Selamanya Berhutang Budi

1285 Words
Aku bangun lagi di ruangan serba putih, mengalami kecelakaan dengan benturan seperti itu masih bisa selamat sungguh keajaiban atau sebenarnya aku berada di surga? Reva menangis dengan begitu histeris, aku langsung berpikir kalau aku memang mati. Apalagi anakku? Aku akan pergi meninggalkan dunia dengan anakku. Tapi bagaimana dengan adik? "Kakakkkk!!!!" Reva berteriak dengan histeris. Air terjun seperti mengalir di matanya. "Reva?" Lho aku malah bisa bicara? Dokter mendekatiku, kemudian mengecek kondisiku. "Semuanya baik." Eh? Apa yang baik. Heran juga. Padahal aku tidak merasakan apapun. "Kakak...." Reva terus menerus menangis, kenapa dia menangis seperti ada kemalangan besar? Seperti deja vu aku melihat dua orang berseragam polisi datang. "Pak Polisi mau menangkapku lagi karena sengaja menabrakkan diri ke mobil?" Aku tertawa karena pertanyaanku sendiri. Wajah keduanya seketika memucat, mungkin dalam kehidupan mereka tak pernah menemukan kemalangan semacam ini. "Kami mau meminta keterangan." Salah satu polisi berkata dengan pelan. Adikku masih menangis lemas. "Keterangan apa?" Aku malah bertanya dengan sedikit bingung. "Mengenai kejadian tabrakan." "Tidak ingat." Aku cuma ingat mobil suv bewarna hitam melaju kencang menujuku, semakin kencang saat aku melihatnya. "Bisakah nona memberikan informasi sedikit?" Pak polisi berkata ragu, memandangku cemas. Aku menatap mereka dengan pandangan kosong. Terdengar suara helaan nafas di kamar yang mendadak hening, isak Reva terdengar terputus. "Karena--Iptu Davio kehilangan nyawanya saat menyelamatkan nona." Pak Polisi melajutkan ucapannya. Eh? Aku merasa kegamangan. Apa tidak salah kalimat yang aku dengar? Aku melihat ke arah Reva. Kudengar tangisnya semakin kencang. Aku tak sanggup berpikir. Tak lama aku merasa sebuah pusaran menarikku masuk. Aku pingsan dalam kondisi aku sedang berbaring. Seperti mimpi, kemalangan datang bertubi-tubi mendadak sekali dalam kehidupanku. Bahkan orang yang begitu baik sampai melindungiku dengan mengorbankan nyawa. Saat tersadar, air mataku mengalir tak berhenti, sangat deras. Aku baru akan katakan pada polisi muda, kalau aku akan membalas perhatian dan kebaikannya selama kehidupan di dunia. Kalau perlu sampai aku mati. Tapi dia lebih dulu pergi karena aku. Menurut kesadaranku, aku hanya terdiam. Tapi menurut dokter aku berteriak-teriak, jadi aku diberi obat penenang. Sangat berbahaya mengingat kondisiku sedang hamil. Di saat aku tersadar untuk kesekian kalinya, Emmeric terlihat menungguiku di sisi tempat tidur rumah sakit dengan wajah yang pucat seperti mayat. Aku menamparnya kuat-kuat seperti malam itu. Tidak tau mendapat tenaga dari mana. Dia membiarkan aku dan tak bicara sepatah katapun. Aku menamparnya sampai aku puas. "Maaf." Dia cuma berkata begitu. Maaf? Manusia lebih rendah dari binatang. Jangan katakan istrinya yang mau membunuhku! "Usir dia dari sini." Aku berkata, ada bodyguard yang kami sewa karena kemarin disarankan oleh polisi muda. Emmeric meraih tanganku, aku menepisnya. "Aku tak mau melihat wajahmu!" "Sayang, ini murni kecelakaan." Pria itu, sampai kapan dia bertahan dengan kelembutannya? Sungguh membuat muak. Tidak mungkin. Aku mendengus, dari kejauhan mobil itu miring menuju ke arahku. Aku bahkan berdiri di pinggir dekat pintu masuk hotel. Dia tersenyum dan mengangkat tas. "Permintaan kamu aku tambahkan tiga kali lipat." Aku mengerti apa isi tas itu, jadi dia mau menyuapku? Reva menarik tas yang dipegang oleh Emmeric dan mencampakkannya, "Seorang lelaki baik telah meninggal! Tidak butuh uangmu!" Reva menyerang Emmeric, Emmeric menahan tangannya. "Reva berhenti! Itu sudah ajalnya. Dia meninggal menyelamatkan seseorang. Dia pahlawan sekarang." Emmeric berkata tegas. Dengan lunglai Reva bersimpuh di lantai, kasih sayang dan kehangatan polisi muda di saat-saat terberat dalam kehidupan kami jauh lebih berharga daripada cinta kasih Emmeric padaku selama enam tahun. Aku tak tahan dan menangis terus. Selamanya berhutang budi tak dapat membayarnya. Karena Reva terus menyeracau dan histeris, Emmeric pergi juga dari ruangan. Dia berkata akan kembali lagi, rambutnya yang rapi tampak kusut, kerah kemejanya terbuka dan ada cakaran di pipinya. Reva mengatakan pada bodyguard agar tidak mengizinkan siapapun masuk. "Kakkkk!!! Ayo kita pergi." Reva menangis dengan sangat sedih. Aku memang mau pergi sejak lama, cuma berpikir saat itu kami ditemani oleh polisi muda. Aku selalu memanggilnya polisi muda, padahal dia hanya lebih tua setahun dari aku. Tapi di ruangan kepolisian saat itu, dia tampak paling muda. Makanya aku memanggilnya begitu. ***** Seorang petugas polisi lain datang menengok kami membawa karangan bunga. Wajahnya tampak berduka. Aku bahkan tak dapat menyaksikan pemakaman polisi muda, aku mencopot cairan infus dan turun dari ranjang tempat tidur. Aku segera tersungkur. Dia membantuku duduk kembali di pinggiran tempat tidur. Petugas polisi mengatakan kalau jenazah Iptu Davio dibawa ke kampung halamannya, untuk di makamkan dekat makam keluarganya. Dia membantuku berdiri. "Kampung halaman Davio di mana itu?" Aku bertanya pelan. Polisi menyebutkan sebuah kabupaten. Kemudian dia berkata lagi, "Iptu Davio berpesan kalau nona mau pergi dari sini apabila terjadi sesuatu padanya. Sepertinya dia memiliki firasat." Air mataku mengalir lagi. Polisi itu menyerahkan sebuah ampop, aku membukanya dengan nafas begitu sesak. Seperti terkurung di dalam gudang jerami yang terbakar. "Sebuah alamat?" "Kalau mau mencari perlindungan pergilah ke sana. Karena melawan kekuasaan keluarga Thomas hanya mereka yang bisa." "Hadikusumo?" Dengan pandangan heran aku menatap ke arah polisi itu. ***** Besok paginya tubuhku masih lemah dan tak berdaya, tapi aku keluar dari rumah sakit dengan segera. Reva mengurus administrasi di rumah sakit. Emmeric segera mengetahui bahwa aku telah keluar dari rumah sakit, aku katakan padanya akan mencari hotel lain untuk menginap karena tak mau kembali ke hotel yang sebelumnya. Aku berpura-pura bersikap manis, sedikit saja aku menunjukkan kemarahan, aku yakin dia akan datang atau mengirim orang untuk membuntuti. Aku memyuruhnya datang pukul lima sore membawa kue favorit dari coffeeshop yang baru akan buka pukul empat. Aku katakan, anakmu tidak mau ayahnya datang tanpa bawa itu. Dia tentu tak ingin anaknya meneteskan liur dalam kandungan bukan? Suara Emmeric riang gembira mendengar itu, dia bahkan menyuruhku nanti menyambutnya dengan pakaian yang sexy dan mengirim Reva ke kamar lain. Karena dia mau menginap. Siapa sudi dapat bekasan. Emmeric katakan bersamaku adalah yang pertama, tapi aku tak yakin. Seorang pria bisa berbohong dengan mudah toh tak ada buktinya. Aku baru tau kalau istrinya ini adalah yang dimaksud Angel dulu, seorang wanita yang begitu jatuh cinta pada Emmeric. Sungguh luar biasa. Sekarang dia mem-bully-ku habis-habisan, statusnya sudah sah istri Emmeric. Sekalipun aku mati di tangannya, kurasa tak ada yang akan menyalahkan dia. Kami pergi hanya dengan pakaian yang melekat di badan, koper kecil untuk membawa surat-surat penting dan foto keluarga. Juga tas berisi uang enam milyar dari Emmeric. Seandainya kami di rampok maka perampok pastilah langsung kaya raya. Aku dan adikku tidak pergi ke rumah keluarga Hadikusumo, kalau dibilang polisi muda berkata demikian, tapi aku pikir keluarga yang sama setara dengan keluarga Emmeric, pastilah sama bengis. Keluar kandang singa masuk mulut buaya. Lebih baik menjauhkan diri dari semua. Aku pergi ke bidan dan membayarnya sangat banyak untuk menulis surat keterangan keguguran. Setelah itu menulis surat dengan sangat menyayat hati untuk Emmeric, aku katakan aku sudah sangat pedih dengan kemalangan yang beruntun. Minta dia memaafkanku karena aku pergi dan memohon untuk menjauhi aku juga tidak mencariku. Aku berdiam di hotel, sementara Reva pergi ke perusahaannya, setelah melihat sosok Emmeric, dia meminta salah seorang pegawai mengantar surat itu. Wajah Emmeric begitu pucat dan panik bahkan nyaris terhuyung, tidak bisa dibayangkan tubuhnya yang selalu tegap bisa terhuyung. Reva bercerita dengan amarah. Aku bukannya jahat, diawali dari rencananya menjadikan aku istri kedua, aku adalah wanita yang terluka. Jangan pernah bermain dengan perasaan perempuan. Jangan salahkan aku, pergilah berbahagia dengan istrimu. Anak di dalam perutku nanti, cuma satu orang tua yang dia kenal, yaitu ibunya. Kami pergi dengan berganti-ganti kendaraan, agar tidak bisa terdeteksi,   menuju ke kabupaten di wilayah pegunungan yang sejuk. Itu adalah kampung halaman Iptu Davio, semoga Emmeric tidak menemukan kami di sana. Lebih baik berbahagia jauh dari kemewahan ketimbang hidup bahagia tapi menderita tersiksa setiap hari. Begitu pesan almarhum ayahku, selalu aku jaga. Anakku akan berlimpahan kasih sayang, tidak kekurangan satu apapun. Sempat terpikir balas dendam pun teringat kata-kata polisi muda bermata pualam, balas dendam terbaik adalah berbahagia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD