Hampir menjelang pukul 8 petang, aku tiba di sebuah rumah besar berpagar besi tinggi menjulang. Begitu kutekan bel, tidak berapa seseorang tergopoh-gopoh menghampiri. "Mas Geo, ya?" tanyanya di balik jeruji gerbang pagar seraya memperhatikan dengan saksama. Laki-laki tua berkumis putih dengan songkok bertenger menutupi seperempat bulatan kepalanya.
"Iya, saya Geo," jawabku dengan alis terangkat. "Ibu Alma-nya ada, Pak?"
"Ada, Mas," jawabnya sembari membukakan kunci gerbang. "Silakan masuk, Mas."
"Terima kasih."
Sejenak aku menunggu hingga lelaki tua itu menutup dan mengunci kembali pintu gerbang tersebut. Setelah itu mengikuti langkahnya memasuki ruangan depan yang rapi dan megah dengan perabotan ekslusif tertata di sana.
"Silakan duduk dulu, Mas. Saya mau panggilin Ibu Alma," kata sosok itu kembali sebelum beranjak meninggalkanku. "O, iya … Mas mau minum apa?"
"Air putih saja, Pak."
"Dingin?"
"Oh, boleh," jawabku sambil mengipas-ngipas kerah seragam sekolah karena gerah.
"Baik, Mas. Ditunggu sebentar, ya." Lelaki tua itu berpamitan, lantas bergegas pergi meninggalkanku di ruang tersebut. Aku pun duduk santai di kursi besar dan bersih sambil melepas penat usai bergumul hebat dengan Mbak Sandra sesiang tadi.
Tidak berapa lama muncul seorang perempuan cantik dengan gelas besar di tangan, menghampiriku, diiringi senyum ramah. Aku langsung berdiri memberi penghormatan.
"Mas Geo, ya?" tanyanya setelah mendekat. Aku mengangguk kaku, lalu menjawab pelan, "Iya, Bu. Maaf, ini dengan Ibu …."
"Saya Alma." Dia langsung memperkenalkan diri. "Duduklah, Mas, dan ini minuman dinginnya. Hehehe."
Suara perempuan itu begitu lembut. Hampir setiap kali dia bicara, selalu disertai senyuman. Manis sekali. Apalagi dengan dua titik lesung pipi yang menghiasi paras cantiknya.
Aku segera mengambil sodoran gelas besar Ibu Alma, lantas meneguk habis hampir setengah isinya dengan nikmat. Lega sudah kini. Kerongkonganku lumayan segar sekarang.
"Pulang sekolah?" tanya Ibu Alma begitu memperhatikan seragam putih-abu yang kukenakan.
"Eh, iya, Bu," kataku gugup usai meletakan gelas dingin di atas meja. "Tadi habis ngikutin kegiatan ekstrakulikuler, terus langsung ke sini."
Perempuan cantik berkulit putih itu tersenyum-senyum. Matanya menyipit memperhatikanku. Entah apa yang tengah dia pikirkan? Mungkinkah mengetahui kalau aku barusan berbohong? Bisa juga penasaran dan ingin segera ….
"Mas Geo sudah makan?" tanya Ibu Alma tiba-tiba. " … atau mau mandi?" imbuhnya kembali begitu aku mengipas-ngipas kerah baju mencari angin.
"O, iya, Bu. Kalo gak keberatan, saya ingin ikut mandi di sini? Boleh, 'kan, Bu?"
Jawab Ibu Alma, "Sudah pasti boleh, dong, Mas." Kembali dia melempariku senyuman itu. Ah, cantik sekali. Kutaksir usianya baru sekitar 30'an. Berbadan ramping dengan tinggi proporsional. Yang paling menarik, tentu saja dua bulatan besar di dadanya. Hhmmm, sesaat aku menelan air liur. Mendadak tenggorokan ini mengering. Padahal belum lama baru saja meminum air dingin. "Terus kita maka malam bersama, ya? Kebetulan saya juga belum makan, kok."
"Baik, Bu."
"Nanti kita lanjutin ngobrol-ngobrol lagi," imbuh Ibu Alma dengan sorot mata tajam, seakan memberiku kode-kode tertentu. Itu sudah pasti. Hal apalagi yang menjadi tujuan dia menghendakiku datang di jelang malam seperti ini, 'kan?
Dia mengajakku memasuki sebuah kamar. Cukup besar dengan tempat tidur luas, rapi, dan wangi menggoda. Di dalam sana tersedia ruang mandi berdinding kaca, lengkap dengan shower dan bath tube putih memanjang, terpisah di sudut lain.
"Pakai saja yang ada di sini, Mas. Jangan sungkan-sungkan, ya?" ujarnya sebelum meninggalkanku sendiri.
"Ibu sudah mandi?" tanyaku mencoba melempar pancing sebagai langkah awal perkenalan kami. Biasa, biar suasana tidak terlalu formal dan kaku seperti ini.
Perempuan itu tersenyum. Dari rona merah di wajahnya, aku pikir dia sudah mampu memahami makna pertanyaan tadi. Tanpa menjawab, dia bergegas keluar sambil menitipkan sedikit pesan, "Saya tunggu di luar, ya, Mas."
Aku mengangguk pelan.
Sepeninggal Ibu Alma, aku segera membersihkan diri. Terutama bagian penting tubuh ini setelah siang tadi digunakan untuk memuaskan hasrat Mbak Sandra. Kemudian menuntaskannnya dengan selembar handuk putih yang tergantung di dinding. Sejenak aku mencari-cari seragam sekolah yang tadi digantung di sana, tapi tidak ada. Mungkin dibawa Ibu Alma. Ah, terus nanti aku pakai apa? Dengan benak masih diliputi pertanyaan, aku keluar dari tempat tersebut bertelanjang d**a dan balutan handuk menutupi area perut hingga lutut.
"Ah, sudah selesai rupanya kamu, Mas." Ibu Alma langsung menyambutku begitu muncul dari ambang pintu kamar mandi.
Astaga!
Rupanya perempuan itu sengaja menungguiku di dalam kamar. Lantas menawariku seonggok pakaian yang tergeletak rapi di pinggir tempat tidur. Ujarnya, "Buat sementara, pakailah dulu yang ada ini. Itu bekas mendiang suami saya dulu. Mungkin agak besar, tapi seenggaknya lebih baik, 'kan, ketimbang memakai kembali seragam sekolahmu tadi?"
"Seragam saya mana, Bu?" tanyaku.
Jawab Ibu Alma, "Saya suruh Mbok Yunah nyuciin, Mas. Besok pagi juga bisa langsung dipake lagi, kok."
Dia mendekat, memberiku pakaian tadi dengan matan nanar memperhatikan detail tubuh ini dari atas hingga bagian bawah perlahan. Berhenti di satu titik. Tepatnya pada belitan handuk putih yang kukenakan.
"Ibu pingin ngelihatnya?" tanyaku bermaksud mencandainya. Dia tersenyum malu. Namun aku memang benar-benar mencoba melepaskan balutan handuk ini.
"Jangan dulu, Mas Geo," desah Ibu Alma menahan gerakan tanganku. "Ini terlalu cepat buat kita."
"Hitung-hitung sebagai pembuka perkenalan kita saja, Bu," kataku sedikit memaksa. Usil.
"Oh, Mas …." seru perempuan tersebut begitu lilitan kain handuk ini kulepas sepenuhnya. Dia membelalak kaget sambil leletkan lidah. Memperhatikan titik utama di bawah perutku dengan saksama. "S-saya …." Suaranya terbata-bata disertai tarikan napas tidak beraturan.
Aku mendekat. Merapatkan tubuh ini hingga nyaris tidak ada jeda kosong di antara kami. Kemudian meraih dagu perempuan itu, menarik ke atas hingga beradu tatap penuh hasrat.
Tinggi tubuh kami memang tidak sepantar. Aku harus menunduk sedikit untuk mendaratkan kecup ini pada bibirnya. Sesaat dia terdiam tanpa merespons. Lantas kumiringkan wajah dan mulai mengeluarkan ujung lidah serta perlahan membelah rekahan ranum itu hingga menyentuh gigi depannya. Ibu Alma membuka mulut pelan-pelan, membiarkan liukan hangat semakin merasuki rongga dan mempertemukan dua bagian daging tidak bertulang tersebut. Tawar. Tidak ada rasa apapun. Terkecuali aroma harum mouthwash yang tadi kugunakan sebelum menuntaskan ritual mandi.
Suara decak seketika terdengar dari pergerakan dua lidah kami yang bertabrakan. Pagutan demi pagutan mulai berjalan seirama. Lengkap bersama dengkus panas menerpa kulit wajah.
Ah, tiba-tiba saja aku merasa tangan Ibu Alma bergerak menyelusup di antara renggang tubuh kami. Bergerak perlahan ke bawah dan berhenti persis di bagian organ intimku. Bergerak-gerak menarikan usapan jemari dengan tarikan ke atas dan bawah. Terus berulang-ulang sampai kemudian dia melepas pagutan ini secara tiba-tiba. Lantas merendahkan tubuhnya tanpa sedikit pun berkenan melepas usapan bibirnya pada kulitku. Terus begitu dari bibir, dagu, leher, d**a, dan terakhir ….
"Jangan sekarang, Bu," kataku seraya memundurkan panggul, menjauh dari wajah Ibu Alma yang sudah berada persis di bawah perutku. Dia berjongkok dengan napas tersengal-sengal dan tatapan tajam. "Bukankah ini terlalu cepat buat kita, Bu?" imbuhku menirukan ucapan perempuan itu beberapa saat sebelumnya.
"Maafin saya, Mas," ujar Ibu Alma lantas berdiri kembali menghadapku. "Saya gak bisa menahan diri. Maafin saya." Namun bola mata itu kembali memandang ke bawah. Arah yang sama seperti tadi. "S-saya … s-saya kaget dan … ah, s-saya gak begitu percaya kalo kamu masih seusia anak sekolahan, Mas."
"Kenapa, Bu?" tanyaku heran. "Saya memang masih kelas 11. Umur saya hampir genap 17 tahun beberapa bulan lagi."
Ibu Alma menggeleng. Katanya kembali, "Tapi melihat bentuk fisikmu, saya pikir kamu itu anak kuliahan, Mas."
Aku hampir saja tergelak. Lucu.
"Setua itu ya, Bu?" tanyaku sekadar bergurau.
"Bukan, Mas Geo," jawab perempuan itu. "Bukan itu maksud saya. Wajahmu itu tentu saja menyiratkan bahwa kamu memang masih remaja. Tapi bentuk dan tinggi badan kamu itu, lho." Dia mencubit perutku. Genit. "Mas Geo keturunan bule?"
Hhmmm, pertanyaan sama. Hampir semua orang yang kukenal dan kutemui bertanya demikian.
" … dari Papah saya, Bu," jawabku seraya mengenakan pakaian yang tadi disodorkan Ibu Alma. "British punya. Hehe."
"Oh, Eropa. Pantes saja."
"Kenapa?"
Dia membantuku mengenakan pakaian seraya menjawab, "Ganteng banget, Mas." Dia mulai memuji-muji. Itu bermakna bahwa perempuan tersebut mulai menyukaiku. Bagus. Berarti ada ladang baru buat menambah pundi-pundi saldo tabungan. Apalagi dia terlihat seperti perempuan modern. Wanita karir berstatus janda kaya. Hhmmm. "Sepertinya obrolan kita nanti akan sangat menarik, Mas. Saya ingin kenal kamu lebih jauh. Terutama cerita-cerita dari Sandra mengenaimu."
Mbak Sandra? Ah, sudah kuduga. Perempuan yang satu itu memang sering menggibahiku. Namun itu malah bagus, karena tanpa perlu susah payah, dari mulut-mulut seperti itulah klienku akan semakin bertambah. Perempuan-perempuan kesepian dan pemuja nafsu syahwat.
"Kamu tinggal di mana, Mas?" tanya Ibu Alma selagi membantuku menaikan celana. Matanya tetap awas menatap bagian khas kelelakian ini. Masih penasaran rupanya dia, atau sudah tidak sabar ingin segera memasuki poin inti?
Sejujurnya, justru aku sendiri malah yang ingin segera membedah isi d**a perempuan itu. Dari belahan rendah daster yang dia kenakan, aku melihat bentuk payudaranya lumayan besar. Sangat menggugah selera. Namun tahan dulu. Tidak usah terburu-buru. Aku harus kuat menahan diri dan jual mahal. Dengan begitu, imbalannya pun pasti akan jauh lebih besar ketimbang memperlihatkan diri layaknya seorang laki-laki yang tergila-gila. Semakin bersikap cuek, akan kian membuat kaum Hawa memberi tawaran besar. Itu strategi marketing.
"Saya tinggal di daerah Kebun Jeruk, Bu," jawabku singkat.
"Sama orang tua?"
"Mamah saya."
"Papahmu?"
Aku hanya tersenyum kecut. Enggan sekali mengingat sosok yang tidak pernah sekalipun kulihat seumur hidup itu. Malas dan muak.
"Kenapa diam?" tanya Ibu Salma.
"Saya gak tahu, Bu," jawabku setengah hati.
"Kok, gak tahu?" Ibu Alma sepertinya makin penasaran. "Emang sekarang di mana?"
Ah, obrolan semacam ini cepat membuatku muak. Namun walau bagaimanapun juga aku harus tetap menjawab. Sekarang? Mungkin nanti. Usai makan malam, misalkan. Karena perutku tiba-tiba saja menggerutu, berbarengan dengan suasana hati ini yang tidak ingin membicarakan sosok laki-laki yang dulu pernah menanam benih k*****t di rahim ibu. Hingga akhirnya terlahirlah aku. Geovanni Grissham.
BERSAMBUNG