“Kenapa Papa Marko ajakin kita jumpa, Pa?” tanya Gisel.
Nampak jelas dari raut wajahnya, bahwa Gisel sedang cemas. Sebab, ia seperti sudah tahu – apa yang ingin Marko bicarakan hingga menyuruh dirinya dan Papanya berkunjung ke rumahnya.
“Masuk!” ucap Della ketika ia lah yang disuruh Mamanya untuk membukakan pintu.
Della pun membawa Gisel dan Gian ke ruang tamu. Yang mana, di sana sudah ada Marko dan Netta yang menunggu.
“Silakan duduk, Gi,” ucap Netta mempersilakan.
Gisel dan Gian pun duduk di sana.
“Kamu apain tangan Sheira?”
Pertanyaan yang terlontar dari mulut Marko itu – seperti sebuah hantaman keras yang sebelumnya sudah mendapatkan peringatan.
Jelas Gisel tahu, bahwa Dimas pasti sudah mengadu kepada Papanya atas apa yang terjadi kepada mereka sewaktu di Bali kemarin.
“Gisel sudah akui kesalahannya kepada saya, Ko. Dia juga sudah minta maaf sama Sheira,” ucap Gian membela anak gadisnya itu.
“Bukannya saya mau membela Sheira. Tapi, sebelum melakukannya, apa kamu berpikir kalau tangan Sheira lah yang membantu keluarga saya dan keluarga kamu, Gisel?” tanya Marko.
“Aku benar-benar gelap hati saat melakukannya, Pa. Sampai membuat aku nggak berpikir panjang – hingga melakukan hal itu kepada Sheira. Aku akui kalau memang aku sengaja melakukannya. Karena...aku benar-benar cemburu melihat kedekatan Sheira dengan Dimas,” ucap Gisel panjang lebar.
"Saya janji, Ko. Saya akan didik anak saya untuk lebih baik lagi. Kalau kamu mau, saya bisa menghukumnya atas apa yang dia lakukan kemarin," ucap Gian.
"Memangnya apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu bisa membuat tangan Sheira sembuh hari ini juga?" tanya Marko.
"Tidak. Tapi, saya akan membuat Gisel merasakan hal yang sama dengan Sheira," sahut Gian.
"Pa..." lirih Gisel ketakutan.
"Jangan gila, Gian! Dia anakmu! Jangan kamu lukai dengan tanganmu sendiri!" cegat Netta.
"Drama macam apa ini? Kalau mau siram, siram langsung. Ngapain pakai bilang segala?" Della membatin.
***
Dimas mendapati Sheira duduk di belakang villa sendirian. Ketika hari sudah gelap dan hanya tinggal mereka berdua saja di sana.
Dimas tidak berkata apapun, ia langsung mengangkat tubuh Sheira ala bridal dan membawanya masuk.
"Suka banget minta tegur," ucap Dimas.
"Aku masih nikmatin angin laut juga," sahut Sheira.
"Nikmatin aja sampai kamu sakit. Sudah tahu dingin, bukannya masuk, malah dinikmatin," kesal Dimas.
Lelaki itu membawa Sheira ke kamarnya.
"Della bilang, Pak Gian dan Bu Gisel datang ke rumah keluarga kamu. Mereka datang atas perintah Pak Marko. Bu Gisel juga mengakui kalau dia sengaja senggol aku. Dia sengaja melakukan itu karena dia cemburu lihat aku dan kamu yang lebih banyak menghabiskan waktu berdua," ungkap Sheira.
"Kenapa kamu harus membahasnya sekarang? Apa kamu tahu? Nama dia selalu membuat mood saya turun," ucap Dimas.
"Aku cuman mau kasih info. Biar kamu tahu, kalau Pak Marko juga bertindak. Nggak berat sebelah," sahut Sheira.
Dimas membungkam Sheira dengan cara mengecup bibir wanita itu.
***
3 hari berlalu.
Dilalui dengan tenang oleh Dimas dan Sheira.
Namun rupanya, ketenangan itu hanya berlangsung 3 hari.
Sore ini, sepulang dari resort, Sheira dikejutkan dengan keberadaan Jerome di villa.
"Loh? Kamu kenapa di sini?" tanya Sheira.
"Pak Dimas yang suruh," jawab Jerome santai.
"Mumpung kerjaan di Jakarta nggak terlalu banyak. Jadi, saya suruh saja Jerome ke sini," jelas Dimas.
"Terserah deh! Pusing sendiri aku hadapinya," ucap Sheira.
Kemudian, wanita itu berjalan masuk ke dalam kamarnya.
"Bukannya senang kerjaannya gue bantuin," heran Jerome.
"Bukan begitu! Masalahnya, dia nggak suka kalau pekerjaan yang seharusnya dia yang mengerjakan, malah orang lain yang mengerjakannya. Padahal, saya akan tetap menggajinya," ungkap Dimas.
"Pak Dimas dapat Sheira di mana sih?" tanya Jerome. "Susah loh nyari anak buah modelan dia," sambungnya.
Mendengar kalimat terakhir yang terucap dari mulut Jerome itu, Dimas langsung menatap tajam ke arah Jerome.
"Saya hanyya memuji Sheira, nggak maksud untuk merebut, Pak," ucap Jerome.
"Jeromeee!" teriak Sheira dari dalam kamarnya.
Teriakan itu, sontak membuat Dimas dan Jerome langsung berlari menghampiri Sheira.
"Kenapa, Shei?" tanya Jerome panik.
"Kenapa koper kamu ada di sini?" tanya Sheira seraya menunjuk sebuah koper yang ia tahu bahwa koper itu adalah milik Jerome.
"Tadi kamar gue dibersihkan. Jadinya, gue ungsikan aja barang gue di sini," jawab Jerome.
"Kenapa harus teriak sih, Shei?" tanya Dimas. Sesaat setelah ia menghela napasnya dengan lega.
Sebab, jelas saja tadi Dimas mengira kalau telah terjadi sesuatu kepada Sheira.
Dimas pun melenggang masuk ke dalam kamar Sheira, kemudian ia merebahkan tubuhnya ke atas ranjang wanita itu.
"Pak..." lirihjj Sheira.
"Siapa suruh bikin saya panik sampai susah napas," sahut Dimas.
"Nggak di sini juga istirahatnya, Pak," ucap Sheira tak mau kalah.
"Nanti gue ambil koper gue kalau kamarnya selesai dibersihkan," ucap Jerome sebelum menjauh dari area kamar Sheira.
Sheira pun mengikuti ke mana Jerome pergi.
"Kenapa lo malah ngikutin gue?" heran Jerome.
"Kok elo kayak nggak kaget gitu lihat sikap Pak Dimas ke gue?" tanya Sheira.
"Gue cowok, gue paham perasaan sesasama," sahut Jerome. "Paham nggak?" tanyanya.
"Elo tahu permasalahan Pak Dimas?" tanya Sheira lagi.
Jerome hanya tersenyum saja. Ia seperti tidak ingin menjawab pertanyaan itu.
Merasa tidak mendapatkan jawaban dari Jerome, Sheira pun kembali ke kamarnya untuk menghampiri Dimas yang masih ada di sana.
"Kamu tidur, Dim?" tanya Sheira sembari menatap Dimas yang masih merebahkan tubuhnya di atas ranjang, Dimas menggunakan pergelangan tangannya untuk menutupi matanya.
Sheira pun naik ke atas ranjang itu, kemudian berbaring di samping Dimas dan memeluknya.
***
Sepulang dari kediaman kedua orangtua Dimas, Gisel malah semakin membara.
Ia berpikir untuk mencari cara halus agar bisa menyingkirkan Sheira dari kehidupan Dimas.
Cinta Gisel kepada lelaki itu benar-benar tinggi.
"Maafkan Papa, tadi sempat ngomong mau siram kamu pakai air panas juga," ucap Gian ketika mendapati Gisel melamun.
"Aku nggak memikirkan itu, Pa," sahut Gisel. "Aku sedang memikirkan, bagaimana caranya aku menyingkirkan Sheira dari hidup Dimas dan keluarganya," ungkapnya.
Senyuman miring yang terukir di wajah Gisel, nampak seperti ia sedang dirasuki makhluk jahat.
"Kalau memang Dimas dan Sheira punya hubungan, kamu harus bikin Sheira merasa bersalah karena mau dijadikan simpanan oleh Dimas," ucap Gian. "Papa yakin, kalian sesama perempuan pasti punya perasaan yang sama," sambungnya.
Dering ponsel Gisel membuatnya langsung menghentikan khayalannya.
Gadis itu menerima satu panggilan suara dari Dimas.