“Kenapa orang ini kayak ikutin gue terus sih?” Sheira membatin. Ketika ia merasa seorang perempuan terus saja berada di belakangnya. Dari dirinya keluar dari apartemen – hingga dirinya tiba di mini market yang letaknya tidak begitu jauh dari gedung apartemen tempat dirinya tinggal. Bahkan, ketika Sheira sudah menyusuri 2 rak dan orang itu masih ada di belakangnya. Sheira pun menoleh ke belakang, menatap kesal ke arah perempuan itu, “Benar-benar penguntit,” sungutnya. “Apa kamu bilang?!” tanya perempuan itu. Sheira sedikit terkejut ketika ia mendengar perempuan itu berucap dengan bahasa Indonesia juga. Sheira nampak kikuk, namun ia masih dengan rasa kesalnya. “Ya, siapa yang nggak kesal kalau diikutin terus, ‘kan?” tanyanya. Perempuan itu nampak tertawa pelan, kemudian ia menja

