebab tadi Reyhan sempat mengajaknya mampir ke salah satu restoran untuk makan dengan alasan kehilangan banyak tenaga setelah berkelahi dengan anak-anak Triton. Akibatnya, mereka telat dan berakhir dihukum membersihkan perpustakaan sampai jam istirahat pertama.
“Bukan salah gue. Salahin anak-anak Triton,” jawab Reyhan sembari merapikan buku-buku di atas rak dengan malas.
Caca hanya mendengkus pelan, kemudian melanjutkan kegiatannya.
“Caca?”
Cewek itu membalikkan tubuhnya, mendapati keberadaan Fandi tepat di depannya juga Reyhan.
Caca tersenyum miris. “Eh, Fan! Lagi cari buku apa?” tanya Caca.
“Nyari buku referensi buat tugas biologi. Lo, kok, bisa ada di sini? Telat?” tebak Fandi. Caca mengangguk tanpa protes.
Perhatian Fandi beralih pada Reyhan yang sejak tadi berdiri di samping Caca, melayangkan tatapan datar ke arah Fandi dan enggan untuk menyapa.
Fandi ingat Reyhan adalah cowok yang waktu itu ia lihat berciuman dengan Caca di koridor.
“Gue Fandi. Lo siapa?” tanya Fandi.
“Reyhan,” jawab Reyhan tanpa berniat menyambut uluran tangan Fandi. Fandi menarik kembali tangannya.
“Ya, udah. Kalau gitu gue duluan, ya!”
Ucapan Fandi diangguki oleh Caca. Cewek itu berdiri menghadap Reyhan dan berkacak pinggang. Mungkin, sebentar lagi dia akan mengutarakan protesnya pada Reyhan karena bersikap ketus terhadap Fandi.
“Lo tuh—”
“Kenapa? Lo nggak suka sama cara bicara gue sama ketua OSIS lo yang sok keren itu?” tanya Reyhan membuat Caca kembali bungkam.
“Ck! Terserah, deh,” ucap Caca sudah pasrah dengan tabiat Reyhan.
Mereka kembali sibuk dengan pekerjaan masing-masing sampai akhirnya bel istirahat pertama pun berbunyi.
“Akhirnya,” ucap Caca lega.
Tiba-tiba, terdengar bunyi buku jatuh yang menimpa sesuatu. Caca mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya dan tak menemui keberadaan Reyhan. Ia pun menghampiri sumber suara tadi.
“Reyhan?” tegur Caca saat melihat Reyhan terduduk dengan buku tebal di pangkuan cowok itu.
“Lo nggak apa-apa?” tanya Caca prihatin.
“Nggak apa-apa,” jawab Reyhan.
Cewek itu berjongkok, bermaksud mengembalikan buku-buku tadi ke atas rak. Namun, tiba-tiba Reyhan menahan tangannya.
“Biar gue aja,” ucap Reyhan seraya menatap lurus pada iris cokelat Caca.
“O-oke,” jawab Caca.
Selesai membereskan buku-buku tersebut, Reyhan pun keluar dari perpustakaan diikuti oleh Caca. Cewek itu terus mengekor sampai akhirnya menahan tangan Reyhan.
“Tunggu!” seru Caca seraya menahan tangan Reyhan.
“Kenapa, Ca?” tanya Reyhan sembari mengulum senyumnya.
“Lo mau ke mana?” tanya Caca hati-hati.
“Mau ke Elvan sama Beno. Emang kenapa?” tanya Reyhan.
Tiba-tiba, Caca menarik tangan Reyhan dan membawanya ke UKS.
“Mau ngapain, sih, Ca?” tanya Reyhan, matanya menatap kondisi ruang UKS yang rapi dan bersih.
“Duduk!” titah Caca, matanya terarah pada kursi yang ada di depannya.
Reyhan sudah akan berbalik dan keluar dari UKS, tetapi lagi-lagi Caca mencegahnya. Cewek itu menarik tangan Reyhan dan memaksa Reyhan untuk duduk di kursi yang telah tersedia.
“Lo mau ngapain, sih?” tanya Reyhan tak habis pikir dengan Caca dan tingkah lakunya.
“Diem dulu! Gue cuma mau obatin luka di tangan lo,” jawab Caca seraya membuka kotak P3K.
Dengan telaten, Caca mulai membersihkan luka di tangan Reyhan akibat berkelahi dengan Dion dan Vigo tadi. Sesekali, ia meringis karena melihat luka-luka itu, sedangkan Reyhan hanya diam. Netranya asyik menyisipkan detail wajah Caca ke dalam ingatannya.
“Udah,” kata Caca hendak menurunkan tangannya.
“Eh ...,” gumam Caca saat tangannya digenggam oleh Reyhan.
“Kali ini lo juga simpati sama gue?” tanya Reyhan. Matanya menatap lurus pada mata Caca, membuat Caca tak bisa berpaling darinya.
“Iya,” jawab Caca.
Cowok itu mengangguk, lalu melepas genggamannya.
“Oke,” kata Reyhan.