“Bu, ada apa?” Suara Casilda yang bingung membuyarkan rasa terkejutnya. “Bu-bukan apa-apa. Kenapa kamu kemari? Butuh sesuatu?” “Kuenya habis. Apa kita masih ada?” Casilda merasakan ada yang aneh dengan sikap ibunya. Tiba-tiba saja menyembunyikan ponselnya ke balik meja dapur. Tapi, Casilda tidak mau menekannya. Barulah ketika dia hendak pergi meninggalkan dapur, dia menatap ibunya dan berkata pelan, “Bu, jika ada sesuatu, katakan saja kepadaku. Aku bukan anak kecil lagi. Aku harap ibu bisa mengerti kekhawatiranku.” Wajah Quinza segera muram, menyerah dengan nada membujuk yang sangat lembut darinya. “Yah, kamu benar. Lagi pula, aku tidak bisa menyembunyikan ini selamanya.” Hati Casilda berkecamuk, tidak tenang dan mulai deg-degan parah. Ketika ibunya memperlihatkan berita gosip men

