Malam minggu yang cerah.
Alan baru saja pulang dari kantor. Penunjuk waktu telah menunjuk angka setengah satu dini hari. Dia berjalan gontai memasuki rumahnya yang besar dan sepi itu.
Di bukanya pintu besar di hadapannya. Ruang tamu dengan kursi kayu ukir nampak gagah berdiri di di tengah temaramnya cahaya di rumah itu.
Alan berjalan menuju tangga hendak menuju kamarnya ketika kemudian dia menghentikan langkahnya ketik mendengar suara gaduh dari arah dapur.
Dengan sedikit berjingkat dia melangkahkan kakinya menuju dapur untuk.melihat apa tang sedang terjadi di sana.
Dengan mengendap-endap Alan menuju dapur dan melihat sesosok bayangan wanita berambut panjang yang sedang berdiri membelakanginya.
Siapa dia?,
Aku seperti mengenal orang itu.
ngapain dia malam malam begini di dapur?
"Ehm!!",
Alan .mencoba menarik perhatian wanita itu agar dia menyadari kehadirannya di sini.
"Oh!, Eh!, Maaf kan saya tuan", suara wanita itu gugup menyadari bahwa Alan sedang di tempat yang sam dengan nya.
"Kamu?!", Teriak Alan.
"Iya tuan, maafkan saya karena mengganggu ketenangan istirahat tuan", jawab wanita itu gugup yang ternyata adalah Mayang.
"Ngapain kami mlam mlam begini di dapur, ini sudah lewat tengah malam, kamu memasak untuk siapa?", cecar Alan.
"Maaf tuan, saya hanya merasa lapar tadi, saya memasak mie instan tuan".
"Mie?", tanya Alan meyakinkan.
"Iya tuan".
"Boleh saya lihat Mayang?"
"Silahkan tuan",
Mayang menyodorkan mangkuk berisi mie rebus dan telur yang baru saja matang ke hadapan Alan.
Seketika Alan mendekatkan hidungnya untuk.mencium aroma mie yang baru saja di masak Mayang.
Nampak Alan menelan ludah mencium aroma mie yang terhidang di depan nya.
"Boleh kamu masakan aku satu yang seperti ini Mayang?"
"Oh, baik Tuan", jawab Mayang gugup.
"kalau begitu biar saya yang belakangan saja tuan, tuan bisa memakan mie itu dulu, nanti biar saya masak lagi".
"Baiklah kalau begitu",
Alan memakan mie buatan Mayang dengan lahap.
Mayang tak habis pikir,ternyata majikanya ini juga doyan mie instan. Dia pikir orang kaya tidak akan doyan makanan rakyat jelata seperti ini, tapi ternyata...
Mayang sesekali melirik kearah Alan yang masih lahap menyantap mie di depannya.
Mayang yang sudah selesai memasak mie untuknya sendiri akhirnya ikut makan bersama Alan dalam satu meja.
Mayang tidak menyadari kalau dari tadi Alan mencoba mencuri pandang pada Mayang yang sedang sibuk memasak.
*Gila!
Kenapa aku baru menyadari kalau Mayang secantik ini.
Kulitnya bersih dan terawat, badannya juga bagus.
Mungkin ukuran dadanya sama kaya Nikita mirzani.
atau mungkin malah punya Mayang lebih besar darinya.
Ah sial!
Kenapa pula aku ini?
Kenapa aku jadi ngelantur gini sih gara gara Mayang.
Ingat Alan!
Mayang itu cuma pengasuhnya anak mu., tidak lebih*.
Akan terlihat menggeleng gelengkan kepalanya tanpa dia sadari. Mayang yang melihat tingkah ganjil Alan pun tak ayal dibuat bertanya tanya karenanya.
"Maaf tuan!, Apa tuan sakit?",
"Oh!!, Tidak Mayang, aku hanya sedikit pusing", kilah Alan menutupi kebohongannya.
Dia tidak mau Mayang Mengetahui kalau dia sedang berpikiran kotor tentang Mayang.
Bisa habis Harga diri ku di depan Mayang kalau sampai dia tahu.
Mayang yang menyadari kalau Alan sedang berbohong hanya tersenyum mendengar jawaban Alan.
Hanya saja Mayang tidak tahu kenapa Alan berbohong.
Seandainya saja Mayang tahu, entah apa yang akan di lakukan Mayang pada Alan.
Alan sudah selesai makan, dia beranjak dari duduk nya hendak mengambil minum di dispenser yang terletak dibelakang tempat duduk Mayang.
Mayang yang tahu kalau majikanya itu membutuhkan minum akhirnya mengambilkan minum dan memberikannya kepada Alan.
Disaat yang sama, Alan yang semula kembali duduk membalik an badannya yang membuat sikunya menyenggol gelas yang di bawa Mayang.
Seketika air yang ada di dalam gelas tumpah membasahi baju dan tubuh mayang bagian depan.
Jelas sekali tercetak bentuk bra yang di pakai Mayang.
Baju tidur Mayang yang berwarna putih semakin membuat lekuk tubuh mayang tergambar dengan jelas karena basah.
Mayang segera menutupi dadanya dengan kedua belah tangannya ketika menyadari Alan sedang memperhatikan dadanya.
Alan yang tertangkap basah sedang memperhatikan tubuh Mayang akhirnya hanya bisa pura pura menanyakan keadaan Mayang.
"Maaf tuan, Saya pamit ke kamar duku untuk ganti baju. Nanti saya bersihkan setelah saya selesai ganti".
"Oh, santai saja Mayang", jawab Alan gugup.
"Maaf sudah membuatmu basah" ,lanjutnya lagi.
Mayang akhirnya berlalu meninggalkan Alan yang masih terbayang bayang kejadian tadi.
*Cih!!
Apa aku sudah gila gara gara Mayang?
Mengapa aku tidak bisa menahan diri seperti ini di depan Mayang?
Apa aku sudah jatuh cinta pada Mayang?
Atau ini hanya nafsu saja karena aku sudah lama tidak dekat dengan perempuan?
Tuhan,
Aku bisa fila kalau tiap hari harus bertemu dengan Mayang dalam keadaan seperti ini.
Apa yang harus aku lakukan?
Apa ku harus memecatnya, tapi bagaimana dengan Kimi?
Aku lihat dia sangat dekat dengan anak ku.
Tidak mungkin aku memisahkan Mayang dengan Kimi*.
Alan mengusap wajahnya dengan kasar. Di garuknya kepalanya yang tidak gatal itu.
Dia bergegas bangun dari duduknya menuju kamar nya.
ketika tiba tiba dia melihat bayangan Mayang yang sedang berjalan kearahnya.
Terbayang lagi kejadian barusan di otaknya.
Apalagi kali ini di melihat Mayang hanya menggunakan celana legging panjang dan kaos oblong ketat yang membuat lekuk tubuhnya semkin jelas terlihat.
Nampak tercetak jelas di mata Akan lekuk tubuh Mayang di bawah sinar lampu rumah yang temaram.
Alan mempercepat langkahnya menghindari berlama lama bersama Mayang. Di segera menuju kamarnya dan segera mandi untuk menghilangkan ingatannya akan tubuh Mayang.
Alarm dalam tubuhnya sudah mulai menunjukkan eksistensinya. Tubuhnya mulai merasa panas saat mengingat kemolekan tubuh Mayang. Dan hasrat di dalam hatinya yang lama sudah terpendam akhirnya bangkit lagi.
"Sialan! Aku arus mendinginkan tubuh ku agar aku bisa tidur dengan nyenyak malam ini. Atau aku akan rela terjaga karena kepikiran tubuh Mayang sepanjang malam!"