Selamat membaca!
Dania coba menepikan rasa kecewanya. Mengulas senyum singkat, lalu menjawab pertanyaan Nathan, "Kamu nggak perlu ngasih aku rumah, Nathan. Apartemen ini udah lebih dari cukup buat aku."
Nathan menanggapi penolakan Dania dengan senyumannya yang tipis. Ia merasa sangat kagum dengan jawaban yang terlontar dari mulut Dania. Bagaimana tidak, sepanjang perjalanan hidup pria itu, Nathan tidak pernah mendengar kalimat penolakan saat ia menawarkan sesuatu pada seorang wanita. Terlebih apa yang ingin diberikannya adalah sebuah rumah mewah.
"Wanita ini nggak gila harta. Aku jadi semakin ingin mengenalnya lebih jauh," batin Nathan tersenyum puas.
"Baiklah kalau itu udah jadi keputusan kamu." Nathan menyudahi semua percakapannya kala itu. Sambil mendekat ke arah Dania, pria tampan itu menyodorkan sebuah credit card. "Pakailah ini untuk membeli segala kebutuhanmu! No limit, kamu bisa sepuas hatimu menggunakannya untuk bersenang-senang."
Dania segera mengambil kartu itu dari tangan Nathan, lalu ia mengecup singkat bibir seksi pria itu yang sangat royal dan baik padanya.
"Makasih ya, Nathan."
Setelah menjawab dengan senyuman, Nathan pun beranjak keluar dari kamar. Meninggalkan Dania yang langsung menghempaskan tubuhnya di atas ranjang sembari meletakkan credit card yang Nathan berikan di atas dadanya.
"Aku akan pergi ke bar malam ini. Aku ingin bertemu dengan orang-orang yang pernah menghinaku miskin. Aku ingin melihat, bagaimana reaksi mereka ketika aku bisa membeli semua hinaan mereka?" Dania tersenyum mengejek, lalu bangkit dari ranjang menuju bathroom untuk membersihkan diri dari aroma khas tubuh Nathan yang masih tertinggal di tubuhnya.
***
Beberapa menit kemudian, Nathan baru saja tiba di sebuah rumah mewah yang telah menjadi tempat tinggalnya sejak kecil. Rumah yang menyimpan sejuta kenangan tentang orang tuanya yang telah tiada akibat insiden kecelakaan di ruas tol saat akan meresmikan sebuah perusahaan baru di luar Jakarta.
Setiap kali sampai di rumah itu, Nathan terlihat seperti anak kecil karena Gina selalu memanjakannya.
"Oma, Nathan pulang!" ucap pria tampan itu ketika masuk ke dalam rumah.
Tak berapa lama seorang wanita paruh baya yang kini berusia 65 tahun, tampak melangkah mendekat ke arah Nathan untuk menyambut kepulangan cucu tampannya itu. Wanita yang masih terlihat cantik karena rajin melakukan perawatan wajah itu, memang tengah menunggu kepulangan Nathan di ruang keluarga.
Gina langsung memeluk tubuh Nathan ketika sudah berada dalam jangkauannya. Pelukan yang memang selalu ia berikan setiap hari pada Nathan yang merupakan cucu kesayangannya.
"Hai, cucu Oma yang paling tampan sedunia, akhirnya pulang juga. Kenapa kamu pulang telat?" tanya wanita paruh baya itu dengan mulai menginterogasi setelah melepas pelukannya.
Nathan memutar bola matanya untuk mencari alasan yang tepat. Namun, pria itu menanggapinya dengan santai karena ia memang terbiasa menerima pertanyaan yang dilontarkan oleh Gina setiap ia pulang terlambat.
"Aku ada urusan sama temanku, Oma!" jawab Nathan dengan raut wajah yang masam setiap kali Gina mulai bertanya layaknya seorang wartawan.
Gina pun mengangkat kedua alisnya sambil bersedekap. "Teman wanita, maksud kamu?"
Nathan langsung berkilah dengan menggelengkan kepala. "Bukan, Oma. Teman laki-laki yang pernah satu universitas denganku di London."
Gina mendekat ke hadapan Nathan dengan sorot mata yang tajam. "Kamu masih saja bohong, Than! Lima jam kamu ada di Langham Residence dan Oma dapat informasi kalau pemiliknya seorang wanita."
Nathan menelan salivanya kasar saat mendengar apa yang dikatakan Gina.
"Sial! Ternyata Oma memata-mataiku. Sekarang bagaimana ini? Kalau udah begini jadi ribet jelasinnya," batin Nathan menahan rasa kesal dalam dirinya. Merasa sang oma sudah merampas privasinya. Namun, ia tahu jika yang dilakukan Gina semata karena peduli padanya, meski menurut Nathan cara tersebut salah.
Gina memang tipe orang yang tidak mudah dibohongi. Wanita paruh baya itu selalu menyewa orang bayaran untuk mengintai kegiatan Nathan saat di luar rumah dan ini bukan kali pertama bagi Gina mendapati laporan tentang Nathan yang sering menghabiskan malamnya dengan bergonta-ganti wanita. Itulah alasannya, kenapa Gina selalu memaksa cucunya itu untuk segera menikah agar kebiasaan buruknya yang suka bermain gila dengan banyak wanita bisa hilang.
"Nathan, apa kamu mencintai wanita itu? Kalau iya, lebih baik kamu menikahi dia dan berhenti mempermainkan perasaan banyak wanita! Tapi ingat, wanita itu harus sederajat dengan kita! Jangan sampai kejadian dulu terulang lagi sama kamu!"
Perintah Gina sangat tak menyenangkan terdengar di telinga pria itu. Nathan pun mendengus kesal karena lagi-lagi topik pembicaraan yang terlontar dari mulut Gina, hanyalah tentang pernikahan dan pernikahan saja. Sesuatu yang tak diinginkan oleh Nathan yang menyukai kebebasan dan tak ingin terkekang. Lagi pula Nathan juga kecewa dengan sebuah pernikahan karena ikatan itu telah memisahkannya dengan sang kakak. Ya, Nathan memang memiliki seorang kakak yang keberadaannya saat ini tidak ia ketahui.
"Oma, aku melakukan semua itu nggak pernah pakai hati dan mereka yang pernah tidur sama aku tahu soal itu. Aku dan wanita bernama Dania itu nggak akan pernah saling mencintai."
"Oh, jadi wanita itu namanya Dania. Oma akan menyelidiki asal usul wanita itu. Kalau kamu benar nggak mencintai dia, berhenti tidur dengannya dan Oma akan menjodohkan kamu sama Anisa. Dia anak baik dan berasal dari keturunan keluarga terpandang seperti kita."
"Oma, aku nggak mau dijodohin sama siapa pun. Menikah itu hanya akan membuatku terpenjara dalam satu ikatan dan aku nggak suka hal-hal yang merepotkan seperti itu. Lagi pula saat dulu aku ingin serius menjalani satu hubungan, Reina malah pergi begitu saja," protes Nathan sambil menautkan kedua alisnya. Pria itu sejenak teringat akan sosok wanita yang pernah bertahta dalam hatinya. Namun, karena suatu alasan yang tak pernah Nathan ketahui, Reina memutuskan hubungan mereka secara sepihak dan pergi tanpa kabar.
Mendengar nama Reina disebut, pandangan Gina seketika memicing sedikit tajam seperti menyimpan sebuah rahasia besar. Wanita paruh baya itu pun mengubah raut wajahnya, mengulas senyuman kembali, lalu coba meyakinkan cucunya lagi agar mau menerima perjodohan yang sudah diaturnya.
"Anisa itu wanita yang baik dan sederajat sama keluarga kita. Coba pertimbangkan lagi! Kamu harus tahu, Oma ini sudah tua, Oma mau cepat-cepat gendong cicit dari kamu, Than? Apa kamu tahu kalau Oma ini sudah hampir dekat dengan kematian dan sebelum Oma pergi, Oma sangat ingin menggendong seorang bayi dan itu anak kamu."
Raut wajah Nathan seketika berubah sendu. Hatinya seketika merasa sakit jika Gina sampai berkata demikian kepadanya.
"Oma, maaf kalau udah bikin Oma kecewa, tapi Oma tenang aja, Nathan pasti akan menikah setelah menemukan wanita yang sesuai dengan kriteria Nathan. Aku tuh nggak mau asal-asalan memilih wanita untuk dijadikan istri, Oma. Tolong Oma, jangan samakan Nathan sama Kak Andre! Tolong kasih kebebasan Nathan dalam memilih!" ungkap Nathan mengatakan apa yang ada dalam pikirannya.
"Oke, Oma mengerti kalau kamu sekarang memang sudah dewasa dan bisa menentukan pilihanmu sendiri, tapi satu pesan Oma, cari wanita yang sederajat dengan keluarga kita!"
Nathan terdiam sejenak sebelum akhirnya mengiakan perkataan Gina meski sejenak ia teringat Dania yang memang tidak sesuai dengan kriteria sang oma.
"Sebaiknya aku benar-benar membatasi hatiku. Ingat, Dania bukan level keluargaku, Oma pasti nggak akan setuju. Kalau aku tetap nekat, bisa-bisa Oma juga akan mengusirku seperti dia mengusir Kak Andre dan mencoretnya dari hak waris keluargaku," batin Nathan merasa cemas pada perasaannya yang menurutnya cukup aneh sejak mengenal Dania.
Bersambung✍️