8. Perjanjian

1342 Words
    Satu hal lagi yang kini Selin tau dari seorang Jean Masabumi. Fakta bahwa pemuda itu agak narsistik dan materialistik. Penawaran Jean sebenarnya tidak buruk, yang buruk adalah cara penyampaiannya yang penuh pujian untuk diri sendiri. Selin sungguh tak mau menikah dengan Jean apapun alasannya. Tapi Mama tak sedikitpun mengubah pemikirannya. Selin tak habis pikir, harus seperti apa lagi dia menunjukkan pemberontakannya?     Selin masih menaruh secercah harapan, mana tau Mama masih mau berubah pikiran. Hanya saja sepertinya agak sulit karena Jean juga ikut mendorong Selin untuk menikah dengannya. Bukannya Selin sedang mempertimbangkan Jean sebagai seorang 'lelaki', gadis itu hanya tak mau dilaporkan polisi karena aksi penyelinapan hotel olehnya.     "Kita bisa bikin perjanjian nanti untuk kehidupan setelah menikah kalau lo setuju," kata Jean sebelum Selin melepas seat belt-nya.     Selin mengangguk, "Bakal gue pikirin."     "Inget, ini salah satu tiket lo buat dapet maaf dari gue," Tambah Jean. Ia tersenyum licik yang membuat Selin semakin banyak pikiran.                                                                                                                 ...     Selin tampaknya harus terbiasa dengan penampilan aneh Jean ketika sedang berada di area publik. Gadis itu mengernyitkan dahi bahkan ketika Jean baru turun dari mobilnya.     "Hei," sapa Jean. Pemuda itu langsung duduk di hadapan Selin. Lalu mengeluarkan selembar kertas dan dua buah pulpen dari dalam sakunya. Ia mulai menulis di atas sana.     1. Pernikahan bersifat rahasia (tidak boleh dibocorkan ke siapapun, apapun alasannya)     Selin mengangguk mengiyakan. Ia paham posisi Jean yang merupakan publik figur dan kontraknya dengan agensi yang tidak memperbolehkannya menjalin hubungan hingga 3 tahun setelah debutnya. Toh, Selin juga tak berniat memamerkan Jean sebagai suaminya.     Selanjutnya, Selin mengambil alih kertas dan menulis poin selanjutnya.     2. Tidak ada kontak fisik dalam bentuk apapun     Poin yang sangat penting buat Selin. Pasalnya dia tak mau jadi korban keberengsekan Jean di masa depan. Jean menggeleng melihat poin itu. Kemudian menambahkan sesuatu di sana.     2. Tidak ada kontak fisik dalam bentuk apapun kecuali dalam keadaan darurat (seperti tenggelam dan butuh pertolongan)     "Apaan sih? Akal-akalan lo ya pasti?" tuduh Selin. Jean memutar matanya jengah, "GR banget parah! Lo nggak tau kan kalo suatu saat nanti lo tenggelem apa gimana."     Selin akhirnya mau tak mau menyetujui. Kemudian Jean menulis lagi.     3. Selin wajib mengurus segala sesuatu tentang gizi Jean tanpa mengeluh     Selin hanya mengangkat bahunya. Perkara yang tak terlalu sulit menurutnya.     4. Selin boleh pergi kemanapun, dengan siapapun, tanpa perlu ijin Jean     Jean tak banyak berkomentar. Kalau boleh jujur, dia bahkan tak peduli kemanapun Selin pergi.     5. Jean boleh membawa siapapun yang dia kehendaki ke dalam rumah         Selin setuju. Ya, bagaimanapun itu rumah Jean kan?     6. Selin tetap bisa kuliah di jurusan manapun tanpa intervensi, bahkan setelah bercerai     Ini namanya berjaga-jaga. Siapa tau Jean dan keluarganya ini adalah orang yang manipulatif, kan?     7. Jean akan memberikan saham sebesar 5% pada Selin ketika pernikahan berakhir     Setuju.     8. Pernikahan akan berlangsung selama 6 bulan     "Ada lagi?" tanya Jean. Selin menggeleng. Ia kemudian membubuhkan tanda tangan di pojok bawah kertas kemudian menyerahkan surat perjanjian itu pada Jean. Dia tak pernah menyangka, bahwa dirinya akan membuat perjanjian bodoh semacam ini. Perjanjian resmi dengan materai pula.     Gadis itu tak lagi berharap pada Mamanya. Mama terlihat tak keberatan meski Selin tak mau bicara padanya. Egois, setidaknya begitulah pemikiran Selin terhadap Mamanya. Selin sudah memutuskan untuk mengikuti permainan Mamanya. Kira-kira sejauh mana Mama bisa bertahan.     Seusai Jean membubuhkan tanda tangan, ia mengulurkan tangan pada Selin, "Deal?"     Selin membalas uluran itu tanpa pikir panjang. Setelahnya Jean terlihat berpikir, "So what should we do next?"                                                                                                             ...     "Jadi berdasarkan keputusan kita berdua, kita bersedia menikah minggu depan," ucap Jean.     Baik Tante Regina, Om Darmoko, maupun Mama, semua menyiratkan wajah yang bahagia. Selin sendiri menyimpan rapat-rapat perasaan kesalnya terhadap Mama. Satu-satunya hal yang gadis itu lakukan adalah menebar senyum awkward yang baginya memuakkan.     "Aduh, Bunda seneng banget! Kalian tenang aja, semua urusan pernikahan biar kami para orang tua yang urus. Kalian tinggal istirahat dan siap-siap untuk hari-H aja."     Setelahnya Tante Regina menciumi pipi Jean berulang kali. Sementaura keadaan antara Mama dan Selin berkata sebaliknya. Cukup dingin hingga tak menunjukkan apa-apa.     "Oke, jadi kalian mau gimana? Adat atau internasional? Terus mau resepsi tema warnanya apa? Bunganya juga maunya apa? Berapa orang yang mau diundang?" cecar Tante Regina. Ia tampak begitu girang mengetahui putranya akan menikah.     Selin sendiri merasa terbebani dengan berondong pertanyaan yang Tante Regina tanyakan.     "Aduh, Bun. Banyak banget sih nanyanya," keluh Jean.     "Ya gitu itu Bundamu dari dulu. Cerewet," sahut Om Darmoko. "Kalau menurut Selin gimana?"     "Hah? Apanya?" tanya Selin balik.     "Pernikahannya."     "Ah ... Selin sih terserah aja, Tante. Sebagusnya aja," ucapnya pasrah.     "Eh? Kok Tante? Bunda dong manggilnya."     Selin hanya tersenyum. Sangat canggung.                                                                                                     ...     Sahabat adalah tempat mencurahkan segala kisah. Baik sedih maupun duka, tangis maupun tawa. Setidaknya begitulah pendapat Selin. Biasanya, dia akan menceritakan apapun itu pada Joshua. Kegiatan fangirling-nya sekalipun biasa ia ceritakan pada Joshua. Kali ini ia juga ingin bercerita. Ia butuh berbicara mengenai apa yang dia lalui dalam tempo waktu kurang dari satu pekan ini.     Rasanya baru kemarin Joshua ada di sisi, mendengarkan cerita Selin mengenai tingkah b******k Jean dan tertawa saja. Namun segalanya sudah berbeda. Lagipula perjanjian dengan Jean membuatnya tak bisa bercerita pada Joshua.     "Iya, jadi gue mau kuliah di Jakarta. Nggak terduga banget, kan? Padahal baru aja kemarin gue pesimis banget soal kuliah," kata Selin pada Joshua yang sedang berbincang dengannya via telepon.     "..."     "Bisa dibilang gue ... dapet ... beasiswa? Ya, beasiswa."     "..."     "Makasih, Jo .... Gue nggak nyangka masih bisa ngobrol tiap hari gini sama lo meskipun jauh."     "..."     "Ya, oke. Selamat malam, Jo! Semoga mimpi buruk haha!"     Sedetik kemudian sambungan telepon antara Selin dan Joshua terputus.     Seandainya gue bisa cerita yang sejujurnya, Jo.                                                                                                                     ...     "Aduh cantik banget kan, Mon?" kata Tante Regina pada Mama. Tepat ketika Selin keluar dari kamar ganti.     Gaun putih bergaya off shoulder yang dihiasi ornamen berlian di setiap sudutnya. Bahu Selin yang terekspos menambah pesona anggun. Ditambah model bawah gaun yang mekar seperti keluar dari buku dongeng.     "Tapi, Tante, eh maksud aku Bunda, ini nggak terlalu mewah apa?" tanya Selin mengkonfirmasi.     "Ah enggak kan ya, Mon?"     Mama tak menjawab pertanyaan Tante Regina. Ia hanya tersenyum dalam diamnya. Entah apa yang dia rasa, Selin pun tak mau tau apa-apa.     "Udah yang ini aja ya? Cantik banget di kamu. Jean pasti klepek-klepek deh lihatnya entar."     Selin menggaruk lehernya canggung. Ia kemudian mengamati pantulan dirinya di kaca sambil sedikit berputar ke kanan kiri untuk memerhatikan seluruh sisi gaun.     "Selin, kamu mau kuliah jurusan apa rencananya?" tanya Tante Regina.     "Mmh ... pengen Sastra Indonesia, Bun. Pengen Sastra Inggris juga. Pokoknya yang bahasa gitu deh," jawab Selin.     "Unik ya pilihan kamu, padahal jarang banget anak sekarang yang tertarik sastra apalagi Sastra Indonesia."     "Dari kecil dia emang udah suka baca dan nulis-nulis cerita gitu," sahut Mama.     "Oh ... bisa dibilang udah passion lah, ya?"     Mama mengangguk. Selin tak menanggapi. Memang sudah begitu semenjak tadi, setiap Mama bicara, Selin memilih untuk tidak menanggapi. Menjunjung tinggi gengsi dan harga dirinya.     "Selin mau punya anak berapa nantinya?" tanya Tante Regina.     Uhuk, uhuk! Selin mendadak batuk. Tersedak napasnya sendiri. Pertanyaan Tante Regina sungguh terlalu ekstrem. Sehingga Selin tak tau harus menjawab apa.     "Eh ... itu ... sedikasihnya aja, Bun."     "Pokoknya persen Bunda cuman satu ya, entar habis nikah nggak usah nunda-nunda lagi. Langsung aja punya anak. Soalnya kita udah pengen punya cucu. Ya, kan, Mon?" papar Bunda.     Mama tertawa menanggapi. Sementara pipi Selin memerah sendiri akibat malu. Meski ia tau bahwa punya anak tak akan pernah ada di list pernikahannya dan Jean.     "Ntar kalau misalnya Jean males-malesan, kamu aja yang agresif. Nggak papa kok, kan sekarang udah emansipasi wanita," lanjutnya.     Pipi Selin makin memerah. Obrolan yang semakin dewasa ini harus dihentikan.     "Eh, Bun, Selin mau ganti baju dulu. Panas. Gaunnya yang ini aja nggak papa," katanya berusaha menghindari.     "Udah bener kamu suka yang itu? Ya udah."     Selin kemudian masuk ke dalam ruang ganti. Mengipas-ngipasi pipinya yang sudah mirip kepiting rebus akibat percakapan menyulitkan tadi.     Sialnya, tiba-tiba Selin berpikir, Gimana ya kalau entar gue punya anak? Kalau mirip Jean sih bakal bagus mukanya, tapi kalo bejatnya sama juga gimana?     Beberapa saat kemudian ia memukul-mukul kepalanya.     "Gila! Dasar nggak waras! Ngapain bayangin hal menjijikkan kayak gitu!" makinya pada diri sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD