Part 02

1134 Words
Fadlan menggenggam tangan laki-laki itu sembari menatapnya tegas. Beliau akan menikahkan putrinya dengan seorang laki-laki yang akan menjadi pintu surga bagi putrinya kelak. Sebagai seorang Ayah beliau meyakinkan diri jika laki-laki di hadapannya saat ini adalah pria terbaik untuk putrinya, Syifa. “Bismillah’hiromanirrahim.” gumam Fadlan “Saudara Hafiz Athaillah bin Ramdan Athailla, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak perempuan saya Kamila As-Syifa Mumtazah dengan mas kawin Emas 100 Gram, satu unit rumah dan satu mobil, dibayar tunai.” “Saya terima nikah dan kawinnya Kamila As-Syifa Mumtazah binti Fadlan Mumtazah dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." “Bagaimana para saksi? Sah?” “SAH!” “Alhamdulillahi’Rabbil’alamin.” Mereka semua mengucap Hamdalah setelah acara Ijab Qobul selesai terlaksana. Dan sekarang Syifa dan Hafiz telah resmi menjadi pasangan suami-istri Sah secara Agama dan Negara. Namun berbeda dengan Zulfa, beliau justru terbengong setelah mendengar Mahar yang telah disebutkan. Apa beliau tidak salah dengar? Baru saja beliau menganggap jika laki-laki yang akan menikah dengan Syifa adalah dari keluarga miskin. Tapi ternyata itu semua salah besar. “Apa-apaan ini?” batin Zulfa dalam hati “Ini semua pasti nggak benar.” Zulfa tidak tahu siapa sosok laki-laki yang menikah dengan Syifa. Laki-laki itu bernama Hafiz Athaillah. Ia putra tunggal dan pewaris tunggal dari Keluarga Athaillah. Orang Tuanya bernama Ramdan Athailla dan Hana Nadifa.” Hafiz sosok laki-laki tampan dan memiliki senyuman manis. Usianya yang masih 25 tahun ia telah menjadi pemimpin di Perusahaan keluarganya, yaitu Success Athailla Company. Perusahaan terbesar yang berdiri sejak lama. Dan juga Perusahaan yang saat ini menjalin kerja sama dengan Keluarga Mumtazah. Fadlan tersenyum ke arah putrinya. Sekarang putrinya telah menjadi seorang istri. Tanggung jawabnya semakin bertambah di usianya yang masih 23 tahun. Tapi beliau bahagia karena yakin Hafiz adalah sosok laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. Setelah selesai membaca Doa dilanjutkan dengan sesi foto. Syifa berdiri tepat di samping suaminya dengan wajah bingung. Ia tidak tahu harus melakukan apa. “Salim dengan suamimu, nak!” ujar Fadlan dengan nada berbisik “Tapi, Ayah…” “Nggak papa. Kalian sudah halal.” Fadlan meyakinkan putrinya jika tidak perlu takut untuk bersentuhan dengan suaminya, Hafiz. Beliau mengarahkan tangan Syifa ke arah tangan Fadlan. Namun Syifa masih takut-takut karena selama ini ia tidak pernah bersentuhan dengan laki-laki yang bukan mahromnya. “Ayah…” “Nggak papa, sayang. Coba dulu!” “Bismillah.” ujar Syifa dalam hati Dan akhirnya Syifa memberanikan diri menggenggam tangan Hafiz. Laki-laki itu tersenyum tipis saat Syifa mencium punggung tangannya. Bahkan detik itu juga jantung keduanya berdebar kencang. Hafiz memegang kepala Syifa lalu membacakan Doa untuk keberkahan rumah tangga mereka. “Allahumma inni as'aluka min khairiha wa khairi ma jabaltaha 'alaihi, wa a'udzubika min syarriha wa syarri ma jabaltaha 'alaihi” “Aamiin.” Syifa mengaminkan Doa yang dipanjatkan oleh suaminya, Hafiz. Doa untuk keberkahan rumah tangga mereka. Meskipun mereka menikah karena sebuah insiden. Mungkin, inilah jodoh terbaik yang sudah Allah tetapkan untuk keduanya. “Sekarang kita lanjut berfoto!” ujar Fadlan “Tunggu, Ayah!” ujar Hafiz “Kenapa, nak?” “Em.. Hafiz belum memasangkan cincin di jari S-syifa.” ucapnya dengan nada sedikit gugup Fadlan tercengang. Bahkan beliau tidak berpikir sejauh itu karena semuanya mendadak. Tapi ternyata Hafiz sudah menyiapkan sepasang cincin pernikahan untuk dirinya dan Syifa. Cincin itu ia beli baru secara mendadak karena yang sebelumnya ada ukiran namanya dan Zakia. Tidak pantas ia memberikan barang bekas pada istrinya, apalagi terukir nama perempuan lain. “Boleh saya pasang cincin ini?” tanya Hafiz pada istrinya, Syifa. Syifa terdiam sejenak. Ia menunduk menatap jari-jarinya. Tangannya terasa gemetar, begitupun dengan degup jantungnya yang berpacu cepat. Namun setelahnya ia mengangkat tangannya sedikit untuk memberi izin pada Hafiz memasangkan cincin di jari manisnya. Hafiz tersenyum. Ia sedikit ragu karena masih gugup. Selama 25 tahun Hafiz tidak pernah menyentuh perempuan yang bukan mahromnya. Ia sangat menghormati seorang perempuan seperti menghormati Ibu’nya sendiri. Cincin itu terpasang di jari manis Syifa. Pas, dan cocok di jari manisnya. “Sekarang giliran kamu yang memasangkan cincin ini di jari suamimu, Hafiz.” ujar Hana sembari tersenyum “Tapi…” “Nggak papa, sayang.” Entahlah, Syifa merasa tidak pantas saat ini memasangkan cincin tersebut di jari Hafiz. Ia merasa bersalah pada saudara tirinya. Seharusnya Zakia yang menikah dengan Hafiz, bukan dirinya. Entah apa yang akan terjadi jika Zakia tahu laki-laki yang dijodohkan dengannya bukan laki-laki tua seperti yang ada di pikirannya. “Pasangkan, nak!” ujar Hana “I-iya, Tante.” Bahkan Syifa masih memanggil Hana dengan sebutan Tante. Ia tidak tahu harus memanggil apa. Ia baru pertama kalinya melihat beliau. Tidak ada persiapan apapun sebelumnya. Pernikahan yang serba mendadak membuat Syifa kalut dan berputus asa. Tapi ternyata Allah mempunyai rencana sendiri untuknya. “Alhamdulillah.” mereka semua tersenyum melihatnya, kecuali Zulfa. Zulfa tidak terima melihat Syifa menikah dengan laki-laki kaya raya. Seharusnya Hafiz menikah dengan putrinya, Zakia. Dan sekarang beliau benar-benar menyesal telah meminta Zakia kabur di hari pernikahannya. “Sialan!” “Kenapa semua ini bisa terjadi? Saya tidak terima Syifa menikah dengan calon menantuku.” “Mereka harus berpisah, bagaimanapun caranya.” ujar Hana dalam hati Terbesit sebuah rencana untuk memisahkan Syifa dengan Hafiz. Karena menurut beliau Hafiz masih calon suami dari putrinya, Zakia. Beliau akan mencari cara untuk memisahkan keduanya. Bagaimanapun caranya Hafiz harus menikah dengan putrinya, Zakia. “Lihat saja, saya tidak akan membiarkan kamu hidup bahagia dengan Hafiz. Kalian harus berpisah secepat mungkin.” Fadlan beralih menatap ke arah istrinya. Beliau mengernyitkan kening melihat wajah istrinya. Terlihat seperti tidak suka melihat pernikahan Hafiz dengan Syifa. “Mama kenapa?” Deg Zulfa terkejut mendengar suara suaminya yang begitu tiba-tiba. “Iya, Yah! Kenapa?” “Kenapa respon Mama seperti itu?” tanyanya dengan tatapan penuh selidik “Memangnya kenapa dengan respon Mama?” Zulfa mencoba menahan rasa gugupnya agar Fadlan tidak semakin curiga dengannya. “Terlihat seperti tidak suka dengan pernikahan Hafiz dan Syifa.” Zufa tersenyum. Beliau mencoba meyakinkan suaminya jika ia tidak seperti itu. Beliau tidak ingin membuat Fadlan merasa curiga dengan dirinya. "Ayah kok bilang seperti itu sih? Mana mungkin ada seorang Ibu yang tidak bahagia melihat putrinya menikah." "Mama hanya sedih karena seharusnya Zakia yang menikah hari ini, bukan Syifa." lanjutnya dengan wajah sedih seolah menunjukkan pada Fadlan jika beliau terpukul dengan kejadian itu. Respon Fadlan seketika berubah setelah mendengar nama putri tirinya. Beliau marah padanya karena Zakia tiba-tiba pergi di hari pernikahannya. Apa yang telah dia perbuat membuat dirinya dan nama keluarga besar malu. Untung saja ada Syifa yang mau menggantikan, meskipun terpaksa. "Sudahlah, Ma. Jangan membahas Zakia karena Ayah masih marah dengannya." "Biarkan dia hidup liar di luar sana. Karena Ayah tidak akan mau menerimanya kembali ke rumah ini." Deg Zulfa terkejut mendengar pernyataan suaminya. "Apa maksud Mas Fadlan? Nggak. Hal itu tidak boleh terjadi. Aku harus melakukan sesuatu." batinnya berucap Next>>
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD