Hongli menatap sedih apa yang ia lihat saat ini. Istrinya belum sadar hingga tengah malam. Mereka sudah berada di kediaman anggrek. Wajah Yueer memerah dan membengkak karena gigitan kelabang. Sebelumnya sudah ada tabib yang memeriksa dan kondisi ketiganya cukup menyedihkan. Hongli merebahkan diri di samping sang istri. Harusnya saat menyadari Yueer dan lainnya tak ada, ia langsung menghentikan pertandingan. Sungguh terlambat. Tangan Hongli terulur mengompres wajah istrinya yang bengkak. Berharap sang istri segera sadar. Yueer bergumam lirih memanggil namanya, membuat Hongli terenyuh, beginikah rasanya ketika mempunyai kelemahan, yaitu istri yang sungguh lemah, sayangnya ia mencintai istrinya itu. Yueer membuka mata perlahan wajahnya teramat perih, yang ia ingat ada tiga kelabang yang m

