Sementara hati Casilda berkecamuk, di sisi lain, hati Arkan perlahan melunak. Dia menurunkan pulpen di lehernya dan segera direbut oleh sang istri. Tanpa ragu sedikitpun, dia langsung memeluknya erat-erat, berkata lembut, “Casilda, aku sungguh tidak bisa hidup tanpamu. Jangan membuatku takut.” Dia mengatakan yang sejujurnya, meski Casilda mungkin tidak percaya. Perjuangannya bangkit dari keterpurukan di masa lalu sangatlah sulit. Memang terdengar konyol kalau menjadi playboy adalah jalan keluar praktis yang membuatnya bisa dengan mudah menjalani hidup. Tapi, takdir sungguh konyol. Pemicu Arkan muncul kembali ke dalam hidupnya. Dia adalah Casilda. Saat melihatnya kembali, dunia Arkan rasanya jungkir balik. Dengan kepercayaan diri yang telah dibangun susah payah selama ini, dia mengir

