Kondisiku sudah sangat pulih sekalipun aku sering menderita morning sickness. Aku melihat berita tentang keluarga Emmeric. Penuh dengan foto-foto mesra dia dan istrinya. Tersenyum begitu gembira mereka berdua.
"Kenapa kakak melihat-lihat berita itu?" Reva mengeluh.
"Tidak apa."
"Pria semua menjijikkan. Tapi Kak Davio tidak begitu."
"Kamu menyukai Kak Davio?"
"Tentu saja. Dulu aku tidak menyukai polisi, tapi Kak Davio berbeda. Dia seperti abang yang baik."
Aku melihat pada adikku, bibirnya maju dan matanya melotot. Dia terus mengomel, semakin cepat. Aku merasa dia begitu karena takut kalau berdiam diri dia akan mengingat ayah.
"Kalau kakak, bukan kakak yang baik?" Aku bertanya padanya.
"Kakak selalu yang terbaik, kecuali kalau mau menikah dengan Emmeric."
Aku mengabaikan ucapan adikku, "Kamu sudah mengurus surat-surat ayah?"
Reva mengangguk. Kami menghitung uang yang kami miliki semua ada lima puluh juta di tabungan.
"Sangat ironis." Reva mengeluh, kepalanya menggeleng-geleng.
"Apanya?"
"Bagaimana tabungan kita selama bertahun-tahun setara dengan uang yang dikasih cuma-cuma oleh Emmeric?"
Kami telah menghabisnya cukup banyak tabungan untuk melakukan renovasi rumah kemarin. Lagipula tidak bisa membandingkan keluarga kami yang sederhana dengan keluarga Thomas yang merupakan keluarga berkuasa.
"Kamu mau kakak memerasnya?" Aku mencairkan suasana dengan sedikit tertawa.
"Boleh saja, orang baik tidak akan hidup nyaman di dunia ini bahkan semakin teraniaya, sementara orang jahat semakin berkuasa."
Pintu kamar terbuka, aku melihat Linda masuk dengan seorang pria bertubuh hitam besar.
"Lihat jalang ini, enak sekali bersantai-santai di sini." Dia mendesis bagai ular piton melihatku. Aku hanya memandanginya. Reva segera memencel tombol memanggil perawat. Pria bertubuh besar mendorong Reva sampai terjerembab di lantai. Reva berteriak minta tolong. Dia bangkit dengan murka.
"Silahkan berharap menjadi istri muda!" Wanita itu berteriak marah. Pria bertubuh hitam besar datang menamparku dengan kuat sampai kepalaku berdenging. Dia mau menamparku lagi, tapi aku tahan dengan tanganku. Telapak tangannya sebesar kepalaku, mana mungkin aku bisa menahannya. Dia terlalu beringas. Wajahku telah ditampar dikedua pipi.
Linda melihat beberapa buket bunga termasuk dari polisi muda. Dia membanting semuanya ke lantai dan menginjak-nginjaknya. Pria hitam besar mencekik leherku, aku nyaris tak bisa bernafas. Reva memukul kepalanya dengan nampan rumah sakit. Tapi kurasa itu cuma seperti belaian bagi dia. Dia mendorong Reva sekali lagi. Tubuh Reva terbentur tempat tidur. Aku menggapai-gapai dan berjuang membuka tangan pria hitam yang mencekikku. Air mata jatuh mengalir dari kedua mata ke pipiku, aku selangkah lagi menuju kematian.
Perawat masuk dan terpekik, pria hitam segera melepaskan tangan. Dia dan Linda pergi dengan cepat setelah keluar ancaman dari mulutnya, aku merasa ujung bibirku berdarah.
"Manusia iblisss!!!" Aku mendengar adikku berteriak, tapi dia pun lemas bergetar karena ketakutan. Dia memelukku sambil menangis.
Direktur rumah sakit tergopoh-gopoh datang dan meminta maaf karena tindak penganiayaan yang aku alami. Aku cukup kaget, direktur rumah sakit sampai datang sendiri. Dia bilang, Emmeric sudah menitipkan aku untuk dijaga dengan baik malah kecolongan seperti ini.
Dokter lain kemudian datang memeriksa memar di leher dan pipiku. Juga mengobati ujung bibirku yang berdarah. Wanita anggun yang dinikahi Emmeric cuma pencitraan. Dia sangat buas.
Sore itu kami pulang diam-diam tanpa memberitahu Emmeric, Reva menelpon polisi muda tapi dia sedang tidak bisa datang karena mengintai transaksi n*****a. Dia dipindahkan ke divisi n*****a.
Reva memapahku ke atas tempat tidur dan membuatkan aku s**u. Aku makin tak yakin mempertahankan anak dalam perutku, bagaimana kalau dia mengalami penyiksaan? Sementara aku tak berdaya melindunginya? Tapi aku teringat pada perkataan polisi muda, hatiku penuh kebencian pada Emmeric ingin menyingkirkan semuanya tentang dia. Apa nanti aku bakalan menyesal?
Aku juga mengenang ayahku, ayahku pasti marah dari atas sana kalau aku membunuh jiwa yang tidak berdosa. Padahal kukira tubuhku sudah mati rasa, tetap saja bibirku pedih. Meminum s**u buatan Reva sangat kepayahan, dia mengambil sedotan dan aku meminumnya.
Reva membuatkan aku nasi yang digiling dengan sayur hijau dan daging. Aku bahkan tak mampu mengunyah nasi karena seluruh wajahku pedih.
Tetangga datang menjenguk kami, berwajah prihatin dan menguatkan. Kami, ayah dan anak sejak dulu sekali baik-baik kepada semua orang, keluarga kami harmonis dan bahagia. Mereka tidak percaya kalau aku mau merebut suami orang lain, mereka tau aku lama berpacaran dengan Emmeric karena dia sangat sering datang. Mereka menduga aku ditinggalkan oleh Emmeric menikah dengan orang yang sama kaya dengan dia, seperti di film-film. Mereka juga berduka melihat kami ditinggalkan begitu cepat, sekarang hanya berdua. Tetangga menyuruh kami tidak sungkan meminta pertolongan.
Emmeric datang, dia mungkin kecewa karena aku tidak memberitahu kabar kepulanganku. Dia mendapat kabar dari pihak rumah sakit, tapi Reva tidak mau membukakan pintu, dia meminta-minta maaf di luar rumah. Tetangga di sebelah rumahku adalah ibu-ibu yang cerewet tapi sangat baik dia sering membawakan kami masakan dan kami juga begitu, dia memaki Emmeric dan menyuruhnya pergi, berhenti mengganggu anak gadis orang karena dia sudah menikah. Terlebih lagi dengan kejadian yang menimpa kami kemarin, membuat tetangga semakin bersimpati. Aku tidak mengangkat telepon dari Emmeric membayangkan mau bicara dengan dia saja aku muak.
Pengacara Emmeric datang dua hari kemudian, dia memberikan sertifikat rumah mewah kepadaku. Emmeric membelikannya, menyuruh aku pindah ke sana. Dia takut diserang oleh ibu-ibu tetangga lagi. Reva melongo melihat sertifikat itu benar-benar atas namaku. Tak tahu apa Emmeric sudah gila, rumah itu bernilai milyaran. Tapi dipikir lagi uang segitu mungkin tak ada artinya buat dia. Aku memutuskan untuk menerimanya, karena itu hak anakku nanti. Pengacara yang dulu bersitegang dengan ayahku di kantor polisi bersikap sangat manis pada kami.
"Hmm." Reva bergumam. Setelah kepergian pengacara Emmeric.
"Kamu sudah lelah mengoceh? Atau terdiam karena matamu hijau melihat sertifikat rumah?"
Reva membaca sertifikat rumah itu, "Apa kalau kakak tidak jadi menikah dengannya, dia akan bisa mengambil rumah ini lagi?"
"Kamu harus jadi orang hukum biar mengetahuinya. Kamu saja sudah tidak pergi-pergi lagi ke sekolah."
"Kakak, kakak tidak serius mau menjadi istri Emmeric si b******n itu kan?"
"Entahlah."
Reva berguling di sampingku, "Kakak baru mengatakan menyetujui pernikahan. Istri tua sudah datang menyiksa, macam di sinetron. Kakak jadi wanita teraniaya."
"Begitu?"
Terdengar ketukan lagi di pintu. Reva berlari cepat keluar, "Kak Daviioooo." Aku mendengar suaranya sangat bersemangat.
Polisi muda datang menengokku dari pintu, dia tak pernah masuk ke kamarku, kecuali satu kali saat aku memeriksa kehamilan dengan test pack. Dia sopan dan menghargai perempuan. Mereka duduk berbincang di sofa, Reva bersemangat menunjukkan sertifikat rumah beharga milyaran. Bertanya apa nanti bisa diambil lagi. Polisi muda berkata tidak bisa, karena diserahkan saat belum menikah. Aku duduk bergabung dengan mereka.
"Apa kamu menganggapku mata duitan?" Aku bertanya pelan. Aku-mendadak tak ingin polisi muda berpikir jelek padaku.
"Tidak." Dia menjawab pendek.
"Iya! Kakakkan tidak meminta, eh-ya- walaupun lebih bagus kalau kita meminta uang lebih banyak lagi untuk biaya pengobatan!"
Reva tertawa dan mengikrarkan diri sebagai perempuan mata duitan. Aku melihat polisi muda tertawa, dari senyumnya terlihat dia tulus gembira berbincang dengan kami. Seragam polisi melekat di tubuhnya yang bidang. Aku rasa anakku perempuan, karena dia mulai memuji-muji pesona polisi muda.
"Kami akan menjual rumah. Apa ada yang mau membelinya?" Aku berkata.
"Kakak!" Reva berteriak kaget, "Mana mungkin menjual rumah peninggalan ayah?"
"Nanti aku bantu mengiklankannya." Biar begitu polisi muda menyahut juga.
Aku banyak memikirkan pikiran jelek di kepalaku, sebulan yang lalu tidak mungkin rasanya aku pikirkan. Reva membuatkan teh untuk polisi muda, dia tidak minum kopi dan tidak merokok.
"Apa yang ingin kamu lakukan selanjutnya?" Suaranya yang tenang sedikit menguatkanku.
Perasaanku pada Emmeric saat ini tak bisa diungkapkan oleh kata-kata, menyesal, marah, benci dan lainnya. Bayangan Emmeric dan istrinya yang tertawa bahagia membuat kemarahanku membara, kalau kami putus saat itu bukannya lebih baik. Dia bisa berbahagia dengan istri yang dipilih orang tuanya. Tapi dia malah memperkosaku sampai menghasilkan anak, sekarang ingin menjadikan aku istrinya juga. Sangat egois, aku tidak menyangka aku mencintainya selama enam tahun.
"Jangan katakan kamu mau membalas dendam?"
Ucapan polisi muda terngiang-ngiang di kepalaku yang berdengung karena bekas tamparan.