Sarapan Pagi Pertama

1454 Words
Hari ini Mayang bangun pagi pagi sekali. Setelah sholat subuh dan mandi dia segera menuju dapur untuk menyiapkan sarapan untuk Alan dan Kimi. Tiba di dapur,sudah ada mbok Nah yang sedang bersih bersih. Mayang segera menyapa mbok Nah sopan. "Selamat pagi mbok". "Oh, neng Mayang sudah bangun?", kata mbok Nah diiringi senyum khas dari wanita paruh baya tersebut. "Iya mbok, saya Mayang, saya pengasuh barunya nona Kimi. Mohon bantuannya ya mbok kalau nanti ada yang saya belum paham, karena saya tidak tahu apa yang disukai dan tidak di sukai tuan dan nona Kimi". "Iya neng, nanti mbok Nah bantu", kata mbok Nah. "Tadi Tuan John sudah memberi tahi Simbok kalau nanti akan ada Neng Mayang yang bantu Simbok menyiapkan sarapan buat Tuan dan Non Kimi." tutur Mbak Nah runtut. "Tuan dan Nona Kimi itu gampang kok makanya neng. Apa saja asal enak pasti di makan" "Oh begitu ya mbok, baiklah kalau begitu, saya akan mulai masak dulu untuk sarapan Tuan dan Nona Kimi". "Iya neng, Mbok juga mau lanjut bersih bersih dulu. Kalau perlu apa apa neng Mayang bisa panggil saya saja". "Iya mbok, terimakasih". Mbok Nah pun berlalu meninggalkan Mayang untuk melanjutkan pekerjaannya. Mayang segera memulai memasak. Mengupas bawang, memetik cabai,kemudian lanjut meracik bumbu dan menghaluskannya. Tangan Mayang begitu cekatan melakukan pekerjaannya. Pukul enam pagi semua sudah siap di meja makan. Mayang segera menuju kamar Kimi membangunkannya untuk mandi. Semalam John sudah memberi tahunya letak kamar Kimi,sehingga pagi ini dia sudah tahu harus kearah mana untuk membangunkan Kimi. Tok,tok,tok.. Kimi mengetuk pintu kamar Kimi. Dibukanya pintu yang tidak terkunci tersebut, kemudian perlahan masuk ke dalamnya. Pandangan matanya menyusuri setiap sudut kamar Kimi. Kamar yang sangat mewah dan luas untuk ukuran seorang anak kecil berusia empat tahun. Gumamnya dalam hati. "Kamarku di kampung mungkin hanya seperempatnya saja", katanya terdengar seperti bergumam. "Kamu siapa?", terdengar suara anak kecil yang sangat lucu. Mayang yang masih terheran heran dengan kondisi kamar Kimi melonjak kaget. Lalu sejurus kemudian dia sudah bisa menguasai keadaan. Dia berjalan menuju ke ranjang Kimi dan duduk di tepi ranajang "Nama Tante, Mayang, kamu bisa panggil aku tante Mayang". "Tante Mayang?", katanya mengulang nama Mayang. "Iya sayang, tante sekarang jadi pengasuhmu",kata Mayang menjelaskan. "Apa kamu mau bersahabat dengan tante dan jadi teman tante?" tanya Mayang meminta. "Apa itu artinya aku akan punya teman bermain lagi?", tanya Kimi dengan muka menggemaskan. "Tentu saja", sahut Mayang kemudian. "Kita nanti bisa main sepuasnya, apa saja yang Kimi mau lakukan nanti Kimi bisa main bareng tante". "Benarkah?" tanya Kimi meyakinkan. "Tentu saja", jawab Mayang. Tiba tiba Kimi bangun dari duduknya dan melompat kegirangan di atas kasurnya. "Horeee!!!, Kimi sudah punya teman lagi !. Kimi ada teman main lagi !", teriaknya. Mayang hanya tersenyum melihat tingkah Kimi. Segitu bahagianya kah anak ini ada aku disini. Dia bilang dia punya teman lagi,apakah selama ini Kimi tidak punya teman bermain. ups!. Aku Lupa,kalau rumah ini tak bertetangga. Bahkan saking jauhnya dari tetangga dia sampai tidak bertemu dengan satu orangpun sewaktu perjalanan ke rumah ini kemarin. Pantas saja Kimi terlihat begitu bahagia bisa bertemu dengan orang lain di rumah sebesar dan sesunyi ini. "Yuk,kita mandi. Kimi harus berangkat sekolah kan?", Mayang membuka baju tidur yang di kenakan Kimi dan beranjak ke kamar mandi untuk memandikannya. "Setelah ini nanti kita sarapan dulu ya", Kimi hanya mengangguk. Nampak sekali kebahagiaan terpancar dari wajahnya yang polos. Sesekali terdengar tawa kecilnya saat Mayang memandikannya. "Dah !, kita sarapan yuk". Ajak Mayang setelah Kimi selesai mandi dan berdandan. Di meja makan sudah ada Alan yang duduk di kursi paling ujung. Dia terlihat sibuk dengan gawainya. Melihat kedatangan Kimi dan Mayang, Alan menghentikan aktifitasnya. Senyum tersungging di bibirnya menyambut kedatangan Kimi. "Anak papa sudah cantik!", Alan menggendong Kimi dan mencium pipinya. Kemudian mendudukkan Kimi di kursi di sisi samping kanan meja makan. Kimi berjalan ke dapur dan membuat secangkir kopi untuk Alan. Kemudian beranjak menuju Kimi untuk menyiapkan sarapannya. Alan menerima kopi yang di buatkan Mayang. Dia sedikit terkejut ketika menerima kopi dari Mayang. Selama ini para pengasuh Kimi tidak pernah membuatkannya kopi jika dia tidak memintanya. Tapi hari ini Mayang membuatkannya secangkir kopi tanpa dia minta. "Hari ini sarapan nasi goreng ya sayang, kamu mau nggak?", tanya Mayang ketika sudah berdiri di samping Kimi. "Nasi goreng ?", tanya Alan seketika mendengar Mayang menyebut nasi goreng. Sudah lama mereka tidak sarapan dengan nasi atau yang lainya. Selama ini mereka hanya sarapan roti tawar dan susu atau sereal. "I-iya tuan", jawab Mayang terbata. Dia sedikit kaget mendengar nada bicara Alan yang sedikit terdengar seperti suara bentakan. "Aku mau tante, aku mau sarapan nasi goreng", kata Kimi mencairkan suasana yang sedikit kaku. "Sudah lama Kimi tidak makan nasi goreng, apa nasi goreng buatan tante enak ?", tanya Kimi manja. "Tentu saja sayang", jawab Mayang. Diambilnya piring kemudian di isinya dengan nasi goreng buatannya. Diambilnya telur dadar dan irisan tomat sebagai pelengkap. kemudian di berikannya piring berisi nasi goreng itu kepada Kimi. "Terima kasih tante", kata Kimi sambil memonyongkan mulutnya yang sudah penuh dengan nasi goreng buatan Mayang. Diliriknya Alan yang sibuk memandang Kimi dan Mayang. Dengan ragu ragu Mayang menawarkan nasi goreng buatannya kepada Alan. "Apa Tuan mau nasi gorengnya ?". Alan memandangi Mayang yang masih memegang piring dan bersiap mengambilkan nasi goreng untuknya. Mayang yang merasa di pandangi hanya tertunduk kemudian perlahan meletakkan piring ditangannya. "Aku mau nasi gorengnya, tolong ambilkan!", kata Alan kemudian dan terdengar angkuh dan dingin ditelinga Mayang. Mayang kemudian mengambil piring dan mengambilkan nasi goreng untuk Alan. Alan menerimanya kemudian memakannya. Mayang hanya memandang Alan dan Kimi bergantian. Melihat mereka berdua yang sangat lahap memakan nasi goreng buatannya. "Kamu kenapa berdiri saja, duduklah !. Makan sarapanmu sebelum dingin", Kata kata Alan lebih terdengar seperti perintah di telinga Mayang ketimbang sebuah permintaan. "I-iya tuan", jawab Mayang terbata. Kemudian dia duduk di samping Kimi yang sedang asik melahap nasi goreng di depannya. "Nasi goreng Tante enak, besuk Kimi mau dimasakin lagi nasi goreng seperti ini", kata Kimi dengan mulut penuh dengan nasi goreng dimulutnnya. "Iya sayang,besuk tante masakin lagi",jawab Mayang dengan senyum tersungging di bibirnya. Kemudian tangannya bergerak mengelus puncak kepala Kimi. Hal itu terlihat oleh Alan, dia bisa merasakan Mayang begitu menyayangi Kimi. 'Bahkan ini adalah hari pertama mereka bertemu dan mereka sudah sedekat itu!' gumamnya. 'Syukurlah jika mereka bisa sedekat itu. Aku jadi yg tidak kawatir lagi meninggalkan Kimi dirumah.' Alan segera merampungkan sarapannya dan segera berangkat kerja. Kimi pun segera bersiap untuk berangkat sekolah. Sementara itu John sudah bersiap di depan. Mayang membawakan tas Kimi dan mengantarkan Kimi ke depan di tempat John menunggu. "Selamat pagi nona Mayang, selamat pagi princess...!", sapa John ramah. "Selamat pagi Om...!",sahut Kimi disertai senyumnya yang menampakkan deretan giginya yang putih bersih. "Selamat pagi John!", jawab Mayang tak kalah dari Kimi. "Kimi,salim dulu sama papa sebelum berangkat kerja", kata Mayang begitu melihat Alan keluar rumah dan berjalan menuju mereka. Alan terkesiap melihat Kimi mengulurkan tanganya. Selama ini dia tidak pernah mengajarkan hal sepele semacam ini kepada Kimi. Tapi ini... Alan menyambut tangan Kimi dan memeluknya. Diciumnya pipi chuby milik Kimi sebelum anak itu berlari memasuki mobil. "Dadah papa, dadah tante Mayang, Kimi berangkat dulu ya", teriaknya ketika mobil itu mulai melaju meninggalkan Mayang dan Alan. Sejenak ketika menyadari dirinya hanya tinggal berdua dengan Alan,Mayang segera pamit untuk melakukan pekerjaannya. Sebenarnya dia hanya tidak merasa nyaman berada dekat dengan majikanya ini. Entahlah,meskipun dua kali Alan sudah menolongnya,tapi Mayang masih saja segan untuk berada di dekat laki laki itu. "Maaf! Saya masuk dulu, Tuan!" Alan hanya mengangguk tanpa menjawab Mayang, sejurus kemudian dia sudah berada didalam mobil dan melaju membelah jalanan besar di antara pohon pinus yang berderet di sepanjang jalan satu satunya menuju ke dunia luar itu. Sementara itu Mayang kembali berkutat dengan Kesibukan barunya,memasak dan menyiapkan semua keperluan Alan dan Kimi Bersama Mbok Nah. "Non Kimi itu anak semata wayangnya Tuan Alan Neng. Mamanya sudah lama meninggal sejak Non Kimi masih kecil. Makanya Tuan Alan sangat memanjakan Non Kimi. Dia tidak mau melihat Non Kimi bersedih, hingga apa pun yang di minta Non Kimi pasti akan di berikan!" "Begitukah, Mbok? Kalau boleh tahu, meninggalnya karena apa, Mbok" "Kecelakaan, Neng! Waktu itu sama Non Kimi juga, tapi Alhamdulillah, Non Kimi masih selamat. Tapi Mamanya Non Kimi, langsung meninggal.di tempat." kata Mbok Nah dengan wajah sedih. "Maafkan saya, Mbok! Seharusnya saya tidak bertanya." "Oh, tidak apa-apa, Neng! Si mbok hanya sedih saja kalau ingat Nyonya. Beliau itu orangnya baik. Bahkan beliau yang membawa si mbok ke rumah ini untuk berkerja. Padahal simbok hanya pencari rongsokan waktu itu." Mayang memeluk Mbok Nah. Angannya menerawang membayangkan sosok almarhum Mamanya Kimi. "Seandainya aku datang kerumah ini saat Nyonya masih hidup, Apakah aku masih berani mengangkat wajahku saat Tuan menatap ku?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD